Saya malu. Mengaku ndeso tapi kaki saya ini wong kutho alias ngga bisa make sandal gunung. Sudah berulangkali mencoba tapi hasilnya kalau ngga lecet ya jebol. Pernah eksperimen pake sandal gunung dikasih kaos kaki untuk mengurangi lecet (karena produksi keringat di kaki). Ternyata emang tidak jodoh. Akhirnya menyerah pake sepatu ajalah. Menurut saya memang kudu dicoba dulu yang mana yang cocok. Terutama karena kemampuan kaki dan tipe perjalanan yang mau ditempuh. Pengalaman saya, untuk sepatu boots tipe trekking kelas berat bisa bertahan 2-5th asalkan dipelihara dengan tingkat penggunaan lumayan (>5kali trip dalam setahun), sedangkan sepatu tipe trek ringan (seperti running shoes tapi giginya lebih mantap) bisa bertahan 3 tahun untuk yang suka jalan ringan hingga medium. Tapi sekali lagi, semua bergantung pada frekuensi pemakaian, bagaimana memakai (suka nrabas2 atau tipe ekstra hati-hati), juga medan-nya seperti apa.
Pendapat Om Fay itu betul sekali. Mending dikerubutin lintah daripada sepatu basah, kaki jadi keriputan dan lecet. Atau menjurus yang parah seperti jamuran (athlete's foot). Tapi mana tega-lah kaki dikeliling lintah, ngeri plus darah sendiri euy... Iseng saya coba lihat website-nya Teva (www.teva.com). Untuk cewek aja macem2 dari yang sport sandals, adventure sampe flip-flop (biar ngga bingung dengan sandal, flip-flop lebih ke sandal jepit). Salam, Ambar www.ceritaambar.com | ym : ambar_briastuti | Adventures. Backpacking. Photography. On 23 Feb 2009, at 17:14, puguh_imanto wrote: Buat saya dengan sendal gunung masalahnya timbul ketika harus jalan menurun dan basah, sehingga tapak kaki dan permukaan sendal menjadi licin. Nyrosot melulu... [Non-text portions of this message have been removed]
