Di Jepang, orang ditawarin duit supaya punya anak. Balik-baliknya ke budaya (tradisi), wawasan dan tingkat pendidikan kayaknya.
Mengenai pemerintah, kayaknya sulit diharapkan deh. Bukan sulit, mustahil. Bayangin aja, rakyat hidup susah, anak-anak mati busung lapar, eeh, menteri dibeliin mobil 1,3 miliar. Katanya biar nggak mogok di jalan. He he he... pembelaan yang tolol banget nggak sih? Emang mobil yang 300 juta suka mogok di jalan? Crown Royal Saloon 3000 cc itu bensinnya 1:10 (1 liter 10 rumah) dan kita mau mengharapkan pengurangan emisi CO2 dari orang-orang seperti itu? Empati terhadap sesama manusia masa kini aja, yang jelas-jelas hidupnya menderita dan kelihatan di depan mata, nggak ada. Apalagi empati terhadap Bumi dan manusia-manusia masa depan, yang notabene nggak kelihatan di depan mata? Saat ini gue jadi tidak menutup mata pada eco-terrorism sebagai salah satu alternatif. Sorry kalau statement ini membuat komunitas kita jadi dipantau oleh CIA dan kroni-kroninya (seperti BIN.) Tapi ini pandangan pribadi. Di luar dari sumbangan pribadi yang kecil-kecil itu (yang secara kolektif menjadi besar dan sangat berpengaruh) sepertinya tetap dibutuhkan tindakan ekstrim untuk menyelamatkan Bumi. Kalo enggak sih, wallahualam deh. Ario ________________________________ From: iful <[email protected]> Nah ini nih...salah satu pangkal masalah: laju pertumbuhan manusia yg tidak terkontrol. Anehnya. ..hanya negara berkembang saja yg jadi kontribusi utama jumlah manusia, sedangkan negara maju...bisa dikatakan stagnan populasinya. tambahan aja CO2 bukan sebagai enemy tapi kadar yg tinggi lah enemynya /ivul [Non-text portions of this message have been removed]
