Bang Thalhah, terima kasih untuk jalinan kasihnya. Kaji ma'rifat abang
sepertinya cukup mendalam, untuk mohon penjelasan lebih lanjut, terutama
dari aspek fistek. Khususnya menyangkut 'ruang dan waktu', bagaimana hal itu
terumuskan dari Einstein sampai Hawking, dan secara sosial mulai Bakhtin
sampai Giddens? Dan bagaimana menarik hikmah dari momentum/quantum itu?

Saya terus terang belum mencapai seperti yang abang gambarkan, semata-mata
berupaya ikhlas, dan ternyata itu sulit pula. Jazakallah al khair.

-ekadj
2009/11/27 <[email protected]>

>   Wukuf di arafah adalah proses pertama dalam perjalanan ke dimensi
> tertinggi, dimensi spiritual. Situasi dimana tidak ada polaritas
> (pengkutuban), yg ada hanya singularitas. Tempat segala sesuatu menjadi
> tidak ada, yg ada hanya Allah. Ini dicapai dengan pernungan, meditasi, zikir
> dalam keheningan. Yg ada hanya Dia.
> Dilanjutkan dengan melempar jumrah untuk membuang sifat2 setan dalam diri
> maka lengkaplah perjalanan menjadi makhluk 'langit', berada dalam situasi
> stillness (diam, hening, tanpa dimensi).
> Namun manusia bukan ditugaskan menjadi makhluk langit, tetapi menjadi
> khalifah di muka bumi. Maka harus 'turun' kembali, jangan keenakan di
> 'langit'. Tapi turunnya orang yg sudah mencapai dimensi spirit bukanlah
> turun ke dimensi yg lebih rendah, namun melipatkan dimensi sehingga dimensi
> spirit dan fisik berhimpitan, menjadi manusia bumi yg berkesadaran spiritual
> tinggi. Oleh karenanya disimulasikan dengan thawaf, yaitu berbaur dengan
> seluruh umat manusia melakukan aktifitas gerak fisik namun berorientasi
> penuh (menyembah) Allah, yg disimbolkan dengan berpusat pada Ka'bah.
> Proses terakhir adalah sa'i, yaitu berjuang dengan sungguh2 (jihad), tidak
> kenal menyerah karena hanya berharap pada Allah. Maka lengkaplah sudah
> training menjadi khalifah yg selalu menyembahNya.
> Selanjutnya tinggal menjalankan tugas menjadi khalifah yg rahmatan
> lil'alamin setelah selesai menjalankan ibadah haji karena sudah menjadi
> orang yg berserah diri sepenuhnya kepadaNya (muslim).
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
> ------------------------------
> *From: *- ekadj <[email protected]>
>
>

>   Pertemuan Ruang dan Waktu
>
> Kemarin ternyata sudah dilaksanakan wuquf di Arafah (: 'aku sudah
> mengetahui'), yang menandakan puncak acara perjalanan haji. Seorang senior
> dan guru saya (semoga Allah swt melimpahkan rahmat kepada beliau)
> menyampaikan satu wejangan sebelum saya berangkat haji, bila saya nantinya
> akan menyaksikan ‘pertemuan ruang dan waktu’ di Arafah, yaitu bertemunya
> tempat yang ditentukan dan waktu yang ditentukan, sebagai fenomena
> pembelajaran terpenting bagi setiap perencana kehidupan. Tempatnya adalah di
> Arafah, dan waktunya adalah 10 Zulhijjah antara waktu Zuhur dan Ashar.
> Pertemuan juga dimaksudkan sebagai pertemuan antara manusia dengan Tuhannya,
> yang secara jarak fisik adalah begitu dekat. Sebuah hadits qudsi menyebutkan
> bahwa pada waktu dan tempat tersebut Allah swt akan turun langsung ke muka
> bumi dan menyaksikan segenap makhluknya berkhalwat dan berzikir kepadaNya
> serta memohonkan keampunan. Ya Allah, ampunilah kami.
>
> Momen waktu dan ruang tersebut juga menandakan puncak perjalanan haji,
> sebagaimana kita teladani dari Rasulullah saw (shalawat dan salam kepadamu),
> dan telah ditunjukkan sebelumnya oleh Ibrahim as (kesejahteraan bagi engkau
> wahai bapak bangsa). (2:128). Kesempatan yang sangat besar tersedia pada
> siapa pun yang berada di tempat tersebut dan waktu tersebut, untuk meminta
> ampun, berzikir, bermunajat, introspeksi, retropeksi, dan mempersiapkan masa
> depan; serta menyempurnakan rukun Islam.
>
> Telah kupenuhi panggilanMu Allahu Maha Besar, tidak ada sekutu bagiMu.
> Segala puji dan kebesaran hanya milikMu semata. Tidak ada sekutu bagiMu.
> (22:27-28).
>

Kirim email ke