Mas Edi dan temen2,

Sengaja memang saya ngga mau menyinggung masalah imigrasi Singapura. 
Masalahnya, tindakan tegas aparat itu sering disalah artikan. Kalau dilihat 
dari kejadian yang menimpa Lita, saya rasa hanya satu dari puluh ribu orang 
saja. Terus terang saya malah kagum dengan ketelitian imigrasi Singapura, 
terlebih KTP itu jarang diminta.

Dalam hal ini saya juga ngga mau menyinggung apakah KTP atau paspor dari Lita 
itu hasil beli. Karena dari email-nya indikasi itu tidak tampak dan sangat 
tidak adil rasanya menuduh Lita. (Karena itu saya bilang bahwa penjelasannya 
kurang lengkap). Saya kira biarlah yang bersangkutan sendiri menyadari dimana 
letak kesalahan cetak itu. 

Menurut saya, yang terpenting adalah mencari solusi. Toh udah telanjur, ngga 
bisa kita ulang lagi. Yang penting adalah apa yang bisa kita pelajari dari 
kisah Lita. Lha wong kena musibah kok malah dipentungin rame2...he he he. Kita 
disini kan berusaha saling bantu. 

Kejadia Lita itu bisa kita ambil nilai moralnya.

1. Semua dokumen yang bersangkutan dengan perjalanan baik ID, paspor ataupun 
surat harus konsisten informasinya. Jika ada kesalahn sedikit, segera 
diperbaiki sebelum telanjur menciptakan masalah baru dikemudian hari.

2. Mohon jangan kaitkan dengan sentimen rasial ataupun agama. Singapura itu 
negara dengan banyak larangan. Inget jargon  di kaos  "Singapore is fine city" 
artinya bukan kota yang baik2 ajah tapi fines alias denda. Saya inget banget 
banyak orang mentertawai larangan membawa permen karet masuk Singapura. Alasan 
negara ini adalah karena susah banget membersihkan bekas permen karet baik di 
jalanan ataupun tempat umum. Yah maklum saat itu mereka lagi mengejar reputasi 
kota yang bersih.  Mungkin terdengar konyol tapi setiap aturan pasti ada 
alasannya.  

3. Buat teman2 yang merasa diperlakukan "tidak adil" oleh petugas imigrasi, 
cobalah tengok kembali. Ditanyai petugas imigrasi itu bukan berarti menuduh. 
Cobalah berpikir jika kita menjalankan tugas sebagai mereka. Saya sendiri 
pernah kok dipertemukan supervisor imigrasi Singapura karena ada 'tanda 
khusus'. Walau ternyata hanya mengingatkan saja. Mangkel iyah...tapi lantas 
menuduh apalagi men-generalisasi satu kasus sangatlah tidak bijak. 

Salam,
Ambar


--- In [email protected], Edi Zhen <edi_c...@...> wrote:

> 
> 4.saya menuliskan ini semua bukan karena saya membela singapore..tapi semata2 
> untuk mengingatkan kita agar introspeksi terhadap diri kita sendiri, sebab 
> dari reply yang saya baca sebelum2nya kebanyakan menyudutkan petugas imigrasi 
> negara lain yang melakukan tugasnya dengan benardan tegas.., tidak seperti 
> petugas imigrasi kita yang kalo jam 12 malam udah gak tahu hilang kemana 
> juntrungannya.. seperti yang teman kita alami..apa sebabnya data dia bisa 
> lain?? apakah disengaja?? or tidak sengaja?? dan berapa banyak lagi yang 
> mencoba2 masuk negara lain dengan data2 palsu?? seharusnya kita sadari dulu 
> kenyataannya barulah kita men-judge orang lain.
>

Kirim email ke