Hmmm.... Backpacker - menurut Michel Picard dalam bukunya "Bali : Pariwisata Budaya, Budaya Pariwisata" adalah wisatawan gaya baru dan digambarkan sebagai pangsa Pasar yang muda, terdidik, beranggaran terbatas dan lebih mengutamakan pengalaman eksotik dan pergaulan dengan penduduk setempat daripada kenyamanan dan kemewahan.
Michel Picard nggak menyinggung2 pilihan tas dalam definisinya. Menurut saya, selama perjalanan itu memberi arti, baik itu utk relax atau hal yg lebih dalam, misalnya utk menyelami kearifan lokal, atau berpetualang ke dalam diri spt teman kita yg hebat ke Bali dgn Rp6000,-, maka itulah perjalanan yg bermutu! Teman yg berpetualang dgh hanya Rp6000,- itu pada akhir petualangannya mendapatkan suatu pemahaman. Dalam hal ini, yaitu : Uang bukan Tuhan. Perjalanan pencarian makna yg hebat. Pilihan tas, in my humble opinion, itu nomor kesekian. Setiap perjalanan sebaiknya membawa makna bagi diri. Ada kecenderungan anak2 muda sekarang traveling atau backpacking, atau apa pun istilahnya, bukan utk mendapatkan sesuatu, tapi utk mendapatkan pengakuan dari lingkungan sosialnya. Sebuah usaha aktualisasi diri yg tidak perlu, kata Puguh. Sori kata2 sakti loe gw kutip... heehehe....... Backpacker sendiri istilah yg baru hype pd tahun 70-an. Karena dulu anak2 muda penjelajah itu pada bawa2 backpack, maka disebutlah istilah backpacker. Kalo dulu tasnya ada yg udah pake roda, maka namanya dulu mungkin ya Wheelpacker :) Atau mungkin kalo ahli2 fisika kita udah bisa mengubah massa menjadi gelombang cahaya, maka bawaan kita yg berat itu bisa di ZZZaaapp!!.....hilang! Menjadi gelombang cahaya, yg bisa dimasukkan ke portable storage yg bisa di download di tempat tujuan :) Dan namanya jadi? Zzapppackingzz..... keren kan? Salam, Tari
