Teman teman semua, Pertama sekali aya berterima kasih untuk email yang membahas "carita,by public transportation". dari email tersebut saya bisa melaksanakan perjalanan satu hari ke Anyer. Begini ceritranya : Dari Cikupa, Tangerang saya naik bus tujuan Kali Deres (sst, jangan tertawa dulu, saya harus berjumpa dengan teman seperjalanan yang tidak tahu bagaimana naik bus ke arah Tangerang sehingga bersepakat untuk bertemu di terminal trans jakarta Kali Deres). Pada jam 8.50, bus Arimbi tujuan Merak, tidak ber AC dengan tarif Rp 12.000,- keluar dari terminal Kali Deres. Di pintu terminal, seorang petugas (pria berseragam kantor, mungkin DLLAJR?) naik ke bus dan memberikan karcis rettribusi yang harus kami bayar, Rp 200,- seorang. Loh untuk apa ya? bukannya harus dibayar oleh perusahaan bus? Bus berjalan dengan kecepatan sedang, sambil menaikkan penumpang sepanjang perjalanan. Kemudian bus masuk ke Setopan banten untuk "toilet break". Saya lihat jam ternyata sudah jam 10.25. Agak deg deg an, ntar sampai di pantai jam berapa ya? Kemudian bus bergerak cepat di jalan tol menuju pelabuah Merak, dalam perjalanan ini, bus beberapa kali keluar dari pintu tol untuk mengangkat penumpang dna memutar kembali masuk ke jalan tol. Akhirnya, kami tiba di pelabuhan merak pada jam 11.30. Masuk ke pelabuah dan melihat melihat kapal serta bertanya tentang tarif dan jenis jenis kapalnya. Apa saja yang dapat dilakukan jika "day trip" menyeberang memakai kapal cepat. Setelah itu, kami keluar pelabuah dan naik mobil angkot warna Merah yang arah kota. Tarifnya Rp 5000,- seorang. Di suatu tempat, pak sopir angkot ini, sesuai permintaan, menunjukkan angkot yang akan membawa kami ke pantai Anyer. Kami menyeberang. dan penumpang hanay kami berdua. sehingga pak sopir nya mengendarai dengan lambat, sambil mencari penumpang. Penumpang banyak yang naik selama perjalanan yang lambat ini dan rata rata memberikan uang sebesar Rp 1000,- atau Rp 2000,- ketika turun. Selama perjalanan, saya emngobrol dengan sesama penumpang dan sambil menggali informasi mengenai kehidupan mereka. Ada yang penjual yang membawa perabotan seperti lemari kecil dan berterima kasih karena dibantu, pengalaman sebagai istri muda, anak anak sekolah SMP yang kerjanya cekikikan terus. Akhirnya kami berhenti di Pertamina cottage karena tulisan yang jelas UNTUK UMUM. Menurut pak sopir dan juga sesama penumpang. Wah ditemapt lain mah harus bayar but menginap, gak usah pergi ke tempat lain. Nah loh. darimana dia tahu ya? Apa tertulis di jidat ku , turis miskin. Tetapi ketika meminta ongkos, pak sopirnya bilang satu orang Rp 7000,-. lah piye? Kami masuk ke Pertamina Cottage, berjalan jalan sekeliling, cukup asri tapi tak banyak pengunjung. Setelah menikmati bekal yang dbawa, kami duduk duduk santai sambil memandang ombak. Saat perut mulai keroncongan karena ini sudah jam makan yang siang yang sangat terlambat, kami keluar dan bertanya kepada pak Satpam, dimana ada restoran yang murah. Bapak Satpam yang muda ini, menunjukkan adanya restoran nasi uduk yang tidak jauh dari cottage tersebut. Kami berjalan kaki dan menemui restorannya, lalu mencek menu dan melihat koleksi "fresh seafood" nya. Tidak cocok, lebih bagus sea food di Sarang Kepititng di tangerang. Pilihan jatuh pada sop asparagus dan nasi ayam uduk dan pete goreng. Nyam nyam, makanan yang enak. Setelah perut kenyang, kami kembali ke Pertamina Cottage dan duduk kembali di tempat semula. Sambil menunggu matahari terbenam, kami menghabiskan sisa satu botol bir dan buah semangka yang masih dingin. Setelah matahari terbenam. para pengunjung juga mulai kembali ke kendaraan masing masing. ketika berjumpa kembali ke dengan bapak satpam baik hati, dia membantu memanggil angkot, kali ini ankot warna silver, tarifnya Rp 5000,- dan karena angkot nya penuh, langsung sampai di simpang tiga, Cilegon. Di simpang tiga ini, kami berjumpa dengan seorang petugas Arimbi, dia bilang tugasnya sebagai "timer", yang memberi kami tempat untuk duduk sambil menunggu bus ke arah Kali Deres. Ternyata untuk pulang ke Jakarta, bus ini lebih banyak mengambil jalan tol, sehingga perjalanan cepat sekali. Dan bus ini ternayta memutar di Bitung, sehingga saya pun turun di Bitung untuk kembali ke Cikupa sementara pasangan perjalanan saya akan ke Kali Deres dan melanjutkan Trans Jakarta. Selama perjalanan menuju Merak, banyak pengamen, saya hitung ada 7 group yang tampil sedangkan dari Cilegon ke arah kali deres hanya ada 3 group . Ada satu group pengamen yang cukup bagus menyanyinya. dan ada satu lagu yang mengisahkan seorang bromocorah memberi pesan kepada anaknya agar tetap sekolah kurang lebih ini lirik yang sempat saya catat : jangan ikuti jejak bapak Nak, maafkan aku Doakan bapak selamat dari penembak ada berita di koran akan menembak bromocorah pikirkan masa depan mu Biarpun kadang kadang para pengamen itu ada yang menyebalkan, tetapi banyak juga diantara mereka yang tampak sungguh2 bisa menyanyi dan berlatih. Saya berharap mereka mendapatkan kesempatan dan bisa menjadi "iwan fals". Sekian dulu ceritra satu hari ke Anyer salam jalan jalan tiur
--------------------------------- Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta. [Non-text portions of this message have been removed]
