---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- DIAGNOSA PENYAKIT INDONESIA (V): REVOLUSI YG DIBENDUNG Menginjak milenium ketiga ini seluruh dunia mengalami revolusi teknologi, revolusi komunikasi secara global tidak ada yang terkecuali dan pada gilirannya revolusi global ini menimbulkan revolusi damai secara fisik dan psikologi sosial pada bangsa bangsa yang membuka lebar seperti a.l. Indonesia. Penguasa Indonesia yang masih mempergunakan sistem kuno yang terkutuk di seluruh dunia: fasisme militer Jepang berupaya menyesuaikan diri dengan revolusi modern dunia namun dengan reservasi (setengah hati), secara selek- tif memilih mana yang "convenient" bagi kepentingan kekuasaannya. Mana yang membahayakan dibendungnya dengan berbagai cara bodoh dan kuno: nasionalisme, indoktrinasi pancasila, doktrin ketahanan nasional, UUD45 yang primordial, primitif, yang tidak lain dan tidak bukan hanya merupakan "cek blanko" bagi penguasa yang sudah "mencle" karena sudah kadaluwarsa di seluruh dunia. Bangsa kita umumnya dan para penguasa imperium Majapahit, Mataram ketinggalan kecanggihan inteleknya karena mempunyai falsafah "katak di bawah tempurung" tidak seperti Kerajaan Siam yang canggih sehingga ne- garanya tidak bisa dijajah oleh Inggeris bahkan oleh Jepang sekalipun kare- na mereka membuka mata kepada dunia luar dan pandai menyesuaikan diri. Kalau Sultan Agung canggih maka kolonialisme Blanda bisa digagalkan de- ngan membeli senjata api dan senjata berat dari Inggeris, Portugal, Spanyol. Atau dengan mengadu domba keempat kolonialis itu dengan mengimingi konsesi rempah rempah yang diburu buru oleh mereka. Namun Sultan Agung mau mengusir Blanda dengan kekuatan sendiri yang kuno sehingga meriam meriam Blanda di Jayakarta dilawan dengan senjata api kuno dan tentu saja gagal total karena falsafah katak di bawah tempurung. Sekarang para penguasa kita dengan UUD45, Pancasila, Dwifungsi ABRI mau membendung revolusi dunia dan tentu saja tidak akan berhasil karena Indone- sia bukan Iran, Afghanistan, Libya, Sudan, Kuba, Korea Utara yang membari- kade diri terhadap dunia, negara kita dibuka lebar kepada dunia luar. Globalisme, revolusi teknologi, revolusi komunikasi sudah menjadi "historische notwendigkeit" (keharusan sejarah) yang tidak mungkin dibendung bendung lagi karena kontraproduktif sehingga akibatnya seperti sekarang ini di mana Orde Baru sudah menjadi Orde Lapuk yang sudah membusuk bau! Establishment Orde Lapuk berupaya mempertahankan diri terhadap perubahan yang sudah menjadi bagian dari revolusi dunia dengan jalan membentengi kela- pukan falsafah katak di bawah tempurung sehingga terjadilah bentrokan hebat dengan klas menengah dan golongan muda umumnya, dengan mahasiswa khususnya yang sudah melek matanya terhadap revolusi dunia. Sudah lama falsafah hidup kita: Guru-Ratu-Wong Tuo dijungkir balikkan oleh revolusi dunia dan menurut definisi antropolog Margareth Mead apa yang di- sebut "prefigurative" di mana generasi muda sudah menggurui generasi tua dari golongan "postfigurative". Tentu hal ini tidak usah ditafsirkan secara harafiah karena saya sebagai orang tua (70 tahun) termasuk dalam kategori prefigurative sehingga memahami sedalam dalamnya aspirasi mahasiswa karena sebagai "student of life" (ma- hasiswa abadi) semakin banyak belajar semakin merasa bodoh dan jahil (ignorant). Mahasiswa sudah mulai meneriakkan revolusi karena revolusi kita sudah ter- lalu matang yang secara artificial dibendung bendung dengan cara bodoh se- hingga membodohkan kita. Lihatlah kita ketinggalan jauh oleh Korea Selatan, Thailand bahkan oleh Fili- pina yang berhasil menggulingkan Orde Lapuk dan mengikut Orde Prefigu- rative: demokratisasi, rule of law, HAM sehingga perekonomian mereka yang juga ambruk oleh Krismon mulai bangkit menuju kepulihan. Menurut hukum alam yang universal, apa yang tidak diperlukan lagi dalam hi- dup akan rontok, mati dengan sendirinya. Terang saja: Orde Baru yang sudah Lapuk berdasarkan UUD45, Pancasila (sudah dihujat), KUHP kolonial yang anti-rule of law karena masih merupakan hukum pra-Magna Carta tahun 1215, Dwifungsi ABRI, sudah lama kadaluwarsa, punah tidak ada lagi jenisnya di seluruh dunia dan harus digantikan dengan apa yang diaspirasikan klas menengah yang non-KKN, pemuda dan mahasiswa: reformasi total bukan reformasi tambal sulam a la si katak dibawah tempurung. New York, 18 Desember 1998. H.S. Hidayat Supangkat ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 21 Dec 1998 jam 06:57:25 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
