Siapa yang salah..????

 

Emang klo bule yang jadi pengusahanya mereka merasa orang local ga mampu
bayar kali, saya dulu pernah mengalami di Kalimantan tengah, saat memasuki
wilayah care canter orangutan di nyaru menteng, ini merupakan wilayah tempat
lokasi sekolah orang utan yang ada di Kalimantan tengah, yang menjadi bosnya
adalah orang bule dari Denmak, di depan pintu masuk udah ada papan
peringatan, "selain orang bule dan pemerintah (kehutanan) dilarang masuk".
Busyet ku bilang, ini sangat diskriminasi sekali, emang klo orang local ngga
boleh liat orangutan atawa masuk areal ini.

 

Kebetulan aku jalan ama orang Australia, dan wah..sangat .sangat..sangat..di
sambut sekali, padahal bulenya juga ngga kaya2 amat, kalo ini meliat dari
financial, tapi itulah yang terjadi. Mungkin itu pengalam yang pernah aku
alami bung Adolt, sam seperti diriku masuk di Tanjung putting, klo kita
orang local perlakukannya akan sangat beda sekali kalo orang bule yang
dating, padahal kita juga bayar kok.

 

Ini hanya share pengalaman, semoga teman2 tidak mengalami seperti yang aku
alamai.

 

harry    

 

  _____  

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of Adolf I T
Sent: 21 Nopember 2008 16:15
To: [email protected]
Subject: Re: [indobackpacker] Alam Liar papua

 

Kalau merenungkan keberadaan ini.......ibaratnya anak SMP Indo, orang Jawa,
ingin belajar salah satu tarian Jawa....yang ngajar bule Belanda, pake
bahasa Belanda, tempatnya di Yogya, dan bayarnya pake
euro...........Normal....? kalau saya ironis..... 

Jadi ingat waktu masih kasak-kusuk cari info mau diving di Bunaken November
2006. Search di google yang muncul dive operator bule, ya Eropa, Amerika,
bayar-nya pake Euro atau Dollar.....Gile.....ini "tragis"......mau nyelam di
negara sendiri, yang unjukin bule, bayarnya dollar..... Untungnya ketemu
rekan yang punya channel ke Bunaken.....Setelah harga cocok, saya sampaikan
keinginan agar DM/guidenya orang lokal/Indo..... Bukan anti bule...saya juga
punya banyak saudara di Belanda yang bule. Lebih sreg aja kalau yang unjukin
orang Indo....

Lagi diving rupanya rombongan kami yang pake Eco Divers ketahuan operator
lain ada yang pegang karang di Siladen Point. Padahal waktu itu arus lagi
kenceng. Laporan masuk ke boss Eco Divers bahwa rombongan kami melanggar
aturan pegang karang. Begitu kami merapat di dermaga, Bjorn, boss-nya Eco
Divers sudah menunggu dengan tangan di pinggang. Rombongan kami turun kena
tegor tidak boleh pegang karang. Kalau dilanggar lagi akan di cut. Lalu
guide kami kena juga oleh si bule Belgia. Kalau
dipikir-pikir....tragis...Jelajah di rumah sendiri, dianggap melanggar, lalu
di marahi bule yang notabene orang asing.......hhhhhmmmmm......ya
begitulah.....

Kembali ke Raja Ampat.....untuk investasi di sana butuh high cost...selain
jarak yang jauh dari Jakarta....tiket pesawat mahal....belum lagi birokrasi
perijinan dll...dll.... May be modal dana besar dan minat/keinginan aja ngga
cukup....Saya membayangi betapa ribetnya invest disana kalau tidak tahu
kondisi langsung disana.... Saya yakin bule yang mengembangkan resort di
Raja Ampat sudah hapal 'n familiar betul dengan kondisi disana. Termasuk
juga bagaimana menghadapi birokrasi yang entah butuh lewat berapa meja dan
berapa duit....

Akhirnya, ya terpaksa yang gigit jari. Hanya jadi tamu di negeri
sendiri.....Apesnya lagi rupiah lagi anjlok.....Jadi ingat waktu diving di
P.Weh Agustus kemarin. Dari Pak Dodent di kasih harga 100 Euro tapi bayarnya
pake rupiah. Mau cash euro juga ngga apa-apa. Kalau pake rupiah kena kurs
13.500. Saya coba nego pake kurs 13.100, di tolak.........ya wis apa boleh
buat.....Itu di Sabang....

Semoga aja dech next time ada pengusaha lokal berani masuk ke Raja Ampat dan
birokrasi-nya tidak berbelit-belit....Sehingga akhirnya bisa berangkat
kesana....

salam

----- Original Message ----- 
From: Aris 
To: indobackpacker@ <mailto:indobackpacker%40yahoogroups.com>
yahoogroups.com 
Sent: Friday, November 21, 2008 3:12 PM
Subject: RE: [indobackpacker] Alam Liar papua

Kok saya jadi ingat Mantan Atasan saya dulu ya.. hehe, 

Pak Erick, salah satu pemilik yg disebutkan, pernah datang ke Tempat saya
bekerja dulu, dia malah pernah undang saya datang ke tempatnya di Papua.
Hmmm..

Ada yg minat ke Raja Ampat? Bisa kok di bawah 5-6 juta... mau?

Sekedar Share! Hamper 90% tempat2x Menarik, exotic di Indonesia, sudah di
jelajahi orang Asing, termasuk
Beberapa adventure Travel di miliki orang Bule, why? Jawabannya orang
Indonesia nggak punya kepedulian kesini, kedua.. orang Indonesia Menjerit
Lihat Harga! Padahal fakta nya emang wisata adventure itu Mahal, High
risk, dan penuh tantangan...

Yg saya suka sebel! Kalau lagi jalan, pertanyaan Bule nya gini? Aris, your
agent the owner also from Europe??
Kadang bule juga bingung, karena di Indonesia untuk akomodasi2x exotic,
rata2x di build oleh orang asing,

Coba jalan2x makin ke timur Indonesia, jangan kaget kalau begitu nginep di
Homestay, yg buka pintu orang inggris.. hehe... tapi, ya itu,.... bawa uang
yg banyak!

Apalagi kalau suka sama eco-lodge..... hmmm... istilah kerennya Jungle Camp,
harga kelas bintang 5, fasilitas kelas homestay..

Salam
ARIS

-----Original Message-----
From: indobackpacker@ <mailto:indobackpacker%40yahoogroups.com>
yahoogroups.com [mailto:indobackpacker@
<mailto:indobackpacker%40yahoogroups.com> yahoogroups.com]
On Behalf Of Adolf I T
Sent: 20 Nopember 2008 15:05
To: 'indobackpacker'; Harry Gunawan; Kang Giman
Subject: Re: [indobackpacker] Alam Liar papua

Alam Papua pernah diulas salah satu majalah wisata....Very
menarik......demikian yang disebut rekan Giman perihal Raja Ampat....Sebagai
divers merupakan kerinduan bisa turun di salah satu "best site coral in the
wordl", Raja Ampat. Cuma kalau ngelihat harga, terpaksa gigit jari.....15
juta untuk 7 hari.....hhhmmm......

Memang menarik bahwa akhirnya ada orang bule yang menjadi pengelola wisata
di Raja Ampat. Dia bisa begitu pertama punya modal.... Kedua, punya dan
menerapakn manajemen rapi....Ketiga, yang juga penting, bisa membidik market
tertentu. Artinya, dia sudah tahu kalau market lokal akan sulit karena nilai
rupiah...Sebaliknya mereka bidik target market bule atau orang asing, yang
paham betul perilaku dan kebiasaan bule-bule berlibur. Misalnya rata-rata
menghabiskan waktu bisa seminggu lebih....Berarti bisa dikalkulasi balik
modal...Keempat, paham birokrasi perijin-an atau perilaku birokrat
disana....paham lingkungan, masyarakat, dll.... 

Pertanyaannya, apakah pengusaha lokal tidak mampu atau tidak punya
modal....? kalau dibilang ngga punya modal saya kira kog tidak....Saya yakin
banyak pengusaha yang punya banyak modal...Pertanyaan-nya mau atau tidak
garap bisnis ini....? senang ngga dengan laut...?suka diving ngga.....?
Punya duit tapi ngga suka diving, ngga suka laut...ya percuma........ 

Ya semoga aja Papua bisa semakin di akses....Saya masih punya cita-cita
terpendam selain diving ke Raja Ampat juga ingin ke Merauke. Mau pegang 'n
berfoto ria di tugu yang hanya ada 2 yaitu di Sabang dan Merauke. Kalau di
Sabang sudah pernah, tinggal Merauke-nya....Cuma kesana-nya itu
lho......hhhhmmmm.........gigit jari lagi dech......

cheers
http://asia. <http://asia.messenger.yahoo.com> messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke