Hi all,

Just sharing this:
http://allaboutmarley.multiply.com/journal/item/145/Baduy_Potret_Kehidupan_di_Lain_Dunia_Fakta-Faktanya

--

Indonesia termasuk negeri kaya dan subur. Mengapa tidak subur? Hampir
seluruh pulau di negara yang curah hujan cukup tinggi ini memiliki hasil
panen yang cukup menjanjikan. Ditambah lagi sumber daya alamnya yang wah dan
wuih.

Tapi, jangan langsung berbangga dulu dengan segala apa yang dimiliki.
Ternyata masih banyak hal-hal lain yang perlu ditilik. Oh ya? Rupanya,
negara ini masih terdapat beberapa perkampungan pedalaman primitif di setiap
pulau. Seperti di Sumatera, salah satunya adalah suku terasing di Propinsi
Jambi. Yaitu suku Kubu, yang konon tempat tinggal mereka berpindah-pindah
atau nomaden. Ada lagi, yaitu di Kabupaten Rangkas Bitung - Propinsi Banten.
Yakni suku Baduy.

*Asal Muasal, Letak Geografis dan Demografis Baduy*

Banyak referensi mengenai asal muasal "Baduy". Berbagai macam sumbernya. Ada
yang menyebut "Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar
kepada kelompok masyarakat tersebut. Yaitu yang berawal dari sebutan para
peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan Badawi atau
Bedouin Arab yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden).

Ada yang mengatakan bahwa asal-usul "Baduy" adalah mereka keturunan dari
Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal
usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang
pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga
Baduy mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni
dunia. Mereka juga beranggapan bahwa suku Baduy merupakan peradaban
masyarakat yang pertama kali ada di dunia

Kemungkinan lain juga mengatakan bahwa "Baduy" adalah karena adanya Sungai
Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut.
Pendapat lainnya ada yang membuktikan bahwa orang Baduy adalah manusia
tertua setidaknya di Pulau Jawa , berdasarkan  bukti-bukti prasejarah dan
sejarah, punden berundak Lebak Sibedug di Gunung Halimun 3 km lebih dari
Cibeo berusia 2500 SM masa neolitik, memiliki kesamaan simetris dengan
peninggalan yang sama  dengan piramida di Mesir dan Kuil Mancu Pichu di Peru
ribuan tahun silam.

Banyak versi tentang asal usul masyarakat Baduy, diantaranya C.L. Blume
ketika melakukan ekspedisi di tahun 1882. Beliau menyebutkan bahwa komunitas
Baduy berasal dari Kerajaan Sunda Kuno, yaitu Padjajaran. Sedangkan Van
Tricht, seorang dokter yang pernah melakukan riset pada tahun 1928
menyangkat teori yang diutarakan oleh C.L. Blume. Menurutnya masyarakat
Baduy adalah penduduk asli daerah tersebut yang memiliki daya tolak kuat
terhadap pengaruh luar.

Sementara mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai *urang
Kanekes*atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau
sebutan yang
mengacu kepada nama kampung mereka seperti *Urang Cibeo* (Garna, 1993).

Baduy yang berlokasi di desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten
Rangkasbitung Banten terdiri dari dua bagian besa perkampungan, diantaranya
Perkampungan Baduy Luar dan Baduy Dalam (Kepuunan Baduy). Kampung Badu Dalam
lebih sedikit dibandingkan perkampungan Baduy Luar. Baduy Dalam (Kepuunan
Baduy Dalam) terdiri dari tiga kampung, yakni Cibeo, Cikeusik, dan Cikeurta
Warna.

Daerah yang berluas 138 ha, terdiri atas 117 kk yang menempati 99 rumah yang
dinamakan Culah Nyanda atau rumah panggung, sedangkan rumah kokolot atau
duku dinamakan Dangka, yang menghadap keselatan. Masyarakat suku Baduy yang
berpenduduk kurang lebih 10 ribu jiwa ini tinggal di wilayah yang
berbukit-bukit, dan berhutan-hutan, dengan memilki lembah yang curam sedang,
sampai curam sekali.

