Jadi kalo mau kita lihat akar masalahnya, sebenarnya bukan masalah pengusaha yg 
menjadi penguasa, itu cuma fenomena permukaan, lihat saja Suharto yg militer 
tetapi menganakemaskan pengusaha tertentu termasuk anak2nya, tetapi yg menjadi 
masalah adalah :
1. Transparansi dana kampanye, bilang habis ratusan juta, kenyataan di lapangan 
puluhan milyar, nama penyumbang fiktif dll
2. KPU dan Panwaslu tdk pernah mendiskualifikasi kandidat yg melakukan money 
politics, semuanya TST, jd praktek tsb jalan terus
3. Masyarakatnya juga sakit, kandidat ngasih duit diterima dan kemudian dipilih 
pula tanpa mikir kalo udah jd penguasa si kandidat tadi akan korup
4. Setelah berkuasa dan korup, KPK lamban, nunggu reaksi masyarakat dulu, 
kejaksaan dan polisi apalagi, semuanya diselesaikan secara "adat", jd gak ada 
yg kapok jd koruptor, hukuman dari rakyatpun tak ada...

Solusinya:
1. Rakyat harus siuman, milih pemimpin yg cerdas, amanah bukan yg berani bayar 
tinggi
2. Pemilu betul2 transparan dgn sanksi yg tegas
3. Siapapun yg jadi penguasa harus meninggalkan profesi sebelumnya, apakah 
pengusaha, pengacara, militer dll
4. Siapapun kandidat harus jelas jumlah kekayaannya dan berapa duit dia pribadi 
yg mau dihabiskan utk kampanye, kalo kandidatnya PNS/aparat negara dgn kekayaan 
yg bisa diukur, patut dicurigai siapa bandarnya..., spy jgn sampai cukong tsb 
kongkalikong dgn si kandidat yg mjd penguasa....

Masalahnya apakah rakyat dan parpol mau? Yg mengangkat KPU khan politisi juga...
-----Original Message-----
From: Bambang Abdul Nasir <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 31 Jul 2010 15:57:53 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [immam] secuil unek-unek

Awak setuju kali Bang Lim.. Awak cuma mau nyampein unek2 aja.. soalnya negeri 
kita sedang dalam goncangan badai kata Syafii Maarif.. Tapi kok penguasanya 
masih tonang-tonang saja.. Tapi bolehlah kita berdebat kusir sikit ttg penguasa 
dan pengusaha tadi dgn ilmu awak yg seketek ini..

Sebenarnya pengusaha yang menjadi penguasa sudah terlihat efek buruknya dalam 
masa pemerintahan periode sebelumnya. Banyak yang merasa kecewa disebabkan 
beberapa proyek2 digarap oleh sang pengusaha yang penguasa tsb. Yang sudah 
kelihatan dengan jelas sekarang ini adalah perkawinan pengusaha dan penguasa 
tadi. Kedua golongan pengusaha dan penguasa ini saling bahu membahu dalam 
kezaliman. Perkawinan ini sudah berhasil menutupi kasus2 besarnya. Coba 
bayangkan apabila penguasa jadi satu badan dengan pengusaha. Bisa dibayangkan 
seberapa besar kekuatan politik itu. Dan yang terjadi sekarang adalah 
pertarungan politik antara beberapa pengusaha untuk memperebutkan kekuasaan.

Rasulullah saw dulu juga hidup sebagai pedagang. Begitu juga zaman khalifah Abu 
Bakar ra, Umar ra, Usman ra dan Ali ra semua mereka hidup sebagai pedagang. 
Tapi setelah menjadi pejabat pemimpin negeri, perdagangan itu ditinggalkan. 
Yang menjadi permasalahan adalah apakah pengusaha sekarang mau meninggalkan 
usahanya setelah menjadi pemimpin negeri?

Menegenai kong kali kong antara penguasa dan pengusaha sebenarnya dapat diatasi 
dengan fungsi2 pengawasan yang ketat. Sebenarnya sudah ada audit utk proyek2 
APBN/APBD. Tapi karena budaya Indoneisa yang masih korup sangat sulit 
menyelesaikan masalah ini. Pengawasnya juga jadi ikut2 korup. Alamak jadi 
membahas korupsi pulak. Gitu ajalah Bang.. Makasih atas koreksi sebelumnya..

Wassalam,
BAN


--- Pada Sab, 31/7/10, Muslim Armas <[email protected]> menulis:

Dari: Muslim Armas <[email protected]>
Judul: Re: [immam] secuil unek-unek
Kepada: [email protected]
Tanggal: Sabtu, 31 Juli, 2010, 12:50 PM







 



  


    
      
      
      













Kalo boleh sedikit urun rembuk, sebenarnya tdk ada yg salah jika pengusaha 
menjadi penguasa, yg justru saat ini terjadi adalah hal sebaliknya yakni 
penguasa yg menjadi pengusaha, maka negeri ini akan semakin rusak, kalo ini 
dibiarkan terus!

Saat ini yg menjadi penguasa dari golongan penguasa sangat sedikit, yg banyak 
justru dari kalangan birokrat dan militer, mereka disupport oleh cukong 
(sebutan utk pengusaha golongan hitam) dgn komitmen jika mrk jd penguasa akan 
mengembalikan uang berikut bunga2nya kepada cukong yg membandarinya dgn cara 
bagi2 proyek APBD/APBN.

Lihat Nabi kita, awalnya adalah pengusaha, setelah beliau diangkat menjadi 
Rasulullah, maka beliau tinggalkan usahanya, yg seperti inilah yg harus 
dicontoh bukan sebaliknya.

Salam hangat,
MAFrom:  Bambang Abdul Nasir <ben...@yahoo. com>
Sender:  im...@yahoogroups. com
Date: Sat, 31 Jul 2010 12:21:26 +0800 (SGT)To: immam all<im...@yahoogroups. 
com>ReplyTo:  im...@yahoogroups. com
Subject: [immam] secuil unek-unek

 



    
      
      
      Pengusaha dan Penguasa



Kemajuan selangkah demokrasi Indonesia yang memisahkan fungsi militer dari 
politik di Indonesia adalah hal yang sangat baik bagi perkembangan demokrasi di 
Indonesia. Sistem kepemimpinan milter yang secara structural sangat taat dan 
patuh pada atasan sangat gampang untuk mengarahkan politik militer. Selain itu 
kekuatan militer apabila dibenturkan dalam sistem perpolitikan akan sangat 
mengkhawatirkan terjadinya pelanggaran terhadap prinsip-prinsip demokrasi.



Disamping kekuatan militer terdapat kekuatan yang lebih dahsyat efeknya 
terhadap proses-proses demokrasi di Indonesia. Kekuatan uang sangat mendominasi 
keputusan-keputusan politik yang terjadi selama ini. Contohnya yang sangat 
jelas terjadi pada pilpres dan pilkada. Walaupun pada pilpres kali ini presiden 
yang terpilih adalah bukan seorang saudagar tetapi kekuatan modal sangat 
terlihat jelas pada saat kampanye. Dan masih samar-samar aliran dana yang 
digunakan oleh partai2 untuk berkampanye. 



Kekuatan uang ini sangat efektif mendominasi bila dibenturkan pada setiap 
pemilu baik pilpres dan pilkada. Dengan background penduduk Indonesia yang 
masih banyak hidup berada dibawah garis kemiskinan, maka dengan hanya sedikit 
kekuatan uang akan sangat berpengaruh pada keputusan politik tiap penduduk yang 
berpartisipasi dalam pemilihan.



Dilatarbelakangi oleh kegagalan rejim orde baru dalam menjalankan demokrasi 
tidak langsung yang pada akhirnya melahirkan orde reformasi  dan 
menggantikannya dengan sistem demokrasi langsung adalah hal yang sangat 
tergesa-gesa. Sistem demokrasi langsung ini dapat efektif dijalankan apabila 
ada minimum kesejahteraan dan minimum kecerdasan dari masyarakat Indonesia. 
Sebuah keterpaksaan demokrasi yang sedang kita jalani ini boleh dikatakan 
adalah peta comply demokrasi.



Sistem demokrasi langsung ini selain menggunakan anggaran biaya yang tinggi 
juga menghasilkan pemimpin-pemimpin daerah yang belum tentu dapat 
menyejahterakan negerinya. Sebab dalam berkampanye untuk pemilu sudah 
menggunakan  biaya yang tidak sedikit, sehingga biaya itu harus dikembalikan 
setelah dirinya terpilih menjabat pimpinan negeri. Bila disangkutkan dengan 
otonami daerah, maka pemimpin2 daerah ini akan menjadi raja2 kecil didaerahnya 
masing2.



Terjadinya politik uang ini tidak akan bisa dihindari sebab minimnya kecerdasan 
masyrakat tentang hak-hak politiknya dengan tujuan kemana harus disalurkan. 
Dengan kekuatan uang, siapapun di negeri ini dapat mempengaruhi institusi2 
politik formal dan non formal. Hal ini disebabkan masih banyak masyarakat 
Indonesia yang hidup berada di bawah garis kemiskinan sehingga sangat mudah 
untuk dipengaruhi dengan uang. Dengan demikian persyaratan minimum 
kesejahteraan dan minimum kecerdasan untuk menjalankan demokrasi langsung tidak 
dapat dipenuhi.



Ada beberapa faktor yang mendorong beberapa pengusaha ikut aktif dalam 
institusi-institusi politik formal, diantaranya adalah; ketidak pastian 
birokrasi dan keinginan memperbesar kekuasaanya. Ketidakpastian birokrasi 
disebabkan budaya Indonesia yang korup sering sekali membuat para pengusaha 
menjadi gusar yang bisa berefek pada masa depan bisnis mereka. Kemudian untuk 
menyelesaikan ketidakpastian itu, para pengusaha ikut berlomba-lomba dalam 
politik formal untuk dapat menduduki jabatan public sehingga dapat mempengaruhi 
jalannya birokrasi.



Mengutip pidato Srimulyani pada masa akhir jabatannya tentang perkawinan 
penguasa dan pengusaha adalah satu hal yang terjadi di negeri ini. Ironisnya 
perkawinan ini terjadi dari back ground untuk bekerja sama saling 
menutup-nutupi dosa2 mereka yang sudah terjadi. Dosa-dosa itu adalah skandal 
bank dan perpajakan.



Mengutip pemikiran Plato yang memisahkan antara golongan pemerintahan, golongan 
militer dan golongan rakyat. Golongan rakyat ini terdiri dari petani dan 
pedagang yang memikul pundi2 perekonomian Negara. Dengan pemisahan seperti itu 
tidak ada golongan yang berarsiran sehingga pembagian kerja sangat tertata 
dengan baik.



Dari hasil penelusuran awak, sebaiknya juga dipisahkan antara penguasa dan 
pengusaha sehingga tidak ada pengusaha yang dapat menduduki jabatan public. 
Apabila sangat rumit menentukan definisi pengusaha dapat dikategorikan saja 
berdasarkan tingkat profit usahanya sehingga pengusaha dengan tingkat profit 
tertentu tidak dapat menduduki jabatan public tertentu. Demikian unek-unek ini, 
lebih kurang mohon maaf. 



Wassalam,

Bambang AN





    
     

    










    
     

    
    


 



  






Kirim email ke