---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- TERAPI PENYAKIT SOSIAL INDONESIA (I) Para aktor politik Indonesia dapat dibagi dua: pihak yang menjadi penyakit dan pihak yang menjadi obat atau dayatahan. Para aktor Orde Baru yang lapuk adalah penyakit sosial kronis dan akut sekaligus sedangkan para reformis sejati adalah ibarat dayatahan yang kadang bisa mengobati sendiri kalau belum mencapai tahap gawat. Para reformis adalah ibarat enerji dalam tubuh yang langsung memburu bagian bagian badan yang sakit untuk menyembuhkan. Namun kalau penyakit sudah gawat sekali seperti halnya dengan penyakit ekonomi, sosial, politik Indonesia, maka para reformis yang merupakan resistans (dayatahan) tubuh sudah tidak bisa lagi menyembuhkan penyakit. Tibalah waktunya untuk mendapat obat dari luar melalui diagnosa dan terapi yang jitu. Namun kalau sudah "terminal" penyakitnya, apapun juga obatnya sudah tak akan mempan lagi, si pasien harus mati. Dalam kasus Indonesia, kematian pasien bukan berarti kematian seluruh bangsa tapi konflik kekuatan yang bertarung berlarut larut memakan waktu sampai situasi baru muncul. Menurut skenario baik, akan muncul koalisi pimpinan kekuatan yang akhirnya mampu mengatasi krisis karena mendapat kepercayaan penuh rakyat dan mahasiswa. Sebaliknya kalau scenario buruk yang muncul maka ada beberapa kemungkinan: Sebagian dari 140 juta rakyat melarat dan sebagian dari 20 juta rakyat pengangguran yang selama ini menjadi "silenced majority" (mayoritas yang lumpuh) akan bangkit mengikuti pimpinan yang dipercayainya atau secara naluri akan ngawur amuk amukan seperti yang terjadi berulang kali di masa lalu. Faktor puluhan juta rakyat melarat ini tidak bisa selamanya dipandang enteng karena perut mereka yang kosong telah merubah jiwanya menjadi jiwa binatang. Mungkin para bapak bapak big shots kita belum pernah merasa lapar tidak makan sehingga tidak mungkin dapat membayangkan perubahan apa yang akan menimpa manusia lapar. Senjata ABRI sudah tidak akan berarti lagi untuk dijadikan deterrent (macan macanan yang menakutkan). Dan setengah juta ABRI tidak akan mampu mengatasi ratusan juta rakyat lapar yang mengamuk walaupun ditodong meriam. Inilah revolusi yang kita takuti. Yang lebih mengerikan lagi kita tidak tahu revolusi apa yang akan terjadi. Yang jelas bukan revolusi sosial yang dicanangkan Karl Marx sebagai satu satunya jalan kearah utopia masyarakat tak berklas karena PKI dan perjuangan klasnya sudah lama tiada. Sekarang masih bisa dicegah kalau kita cepat bepikir dan bertindak langsung menggarap kemelaratan, pengangguran massal, dan mengadakan kompromi dengan ma- hasiswa, sekaligus pula mempersatukan para pemimpin: Ciganjur, parpol parpol baru, Cendekiawan dari semua agama (bukan ICMI dan CSIS semata), menjelang pemilu ini mempengaruhi MPR untuk secara bersama mengamandemen UUD45 sehingga menjadi UUD lengkap seperti lumrahnya di negara negara lain. ABRI harus lepas tangan dari politik! Kalau langkah ini terlalu "langdradig" (bertele tele) maka satu satunya jalan tidak lain daripada pembentukan Presidium yang terdiri atas para pimpinan tersebut di atas dan melakukan amandemen UUD45, mencabut UU Represif, termasuk pasal pasal kolonial dalam KUHP yang merupakan duri dalam daging karena masih kuno dari era pra-Magna Carta 1215 yang sudah merupakan dinosaurus. Pemilu dibawah rejim Habibie dengan Dwifungsi ABRI-nya dijamin akan gagal total mendemokratisasi kembali Indonesia umumnya dan mengatasi krisis khususnya. Hanya di bawah pengawasan Presidium inilah pemilu yang terbuka bebas bisa di- laksanakan, itupun kalau UU-nya cukup demokratis seperti yang dituntut parpol kecil. Kalau tidak, skenario buruk sudah tidak bisa dicegah lagi, kita hancur hancuran. Demikianlah terapi menurut utek yang sudah butek ini. New York, 19 Desember 1998. H.S. Hidayat Supangkat. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 21 Dec 1998 jam 05:35:56 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