 Berdasarkan hasil pengukuran langsung di lapangan wilayah-wilayah pemukiman
baduy rata-rata terletak pada ketinggian 250 m diatas permukaan laut, dengan
wilayah pemukiman di daerah yang cukup rendah 150 m diatas permukaan air
laut dan pemukiman yang cukuop tinggi pada ketinggian 400 m diatas
permukaaan laut.

 Wilayah Baduy itu berdasarkan lokasi geografinya terletak pada 60 27' 27" –
60 30' LU dan 1080 3' 9" – 1060 4' 55" BT. wilayahnya berbukit – bukit
dengan rata –rata terlelak pada ketinggian 250m diatas permukaan laut.

 *Sumber: dari berbagai sumber dan disadur.*

---

*Potret Kehidupan dan Fakta-Fakta di Dalamnya***

            Sewaktu saya sedang melakukan perjalanan petualangan saya ke
Baduy pada tanggal 6 & 7 Desember 2008 yang lalu bersama teman-teman
berjumlah 7 orang termasuk saya, saya sangat cukup banyak mendapatkan
hal-hal baru mengenai dunia peradabadan baru lain dari yang lain yang pernah
saya alami.

            Berbagai hal yang saya dan teman-teman lalui tak sedetikpun
terlewatkan untuk diabadikan, diingat dan bahkan dipelajari. Hidup di
pemukiman yang sangat tradisional dan primitif, Baduy sungguh jauh berbeda
dengan kehidupan di Jakarta.

Kota Jakarta, kota-kota dan daerah lainnya yang sudah terjamah modernisasi
dan era ekonomi dan teknologi canggih yang yang sarat dengan ambisi pribadi,
pendidikan formal dari dasar hingga tingkat tinggi, cinta akan uang, haus
harta, ego pribadi, emosional menggunung bahkan tak terkontrol, polutif ,
sikut-menyikut, gila hormat, kejar pangkat, kejar tayang, dunia clubbing,
cafe menjamur, seks bebas, hiruk pikuk, persaingan yang katanya sehat,
korupsi, kesibukan yang menyiksa, depresi dan tekanan stress yang tiada
habisnya dan lain sebagainya hingga membuat diri seolah tak menyadari bahwa
semuanya itu berasal dari alam semesta dan kembali lagi ke alam semesta.

Sementara hidup dan berkehidupan di Baduy sungguh jauh berbeda. Berputar 180
derajat! Siku demi siku perkampungan Baduy Dalam (untuk seterusnya saya akan
membahas seputar Baduy Dalam, bukan Baduy Luar) mengajarkan kita untuk
sesekali bahkan sesering mungkin menghargai alam dan memeliharnya. Belajar
pada sang kekuatan alam. Menyukuri alam ciptaannya dan mengolahnya dengan
baik.

Cibeo - Baduy Dalam, tempat kami menginap adalah sebuah contoh perkampungan.
Setiap sudut rumah (gajeboh) berbicara kedamaiman, kebisuan kampung
menyeruakkan kenyamanan, cara berpakaian mereka mengajarkan kesederhanaan
sesuai ajaran yang mereka anut. Menjauhkan kemanjaan dari segala sesuatu
yang serba ada, bukan berarti tidak bisa mengadakannya. Namun, sedikit dan
cukup adalah kata yang tepat bagi mereka. Raut-raut dan rona wajah yang
tumbuh dan dibesarkan oleh alam, limbung dan tegar oleh karena kekuatan sang
alam. Bertahan hidup berasal dari ketersediaan alam yang serba ada bahkan
lebih.

Berikut adalah beberapa fakta yang saya lihat dan juga berdasarkan hasil
bincang-bincang/tanya jawab dengan Pak Sarif (pemilik rumah tempat kami
menginap) dan juga beberapa warga sekitar yang datang bertamu ke teras rumah
Pak Sarif, diantaranya:

1.      Kampung Kepuunan Baduy Dalam dipimpin oleh seorang Puun (baca:
Pu'un). Puun setingkat dengan Presiden Republik Indonesia.

2.      Tugas dan tanggung jawab Puun adalah memimpin kampung Baduy,
melestarikan dan mempertahankan adat istiadat Kepuunan Baduy dari pengaruh
luar.

3.      Setiap kampung di Baduy Dalam dipimpin oleh seorang Puun. Ada tiga
kampung di Baduy Dalam.

4.      Batas area masuk ke pekarangan rumah Puun pun diberi tanda. Sehingga
tak satu orangpun yang bisa melintas ke dalam pekarangan rumah Puun baik
orang luar maupun orang Baduy sendiri. Kecuali ada kepentingan warga Baduy
sendiri misalnya urusan perjodohan/dijodohkan dan juga pernikahan.

5.      Usia kepemimpinan Puun tidak ada batasnya, sepanjang dia mampu. Dan
pergantian kepemimpian jatuh kepada garis keturunan Puun sebelumnya atau
tetua-tetua (olot) yang ditunjuk di kampung tersebut.

6.      Setiap kampung memiliki seorang Lurah (Jaro) yang berada di bawah
Puun.

7.      Hampir 100% kehidupan keseharian Baduy Dalam berada di ladang (huma)
dengan bertani. Terkadang jarang pulang malam ke rumah.

8.      Tidak diperbolehkan para pengunjung mandi dengan menggunakan sabun,
shampoo, pasta gigi dan juga membawa jenis deterjen lainnya. Dilarang!

9.      Aktivitas keseharian mereka adalah ke ladang..ladang dan ke ladang..
Bertani, bercocok tanam padi dan menanam buah-buahan.

10.  Hasil panen padi tidak untuk dijual. Namun disimpan di lumbung yang
tingginya setengah meter dari permukaan tanah koko berdiri selama
bertahun-tahun dan untuk kehidupan keturunan selanjutnya serta kebutuhan
makan secukupnya.

11.  Uang tidak perlu bagi mereka. Apabila dibutuhkan, mereka akan menjual
hasil buah-buahan seperti kelapa, minyak sayur buatan sendiri, buah lain,
hasil kerajinan tangan seperti tenunan, tas, gantungan kunci, shawl dan
gelang-gelang. Semuanya berasal dari bahan dari sekitar pemukiman mereka.

12.  Tanah tidak ada harganya. Karena seluruh tanah disekitar mereka adalah
milik bersama. Jadi, siapa saja berhak atas seluruh tanah kosong yang belum
diolah. Semakin banyak anak, semakin banyak tanah untuk keturunannya.

13.  Untuk urusan pacaran dilarang. Namun bila ada yang ingin menikah atau
dinikahkan, maka jodoh ada di tangan orang tua dan diresmikan oleh Puun dan
lalu dirayakan oleh seluruh warga. Tidak ada istilah menolak bila ingin
dijodohkan. **gile.. berarti jelak dan cantik, kaya dan miskin gak ada
gunanya donk yak kalau gitu.. Whoaaahh....*. *Dan usia bisa menikah adalah
minimal 18 tahun.

14.  Keyakinan atau agama mereka adalah Sunda Wiwitan. Setiap warga percaya
dan menuruti perintah Sang Puun dan tetua-tetua jaman dahulunya.

15.  Pakaian mereka hanya terdiri dari tiga macam dan dua warna (hitam dan
putih). Ketiga macam tersebut adalah baju (jamang) terdiri dari dua warna;
hitam dan putih, rok (samping) yang dililitkan kepinggang hingga setinggi di
atas lutut (laki-laki) dan sebetis/selutut (perempuan) dan terdiri dari satu
warna yaitu hitam, serta satu lagi kain di kepala (tlekung) yang dililitkan
di kepala dan hanya warna putih.

