Pak Djarot, Pak Koes, Pak Risfan, dan Bang Thalhah ysh.
Saya sudah menduga ketertarikan Pak Djarot dalam hal ini, dan memang
disinilah terdapat perbedaan pemaknaan lebih lanjut bagi setiap agama dan
keyakinan. Sebelumnya saya teruskan pandangan Bang Thalhah terhadap diskusi
kita sbb:

 *"Re: pertemuan ruang dan waktu
*
*
Beruntung sekali bang Eka bisa merasakan kehampaan tersebut yg berarti
merasakan sepenuhnya tentang kefanaan makhluk.
Mencoba memahami pertanyaan bang Eka, mungkin maksudnya bukan pertemuan
ruang dan waktu, karena ruang waktu memang bertemu. Tetapi yg dirasakan itu
adalah kelengkungan ruang-waktu yg beda dari biasanya.
Menurut fisika Newton gaya gravitasi disebabkan oleh adanya masa dari sebuah
benda. Tapi menurut Einstein, gravitasi disebabkan oleh kelengkungan ruang
waktu. Jika teori ini dapat diterima maka besar kecilnya gaya gravitasi
tergantung sebesar apa jari2 kelengkungan tersebut. Pada saat khusyuk merasa
sangat dekat (tanpa jarak) denganNya, tubuh terasa ringan (seolah2 gravitasi
berkurang) dan hampa (suasana tanpa gaya tarik) karena kelengkungan ruang
waktunya berubah. Kedekatan kepadaNya membuat makhluk lain (termasuk
gravitasi) menjadi tiada arti dan hilang...Laa illa ha illallah...yg ada
hanya Allah. Ruang waktu melengkung ini, salah satu akibatnya adalah jika
kita bisa maju ke masa depan sejauh2nya maka kita akan muncul lagi dari masa
lalu. Secara fisika teoritis mesin waktu itu ada, namun harus bergerak
mendekati kecepatan cahaya yg tidaklah mungkin dilakukan oleh tubuh fisik.
Ruang-waktu sendiri tercipta pada saat big bang, sehingga sebelum itu tidak
ada ruang waktu. Artinya tidak ada masa lalu dan masa depan serta tidak ada
jauh dekat, inilah alam singular. Kekhusyukan saat wukuf bisa membawa kita
masuk ke alam singular, sehingga ruang waktu menjadi tidak ada, apalagi
gravitasi, sehingga memberikan sensasi yg baru / terasa hampa.

Mengenai asmaul husna, memang manusia tidak mungkin menyamai sifatNya, tapi
manusia boleh meniru dan meminjam sifatNya, tentu saja tetap dalam konteks
sbg makhluk. Contohnya seperti al Khaliq, meminjam sifat ini Insya Allah
bisa membuat kita menjadi orang yg kreatif. Sehingga para penemu adalah
orang2 yang dipinjamkan Allah sedikit sifat Al Khaliq. Wallahu 'alam.

Wassalam

Thalhah"
*

Saya kawinkan juga dengan konsep kehampaan pada diskusi
Mushashi<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/2514>dulu:

*"Sun Tzu mengatakan, jika kau memahami musuhmu dan memahami dirimu
sendiri, kau tidak akan menghadapi bahaya dalam seratus pertempuran.
Saya merasa nyaman walau sedari tadi Mushasi mengelus-elus hulu
samurainya. Kitab Lima Lingkaran ditulis dalam semangat esoteris
Buddhisme Zen: bumi-air-api-angin-kehampaan (sedikit beda dengan Zen-
nya pak Risman). Dan ketika sampai kepada kehampaan, kembali ke
bumi, untuk mencapai enso (lingkaran pencerahan) yang
sempurna. "Jadikan hati kebenaran sebagai jalanmu. Karena itu, kau
harus menjadikan kehampaan sebagai jalan, dan memandang jalan itu
sebagai kehampaan".

Saya langsung menangkis, "Menurut Ustadz Furqon, pencerahan tidak
mesti melalui meditasi, tapi bisa melalui tahlil, ketika usai
laailaaha (ketiadaan) bertemu dengan illallah (kemutlakan). Dan
filosofi kehampaan itu tidak ada, karena sejak dunia terbentang satu-
satunya makhluk yang berkenan untuk memegang amanah khalifatul fil
ardl adalah manusia, dan bodohnya lagi ternyata hal itu
didelegasikan lagi kepada sekelompok perencana".

