Kami teruskan cerita dari salah seorang relawan JBP saat kegiatan operasi banjir Bandung selatan kemarin. Kondisi terakhir (29/4 19:45) di wilayah bencana sudah berangsur kondusif, pengungsi sebagian mulai kembali ke rumah masing-masing. Hanya sebagian desa Dayeuhkolot dan Andir yang masih ada genangan air dibawah 50cm. Banjir meninggalkan lumpur antara 30-50 cm di rumah2 warga. Mohon maaf bila kedobelan dan mengganggu. Selamat membaca.
Rgds, .e -----------start forwarded message Cerita Lapangan Banjir Bandung Selatan Setelah menerima kontak 'call for assistant' dari aparat desa Kamasan, pada Jum'at 27/04/2007 pukul 1800 WIB, Jawa Barat Peduli segera mengkoordinasikan personil SDM gabungan berbagai organ dan perangkat penunjang yang dibutuhkan. Tim berangkat pada pukul 21.30 WIB dari sekretariat Diponegoro 20 menuju desa Kamasan Kecamatan Banjaran dipimpin Kang Soma 'kopral' dengan kekuatan 16 personil dan 5 kendaraan terdiri dari 1 unit Kijang Mahawarman, 4 unit 4x4 dari Paguyuban Jip Bandung dengan membawa 1 unit perahu LCR Satkorlak PB Prop. Jabar dan 1 unit river boat milik Wanadri. Di desa Kamasan tim melakukan evakuasi kurang lebih 45 orang warga yang masih terjebak banjir dalam rumah mereka. Terlihat warga Kamasan sangat panik karena kejadian banjir seperti ini bukan hal yang biasa. Sebagian warga terpaksa diungsikan ke mesjid dan fasilitas umum terdekat. Setelah melakukan evakuasi, Kang Soma berkoordinasi dengan Tim dari Gegana Polda Jabar yang di pimpin oleh Bapak Umar untuk berbagi tugas. Yang akhirnya Tim JBP meninggalkan desa Kamasan yang mulai terkendali dan sudah di handle oleh Tim Gegana. Tim JBP selanjutnya menuju daerah Waas-Pameungpeuk, Kecamatan Banjaran. Setibanya di sana (sekitar pukul 01.30 28/4/2007 ) kita melihat air tergenang mulai dari depan Polsek Pameungpeuk hingga Puskesmas Waas. Sepanjang jalan itulah jalur transportasi utama Bandung - Banjaran terputus. Terdapat dua kendaraan besar yang terjebak di jalan raya tersebut, yakni satu truk colt diesel bermuatan kayu dan satu bus angkutan karyawan. Menurut informasi warga diperkirakan ada ratusan rumah dan beberapa pabrik yang tergenang banjir di Waas. Tim JBP menurunkan dua perahu untuk menyisir daerah tersebut. Arus air sangat deras di beberapa titik yang dekat dengan sungai dan persawahan, tetapi syukurnya tidak dilaporkan adanya korban sebab warga sudah terbiasa dengan datangnya banjir setiap musim penghujan, tetapi dilaporkan bahwa banjir ini adalah yang paling parah sebab mencapai ketinggian 1,5 meter di beberapa daerah tertentu. Sebagian besar rumah warga kosong karena ditinggalkan penghuninya untuk mengungsi, dan sebagian lagi tetap bertahan di lantai atas rumahnya. JBP tidak melakukan tindakan evakuasi, sebab warga telah terpola dengan kebiasaan banjir yang terjadi setiap musimnya, tim hanya beberapa kali membantu warga yang hendak menyeberang daerah banjir. setelah daerah waas dirasa cukup kondisuf tim akhirnya menuju daerah Andir - Dayeuhkolot di wilayah Bandung Selatan pada pukul 02.55 28/4/2007. Sebelum menuju lokasi banjir, Tim JBP berkoordinasi dengan pihak Kecamatan untuk menyampaikan surat tugas dan berbagi informasi. Selanjutnya setelah mendapat informasi Tim dipandu oleh seorang relawan dari KNPI yang kebetulan berada di kantor kecamatan waktu itu ke Taman kota Dayeuhkolot. Disana kita menjumpai adanya tiga tenda peleton yang digunakan sebagai tempat pengungsian sementara. Dua diantara tiga tenda tersebut adalah milik Pramuka Kwarcab Bandung, sedangkan satu lagi milik P2B PK Sejahtera. Sebelum menurunkan perahu Tim beristirahat sejenak untuk mengisi kampung tengah sebab udara semakin dingin dan mata mulai berkunang-kunang karena semalaman belum tidur. Sementara itu didapat informasi dari warga bahwa air yang tadinya surut pada sore-malam hari mulai naik lagi sejak pukul 22.00 27/4/2007 di daerah taman kota tersebut. Berbeda dengan daerah Kamasan yang pada waktu yang sama justru air berangsur surut, ini karena Kamasan berada di daerah hulu. Pukul 04.30 tim mulai persiapan untuk menurunkan perahu dan pada saat yang sama rekan-rekan dari Pecinta Alam Ciparay (GAPALA) menawarkan diri untuk membantu mengoperasikan perahu karet. Dengan kondisi masih gelap tim mulai menyusuri banjir menuju daerah andir dengan dua perahu. selain dua perahu yang di bawa oleh JBP, kami juga menjumpai satu unit perahu LCR milik TNI dan satu unit river boat yang dioperasikan oleh PKS dan ada pula beberapa perahu kayu milik para pengojek perahu profesional yang merupakan warga sekitar. Tidak lama beroperasi ternyata satu perahu dari Wanadri bocor karena tersangkut pagar, tetapi itu tidak menyurutkan niat kita untuk kembali beroperasi walaupun hanya menggunakan satu perahu. Memang daerah Andir termasuk yang paling parah sebab puluhan rumah di sisi jalan hanya terlihat sebatas plafon sampai atap ( untuk rumah yang satu lantai tentunya ) ketinggian air di perkirakan antara 2 hingga 2,5 meter. pada sesi pertama kita beroperasi hingga pukul 08.00 pagi dan kita berhasil mengevakuasi belasan warga diantaranya adalah seorang ibu hamil, dan beberapa wanita dan balita. Karena overload ketika evakuasi maka hampir semua operator perahu terpaksa harus turun untuk mendorong perahu, sebab selain terasa berat karena beban, perahu juga bergerak melawan arus. Rasanya kali lain kami harus meminjam juga unit mesin tempel untuk menghemat tenaga. Setelah tim rehat untuk makan pagi, operasi kembali dilanjutkan sampai pukul 14.00, operasi kali ini dilakukan di daerah Cieunteung. Daerah ini termasuk unik. Minggu yang lalu saat JBP dan Tim Medis dari STIKES Dharma Husada melakukan assessment (seminggu sebelumnya sudah terjadi banjir juga) di Cieunteung kita melihat perahu LCR kecil warna merah milik SATLAK Kabupaten Bandung stand-by di kampung tersebut. Saat itu kita menilai bahwa koordinasi pihak terkait sudah cukup baik, tetapi pada kenyataanya saat kemarin (28/4/2007) ternyata perahu SATLAK yang seharusnya difungsikan sebagai unit Rescue telah berubah fungsi untuk me-Rescue sepeda motor, walaupun lega bahwa ternyata bukan petugas SATLAK yang mengoperasikannya, melainkan warga sekitar yang entah dari mana asal muasalnya menjadi pengojek perahu dadakan yang bersaing dengan para pengojek perahu profesional ( memang sudah profesinya ). Kang Herry sempat berdialog dengan operator perahu SATLAK tersebut dan meminta bantuan untuk mengevakuasi seorang ibu hamil dan seorang balita yang terjebak sebab perahu yang digunakan JBP tidak dapat masuk karena terlalu besar. Jawaban dari operator perahu SATLAK tersebut "Oh, di sebelah sana ada juga yang mau di evakuasi" . Akhirnya Tim JBP mencoba untuk masuk daerah tersebut, dengan sedikit upaya kita akhirnya dapat juga menjangkau rumah si ibu hamil dan balita tersebut. Ketika berusaha kembali ke arah pos pengungsi, di tengah jalan kita berpapasan lagi dengan perahu SATLAK, ternyata mereka sedang me-rescue sepeda motor juga. Setelah itu kita mendapat permintaan dari petugas PLN yang akan mematikan jaringan listrik di daerah Kelurahan Andir. Akhirnya kita portaging untuk memindahkan perahu ke jalan Andir. Dalam operasi tersebut kita mengantar tiga orang petugas PLN dan dalam perjalanan didapati bahwa air sudah berangsur surut sekitar satu jengkal orang dewasa dari ketinggian air sebelumnya. Petugas PLN akhirnya berhasil memadamkan dua titik gardu di kelurahan andir, gardu yang pertama terletak tepat di kantor Kelurahan Andir sedangkan gardu kedua terletak di belokan kampung Cibadak. Selesai misi (Pukul 14.00, 28/4/2007) akhirnya petugas PLN melanjutkan tugasnya untuk menjangkau beberapa daerah industri yang terendam air, sedangkan tim kita kembali rehat untuk mengisi kampung tengah. Alhamdulillah kita mendapatkan bantuan dari dapur umum milik PMI yang berada di kantor kecamatan Bale Endah dan RAPI 10 Bale Endah di tengah tipisnya duklog kita (terima kasih kawan-kawan). Selesai itu rekan-rekan pecinta alam Ciparai yang membantu kita ijin untuk mundur, dan tim JBP tinggal 4 orang personil. Melihat permukaan banjir yang kian surut dan tenaga yang berangsur melemah akhirnya kita stand by sambil menunggu tim JBP lain yang sedang meluncur ke Taman Kota. Sambil menunggu kita menyempatkan diri untuk mencari data ke kantor Kecamatan dan dari Kakesbang Linmas Kabupaten Bandung (pak Momon) kita di arahkan untuk ketemu dengan tim pendata dari kecamatan dan akhirnya kita mendapat data setelah pukul 17.00. Setelah mendapat data kita segera kembali menuju taman kota untuk stand by kembali di posisi. Tidak lama, tim JBP sorti kedua yang kita tunggu telah tiba di taman kota dengan kekuatan 16 orang personil yang diantaranya berasal dari Walhi Jabar, Eiger, Bandung Spirit, Mahawarman dan Terapi Alam beserta 3 unit kendaraan yakni 1 unit Taft Rocky milik Terapi Alam, 1 unit Rocky pembawa Kanoe merah milik Eiger dan satu kendaraan Land Rover forward control milik Abah Iwan (WANADRI) bermuatan barang bantuan berupa mie instant dan air mineral (sumbangan stakeholder WALHI Jabar) yang akhirnya di drop di Kantor KNPI yang juga menjadi salah satu titik pengungsian. Alhamdulillah Tim JBP saat itu mendapat dukungan donasi untuk pergerakan dari Kang Norman Lubis (Mahawarman Yon II/UNPAD) dan Kang Samsi Gunarta (Mahawarman Yon I/ ITB). Sekitar pukul 20.30 tim kesehatan dari Stikes Dharma Husada Bandung juga tiba dengan sebuah mobil ambulans beserta 10 personil paramedisnya dan membawa sejumlah obat-obatan stok JBP dan Wanadri. Selanjutnya kegiatan pengobatan gratis berlangsung hingga pukul 00.00 (29/4/2007) dengan pasien kurang lebih 40 orang. Karena situasi dinilai sudah cukup kondusif, pada sekitar pukul 01.30 WIB semua tim mundur menuju homebase untuk meluruskan badan, walaupun demikian kita semua tetap dalam kondisi siaga. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bergerak bekerja bersama dalam operasi kali ini diantaranya : SATKORLAK PB Prop.Jawa Barat, WANADRI, Mahawarman, PJB, LRCB, GAPALA, Bandung Spirit, EIGER, Anhang Adventure, Gegana Polda Jabar, aparat desa Kamasan, WALHI Jabar, Petugas Kecamatan Bale Endah, KNPI Kab. Bandung, PMI Jawa Barat dan Rapi 10 Bale Endah, serta semua rekan2 yang telah membantu berlangsungnya kegiatan operasi (mohon maaf bagi pihak yang tidak tercantum). Wassalam, Lena Volunteer JBP -----------end forwarded message

