Ralat dikit,
......
Saat ini yg menjadi penguasa dari golongan pengusaha sangat sedikit, yg banyak 
justru dari kalangan birokrat dan militer.....


-----Original Message-----
From: "Muslim Armas" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 31 Jul 2010 05:50:13 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [immam] secuil unek-unek


Kalo boleh sedikit urun rembuk, sebenarnya tdk ada yg salah jika pengusaha 
menjadi penguasa, yg justru saat ini terjadi adalah hal sebaliknya yakni 
penguasa yg menjadi pengusaha, maka negeri ini akan semakin rusak, kalo ini 
dibiarkan terus!

Saat ini yg menjadi penguasa dari golongan penguasa sangat sedikit, yg banyak 
justru dari kalangan birokrat dan militer, mereka disupport oleh cukong 
(sebutan utk pengusaha golongan hitam) dgn komitmen jika mrk jd penguasa akan 
mengembalikan uang berikut bunga2nya kepada cukong yg membandarinya dgn cara 
bagi2 proyek APBD/APBN.

Lihat Nabi kita, awalnya adalah pengusaha, setelah beliau diangkat menjadi 
Rasulullah, maka beliau tinggalkan usahanya, yg seperti inilah yg harus 
dicontoh bukan sebaliknya.

Salam hangat,
MA
-----Original Message-----
From: Bambang Abdul Nasir <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 31 Jul 2010 12:21:26 
To: immam all<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [immam] secuil unek-unek

Pengusaha dan Penguasa

Kemajuan selangkah demokrasi Indonesia yang memisahkan fungsi militer dari 
politik di Indonesia adalah hal yang sangat baik bagi perkembangan demokrasi di 
Indonesia. Sistem kepemimpinan milter yang secara structural sangat taat dan 
patuh pada atasan sangat gampang untuk mengarahkan politik militer. Selain itu 
kekuatan militer apabila dibenturkan dalam sistem perpolitikan akan sangat 
mengkhawatirkan terjadinya pelanggaran terhadap prinsip-prinsip demokrasi.

Disamping kekuatan militer terdapat kekuatan yang lebih dahsyat efeknya 
terhadap proses-proses demokrasi di Indonesia. Kekuatan uang sangat mendominasi 
keputusan-keputusan politik yang terjadi selama ini. Contohnya yang sangat 
jelas terjadi pada pilpres dan pilkada. Walaupun pada pilpres kali ini presiden 
yang terpilih adalah bukan seorang saudagar tetapi kekuatan modal sangat 
terlihat jelas pada saat kampanye. Dan masih samar-samar aliran dana yang 
digunakan oleh partai2 untuk berkampanye. 

Kekuatan uang ini sangat efektif mendominasi bila dibenturkan pada setiap 
pemilu baik pilpres dan pilkada. Dengan background penduduk Indonesia yang 
masih banyak hidup berada dibawah garis kemiskinan, maka dengan hanya sedikit 
kekuatan uang akan sangat berpengaruh pada keputusan politik tiap penduduk yang 
berpartisipasi dalam pemilihan.

Dilatarbelakangi oleh kegagalan rejim orde baru dalam menjalankan demokrasi 
tidak langsung yang pada akhirnya melahirkan orde reformasi  dan 
menggantikannya dengan sistem demokrasi langsung adalah hal yang sangat 
tergesa-gesa. Sistem demokrasi langsung ini dapat efektif dijalankan apabila 
ada minimum kesejahteraan dan minimum kecerdasan dari masyarakat Indonesia. 
Sebuah keterpaksaan demokrasi yang sedang kita jalani ini boleh dikatakan 
adalah peta comply demokrasi.

Sistem demokrasi langsung ini selain menggunakan anggaran biaya yang tinggi 
juga menghasilkan pemimpin-pemimpin daerah yang belum tentu dapat 
menyejahterakan negerinya. Sebab dalam berkampanye untuk pemilu sudah 
menggunakan  biaya yang tidak sedikit, sehingga biaya itu harus dikembalikan 
setelah dirinya terpilih menjabat pimpinan negeri. Bila disangkutkan dengan 
otonami daerah, maka pemimpin2 daerah ini akan menjadi raja2 kecil didaerahnya 
masing2.

Terjadinya politik uang ini tidak akan bisa dihindari sebab minimnya kecerdasan 
masyrakat tentang hak-hak politiknya dengan tujuan kemana harus disalurkan. 
Dengan kekuatan uang, siapapun di negeri ini dapat mempengaruhi institusi2 
politik formal dan non formal. Hal ini disebabkan masih banyak masyarakat 
Indonesia yang hidup berada di bawah garis kemiskinan sehingga sangat mudah 
untuk dipengaruhi dengan uang. Dengan demikian persyaratan minimum 
kesejahteraan dan minimum kecerdasan untuk menjalankan demokrasi langsung tidak 
dapat dipenuhi.

Ada beberapa faktor yang mendorong beberapa pengusaha ikut aktif dalam 
institusi-institusi politik formal, diantaranya adalah; ketidak pastian 
birokrasi dan keinginan memperbesar kekuasaanya. Ketidakpastian birokrasi 
disebabkan budaya Indonesia yang korup sering sekali membuat para pengusaha 
menjadi gusar yang bisa berefek pada masa depan bisnis mereka. Kemudian untuk 
menyelesaikan ketidakpastian itu, para pengusaha ikut berlomba-lomba dalam 
politik formal untuk dapat menduduki jabatan public sehingga dapat mempengaruhi 
jalannya birokrasi.

Mengutip pidato Srimulyani pada masa akhir jabatannya tentang perkawinan 
penguasa dan pengusaha adalah satu hal yang terjadi di negeri ini. Ironisnya 
perkawinan ini terjadi dari back ground untuk bekerja sama saling 
menutup-nutupi dosa2 mereka yang sudah terjadi. Dosa-dosa itu adalah skandal 
bank dan perpajakan.

Mengutip pemikiran Plato yang memisahkan antara golongan pemerintahan, golongan 
militer dan golongan rakyat. Golongan rakyat ini terdiri dari petani dan 
pedagang yang memikul pundi2 perekonomian Negara. Dengan pemisahan seperti itu 
tidak ada golongan yang berarsiran sehingga pembagian kerja sangat tertata 
dengan baik.

Dari hasil penelusuran awak, sebaiknya juga dipisahkan antara penguasa dan 
pengusaha sehingga tidak ada pengusaha yang dapat menduduki jabatan public. 
Apabila sangat rumit menentukan definisi pengusaha dapat dikategorikan saja 
berdasarkan tingkat profit usahanya sehingga pengusaha dengan tingkat profit 
tertentu tidak dapat menduduki jabatan public tertentu. Demikian unek-unek ini, 
lebih kurang mohon maaf. 

Wassalam,
Bambang AN




Kirim email ke