Assalamu alaikum dan Salam sejahtera

Akhir minggu saya ada kesempatan ke Thailand.. Untuk itu, saya tuliskan 
kesan-kesan selama di Thailand untuk berbagai cerita dengan jamaah milis 
Backpacker. Selamat membaca...

Sama dengan Bangkok, Hatyai juga memberikan kesan bersih. Walaupun susah 
menemukan tempat sampah di sepanjang jalan. Sehingga ketika menyelesaikan makan 
nasi lemang dengan bambu kecil, maka saya kesulitan untuk membuang sampahnya. 
Akhirnya sampah terset dimasukkan kedalam tas. Saat menemukan tong sampah di 
bangunan supermaket Tesco, baru kemudian sampah-sampah tersebut dikeluarkan 
dari tas.

Pertanyaan yang selalu membayangi saya jika bepergian ke bagian manapun di 
Thailand yaitu apa keistimewaan Thailand sehingga mereka menjadi tujuan utama 
wisata di Asia Tenggara?. Walaupun pertanyaan tersebut kerap saya bawa ke 
Thailand ketika pulang ada saja jawaban yang berbeda yang saya dapatkan ketika 
kembali. Ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di Bangkok jawabannya 
adalah respon petugas imigrasi yang senantiasa ramah dan helpful. Ketika 
petugas imigrasi melihat ada antrian yang melebihi 20 orang di setiap loket, 
maka dengan cepat mereka akan mengirimkan petugas imigrasi yang lain untuk 
memeriksa kelengkapan data kartu kedatangan pengunjung sehingga ketika paspor 
dan kartu kedatangan disampaikan petugas imigrasi di loket, penyelesaian 
administratif akan lebih cepat terselesaikan. Ini terjadi lagi, ketika saya 
akan meninggalkan Sadao di perbatasan Thailand dengan Kedah, Malaysia. Ketika 
antrian melebihi 20 orang di setiap loket, seorang petugas
 imigrasi akan mengarahkan para pengunjung untuk menuju loket yang dikhusus 
untuk mengatasi penumpukan pengunjung. Sehingga antrian yang tadinya mencapai 
20-an orang menjadi tidak sampai 10 orang. Ini tidak akan didapatkan di 
perbatasan Johor – Singapura demikian pula Singapura – Batam. Pemeriksaan 
paspor di empat tersebut kadang membuat pengunjung mesti menunggu sehingga tiga 
jam lebih. Terakhir, perjalanan dari Singapura ke Johor, akhir Juli lalu mebuat 
saya harus menempuh antrian selama hampir empat jam. Saat itu kepadatan antrian 
terjadi di Woodland, sehingga begitu menyelesaikan tangga naik dari lantai 
parkir bis, kami harus langsung berdiri di antrian.

Jawaban saya kali ini dalam persoalan keistimewaan Thailand adalah wisata 
kuliner yang sangat variatif. Mulai dari makanan laut (seafood) sampai pada 
makanan ringan atau kue. Demikian pula harga baju yang murah dibandingkan 
dengan kualitas barang yang sama di Kuala Lumpur, maka di Thailand harganya 
lebih rendah. Bahkan harganya hampir sama dengan yang ada di Bangkok dan 
Hatyai. Sebagai contoh, baju kaos yang dengan pilihan berbagai warna serta 
dengan tulisan Thailand, harganya 95 Bath. Kalau di Bangkok seharga 100 Bath. 
Dapat dikurskan menjadi 10 ringgit atau bahkan kurang. Dengan harga 10 ringgit 
kita akan kesulitan mendapatkan baju dengan kualitas bagus di bahagian manapun 
di Kuala Lumpur termasuk di Chow Kit, kawasan pasar yang banyak didiami orang 
Indonesia. Baju seharga 10 ringgit sangat tipis dan kadang-kadang untuk 
pemakaian beberapa kali. Sementara baju dengan harga 100 Bath yang saya beli di 
Bangkok 2007 lalu, masih bisa dipakai sehingga
 sekarang. Sementara sablonannyapun tidak berubah.
 
Kembali kepada pilihan makanan. Hidangan Tom Yam yang kalau di Hotel Hilton, 
Jakarta dihargai 75 ribu rupiah, maka di Hatyai bertempat di restoran, berharga 
80 Bath atau 8 Ringgit. Sementara itu es cendol, seharga 20 Bath atau 2 
Ringgit. Salah satu makanan selain Tom Yam yang kerap saya cari ketika berada 
di Thailand adalah cendol. Dalam selera saya, santan yang dipakai lebih kental 
dan sangat terasa di lidah. Saya belum menemukan jawaban dari pertanyaan ini. 
Mungkin kelapa mereka memang berbeda atau cara pengolahan santan yang berbeda. 
Entah, yang pasti ingatan saya kerap kembali ke cendol Thailand.