Mushasi mendengus geram, namun saya cuek saja meneruskan
kata, "Sensei, kalau boleh saya betulkan, jadikan budi pekerti
sebagai jalanmu. Karena itu, kau harus menjadikan amanah sebagai
jalan, dan memandang jalan itu sebagai amanah". "*
Dengan demikian ada 1 hal yang disepakati dalam setiap agama dan keyakinan,
yaitu: 'perjumpaan dengan Pencipta'. Proses perjumpaan itu selalu melalui
proses relativitas, yaitu ketika ruang-waktu menjadi nisbi. Karena nisbi
maka rasa yang kita dapati bisa bermacam-macam: kehampaan seperti yang saya
rasakan, atau kematian seperti yang dirasakan Pak Koes; namun pada dasarnya
hal ini dialami oleh setiap jemaah sewaktu di Arafah.

Namun mengenai proses 'perjumpaan dengan Pencipta' ini, saya teringat dengan
ceramah Prof Mukti Ali waktu di Bandung, ketika menguraikan hikmah isra'
mi'raj. Beliau menyebutkan dua contoh: bila yang mi'raj adalah seorang sufi,
maka beliau akan minta untuk tetap berada di sidratul muntaha untuk
manunggaling kawulo lan gusti; namun ternyata Rasulullah saw berbeda, beliau
minta tetap diturunkan ke bumi sambil membawa tugas yang harus dipikul oleh
setiap umat.

Dengan demikian pemaknaan kehampaan dan pertemuan dengan Pencipta bagi saya,
adalah diikuti dengan proses berikutnya yang disebut khalifatul fil ardl,
yaitu berupa suatu amanah.

Di penghujung ashar waktu itu di Arafah, saya merasakan kelegaan luar biasa,
karena saya yakin bila sang Pencipta saat itu sedang memperhatikan saya, dan
akan selalu memperhatikan saya. Amanah yang saya rumuskan saat itu adalah
memelihara dan menegakkan sunnatullah dalam kehidupan di bumi ini,
selayu-layu tulang semati-mati angin.

Saya kira bahasan kita saat ini cukup berat, mudah-mudahan tidak terjadi
salah tafsir dan salah persepsi. Hal-hal yang baik kita ambil dengan
perhitungan, hal-hal yang buruk kita buang dengan mufakat. Terima kasih
untuk berbagai masukan. Salam.

-ekadj


2009/11/28 Djarot Purbadi <[email protected]>

>
>
>   Pak Eka, kenapa jumlahnya kok kehampaan ? Apakah meditasi / kontemplasi
> dalam spiritualitas Islam ujungnya adalah kehampaan ? Mohon pencerahan.
>
> Dalam ajaran kejawen, khususnya melalui lakon Dewa Ruci, ujung meditasi
> adalah PERJUMPAAN antara diri dengan jatidiri (Bimo dengan Dewaruci).
> Setelah perjumpaan itulah kemudian lahir pencerahan, dan kita tahu dari
> seluruh wayang yang diciptakan hanya Bimoseno yang berjumpa dengan
> jatidirinya. Apakah artinya, meditasi itu sulit, dan yang mampu berjumpa
> dengan jatidiri sangat minim ?
>
> Dalam keyakinan kami, meditasi yang benar ya perjumpaan dengan Tuhan, yang
> dalam rumusan Jawa dikatakan Manunggaling Kawulo lan Gusti. Sejauh saya
> tahu, kemanunggalan ciptaan dengan pencipta merupakan sebuah hal yang tabu
> dibicarakan dalam Islam. Apakah begitu ? Sebab pada akhirnya toh jiwa
> manusia yang diperkenankan memasuki surga ilahi ya akan bersatu dengan
> Allah. Mohon pencerahan lagi.
>
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
> http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On *Fri, 11/27/09, - ekadj <[email protected]>* wrote:
>
>  Terima kasih Bang Thalhah, sangat mencerahkan, saya kira sudah
> mempertajam Descartes: cogito ergo sum. Memang pada waktu itu belum ada
> penjelasan secara fisika kuantum, namun saya dapat merasakan kenikmatan
> bertemu dengan Pencipta, yang terasa begitu dekat. Memasuki ashar terasa
> kehampaan semakin utuh. Walaupun tidak sampai terbang ke langit, namun
> terasa seperti proses pembalikan. Apakah ini momentum yang dihasilkan dari
> pertemuan ruang dan waktu? Kalau boleh dijelaskan juga konsep ruang dan
> waktu secara fisika. Sementara waktu saya rumuskan: ruang + waktu =
> kehampaan.
>
> Mengenai asmaul husna saya sepakat bila itu merupakan 'sifat' Pencipta,
> yang berlaku pada ciptaanNya. Namun saya koq kurang sependapat dengan
> beberapa konsep yang berkembang selama ini bila asmaul husna itu walaupun
> beberapa, tertanam ke dalam ciptaanNya sebagai 'God spot', dan melalui
> eksplorasi tertentu kemudian sang ciptaan mengekspresikan sifat keilahiatan
> itu ke dalam kehidupannya. Seperti contoh 'sang pencipta' (al khaliq),
> walaupun similaritas bahasa dan ada kendala kebahasaan, tentunya tetap
> berbeda pemaknaannya dan pensifatannya kepada manusia. Apakah demikian?
>
> Sementara demikian dulu bang, terima kasih sebelumnya. Salam.
>
> -ekadj
>
>
> 2009/11/27 thal...@indosat. 
> net.id<http://mc/[email protected]>
> <thal...@indosat. net.id <http://mc/[email protected]>>
>
>>
>>
>> Benar sekali, makna wukuf di Arafah mirip dengan 'kematian'. Inilah
>> alam singular, dimana tidak ada
>> pengkutuban (kiri-kanan, atas-bawah, panas-dingin, dsb) sehingga pada
>> saat itu dilarang berpolemik.
>> Pengkutuban adalah produk ego (otak kiri dan kanan yang saling berebut
>> pengaruh). Terjebak pada egolah
>> yang membikin manusia hanya mampu mengaktifkan sel2 otaknya kurang
>> dari 10 persen, sehingga sulit
>> menjalankan tugas sebagai khalifah.
>> Jika memandang realitas dari fisika quantum akan sangat jelas bahwa
>> semua materi sebenarnya kosong karena
>> hanya merupakan quanta/gelombang (dalam fisika dikenal adanya dualisme
>> gelombang dan cahaya).
>> Realitas sebenarnya adalah merupakan gelombang/quantum karena memang
>> semuanya terbentuk dari cahaya Allah.
>> An Nur 35 menjelaskan hal ini. Cahaya di dalam tabung kaca yg berada
>> di dalam lubang yg tak tembus. Begitulah
>> materi mewujud, dari cahaya Nya yang difilter berlapis-lapis sehingga
>> akhirnya jadilah dunia materi seperti apa yg kita pahami dengan
>> panca indera. Gelombang2 Asmaul Husna mewujud dalam semua realitas,