16.  Setiap hari, golok (gobang) selalu diselempangkan di pinggang untuk
kebutuhan sehari-hari ke ladang.

17.  Pengunjung tidak diperbolehkan menggunakan kamera di Baduy Dalam
apalagi mengabadikan rumah, lingkungan mereka apalagi gambar diri mereka.
Hal ini dilarang oleh peraturan adat istiadat mereka demi menjaga nama baik
dan lestarinya adat mereka.

18.  Bila kita memberikan sesuatu kepada mereka misalnya baju, disarankan
lebih baik tidak dan jangan. Karena mereka tidak akan menggunakan oleh
karena peraturan yang sudah mengikat. Bila ingin memberikan sesuatu
peralatan dapur, sebaiknya diperhitungkan dulu, barang seperti apa yang akan
diberikan.

19.  Bila Anda ingin berkunjung dan meninggalkan alamat, jangan salah..
mereka akan datang berkunjung balik ke rumah Anda. Mereka datang dengan
berjalan tanpa alas kaki apalagi transportasi apapun. Durasi perjalanan
mereka tempus +/- 3-4 hari. Bahkan, mereka selama berminggu-minggu akan
balik lagi ke rumah mereka.

20.  Rata-rata kepala rumah tangga mereka sudah fasih berbahasa Indonesia.
Ini akibat pengaruh pengunjung dari luar yang berbahasa Indonesia selama
menginap sehingga mereka terbiasa mendengar dan lalu lancar. Bahasa
tradisional mereka adalah bahasa Sunda kasar.

21.  Baik laki-laki maupun perempuan untuk seluruh usia tidak menggunakan
celana dalam **opss.. biar cepat-cepat kali yah.. hahaha...*.*

22.  Pemukiman mereka tidak akan berpindah-pindah, kecuali dalam kondisi
darurat misalnya kebakaran. Terakhir warga Cibeo baru pertama kali pindah
dari lokasi yang tidak jauh dari lokasi saat ini.

23.  Pendidikan sekolah formal tidak ada di sana. Bagaimana ada? Sementara
memang tidak diperbolehkan didirikan sekolah disana. Bisa dibuktikan kalau
mereka memang semuanya adalah buta huruf dan tidak bisa membaca. Mereka
hanya mengenal uang dan pandai berhitung. **tau loh ternyata mereka soal
kembalian, pas kita belanja hasil kerajinan mereka..**. Andaipun kita
berniat ingin mengajari mereka untuk berkumpul, sangat sulit untuk bisa
merubah peraturan mereka untuk mau.

Hehehe.. Demikianlah fakta-fakta yang saya peroleh. Bila ada yang kurang,
mohon ditambahkan para pembaca saja.
Link Terkait:
http://allaboutmarley.multiply.com/journal/item/144/CAPTER_Sebuah_Petualangan_Spiritual_ke_Baduy_06_07_Des_2008

~~~~~~~
Copyright to Marley Gultom, 2008.
Get permittion to copy are highly recommended.
~~~~~~~

Salam hangat dan Salam berkelana..!

marley gultom

------------------------------------

Indonesian Backpacker Community
visit our website at http://www.indobackpacker.com atau bisa juga di 
http://www.backpacker-indonesia.info/


Silakan membuka arsip milis http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/   
untuk melihat bahasan dan informasi yang anda butuhkan.

No SPAMMING or forwarding unrelated messages.
Silakan beriklan sesuai tema backpacking di hari Jumat. 

Sebelum membalas email, mohon potong bagian yang tidak perlu dan kutip bagian 
yang perlu saja

Milis tidak bisa menerima ATTACHMENT, untuk menghindari virus dan menghemat 
bandwidth.

Cara mengatur keanggotaan di milis ini :

- Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
- No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
- menerima email: [EMAIL PROTECTED]
- berhenti dari milist kirim email kosong : [EMAIL PROTECTED]
- Begabung kembali ke milist kirim email kosong : [EMAIL PROTECTED] Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke