Amin Djamaluddin: Ajaran ESQ Ary Ginanjar tentang Asma Allah Jelas Menyimpang

RAMAINYA kontroversi ESQ Model Ary Ginanjar Agustian setelah difatwa sesat oleh 
Mufti Malaysia, tak luput dari perhatian H Amin Djamaluddin. Pengurus Majelis 
Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini memang telah menjadi rujukan informasi berbagai 
aliran dan paham sesat di Indonesia. Hampir setiap aliran sesat yang merebak di 
nusantara, Aminlah yang menjadi saksi ketika kasusnya disidang di pengadilan.

Bulan lalu, tepatnya 1 Juni 2010 tokoh bersahaja yang akrab disapa Pak Amin 
menjadi saksi ahli dalam sidang penodaan agama yang dilakukan oleh aliran sesat 
Surga Eden Cirebon, Jawa Barat. Aliran Surga Eden yang dipimpin oleh Nabi Palsu 
Tantowi ini divonis sesat karena ajarannya menyimpang dari Islam, antara lain: 
pimpinannya, Ahmad Tantowi mengaku sebagai Tuhan semesta alam yang menjanjikan 
surga bagi pengikut wanitanya dengan satu syarat: mau ML (bersetubuh) 
dengannya. Sebagai tuhan sekte, Tantowi melarang pengikutnya mengamalkan 
syariat agama Islam, seperti shalat lima waktu, puasa ramadhan, dan mengaji 
Al-Qur’an.

Ditemui wartawan voa-islam.com, Kamis malam (8/7/2010) di kantor Lembaga 
Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) kawasan Tambak, Jakarta Pusat, pakar 
dan pemerhati aliran sesat ini bicara blak-blakan tentang ESQ. Dengan bahasa 
yang gamblang, tanpa tedeng aling-aling, Pak Amin yang juga pengurus Dewan 
Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Pusat ini menyatakan penyimpangan ajaran ESQ 
Ary Ginanjar dalam buku resmi ESQ. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana tanggapan Pak Amin tentang kontroversi ESQ Ary Ginanjar.

Bagi saya, setelah membaca buku “Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan 
Spiritual ESQ” yang ditulis oleh Ary Ginanjar, pemahaman tentang Asmaul Husna 
itu jelas sangat menyimpang.

Sebab dalam ayat itu kan disebutkan “walillahil asmaa`ul Husna fad’uuhu bihaa.” 
Begitu perintah Allah dalam Al-Qur'an. Terjemahan Depag disebutkan, “Hanya 
milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut 
asmaa-ul husna itu.”

Di situ ada kata “hanya.” Asmaul Husna itu hanya milik Allah. Kita 
diperintahkan “fad’uhu biha” bermohonlah kepadanya dengan menyebut Asmaul 
Husna itu, yaitu berdoa dengan menyeru: Ya Allah, ya Rahman, ya Ghaffar, dan 
seterusnya.

Tapi Asmaul Husna dalam buku ESQ diartikan menyimpang. Misalnya “Al-Majid” 
diartikan saya bersifat mulia. “Al-Majid”nya Allah diartikan Ary Ginanjar 
dengan makna “saya bersifat mulia.” Mengaku sebagai orang yang mulia itu adalah 
sifat yang angkuh dan sombong. Kalau orang lain yang menilai kita mulia, itu 
ndak masalah. Tapi kalau kita sendiri yang mengaku mulia, ini kan pengakuan 
yang angkuh dan sombong.

Contoh lainnya, Asmaul Husna “Huwal awwalu wal-akhir” diartikan menjadi “saya 
bersikap selalu menjadi  orang pertama dan terakhir.” Ayat “Huwal awwalu 
wal-akhir” itu disamakan dengan kita.

Tidak bisa manusia masuk menyerupai asma Allah, kekuasaan Allah, kebesaran 
Allah, dan Rahman Rahimnya Allah. Tidak bisa! Jangan dibandingkan manusia 
dengan Allah. Apa sih artinya manusia, kok dibandingkan dengan kebesarannya 
Allah?

Apa saja yang dinilai menyimpang dalam buku ESQ tersebut?

Menurut saya, kesalahan yang paling mendasar dalam buku ESQ ini adalah 
penyimpangan makna Asmaul Husna, karena ini adalah kunci dan inti buku ini. 
Dalam buku ini, masalah Asmaul Husna merupakan kesimpulan akhir.

Asmaul Husna “Al-Muqsith” diartikan saya adil dalam menghukum. Bagaimana 
mungkin menyamakan keadilan Allah dengan keadilan manusia?

Ini adalah penyimpangan yang ingin menyaingi Allah SWT. Sama kayak HMA Bijak 
Bestari yang dulu sering tampil di televisi tiap Sabtu mengobati orang. Bijak 
Bestari mengaku dirinya tuhan tertinggi di atas Allahu Akbar. Allahu Akbar 
setingkat di bawah dia. Hampir sama ESQ dengan HMA Bijak Bestari.

...kesalahan yang paling mendasar dalam buku ESQ ini adalah penyimpangan makna 
Asmaul Husna. Ini adalah penyimpangan yang ingin menyaingi Allah SWT...

Bagaimana dengan doktrin ESQ Ary Ginanjar yang menjadikan suara hati sebagai 
sumber utama kebenaran?

Dalam buku tersebut Ary Ginanjar menulis imbauan: “Pergunakanlah suara hati 
anda yang terdalam sebagai sumber kebenaran, yang merupakan karunia Tuhan” 
(Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ, hal. liv).

Ini tidak benar. Tidak ada ukuran kebenaran dengan suara hati. Manusia tidak 
bisa menemukan kebenaran kalau mengikuti suara hati. Karena kebenaran itu hanya 
dari Allah dan Rasul-Nya. Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 147 Allah menyatakan: 
“Al-haqqu min robbika.” Kebenaran itu hanya dari Allah. Jadi tidak ada jaminan 
kebenaran berdasarkan suara hati.

Apa sih artinya suara hati? Kebenaran menurut Islam, sumbernya adalah qolalloh 
dan qola rosululloh (apa kata Allah dan Rasulnya, red.). Jangan jadikan suara 
hati sebagai sumber kebenaran, karena setan bisa mengendalikan hati.

Apa ukurannya, rumusannya apa kalau suara hati dijadikan kebenaran? Karena 
suara hati setiap orang itu berbeda-beda. Jangan coba-coba jadikan suara hati 
sebagai sumber kebenaran!

...ESQ tidak benar. Manusia tidak bisa menemukan kebenaran kalau mengikuti 
suara hati. Karena kebenaran itu hanya dari Allah dan Rasul-Nya. Jadi tidak ada 
jaminan kebenaran berdasarkan suara hati...

Tapi menurut Ary Ginanjar, Nabi Muhammad adalah pemimpin yang mengandalkan 
logika dan suara hati.

Tidak benar! Rasulullah itu bertindak sesuai dengan petunjuk dan wahyu Allah. 
Rasulullah itu tidak menggunakan suara hati, tapi dibimbing wahyu.

Rasulullah pernah memakai sepatu (khuf). Ketika bersuci, Rasulullah mengusap 
bagian atas sepatu. Padahal menurut logika, seharusnya yang diusap 
(dibersihkan) adalah bagian bawah sepatu, karena yang kotor adalah bagian bawah 
sepatu. Makanya dalam hadits Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Seandainya agama itu dengan akal niscaya yang lebih pantas diusap adalah 
bagian bawah khuf daripada bagian atasnya. Sungguh aku melihat Rasulullah 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap di atas kedua khufnya.” 

Agama adalah wahyu, bukan logika dan suara hati. Logika dan suara hati setiap 
manusia itu tidak sama.

...Agama adalah wahyu, bukan logika dan suara hati. Logika dan suara hati 
setiap manusia itu tidak sama...

Bagaimana dengan klaim Ary Ginanjar bahwa mukjizat Nabi itu tidak bisa diterima 
dengan akal?

Masuk akal atau tidak, mukjizat Nabi itu harus kita terima dengan iman. Karena 
mukjizat itu memang tidak bisa diterima oleh akal. Tapi iman bisa menerimanya. 
Jangan menolak mukjizat meskipun akal tidak bisa menerimanya.

Makanya kayak aliran Isa Bugis yang menolak mukjizat karena dianggap tidak 
sesuai dengan akal pikiran.

...Jangan menolak mukjizat meskipun akal tidak bisa menerimanya,  kayak aliran 
Isa Bugis yang menolak mukjizat karena dianggap tidak sesuai dengan akal 
pikiran...

Apa sikap Pak Amin terhadap para tokoh Islam yang mendukung ESQ?

Saya akan temui MUI dan Dewan Dakwah yang mendukung ESQ Ary Ginanjar. Juga 
kepada orang Depag yang membela ESQ akan saya temui, akan saya jelaskan masalah 
ini.

Ini menegakkan aqidah. Ini bukan soal Malaysia atau Indonesia, tapi masalah 
aqidah. Masalah aqidah tidak terbatas wilayah negara. Orang kok diajak supaya 
menjadi seperti sifatnya Allah, ini tidak benar.

Asma Allah “Al-Majid” diartikan Ary Ginanjar dengan makna “saya bersifat 
mulia.” Hanya iblis saja yang punya prinsip “ana khairun minhum” (aku lebih 
baik, red.) itu.

Karena ini masalah akidah, siapapun yang bertanya akan saya jelaskan bahwa ESQ 
ini menyimpang.

...Hanya iblis saja yang punya prinsip “ana khairun minhum” (aku lebih baik)...

Apa imbauan Pak Amin untuk ESQ Ary Ginanjar?

Saya berharap agar dia kembali kepada kebenaran, mudah-mudahan dalam hal ini 
hanya khilaf karena kurangnya pemahaman tentang agama. Mudah-mudahan sadar 
kembali kepada kebenaran, dan mau mengakui kesalahannya. Namanya manusia itu 
bisa saja salah. Kita bukan cari ribut, tapi kalau dia tetap bertahan, ya akan 
jadi masalah nanti. Rujuklah kepada al-haqq. [taz, zak/voa-islam.com

Kirim email ke