Pak Joko,

salam kenal ya. saya dulu di KPC 1996-1997, tinggal di senior camp 6 bulan
trus pindah tanjung bara. panorama tuh yang di depan town hall kan? saya
masih ingat dulu kalo dapet off hari sabtu suka ke bontang naik bis, masuk
bisa masih rapi, keluar bis udah coklat semua penuh debu hihihi.  saya masih
inget bontang kuala, samarinda, sangkulirang juga pernah sekali. yang paling
ngangenin dari sangatta adalah nyebrang ke pasar di sangatta lama pake
ketinting, dan liat orang utan dan beruang madu di tanjung bara. oh ya juga
board walk di tanjung bara, yang melewati pohon-pohon bakau. numpang tanya,
pura dharma prima jagatnatha di bumi etam masih adakah?


salam dari jogja,

nurma
http:nurma73.multiply.com


2009/3/12 joko santoso <[email protected]>

>
>
> Bercermin dari Sangatta, sekilas sebenarnya kita bisa mengintip rahasia
> dapur kota-kota lain yang tumbuh sebagai hasil pemekaran.  Nyaris seluruh
> PAD terserap untuk membangun prasarana fisik gedung pemerintahan dan
> membayar gaji para birokrat baru.  Kota-kota yang makmur, karena dekat
> dengan sumber daya alam, terkesan seperti jor-joran dalam menguras PAD-nya.
> Bisa jadi para birokrat baru itu beranggapan bahwa gedung yang megah adalah
> cermin dari masyarakat yang makmur.  Di Eropa sana gedung megah (dan
> artistik) memang identik dengan kemakmuran karena 'PAD' mereka datang
> dari pajak yang dibayar masyarakat.  Di Sangatta, PAD itu semata-mata
> dikuras dari dalam perut bumi.  Setelah bangunan gedung pemerintahan,
> cermin diperlebar ke fasilitas yang dinikmati para birokratnya.  Mobil-mobil
> para birokrat selalu dari seri terbaru, padahal rumah dinas saja kadangkala
> belum ada!  Lebih jauh lagi, para birokrat ini 'jaim'-nya luar biasa.  Jika
> ada
> kunjungan tamu dari luar daerah, service yang mereka berikan selalu
> gila-gilaan.
>
> Jadi kalau otonomi daerah dipercaya bisa memajukan daerah, maaf jika
> saya kurang percaya.  Tak usahlah menanyakan berapa persen PAD yang menetes
> ke masyarakat karena hal-hal paling esensialpun sepertinya dilupakan para
> birokrat.  Apa itu?  Setiap manusia selalu perlu air (bersih) dan selalu
> membuang sampah.  Adakah 2 hal itu diakomodasi?  Jangankan di kota-kota
> hasil pemekaran lantaran 2 hal mendasar itupun jadi 'bahaya laten' di setiap
> tempat, bahkan di metropolis Jakarta.  Sangatta, sebagai wakil kota-kota
> hasil pemekaran, sebenarnya cocok disebut 'republik warung' (meminjam
> celetukan Xanana Gusmao tentang negaranya Timor Leste).  Jalan-jalan utama
> kota pemekaran selalu dijejali warung di kanan-kirinya.  Warung-warung itu
> nyaris seragam dan tak punya ciri khas.  Mereka yang membuka warung,
> biasanya para pendatang yang memang merantau untuk mengadu nasib.
>
> Tentang 'kemakmuran' yang disinggung Deedee dan beroleh feedback dari
> Hendra dan Rusdiana (adiknya mbak Ambar kah?), di antara karyawan KPC
> pun muncul silang pendapat.  Mau pilih 'kemakmuran yang mengisolasi
> diri (dan berpotensi menumpulkan nurani)' atau 'kesulitan tapi memberi
> kesempatan mendewasakan diri', semua berpulang kepada yang bersangkutan.
> Kebetulan saya dan istri memilih yang kedua.  Bisa jadi karena kami berdua
> tergolong 'old fashioned' yang lebih menghargai proses ketimbang hasil.  Ada
> teman yang karena naik pangkat dan punya hak untuk tinggal di tempat
> eksklusif, segera saja hak itu mereka gunakan.  Sebaliknya ada yang sudah
> lama tinggal di tempat eksklusif malah mengeluh kepada saya, "Mas .. anakku
> bilang dia nggak mau lagi pulang ke Jawa, ke rumah neneknya, karena di sana
> hanya melihat orang sengsara!"
>
> Salam dari Sangatta
> 12-Maret-2009
>
>
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke