Ini pengalaman 2 tahun yang lalu, Karena ini adalah bagian kerjaan dari
kantorku, maka aku di tugaskan untuk melakukan pembuatan filem di sebuah
komunitas adat di disalah satu pulau di Indonesia, yaitu Borneo alias
Kalimantan. Tujuanku adalah mendokumentasikan aktivitas sebuah komunitas
adat di Jantung Boerneo dalam pengelolan hasil hutan non kayunya, yaitu MADU
LEBAH di alam. Perjalanan ini aku membawa salah seorang filem maker dari
Bogor dan ada 2 orang pemandu local dari pontianak. Tujuan kami adalah Danau
Sentarum, sebuah danau rawa yang amat luas.
Perjalanan Dari pontianak menuju Danau Sentarum ini memakan waktu 24 jam,
ini kalo tidak dalam keadaan hujan, karena jalan yang dilalui adalah jalan
logging perusahan kayu dan Perkebunan sawit. Selama perjalan dari pontianak
kita akan melewati kabupaten Sintang, dan dilanjutkan kabupaten Kapuas Hulu.
Satu-satunya trasportasi menuju lokasi ini adalah naik Bus, tidak ada
alternative angkutan lain, kalo pun ada hanya pesawat, tapi harus ke
Putusibbau dahulu baru naik bis lagi menuju Danau Sentarum ini. Memang sih
lebih dekat, tapi mengenai cost 2-3 kali lipat ongkos naik bis. Jadi pilihan
kami adalah alternative pertama, naik bus dan juga karena ada banyak bawa
peralatan berupa kamera video, dan perangkat pembuat filem, jadi pilihanya
adalah naik bus tapi bayar 3 kursi untuk peralatan kami.
Karena aku baru pertama kali ke Pontianak, dan salah seorang temanku
nyeletuk. "senangnya kalo ke pontianak itu, senang bisa liat orang cina
miskin" awalnya aku sih ngga nanggapi, tapi selama perjalanan menuju lokasi,
aku banyak melihat orang2 cina peranakan yang jualan pisang goreng, jadi
pengamaen. Baru aku ngeh dengan gurauan temanku itu. Emang orang cina itu di
konotasikan dengan orang kaya. Ternyata perjalan ini sangat menarik
perhatianku, karena sepanjang jalan banyak sekali orang jualan buah2han, ada
duku ponti, dan yang paling terkenal adalah jeruknya. Karena Kalbar terkenal
dengan jeruk pontianaknya.
Kami berangkat jam 7 pagi, dan sampai di ujung aspal terakhir sebelum
memasuki jalan logging, kami berhenti dahulu untuk memgisi bensin dan makan
siang, tapi sebetulnya itu sekaligus makan malam, karena nantinya kami tidak
akan bertemu lagi dengan kampung dan hanya bertemu dengan hutan dan kebun
sawit tok. Ternyata di warung makan ini, kami banyak bertemu dengan TKW yang
juga ada yang mau ke Malaysia (Serawak) dan ada yang baru datang, mo balik
kampung gitu ceritanya. Dan kita kaya berada di negara tetangga, karena
bahas yang di pake udah logat2 malaysia gitu. Dan cewek2 juga amoy-amoy
istilah orang ponti terhadap para cewe-cewe cina yang masih bujang atao
perawan.
Pagi jam 8.00 wit, kami sampai di kampung terakhir dari yang menjadi tujuan
kami, setelah itu kami akan naik perahu lagi untuk sampai ke Danau Sentarum
lokasi dimana kami akan memulai pembuatan filem, dan kampung ini ke danau
sentarum kira-kira 6 jam menggunkan perahu klotok, tapi yang kami sewa ini
adalah jenis perahu klotok yang memiliki kelengkapan cukup mewah, ada tempat
tidur berupa kasur, kamr mandi, dapur untuk masak dan ada radio panggilnya
juga. Menurut pak Janggut masinis perahu ini, dahulu perahu ini adalah milik
para peneliti orang bule yang meneliti tentang ekositem danau sentarum yang
unik, karena kontraknya habis, maka perahu ini dia hibahkan untuk masyarakat
dan kalo ada turis atawa teman2 wartawan atau jurnalis bisa menggunkan
perahu ini untuk melakukan promosi danau sentarum. Perahu klotok ini kalo
dalam bahasa lokal adalah perahu Bandung.
Asal nama Perahu BANDUNG ini, adalah pemberian orang-orang dayak, karena
dahulu yang sering membawa perahu ini adalah orang2 dari Bandung untuk
jualan pakaian, jamu dan barang epcah belah sepanjang sungai Kapuas, semacam
toko berjalan gitu. Karena mayoritas masyarakat dayak berada di tepi sungai
dan hulu-hulu sungai, jadi alat trasportasi yang paling ideal dan efesien
adalah menggunkan perahu klotok ini, kalo di kalimantan. Alat trasportasi
favorit selian getek.
Perjalan menggunakan perahu Bandung ini, ternyata memiliki sensasi yang
sangat berbeda dan sangat mengasikan, terus terang selama seminggu hidup
nomaden dnegan perahu lagi, kaya seperti salah satu suku di thailand sono,
kalo ngga salah. Ada ulasannya di nasional gegorafi edisinya aku lupa. Dari
pagi, malam sampai pagi lagi kami berada di dalam perahu dan kami tidak
pernah menemukan daratan, karena rumah ato kampung penduduk juga berada di
atas air, pokoknya dunia yang berbedalah. Sepanjang sungai yang kami lewati,
warna airnya berubah-rubah, kadang-kadang warnanya kaya aer susu dan
kadang-kadang kaya coca cola, dan ada beberapa wilayah yang airnya item
pekat benar, sampai-sampai kalo kita celupin tanagn atawa kaki ngga
kelihatnya, menurut pak Janggut sopir klotok ini, itu karena air di danau
ini dari GAMBUT. Semacam zat yang dikeluarkan oleh tumbuh2 rawa dan
akar-akaran yang ada di dalam danau sehingga menyebabkan air berubah warna
menjadi merah agak keitem-iteman.
Kampung yang kami tuju adalah Desa LABOYAN, desa ditepi danau dan berada di
atas air, dan penduduk disisni selain pencahari Madu lebah juga memelihara
ikan gabus dalam bentuk keramba-keramba di depan maupun di dalam rumah
mereka, karena dia atas air jadi kalo mo cebok, mandi, atawa cuci tangan klo
mo makan tinggal celupin aja kebawah rumah udah deh, byuur..byuur...tiada
hari tanpa air.
Hari 3 kami bersama dengan beberapa masyarakat suku dayak di desa Laboyan,
mulai mempersiapkan alat2 untuk panen lebah di tengah danau, dengan
menggunkan perahu kecil (getek) kami melunjur membelah danau dan meliuk-liuk
diantara celah-celah pohon, pokoknya kaya balapan mobil F one gtu,
pengalaman yang tak pernah terlupakan. Sampai di sasaran kami semuanya harus
nyebur, karena emang ngga ada tanah, dan menurut kepala suku yang bareng
satu perahu ama aku, nanti kalo emang di serbu lebah, " nyelam aja pak",
waduh..dalam bayanganku gawat juga nih, syukur2 klo cuman sebentar klo lama,
berabe deh.
Peralatan yang pertaman aku abwa dalah baju tebal dengan jaket di kancing
penuh, dan menggunkan helem motor kaya orang mo balapan dan didepannya di
pasang jaring supaya ngga kena senga lebah. Hampir 2 jam kami panen lebah,
dengan menggunkan asap darikulit kayu yang telah dipersiapkan sebelumnya
oleh masyarakat, akhirnya beberapa kali juga diriku di sengat lebah, tp
dalam pikiranku ini pengalam sangat berharga sekali, dan kalo teringat
bagaimana susah dan sangat berbahayanya orang mengambil madu, pasti kita
tidak tega klo orang jual madu kita tawar2, karena resikonya mungkin klo
kita diserang lebah tidak sesuai dengan harga madu yang kita beli. Ini
menjadi pengalaman diriku dan menajdikan aku sadar, bahwa hidup sebagai
pencahari madu itu sangat -sangat berbahaya.
Mungkin ini salah satu pengalam diriku dalam menyelusuri slah satu kekayaan
alam Indonesia tercinta ini, dan masih banyak lagi hal2 menarik, yang
mestinya kita banggakan kepada dunia, bahwa Indonesia itu memiliki keunikan
dan keanekaragaman yang besar.
Salam Harry
_____
From: Kang Giman [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: 20 Nopember 2008 12:40
To: 'indobackpacker'; Harry Gunawan
Subject: Re: [indobackpacker] Alam Liar papua
Thanks for sharing, Mendengar Papua dan Raja Ampat, mengingatkan aku pada
email di milis sebelah, dimana atas sebuag usaha dari 1 orang berkebangsaan
belanda, dan 1 orang berkebangsaan jerman untuk memperkenalkan raja 4 ke
dunia luar, sehingga raja 4 mejadi cukup terkenal dan sempat mendapat award
juga bantuan dari bank dunia, dan kalau tidak salah juga pernah di ulas di
elshinta TV
mungkin kin juga bisa menjadi motivasi buat IBP untuk membuat catatan
perjalanan di daerah nya agr supaya lokasi wisata di daerah nya terkenal
bisa dengan e-mail ke milis ini atau menuangkanya pada sebuah website,
karena kebanyakan backpaker mencari infoemasi juga dari internet
misal bandung, ada apa dengan bandung kemudian bagaimana menempuhnya dan
kisaran tarifnya
mungkin ini akan sangat membantu, bukan hanya para backapker tapi juga
wisatawan lain yang suka dengan kegiatan traveling
bagaimana, ada yang mau cuba ?
----- Original Message -----
From: <mailto:[EMAIL PROTECTED]> 0
To: 'indobackpacker' <mailto:[email protected]>
Sent: Thursday, November 20, 2008 10:37 AM
Subject: [indobackpacker] Alam Liar papua
Numpang cerita juga ah, kurang lebih satu tahun yang lalu saya bepergian ke
salah satu suku di papua, yaitu suku knasiamos di kepala burung, tepatnya di
Kabupaetn sorong Selatan, ini merupakan kabupaten pemekaran dari kabupaten
induk yang sebelumnya adalah Kabupaten Sorong. Di sorong sendiri ada
beberapa kabupaten pemekaran lain, yaitu Kabupaten Raja Ampat. Tapi
pengalama ini saya bepergian ke salah satu wilayah adapt suku Knasiamos
yaitu wilayah adat Seremuk.
Memang yang menajdi kendala kalo mo traveling ke daerah papua adalah cost
yang tinggi, kebetulan saya ada pekerjaan kantor dan juga memang ada teman
orang local yang bisa membantu kalo mau mencari informasi tentang tempat2
eksotik di Papua. Yang paling terkenal sih adalah Raja Ampat, karena
memiliki trubu karang yang paling indah sedunia katanya. Kembali ke
Knasiamos, suku ini berada di tengah hutan belantara, danuntuk mencapainya
kita mesti melakukan perjalan selama 2-3 hari. Bisa jalan darat dan bisa
juga jalan sungai, kalo jalan darat kita harus naik travel yang menuju
Teminabuan dan selanjutnya kita akan naik ojek sampai di batas hutan dan
melanjtkan perjalanan kurang lebih 1 hari. Kalo naik perahu kita akan
menyusuri sungai Klamono yang berkelak kelok seperti ular, dan jalan yang
kedua ini yang saya ikuti.
Wuih.sepanjang perjalanan menggunkan perahu temple orang local menyebutnya,
yaitu perahu dari kayu dan menggunkan emsin speedboat, perjalan ini memakan
waktu hamper 1 hari. Sepanjang perjalan kita akan melihat hal-hal yang
sangat eksotik, kaya masyarakat adat papua yang naik perahu dan mendayung
sambil ambil sagu sepanjang sungai kalmono, dan juga hutan nipah sejauh mata
memandang. Mata kita dimanjakan oelh banyaknya satwa liar, seperti buaya,
urung kakatua, cendrawasih yang masih terlihat di sepanjang sungai klamono
ini. Pokoknya klo kita melihat filem nasional geografi, hampir kaya gitu deh
suasananya. Dan bagi photografer pasti tidak mungkin meninggalkan moment2
seperti ini.
Sekita jam 4 sore aku baru nyampe di muara sungai yang menuju kampung yang
merupakan salah satu kampung pertaman sebelum ke kampung Mangroholo (nama
kamung suku knasimos ini). Karena hari sudah hampir malam, dan ternyata air
juga tidak mendukung untuk menyelusuri sungai sampai ujung, karena kena air
surut, sehingga pilihanya adalah menginap dahulu satu malam di muara sungai
sampai menunggu air naik lagi. Ternyata tidur diatas perahu juga menajdi
pengalama yang sangat tidak mudah terlupakan, bergoyang-goyang karena ada
gelombang, dan juga langsung mata dimanjakan oelh ribuan atau jutaan mungkin
milyaran kunang-kunang di pohon, aku tadinya berpikir apakah ada kampung
atau rumah yang penuh lampu, setelah aku liat lebih dekat ternyata satu
pohon penuh dengan kunang-kunang, dan baru pertama kali ini aku melihat
begitu banyaknya kunang-kunang yang memenuhi satu pohon, mungkin milyaran
ekor. Gila bener...sangat menajubkan seperti pohon natal hidup, dalam hati
aku berdoa, maha besar tuhan.
Paginya aku baru menelusuri sungai, hampir 2 jam menggunkan perahu dan
selanjutnya jalan kaki kurang lebih1 jam untuk sampai kampung yang pertaman,
dan dari kampung ini menuju kampung mangraholo kurang lebih 6 jam perjalan
yang penuh dengan darah-darah, karena banyak sekali pacetnya, jadi sore
sampai dikampung seluruh kaki dari jempol sampai kelingking penuh darah dan
lintah yang ngejendol sebesar jempol. Selama 3 hari aku berada di kampung
mangroholo ini di salah satu suku Knasiamos, Papua.
Perjalanan yang tidak pernah terlupakan, tapi yang mesti dipikirkan adalah
cost yang snagat tinggi, untungnya aku dibiayai oleh kantor. Kalo ada teman
n teman yang butuh bantuan info tentang papua, mungkin aku bisa bantu
sedikit2 , dan itulah pengalaman solo travel pertama diriku, senang
bercampur dak dik duk...dan sangat menegangangkan berpetualang di alam liar
papua.
Regards
Harry
_____
From: indobackpacker@ <mailto:indobackpacker%40yahoogroups.com>
yahoogroups.com [mailto:indobackpacker@
<mailto:indobackpacker%40yahoogroups.com> yahoogroups.com]
On Behalf Of harly ramayani
Sent: 19 Nopember 2008 16:01
To: indobackpacker
Subject: [indobackpacker] Re: Solo Traveller : trend baru?
Pengalaman pribadi saya 1 tahun terakhir ini nyoba backpacking
sendirian karena temen2 ga ada yang berani jalan2 berdasarkan info2
yang dikumpulin hanya dari internet, sedikit keberanian, rajin
bertanya ke penduduk lokal, mengumpulkan banyak brosur & petunjuk
jalan dan semuanya diurus sendiri tanpa agent dan tanpa teman2 di
tempat yang dikunjungi tsb.
Penjelajahan pertama kali ke luar negeri (Singapore, Malaysia, Thailand),
sebenernya sekarang lagi planning mencoba yang dalam negeri, tetapi
ternyata susah sekali mendapatkan info2 transportasi (angkot, bus,
kereta) dan hostel atau terpaksa memilih budget hotel. Rasa2nya kalau
dilihat dari sisi biaya keliling dalam negeri sama bahkan bisa lebih
mahal daripada ke luar negeri.
Sebagai contoh : hostel yang tidak terlalu banyak tersedia di
Indonesia, padahal akomodasi ini yang paling cocok buat solo traveler
dari pada budget hotel yang lebih cocok buat traveler yang
berkelompok.
Pertimbangan lainnya dalam hal keamanan untuk perempuan yang
backpacking seorang diri juga yang selalu menjadi ganjalan utama.
Saya sering mendapat tugas kantor untuk ke kantor2 cabang yang
tersebar di kota2 besar di Indonesia. Dikesempatan itu saya sering
bertanya kepada supir kantor atau teman2 dikantor2 cabang tentang
transport untuk berkeliling di kota tersebut, kebanyakan dari mereka
tidak terlalu tau rute2 angkot/bus.
Info2 transportasi itu juga sangat susah didapat jika melihat brosur2
yang didapat dari bandara2 di kota2 Indonesia (taraf internasional /
domestik), sedangkan brosur2 lengkap untuk transportasi ini sangat
mudah didapat di bandara luar negeri atau kantor tourism board.
Pengalaman seru saat imigrasi diperbatasan Sadao (Kedah,MY -
Songkhla,TH) naik taxi Kedah sendirian lalu di stop dan di tanya2
karena sedang ada razia, karena setiap weekend banyak wanita2 yang
pergi ke provinsi Songkhla untuk bekerja part-time di tempat karaoke2.
Tidak terlalu lama ditanya2 dan dapat ucapan selama berlibur dari Pak
Polisi setelah saya menunjukkan tiket pulang ke Indonesia.
Keuntungan cewe backpacking sendirian yang saya dapat pada saat di Hat
Yai mau pergi ke Patung Budha di puncak bukit, saya jadi di anterin
pake motor ama bapak2 yang awalnya cuma saya tanya2 gimana cara untuk
mendaki bukit itu. Turun dari bukit itu juga di anterin ama bapak2
penjaga kuil disana, sedangkan turis2 lain yang saya temui disana
semua menyewa taxi atau ikut tour harian :)
Dari backpacking ke luar negeri ini membuat saya menyadari kalau
tempat2 pariwisata Indonesia ga kalah dengan negara2 itu jika
informasi2 berupa brosur2 tempat2 wisata di berikan detil2
transportasi dan tarif tetap atau perkiraan tarif dari kendaraan2
tersebut. Supaya turis lokal dan LN yang solo traveler menjadi lebih
mudah menyalurkan hobi nya.
Dari beberapa kali perjalanan sendirian itu pengetahuan tentang suatu
daerah, budaya dan penduduknya jadi bertambah banyak dan pengalaman
itu terasa lebih seru jika dibandingkan travelling berkelompok.
Regards,
Harly (Mei)
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]