Long week end di bulan Juli diputuskan untuk wisata kuliner di Balikpapan. 
Setelah menyiapkan itinerary dan budget (sudah pasti dong), perjalanan pun 
dimulai. 

July 17, 2009. Perjalanan menuju Makassar di tempuh dengan jalan darat selama 
12 jam.

July 18, 2009. Tiba di Makassar dengan selamat. Sambil menunggu penerbangan ke 
Balikpapan via Palu, diputuskan untuk mengisi perut dulu di KFC Bandara 
Hasanuddin. 
Keberangkatan hanya tertunda 10 menit saja dengan Sriwijaya Air. Cuaca yang 
cerah, membuat perjalanan berjalan mulus tanpa hambatan. Kami tiba di 
Balikpapan jam 12 siang. Lebih cepat 5 menit dari ETA. Dengan naik angkot no.7 
jurusan Terminal Damai dengan ongkos Rp 2.500, kami pun langsung menuju ke 
Dandito untuk menikmati kepiting. Menu yang kami pesan cukup 1 porsi kepiting 
lada hitam (yang bertelur), 1 porsi kepiting saus tiram super dan 1 porsi cah 
kangkung sea food,, 1 gelas es jeruk, 1 gelas teh manis panas dan 1 gelas es 
teh manis. Hanya cukup menunggu 30 menit menunggu, semua hidangan sudah tersaji 
di depan mata. Diabadikan dulu sebelum di santap habis. Membutuhkan waktu 
sekitar 1 jam buat kami bertiga untuk menghabiskan semua kepiting yang 
terhidang. Total semuanya Rp 275.000.

Sore harinya, setelah beristirahat sejenak di Guest House Fortuna (depan toko 
Susana), perjalanan di lanjutkan menuju ke penangkaran Buaya dengan angkot no. 
7 (arah ke airport) dari Terminal Damai dengan ongkos Rp 5000/orang. Nah, kalau 
ingin ke lokasi ini, usahakan datang sebelum jam 6 malam, karena lewat dari 
waktu tersebut, taksi (angkot) nya dah langka. HTM untuk melihat buaya dari 
segala jenis ukuran Rp 10.000 / orang (dewasa). Kebetulan sebelum masuk ke 
lokasi penangkaran, ada 2 gajah yang sedang makan. Memasuki penangkaran buaya, 
kami di antar oleh petugas setempat berkeliling area ini. Jumlah buaya di 
lokasi ini sekitar 1000 ekor. Kalau ada budget lebih, bisa juga memberikan 
pakan kepada buaya-buaya ini, karena pemberian pakan resminya hanya 2 kali 
dalam seminggu yaitu hari Senin dan Kamis saja. Puas berkeliling penangkaran 
buaya, perjalanan di lanjutkan ke Pantai Kumala untuk menikmati sunset.

July 19, 2009. Hujan sudah membasahi kota Balikpapan. Perut pun sudah mulai 
keroncongan minta diisi. Berdasarkan informasi, ada tempat makan yang lumayan 
di depan gedung BRI. Dengan hanya berjalan kaki sekitar 3 menit, kami masuk ke 
dalam Depot Aquaria dan memesan Soto Banjar dan segelas teh manis panas. Sangat 
cocok dengan udara yang dingin menggigit. Rasa ya lumayanlah.. yang penting 
bisa mengganjal perut. Setelah sarapan, kami keliling sebentar dengan angkot 
no. 3. 

Pukul 8 pagi, kami menyewa taksi argo untuk mengantar kami menuju taman wisata 
Bukit Bangkirai yang terkenal dengan jembatan gantungnya. Setelah menempuh 
perjalanan sekitar 2 jam karena kondisi jalan yang bolong sana-sini, sekitar 7 
km sebelum Bukit Bangkirai, penjaga pos mengatakan jalan menuju lokasi sangat 
licin. Dan hanya mobil 4 WD saja yang bisa masuk... hufff sungguh kecewa. 
Akhirnya kami pun memutuskan untuk merubah schedule perjalanan menuju 
Samarinda. Makan siang di Tahu Sumedang (jl. poros balikpapan samarinda). 
Lumayan banyak orang yang makan di tempat ini. Gak butuh lama untuk menunggu 
menu pesanan kami diantaranya Karedok, 3 porsi tahu sumedang dan ayam gepuk. 
Soal rasa ya lumayan lah.. belum bisa dikatakan maknyus :). Selesai makan, 
perjalanan menuju Samarinda pun dilanjutkan dan tiba jam 1 siang. Foto-foto 
sebentar di jembatan Samarinda yang baru saja di resmikan tanggal 15 Juli oleh 
pak SBY. Setelah itu lanjut menyusuri Sungai Mahakam
 dan Masjid Islamic Centre. Satu jam tak terasa, kami meninggalkan Samarinda 
untuk kembali ke Balikpapan. Harga sewa taksi PP Balikpapan - Samarinda Rp 
450.000. Tiba di Balikpapan dilanjutkan dengan hunting Amplang di daerah Gunung 
Sari. Banyak toko-toko yang menjual amplang, tapi kami memutuskan untuk membeli 
di Toko Salsabila.

July 20, 2009. Hari ini cerah. Sarapan pagi di lapangan 3 pertamina dengan menu 
lontong sayur dan semangkuk bubur banjarmasin cukup mengenyangkan perut. Nah 
kalo bubur banjarmasin ini patut dicoba. Rasanya maknyus. Harga per porsi Rp 
13.000 saja. Target selanjutnya hunting suvenir di kebun sayur dan makan pepes 
patin di Haur Gading. Nah, kalo pepes patin nya ini bener-bener maknyus... 
bumbunya sangat terasa dan ikan nya benar-benar empuk. Apalagi di bagian 
lemaknya. Ditutup dengan teh botol, cukup meraih kocek Rp 25.000. Wisata 
kuliner dan suvenir sudah selesai. Waktunya kembali ke Makassar dan melanjutkan 
perjalanan darat menuju Sorowako dengan bus malam. 

Salam,

Lili NHL.


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke