---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- TERAPI PENYAKIT SOSIAL INDONESIA (II) Yang menjadi sumber penyakit sosial Indonesia adalah penindasan dan KKN oleh rejim Suharto selama 32 tahun dengan menyalah gunakan UUD45, meng- hujat Pancasila, sistem fasis militerisme Jepang Dwifungsi ABRI, Golkar yang dipaksakan mendominasi DPR-MPR, semua Gubernur dan pejabat tinggi se- dangkan rakyat dipaksa manut dengan sistem Pavlov. Suharto sudah terguling, namun Indonesia sebagai pasien sosial masih tergele- tak koma karena terlalu dahsyat serangan penyakit sosial yang akut dan kro- nis sekaligus, seolah oleh kebal pula terhadap obat obatan konvensional. Perpecahan, gontokan golongan masyarakat, kemelaratan yang dahsyat, prasarana untuk memulihkan kembali perekonomian "hyper-stagflasi": banking, Rupiah untuk modal dalam 7 bulan belakangan ini makin lama makin buruk ter- puruk tanpa jalan keluar yang bisa tampak dalam masa depan yang dekat. Terapi yang cukup jitu sebenarnya tidak terlalu sulit, namun kita tidak memi- liki pemimpin yang jujur, kuat dan canggih kalau bukan jenius sedangkan "political will" parpol besar untuk mengambil alih inisiatif kearah penanggu- langan bersama seolah olah menemui jalan buntu di Ciganjur. Pada saat yang sama, pemimpin yang dicap radikal seperti Ali Sadikin, Ke- mal Idris dkk langsung digebug KUHP kolonial "makar" walaupun tidak mem- punyai kesempatan untuk makar seperti pasukan bersenjata ibarat macan ompong tak berkuku namun cukup menakutkan bagi penguasa. Kalau kelompok Ciganjur bisa bersatu dengan Barisan Nasional, mahasiswa akan mendukung dengan caranya sendiri dan suasana stabil dan tenang akan memungkinkan mereka berpikir dalam dan jauh untuk mengatasi krisis ekonomi, politik, sosial, satu demi satu atau sekaligus dengan "brain storming" yang realistis dan pelaksanaannya yang bersemangat. Presiden Habibie sudah kehilangan "common sense" dan mau mengatasi de- ngan cara konvensional di mana dia sudah jatuh kedalam "Peter Principle": dayapikirnya dan dayagempurnya sudah mandeg karena dia sudah menca- pai "optimum" sedangkan krisis semakin buruk dari hari kesehari. Terapi yang jitu adalah: Habibie harus menyerahkan kembali kekuasaannya sedangkan jalan konstitusional tidak ada karena primitifnya UUD45 dan Parlemen dan MPR pilihan Suharto kecuali tidak becus sudah di "condemn" oleh mahasiswa dan para reformis sejati. Karena terapi yang konstitusional mustahil, para pemimpin tidak bersedia menempuh skenario baik, maka tinggallah skenario buruk: revolusi yang ngawur karena "semua lawan semua" di mana kekuatan demokratisai dan anti-demokratisasi seimbang. Sekalipun ABRI memihak golongan pro-de- mokrasi, pro-reformasi yang pura pura, antagonisme golongan justru akan semakin tajam sehingga memungkinkan revolusi ngawur jauh dari revo- lusi a la Korea Selatan, Filipina dan Thailand yang berhasil sukses men- jelma menjadi demokratisasi. H.S. Hidayat Supangkat ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 21 Dec 1998 jam 05:31:26 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
