Pak Djarot dan rekan2 ysh.
Saya pernah mendatangi beberapa tempat, seperti gereja Notre Dome, Abbey,
Koln, dan Brugge. Yang di Brugge itu menarik karena ada lukisan dinding abad
pertengahan. Memang nuansa keagamaan untuk kota-kota di Eropah khususnya
terbangun sejak abad pertengahan. Untuk nuansa Hindu-Budha di Indonesia
telah terbangun jauh sebelum itu. Termasuk Maya-nya Pak Aby.

Sepertinya dirangkum oleh Machiavelli, bahwa setiap orang yang berdaulat
berdiri pada hubungan singularitas dan eksternalitas dan kemudian
transenden, untuk mengukuhkan kedaulatannya. Hal ini, menurut Victor Turner,
karena manusia selalu mengalami proses 'liminalitas' (liminality), yaitu
proses transisi dari dua tempat kedudukan yang berbeda (ambang pintu).
Seharusnya dilakukan ritual untuk mengiringi proses ini untuk memantapkan
pemindahan. Untuk ritual skala besar, atau untuk 'communitas'
 (community dikurangi struktur), maka dilakukan disain kota/kawasan
sedemikian rupa, termasuk juga disain arsitektur.

Hampir semua agama melakukan hal yang sama secara keruangan. Namun, menurut
saya, untuk agama Islam kurang begitu diperhatikan. Persyaratan liminalitas
terpulang kepada masing-masing individu: taubat, syukur, zikir, dan ikhlas.
Biasanya mudah dilakukan di tempat yang bersih dan tenang; dan apresiasi
yang sangat mendalam biasanya pada orang-orang yang sedang terzalimi dan
sedang menuntut ilmu. Karenanya ada hadits yang menyebutkan: 'tuntutlah ilmu
dari buaian sampai ke liang lahat' dan 'tuntutlah ilmu sampai ke negeri
Cina'; yang berarti diharapkan pada setiap muslim untuk selalu berada dalam
posisi liminalitas dan ingin berubah. Yang berarti juga, proses liminalitas
dilakukan dengan penuh kesadaran (conciousness) dan rasional, dan satu lagi:
bergerak dari satu tempat ke tempat lain (mobile).

Mungkin demikian sementara waktu pak. Mohon pelurusan dan penambahan dari
para ahli hikmah. Salam.

-ekadj


2009/12/3 Djarot Purbadi <[email protected]>

>
>
>   Pak Koes, Pak Eka, dan sahabats,
>
> Tambahan dan koreksi: contoh pengalaman spiritual dari agama lain tampaknya
> keliru. Seharusnya, misalnya dari kalangan Katolik ada orang yang
> berkali-kali dan rutin datang ke Sendangsono. bukan karena terpesona
> mahakarya Mangunwijaya, melainkan karena kerinduan mengalami pengalaman
> spiritual. Tampaknya tema "nilai ruang yang trandenden" bukan ekonomis atau
> sosial semata menjadi hal yang penting dalam profesi arsitektur atau
> perencanaan.
>
> Dengan demikian, deposit pengetahuan kita tidak hanya berisi teori-teori
> yang akan menjadikan kita sangat textbook thinking melainkan akan memperkaya
> cara berpikir kita menjadi lebih baik, yaitu trancendental thinking juga.
> Belajar dari pengalaman sendiri memang perlu tetapi kekayaan pengalaman
> orang lain juga sangat penting untuk memperkaya jiwa kita, praktek profesi
> kita. Apakah begitu ya ?
>
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
> http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On *Thu, 12/3/09, muhammad koeswadi <[email protected]>* wrote:
>
>
> From: muhammad koeswadi <[email protected]>
>
> Subject: Re: [referensi] Re: pertemuan ruang dan waktu
> To: [email protected]
> Date: Thursday, December 3, 2009, 5:37 AM
>
>
>
>   Mas ATA, Mas Ekadj, dll,
>  Alhamdulillah, para pemikir kita ini, telah memperoleh pencerahan dari
> sumberNya,.. .semoga *oleh-oleh cahayaNya bertahan lama*
> Siapa mau menyongsong, menyusu, dan menyusul
> Salam, KoesJKT
>
>
> --- On *Wed, 2/12/09, abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com>*wrote:
>
>
> From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com>
> Subject: Re: [referensi] Re: pertemuan ruang dan waktu
> To: refere...@yahoogrou ps.com
>
> Date: Wednesday, 2 December, 2009, 21:27
>
>
> Betul sekali,
> saya kebetualn merasakannya tanggal 9 tersebut...
> ...walau memiliki berbagai kultur asal yang berbeda semua yang hadir dapat
> mencair menjadi satu dalam waktu-ruang tersebut...bukan main....
> ...sedangkan sebelum dan sesudahnya, dalam waktu-ruang- kultur berbeda,
> padang Arafah sepi melompong... .tidak ada apa-apanya.. ..
>
> Wassalam,
> ATA
>
>>

Kirim email ke