>> saling berinterferensi sehingga membentuk
>> gelombang2 baru dengan fase yang berbeda-beda. Eksistensi kita
>> terkunci pada fase tertentu yang merupakan kombinasi dari
>> Asmaul Husna sehingga membuat kita sulit memahami Asmaul Husna. Kita
>> menyukai sifatnya yang Maha Menghidupkan,
>> tapi kita mungkin kurang menyukai sifat Maha Mematikan. Padahal sel2
>> kita memang perlu ada yg mati agar tumbuh sel baru
>> yg lebih sehat, jika manusia tidak ada yg mati tentu bumi penuh.
>> "Tidak ada satupun yang Engkau ciptakan secara sia-sia", karena
>> interelasi antar makhluk akan saling mengunci fase sehingga jadilah
>> kita seperti sekarang. Sehingga virus dan kuman sekalipun,
>> bukanlah ciptaan yang sia2 karena mereka berperan dalam keteraturan
>> penguncian fase. (Note: dalam gelombang ada fase, frekensi dan
>> perioda yg saling terkait). Dengan pemahaman gelombang ini, maka
>> sesungguhnya semua makhluk saling terhubung,namun panca
>> indera kita tidak mampu memahaminya karena terdapat filter yg berlapis-
>> lapis.
>> Dengan filter yg berlapis ini dan otak yg terjebak pada ego, maka
>> manusia sulit mencapai kesadaran tertinggi. Inilah gunanya wukuf
>> di arafah, mematikan ego dan masuk ke alam tanpa polaritas. Pikiran
>> harus dibikin diam. Biarkan akal yang tampil dan selanjutnya
>> sampai pada pemahaman Tauhid yang sebenarnya.
>> Kira2 demikian bang Eka sedikit tambahannya. Terimakasih atas
>> masukan2nya.
>>
>>
>> ----Original Message----
>> From: 4ek...@gmail. com <http://mc/[email protected]>
>> Terima kasih Pak Koes atas koreksi dan tambahan informasinya, mudah-
>> mudahan
>> Allah swt menambahkan kemuliaan kepada bapak. Hal ini menunjukkan dua
>> hal:
>> pertama manusia adalah bersifat khilaf, dan kedua di antara sesama
>> manusia
>> hendaknya saling berwasiat dalam kebaikan. Kajian tentang hal ini
>> perlu kita
>> lakukan mengingat saran yang disampaikan oleh
>> moderator<http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ 
>> message/9957<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/9957>>kita.
>>
>>
>>
>> Mengenai tapak kenabian Ibrahim, hal ini menjadi renungan saya juga,
>> seperti
>> tergambar dalam tabel bapak bahwa perjalanan haji itu merupakan
>> syariat yang
>> terbangun dari perjalanan Nabi Ibrahim 'sekeluarga' untuk menjadi
>> pelajaran
>> bagi umat dan penyempurna dalam syariat. Mulai dari wuquf dan jumrah
>> yang
>> dulu dilaksanakan oleh Ibrahim dan Ismail, hingga sa'i yang
>> dilaksanakan
>> oleh Siti Hajar: menunjukkan keikhlasan bertauhid dan berkorban dalam
>> suatu
>> keluarga. Tidak ada duanya bentuk pengorbanan sebagaimana ditunjukkan
>> oleh
>> 'keluarga' (household) Ibrahim ini. Hal ini kiranya yang menjadi
>> hikmah bagi
>> kita, yang ditunjukkan melalui penyembelihan hewan qurban.
>>
>> Ada sedikit cerita pak dari perjalanan saya tahun lalu. Sewaktu
>> mempersiapkan untuk haji, kami mendapatkan ceramah dari ustadz, di
>> antaranya
>> disebutkan sewaktu wuquf di Arafah hendaknya kita menyiapkan do'a-do'a
>> yang
>> spesifik. Pada waktu itu saya bertanya, bolehkah kita mendo'akan
>> bangsa dan
>> negara kita secara lebih spesifik, misalnya tingkat pengangguran
>> menjadi
>> berkurang, kesejahteraan masyarakat meningkat sekian persen,
>> pemimpin-pemimpin kita diampunkan dosa-dosanya dan mendapatkan
>> penerangan
>> dalam tugas-tugasnya, dan sebagainya. Pak ustadz menjawab bahwa
>> biasanya
>> do'a adalah untuk diri pribadi dan keluarga, namun untuk bangsa dan
>> negara
>> disampaikan secara umum. Seorang rekan menyampaikan pandangan bahwa
>> untuk
>> pemimpin-pemimpin yang zalim sudah ada ketentuan dari Allah. Setelah
>> itu
>> memang kami di dalam rombongan terbagi pada dua pandangan berbeda
>> mengenai
>> hal ini.
>>
>> Sewaktu wuquf di Arafah sejak subuh hingga menjelang waktu zuhur saya
>> hanya
>> menangis di dalam tenda, mengharapkan bangsa ini dapat diampuni atas
>> segala
>> kesalahan, agar kita dapat hidup dalam saling mengikhlaskan
>> sebagaimana
>> telah ditunjukkan Ibrahim sekeluarga, namun diberikan penerangan dan
>> kekuatan untuk memperbaiki kehidupan, dst. Tergerak hati untuk
>> mengirimkan do'a
>> bersama <http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ 
>> message/7090<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/7090>>
>> melalui
>>  sms
>> kepada beberapa sahabat. Setelah itu pada waktu masuk zuhur, do'a
>> paling
>> spesifik untuk pribadi dan keluarga adalah semata mohon keampunan dari
>> Allah
>> swt, sungguh merasa tidak pantas untuk memohon lebih dari itu.
>>
>> Demikian sementara waktu pak, mohon pandangannya lebih lanjut. Salam.
>>
>> -ekadj
>>
>> 2009/11/27 muhammad koeswadi <m_koesw...@yahoo. 
>> co.uk<http://mc/compose?to=m_koeswadi%40yahoo.co.uk>
>> >
>>
>> >
>> >
>> > Nambahin sedikit keterangan Mas Ekadj. Tepat sekali Arafah adalah
>> nama
>> > yang membawa makna adanya event pertemuan: ruang dan waktu dan
>> kesejajaran
>> > dan ‘kematian’.
>> >
>> > Di sini pula mensyaratkan seluruh hadirin (sebagai tamu
>> Allah/*dhuyufur
>> > rahmah*) berstatus sama. Waktunya 9 *dzulhijjah* (hari Arafah) bukan
>> 10 *
>> > dzulhijjah*, jamnya dhuhur (mulai sekitar 12.15 waktu setempat
>> hingga
>> > sore). Tempatnya padang Arafah yang umumnya panas ini memiliki batas
>> > adminstrasi tegas (menurut sumber ditetapkan Malaikat Jibril as.).
>> Siapapun
>> > yang berhaji (*wukuf*) harus masuk di dalam wilayah administrasi
>> ini. Di
>> > luar batas ini batal (tidak syah). Di luar batas waktu ini batal
>> juga.
>> >
>> > Juga, siapapun berkostum seragam khusus, umumnya putih polos (tak
>> berjahit)
>> > menyimbulkan kesamaan derajad dunia. Juga, siapapun harus menjaga
>> lingkungan
>> > hidup, menghargai kehidupan dan sekaligus dilarang mencabut/menebang
>> rumput,
>> > pohon; dilarang membunuh binatang sekalipun sekecil semut. Bahkan
>> dilarang
>> > mencabut/menebang bagian organ hidup kita sendiri, misalnya kuku,
>> rambut.
>> >
>> > Juga, siapapun dilarang berpolemik soal dalil apapun termasuk ilmu
>> > pengetahuan (*jidal*). Bila ingin berdalil bukan di masa hajji (5
>> hari,
>> > 9-13 dzulhijjah). Intinya merasakan ‘kematian’. Semua pelanggaran
>> kena
>> > saknsi denda (*dam*).
>> >
>> > Semoga mas Ekadj dan rekan2 berhasil mencapai tapak-tapak kenabian
>> (Ibrahim
>> > as.). (Sedikit informasi agak detil, bisa lihat attachment table
>> > Peristiwa Hajji).
>> >
>> > Wassalam. Koes, JKT.
>> >
>> >
>> > --- On *Fri, 27/11/09, - ekadj <4ek...@gmail. 
>> > com<http://mc/compose?to=4ekadj%40gmail.com>>*
>> wrote:
>> >
>> >
>> > Bang Thalhah, terima kasih untuk jalinan kasihnya. Kaji ma'rifat
>> abang
>> > sepertinya cukup mendalam, untuk mohon penjelasan lebih lanjut,
>> terutama
>> > dari aspek fistek. Khususnya menyangkut 'ruang dan waktu', bagaimana
>> hal itu
>> > terumuskan dari Einstein sampai Hawking, dan secara sosial mulai
>> Bakhtin
>> > sampai Giddens? Dan bagaimana menarik hikmah dari momentum/quantum
>> itu?
>> >
>> > Saya terus terang belum mencapai seperti yang abang gambarkan,
>> semata-mata
>> > berupaya ikhlas, dan ternyata itu sulit pula. Jazakallah al khair.
>> >
>> > -ekadj
>> > 2009/11/27 <thal...@indosat. net.id<http://uk.mc244. 
>> > mail.yahoo.<http://uk.mc244.mail.yahoo./>
>> com/mc/compose? to=thalhah@ indosat.net. 
>> id<http://mc/compose?to=com%2Fmc%2Fcompose%3Fto%3Dthalhah%40indosat.net.id>>
>>
>>
>> > >
>> >
>> >> Wukuf di arafah adalah proses pertama dalam perjalanan ke dimensi
>> >> tertinggi, dimensi spiritual. Situasi dimana tidak ada polaritas
>> >> (pengkutuban) , yg ada hanya singularitas. Tempat segala sesuatu
>> menjadi
>> >> tidak ada, yg ada hanya Allah. Ini dicapai dengan pernungan,
>> meditasi, zikir
>> >> dalam keheningan. Yg ada hanya Dia.
>> >> Dilanjutkan dengan melempar jumrah untuk membuang sifat2 setan
>> dalam diri
>> >> maka lengkaplah perjalanan menjadi makhluk 'langit', berada dalam
>> situasi
>> >> stillness (diam, hening, tanpa dimensi).
>> >> Namun manusia bukan ditugaskan menjadi makhluk langit, tetapi
>> menjadi
>> >> khalifah di muka bumi. Maka harus 'turun' kembali, jangan keenakan
>> di
>> >> 'langit'. Tapi turunnya orang yg sudah mencapai dimensi spirit
>> bukanlah
>> >> turun ke dimensi yg lebih rendah, namun melipatkan dimensi sehingga
>> dimensi
>> >> spirit dan fisik berhimpitan, menjadi manusia bumi yg berkesadaran
>> spiritual
>> >> tinggi. Oleh karenanya disimulasikan dengan thawaf, yaitu berbaur
>> dengan
>> >> seluruh umat manusia melakukan aktifitas gerak fisik namun
>> berorientasi
>> >> penuh (menyembah) Allah, yg disimbolkan dengan berpusat pada
>> Ka'bah.
>> >> Proses terakhir adalah sa'i, yaitu berjuang dengan sungguh2
>> (jihad), tidak
>> >> kenal menyerah karena hanya berharap pada Allah. Maka lengkaplah
>> sudah
>> >> training menjadi khalifah yg selalu menyembahNya.
>> >> Selanjutnya tinggal menjalankan tugas menjadi khalifah yg rahmatan
>> >> lil'alamin setelah selesai menjalankan ibadah haji karena sudah
>> menjadi
>> >> orang yg berserah diri sepenuhnya kepadaNya (muslim).
>> >> Sent from my BlackBerry®
>> >> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>> >> ------------ --------- ---------
>> >> *From: *- ekadj <4ek...@gmail. com<http://uk.mc244. 
>> >> mail.yahoo.<http://uk.mc244.mail.yahoo./>
>> com/mc/compose? to=4ekadj@ 
>> gmail.com<http://mc/compose?to=com%2Fmc%2Fcompose%3Fto%3D4ekadj%40gmail.com>>>
>>
>>
>> >>
>> >>
>> >
>> >
>> >> Pertemuan Ruang dan Waktu
>> >>
>> >> Kemarin ternyata sudah dilaksanakan wuquf di Arafah (: 'aku sudah
>> >> mengetahui'), yang menandakan puncak acara perjalanan haji. Seorang
>> senior
>> >> dan guru saya (semoga Allah swt melimpahkan rahmat kepada beliau)
>> >> menyampaikan satu wejangan sebelum saya berangkat haji, bila saya
>> nantinya
>> >> akan menyaksikan ‘pertemuan ruang dan waktu’ di Arafah, yaitu
>> bertemunya
>> >> tempat yang ditentukan dan waktu yang ditentukan, sebagai fenomena
>> >> pembelajaran terpenting bagi setiap perencana kehidupan. Tempatnya
>> adalah di
>> >> Arafah, dan waktunya adalah 10 Zulhijjah antara waktu Zuhur dan
>> Ashar.
>> >> Pertemuan juga dimaksudkan sebagai pertemuan antara manusia dengan
>> Tuhannya,
>> >> yang secara jarak fisik adalah begitu dekat. Sebuah hadits qudsi
>> menyebutkan
>> >> bahwa pada waktu dan tempat tersebut Allah swt akan turun langsung
>> ke muka
>> >> bumi dan menyaksikan segenap makhluknya berkhalwat dan berzikir
>> kepadaNya
>> >> serta memohonkan keampunan. Ya Allah, ampunilah kami.
>> >>
>> >> Momen waktu dan ruang tersebut juga menandakan puncak perjalanan
>> haji,
>> >> sebagaimana kita teladani dari Rasulullah saw (shalawat dan salam
>> kepadamu),
>> >> dan telah ditunjukkan sebelumnya oleh Ibrahim as (kesejahteraan
>> bagi engkau
>> >> wahai bapak bangsa). (2:128). Kesempatan yang sangat besar tersedia
>> pada
>> >> siapa pun yang berada di tempat tersebut dan waktu tersebut, untuk
>> meminta
>> >> ampun, berzikir, bermunajat, introspeksi, retropeksi, dan
>> mempersiapkan masa
>> >> depan; serta menyempurnakan rukun Islam.
>> >>
>> >> Telah kupenuhi panggilanMu Allahu Maha Besar, tidak ada sekutu
>> bagiMu.
>> >> Segala puji dan kebesaran hanya milikMu semata. Tidak ada sekutu
>> bagiMu.
>> >> (22:27-28).
>>
>
>

Kirim email ke