Kalau media banyak memberikan informasi tentang kerusuhan di Thailand Selatan, 
maka kesan tersebut akan lenyap ketika mengijakkan kai di Hatyai. Tiada 
kerusuhan atau bahkan apa-apa. Senyum yang menghiasi wajah-wajah penduduk 
Hatyai ditemukan dimana-mana. Para penduduk lokal ketika bertemu di jalanan 
selalu mengucapkan sawadika atau salam. Ketika mengunjungi pusat perbelanjaan 
Tesco, beberapa pegawai Tesco yang sementara menyusun barang, ketika kami 
melewatinya dengan spontan mengucapkan salam dengan tangan yang diletakkan di 
depan dada. Aha....., keramahtamahan penduduk Thailand adalah jawaban yang lain 
dari pertanyaan mengapa tingkat kunjungan wistawan yang sangat tinggi ke negara 
mereka. Saat saya bertanya arah, maka dengan senang hati meraka akan mencoba 
menjawab walaupun kadang-kadang mereka tidak mengerti bahasa Inggris. Sementara 
dalam satu perjalan ke bandara di Kuala Lumpur, kami waktu itu mencoba bertanya 
ke seorang penduduk di kawasan Sepang,
 dengan nada ketus dia menjawab ”tengok signboard”. Walaupun begitu saya 
mengucapkan terima kasih. Ternyata budaya Malaysia berbeda dengan kita dalam 
hal ini. Kita tidak bisa menyandarkan diri untuk bertanya ketika mencari jalan. 
Tetapi mesti memperhatikan rambu-rambu di jalanan. Ini juga mungkin karena 
pemerintah Malaysia melengkapi semua jalanan mereka dengan rambu-rambu yang 
memadai.

Tingkat literasi tertinggi di Asia Tenggara, dimiliki oleh Thailand. 95.5% 
penduduknya menikmati pendidikan dasar. Wajib belajar sudah mencapai 12 tahun 
sesuai dengan Konstitusi Keenam Belas pertama mereka yang diputuskan tahun 
1997. Konstitusi tersebut merupakan konstitusi yang pertama sipil yang 
diajukan. Selama ini kudeta paling tidak telah berlangsung sampai 20 kali. 
Thailand juga memiliki kerjasama pendidikan dengan Eropa dan Amerika yang 
tersebar di berbagai universitas mulai dari selatan sampai ke utara. Walaupun 
berkali-kali terjadi kudeta dan memasuki masa-masa krisis politik, mungkin 
faktor Raja Bhumibol Adulyadej yang tidak memiliki kewenangan legislatif tetap 
menjadi patron bagi beragai pihak. Sehingga ketika ada fiksi-fiksi dan 
ditangani oleh raja, maka perselisihan dengan mudah dapat diredakan. Kecintaan 
kepada raja mereka ditunjukkan dengan memakai baju kuning ketika perayaan hari 
kelahiran raja.. Maka satu hari dalam seminggu mereka
 memakai baju warna kuning. Walaupun itu bukan aturan tetapi sudah menjadi 
budaya yang tidak tertulis bagi rakyat Thailand.

Ketika ditanyakan oleh kawan-kawan seperjalanan saya “apakah hasil alam 
Thailand?” saya berfikir sejenak, akhirnya saya mengajukan kalimat walaupun 
tidak terlalu yakin bahwa Thailand bukanlah penghasil sumber daya alam dari 
bahan mineral tetapi mereka memiliki keunggulan pengolahan pertanian. Beras 
Thailand sangat harus dan mereka eksporter beras terbesar di dunia. Malaysia 
juga menumpukan persediaan beras sebesar 30% setahun dari Thailand. Ini 
nampaknya yang sangat disadari oleh pemerintah dan rakyat Thailand. Sehingga 
kapanpun kita berkunjung selau saja musim durian. Pengolahan pertanian telah 
menggunakan teknologi tinggi sehingga bisa melakukan strukturisasi genetika 
buah-buahan. Kitapun mengenal durian Otong yang merupakan produksi Thailand.

Terakhir, Thailand juga memberikan pilihan buah-buahan yang sangat beragam. 
Mulai dari jambu sampai pada nangka. Jenis jambupun bermacam-macam mulai dari 
jambu air sampai jambu biji. Nikmatnya buah-buahan bukanlah barang yang mahal. 
Ada penjaja buah-buahan kaki lima yang tersebar di berbagai tempat. Mereka 
menggunakan motor gandeng. Walaupun demikian, mereka tetap menjaga kebersihan. 
Sehingga area tempat mereka berjualan selalu bersih. Tidak mengherankan juga 
kalau di Indonesia ada buah-buahan yang memakai kata Bangkok. Seperti jambu 
Bangkok, Durian Bangkok, dll. Dugaan saya mungkin karena bibit yang awal sekali 
berasal dari Bangkok atau mungkin juga karena kemasyhuran buah-buahan dari 
Bangkok sehingga buah kita dilekatkan kata Bangkok untuk mengindikasikan 
buah-buahan tersebut berkualitas baik.

Wassalam

Ismail Suardi Wekke


Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke