Sewaktu di jalanan Jogja-Maospati dengan bis sepoi-sepoi Sumber
Kencono, kesal dan jengkel jadi satu pada pengamen. Lah wong enak2
tidur kok ditabok minta receh. Ngg mau ngasih kok mengumpat. Rasanya
uang 200 rupiah jadi tak seiklas dulu. 

Rasa sabar emang diuji benar. Ngg dikejar waktu, ngg dikejar setoran.
Saya akhirnya menikmati lagi rute  full pengamen ini dengan senyum.
Mendengarkan lagu2 ala samson, nidji, radja etc yang dibawakan anak2
muda tanggung yang menghimpun keberanian seperti layaknya Indonesia
Idol Wannabe. Memandang trenyuh anak kecil bernyanyi dengan serak
sembari memukul kecrekan. Tersenyum kulum mendengar pengamen
bertampang rocker tapi menyanyikan lagu campursari (lagu jawa) yang
dikemas full orchestra (2 orang ukelele, 1 orang ketipung dan seorang
penyanyi). 

Terminal Giwangan emang oke punya, tapi calo tidak akan ada habisnya.
Probolinggo apalagi. Mungkin memang manusianya, mungkin memang kultur
wetanan (jawatimuran) yang berdarah panas. Wong jawa iku alus neng nek
nabok ya lara (orang jawa itu halus tapi kalau mukul juga bikin sakit). 

Kapan lagi saya nikmati ini. Sisi yang membuat saya selalu kangen
Indonesia. 

Salam,
Ambar

 
--- In [email protected], Aris <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> No thanks to: tukang calon tipu di beberapa terminal yang saya singgahi,
> setidaknya wajar deh.. Terminal probolinggo Buruk, bukan terminal nya yg
> buruk, mungkin hanya sebagian orang2x nya..
> wis, ikut emang kenekku rada edan sitik!   ngajak berantem.. cuma karena
> liat Bule!  harga harus 2 x lipat..
> No thanks to Calo di terminal Yogya, terminal keren.. calo tetep aja
> pasang harga tinggi..
> 


Kirim email ke