Terima kasih Pak Koes atas koreksi dan tambahan informasinya, mudah-mudahan
Allah swt menambahkan kemuliaan kepada bapak. Hal ini menunjukkan dua hal:
pertama manusia adalah bersifat khilaf, dan kedua di antara sesama manusia
hendaknya saling berwasiat dalam kebaikan. Kajian tentang hal ini perlu kita
lakukan mengingat saran yang disampaikan oleh
moderator<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/9957>kita.

Mengenai tapak kenabian Ibrahim, hal ini menjadi renungan saya juga, seperti
tergambar dalam tabel bapak bahwa perjalanan haji itu merupakan syariat yang
terbangun dari perjalanan Nabi Ibrahim 'sekeluarga' untuk menjadi pelajaran
bagi umat dan penyempurna dalam syariat. Mulai dari wuquf dan jumrah yang
dulu dilaksanakan oleh Ibrahim dan Ismail, hingga sa'i yang dilaksanakan
oleh Siti Hajar: menunjukkan keikhlasan bertauhid dan berkorban dalam suatu
keluarga. Tidak ada duanya bentuk pengorbanan sebagaimana ditunjukkan oleh
'keluarga' (household) Ibrahim ini. Hal ini kiranya yang menjadi hikmah bagi
kita, yang ditunjukkan melalui penyembelihan hewan qurban.

Ada sedikit cerita pak dari perjalanan saya tahun lalu. Sewaktu
mempersiapkan untuk haji, kami mendapatkan ceramah dari ustadz, di antaranya
disebutkan sewaktu wuquf di Arafah hendaknya kita menyiapkan do'a-do'a yang
spesifik. Pada waktu itu saya bertanya, bolehkah kita mendo'akan bangsa dan
negara kita secara lebih spesifik, misalnya tingkat pengangguran menjadi
berkurang, kesejahteraan masyarakat meningkat sekian persen,
pemimpin-pemimpin kita diampunkan dosa-dosanya dan mendapatkan penerangan
dalam tugas-tugasnya, dan sebagainya. Pak ustadz menjawab bahwa biasanya
do'a adalah untuk diri pribadi dan keluarga, namun untuk bangsa dan negara
disampaikan secara umum. Seorang rekan menyampaikan pandangan bahwa untuk
pemimpin-pemimpin yang zalim sudah ada ketentuan dari Allah. Setelah itu
memang kami di dalam rombongan terbagi pada dua pandangan berbeda mengenai
hal ini.

Sewaktu wuquf di Arafah sejak subuh hingga menjelang waktu zuhur saya hanya
menangis di dalam tenda, mengharapkan bangsa ini dapat diampuni atas segala
kesalahan, agar kita dapat hidup dalam saling mengikhlaskan sebagaimana
telah ditunjukkan Ibrahim sekeluarga, namun diberikan penerangan dan
kekuatan untuk memperbaiki kehidupan, dst. Tergerak hati untuk mengirimkan do'a
bersama <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/7090> melalui sms
kepada beberapa sahabat. Setelah itu pada waktu masuk zuhur, do'a paling
spesifik untuk pribadi dan keluarga adalah semata mohon keampunan dari Allah
swt, sungguh merasa tidak pantas untuk memohon lebih dari itu.

Demikian sementara waktu pak, mohon pandangannya lebih lanjut. Salam.

-ekadj

2009/11/27 muhammad koeswadi <[email protected]>

>
>
>   Nambahin sedikit keterangan Mas Ekadj. Tepat sekali Arafah adalah nama
> yang membawa makna adanya event pertemuan: ruang dan waktu dan kesejajaran
> dan ‘kematian’.
>
> Di sini pula mensyaratkan seluruh hadirin (sebagai tamu Allah/*dhuyufur
> rahmah*) berstatus sama. Waktunya 9 *dzulhijjah* (hari Arafah) bukan 10 *
> dzulhijjah*, jamnya dhuhur (mulai sekitar 12.15 waktu setempat hingga
> sore). Tempatnya padang Arafah yang umumnya panas ini memiliki batas
> adminstrasi tegas (menurut sumber ditetapkan Malaikat Jibril as.). Siapapun
> yang berhaji (*wukuf*) harus masuk di dalam wilayah administrasi ini. Di
> luar batas ini batal (tidak syah).  Di luar batas waktu ini batal juga.
>
> Juga, siapapun berkostum seragam khusus, umumnya putih polos (tak berjahit)
> menyimbulkan kesamaan derajad dunia. Juga, siapapun harus menjaga lingkungan
> hidup, menghargai kehidupan dan sekaligus dilarang mencabut/menebang rumput,
> pohon; dilarang membunuh binatang sekalipun sekecil semut. Bahkan dilarang
> mencabut/menebang bagian organ hidup kita sendiri, misalnya kuku, rambut.
>
> Juga, siapapun dilarang berpolemik soal dalil apapun termasuk ilmu
> pengetahuan (*jidal*). Bila ingin berdalil bukan di masa hajji (5 hari,
> 9-13 dzulhijjah). Intinya merasakan ‘kematian’. Semua pelanggaran kena
> saknsi denda (*dam*).
>
> Semoga mas Ekadj dan rekan2 berhasil mencapai tapak-tapak kenabian (Ibrahim
> as.).  (Sedikit informasi agak detil, bisa lihat attachment table
> Peristiwa Hajji).
>
> Wassalam. Koes, JKT.
>
>
> --- On *Fri, 27/11/09, - ekadj <[email protected]>* wrote:
>
>
>    Bang Thalhah, terima kasih untuk jalinan kasihnya. Kaji ma'rifat abang
> sepertinya cukup mendalam, untuk mohon penjelasan lebih lanjut, terutama
> dari aspek fistek. Khususnya menyangkut 'ruang dan waktu', bagaimana hal itu
> terumuskan dari Einstein sampai Hawking, dan secara sosial mulai Bakhtin
> sampai Giddens? Dan bagaimana menarik hikmah dari momentum/quantum itu?
>
> Saya terus terang belum mencapai seperti yang abang gambarkan, semata-mata
> berupaya ikhlas, dan ternyata itu sulit pula. Jazakallah al khair.
>
> -ekadj
> 2009/11/27 <thal...@indosat. 
> net.id<http://uk.mc244.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>
> >
>
>>   Wukuf di arafah adalah proses pertama dalam perjalanan ke dimensi
>> tertinggi, dimensi spiritual. Situasi dimana tidak ada polaritas
>> (pengkutuban) , yg ada hanya singularitas. Tempat segala sesuatu menjadi
>> tidak ada, yg ada hanya Allah. Ini dicapai dengan pernungan, meditasi, zikir
>> dalam keheningan. Yg ada hanya Dia.
>> Dilanjutkan dengan melempar jumrah untuk membuang sifat2 setan dalam diri
>> maka lengkaplah perjalanan menjadi makhluk 'langit', berada dalam situasi
>> stillness (diam, hening, tanpa dimensi).
>> Namun manusia bukan ditugaskan menjadi makhluk langit, tetapi menjadi
>> khalifah di muka bumi. Maka harus 'turun' kembali, jangan keenakan di
>> 'langit'. Tapi turunnya orang yg sudah mencapai dimensi spirit bukanlah
>> turun ke dimensi yg lebih rendah, namun melipatkan dimensi sehingga dimensi
>> spirit dan fisik berhimpitan, menjadi manusia bumi yg berkesadaran spiritual
>> tinggi. Oleh karenanya disimulasikan dengan thawaf, yaitu berbaur dengan
>> seluruh umat manusia melakukan aktifitas gerak fisik namun berorientasi
>> penuh (menyembah) Allah, yg disimbolkan dengan berpusat pada Ka'bah.
>> Proses terakhir adalah sa'i, yaitu berjuang dengan sungguh2 (jihad), tidak
>> kenal menyerah karena hanya berharap pada Allah. Maka lengkaplah sudah
>> training menjadi khalifah yg selalu menyembahNya.
>> Selanjutnya tinggal menjalankan tugas menjadi khalifah yg rahmatan
>> lil'alamin setelah selesai menjalankan ibadah haji karena sudah menjadi
>> orang yg berserah diri sepenuhnya kepadaNya (muslim).
>> Sent from my BlackBerry®
>> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>> ------------------------------
>> *From: *- ekadj <4ek...@gmail. 
>> com<http://uk.mc244.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>>
>>
>>
>
>
>>   Pertemuan Ruang dan Waktu
>>
>> Kemarin ternyata sudah dilaksanakan wuquf di Arafah (: 'aku sudah
>> mengetahui'), yang menandakan puncak acara perjalanan haji. Seorang senior
>> dan guru saya (semoga Allah swt melimpahkan rahmat kepada beliau)
>> menyampaikan satu wejangan sebelum saya berangkat haji, bila saya nantinya
>> akan menyaksikan ‘pertemuan ruang dan waktu’ di Arafah, yaitu bertemunya
>> tempat yang ditentukan dan waktu yang ditentukan, sebagai fenomena
>> pembelajaran terpenting bagi setiap perencana kehidupan. Tempatnya adalah di
>> Arafah, dan waktunya adalah 10 Zulhijjah antara waktu Zuhur dan Ashar.
>> Pertemuan juga dimaksudkan sebagai pertemuan antara manusia dengan Tuhannya,
>> yang secara jarak fisik adalah begitu dekat. Sebuah hadits qudsi menyebutkan
>> bahwa pada waktu dan tempat tersebut Allah swt akan turun langsung ke muka
>> bumi dan menyaksikan segenap makhluknya berkhalwat dan berzikir kepadaNya
>> serta memohonkan keampunan. Ya Allah, ampunilah kami.
>>
>> Momen waktu dan ruang tersebut juga menandakan puncak perjalanan haji,
>> sebagaimana kita teladani dari Rasulullah saw (shalawat dan salam kepadamu),
>> dan telah ditunjukkan sebelumnya oleh Ibrahim as (kesejahteraan bagi engkau
>> wahai bapak bangsa). (2:128). Kesempatan yang sangat besar tersedia pada
>> siapa pun yang berada di tempat tersebut dan waktu tersebut, untuk meminta
>> ampun, berzikir, bermunajat, introspeksi, retropeksi, dan mempersiapkan masa
>> depan; serta menyempurnakan rukun Islam.
>>
>> Telah kupenuhi panggilanMu Allahu Maha Besar, tidak ada sekutu bagiMu.
>> Segala puji dan kebesaran hanya milikMu semata. Tidak ada sekutu bagiMu.
>> (22:27-28).
>>
>
>

Kirim email ke