Dear Kolega....
Salam merdeka dalam damai dari Atjeh...
Untuk Mbak Ika (ini mbak atau mas?); sattelite ambulance station adalah pos tempat ambulance standby, biasanya sih nempel kaya perangko dengan PMK atau ERT (kalau di perusahaan). Biasanya pos ini merupakan bagian dari jejaring EMS dengan satu RS sebagai sentralnya. Contoh, RS Fatmawati di Jaksel menjadi pusat jejaring EMS untuk bagian Jakarta Selatan, jadi kalau AGD 118 yang standby di depan kantor walkot Jaksel punya pasien tinggal kirim ke sana, jadi istilahnya kaya 'jemput bola' supaya tidak banyak waktu yang hilang dalam penanganan kedaruratan. (ini adalah implementasi 'chain of survival' dimana early defibrillation dan early 'ALS' dapat segera diaktifkan) biasanya ambulance yang di sattelite station merupakan ambulance gawat darurat tingkat basic atau intermediate. Kalau yang hospital-based ambulance lebih bersifat 'advanced' dengan perlengkapan ACLS/ATLS on-board. Model begini dimiliki Inggris dengan dokter 'BASIC'-nya yang terkenal itu... DI Indonesia, ya ada Prof Aryo itu yang 'boss' AGD 118 (kemarin baru saja datang ke Atjeh untuk program HOPE).
Konsep pengadaan ambulance yang mobile adalah untuk memperpendek mata rantai chain of survival. Jadi, memang secara idealnya harus ada ambulance yang mampu menjangkau pasien dalam waktu 15 menit setiap kasus (apalagi kasus cardiac arrest karena masalah jantung). Kalau menggunakan sistem yang sentral (hospital-based ambulance) jelas konsep ini tidak terpenuhi...Karena RS biasanya berada di tempat yang 'macet' dan susah aksesnya... Untuk mengkoordinasi, memang harus ada satu 'alarm centre' yang akan menangani 'code blue' dari setiap panggilan gawat darurat (model EMS amrik itu lho...), dari situ baru nyebar ke pos terdekat dengan lokasi kejadiannya....
Terus pendapat anda bahwa ambulance 'hanya' untuk P3K atau P3B saat ini nampaknya tidak sepenuhnya benar, karena dengan kemampuan paramedik ambulans yang makin meningkat, tindakan yang lebih intermediate atau advanced juga dapat dilakukan di ambulance (contoh defibrilasi, thoracocentesis, dll). Kejadian dengan korban banyak (multple atau mass casualty incident) di republik ini nampaknya belum optimal penanganannya? Mengapa? karena masih sedikitnya awam yang tahu mengenai pertolongan pertama, sehingga triage awal (metode START) pun tidak terlaksana, contoh muthakir adalah kasus bom di beberapa tempat kemarin atau kasus bencana di Atjeh, Nias. Jadi sambil nunggu ini, memang sistem kesgadar harus ditingkatkan, kalau soal biaya memang itulah konsekuensinya, namun bisa dikurangi dengan sistem asuransi, cuma ada nggak asuransi yang mau dengan konsep kesgadar sebagaimana di LN?
Thanks,
AS
 


(Anytime anywhere We are ready to help)
Click: http://asarono.tripod.com

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

25 Juni 2005: 2 Tahun IndoFirstAid.com
=======================================
Donatur IndoFirstAid melalui
Bank BNI cab UGM Yogya 0038436942 A/n. Yudhistira O.
Kirimkan pesan melalui [email protected]




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke