---------------------------------------------------------- Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "signoff indonews" need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "info refcard" ---------------------------------------------------------- Republika Online edisi: 02 Feb 1999 Film The Prince of Egypt dan The Siege Lecehkan Islam NEW YORK -- Masih saja ada kalangan masyarakat Barat yang menjadikan Islam sebagai sasaran pelecehan. Bukan cuma di arena politik dan ekonomi, melainkan juga hiburan. Yang terakhir ini terbukti dengan beredarnya dua film produksi Hollywood -- The Prince of Egypt dan The Siege -- yang menyudutkan Islam. Atas dasar itu, H Syamsi Ali, seorang cendekiawan Muslim asal Indonesia di New York, AS, dua hari lalu (31/1) mengusulkan agar Badan Sensor Film (BSF) melarang pemutaran film The Siege dan The Prince of Egypt di Indonesia. Alasannya, menurut Syamsi, karena mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam. Syamsi menambahkan masyarakat Islam AS yang tergabung dalam Dewan Hubungan Islam-Amerika (CAIR) juga telah menentang peredaran kedua film tersebut. Di luar AS, Pemerintah Malaysia dan Maladewa juga telah mengeluarkan larangan beredarnya /The Prince of Egypt. Menurut Syamsi Ali, jalan cerita film tersebut menghujat Islam. Kini kedua film itu tengah diputar di bioskop-bioskop AS, dan sedang diekspor ke mancanegara. /The Prince of Egypt, diproduksi Dreamworks, adalah sebuah film kartun animasi mengenai kisah Nabi Musa yang didasarkan pada Kitab Exodus versi kaum Yahudi. Sedangkan film laga The Siege yang dibintangi aktor berkulit legam, Denzel Washington, menggambarkan Islam sama dengan terorisme. Dalam The Siege dikisahkan New York diserang oleh teroris Islam. Pelaku teror itu melakukan ibadah shalat, berwudlu, dan mengumandangkan azan sebelum melakukan serangan bom bunuh diri. ''(Itu) betul-betul menghujat Islam. Masa, ajaran Islam yang mengajarkan keselamatan dan perdamaian disamakan dengan terorisme,'' ujar Syamsi Ali yang jebolan International Islamic University Pakistan, yang juga pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Cabang New York itu. Sedangkan dalam The Prince of Egypt, yang jadi persoalan adalah digambarkannya tokoh Nabi Musa. Padahal, Islam melarang penggambaran visual para nabi, apa lagi Tuhan. Prince of Egypt memang menceritakan riwayat Nabi Musa yang divisualkan mulai dari bayi merah sampai remaja dan menjadi pemimpin Bani Israel, cikal bakal Umat Yahudi. ''Ini prinsip kaidah Islam yang dilanggar film The Prince of Egypt,'' tegas Syamsi Ali yang bekerja di Perwakilan Tetap RI untuk PBB itu. Selain itu, Syamsi juga mencium propaganda kaum Yahudi di balik film tersebut. The Prince of Egypt dinilai Syamsi mempunyai agenda untuk menokohkan Musa sebagai pemimpin Yahudi, bukannya sebagai nabi yang memperjuangkan moralitas dan menegakkan ajaran Tuhan. ''Film itu hendak menggambarkan bahwa Yahudi-lah pemimpin dunia, dan umat-umat yang lain adalah hamba atau budaknya. Ini doktrin Yahudi yang secara rapi diselipkan dalam film animasi Hollywood itu,'' cetus Syamsi Ali. Menurut Syamsi Ali, Musa adalah nabi yang diakui oleh umat Islam. Bersama-sama dengan nabi lainnya, Musa menjadi tokoh yang dihormati dan diteladani oleh kaum Muslimin. Bahkan, dalam Alquran cerita Nabi Musa merupakan kisah yang panjang, misalnya, bisa dibaca dalam Surat Al Baqarah dan Ali Imran. The Prince of Egypt dimulai ketika seorang wanita Bani Israel di Mesir, yang nekat menghanyutkan bayinya itu ke Sungai Nil dalam sebuah keranjang. Ia melakukan itu demi menyelamatkan bayinya dari kekejaman Fir'aun, raja Mesir yang lalim. Tapi setelah melewati arus sungai yang ganas, keranjang berisi bayi itu justru sampai ke wilayah Kerajaan Mesir, dan ditemukan oleh keluarga Fir'aun. Sang Ratu menamai bayi itu Musa dan menjadikannya anak angkat. Jadilah Musa dibesarkan di lingkungan Kerajaan Mesir. Cerita terus berkembang dengan fokus pada hubungan cinta dan benci antara Musa dan saudara angkatnya, Ramses, Sang Putra Mahkota. Film diakhiri dengan perjuangan Musa memimpin pengikutnya untuk mengungsi secara besar-besaran dari Mesir dengan membelah Laut Merah menuju Semenanjung Sinai. Beberapa aktor dan aktris kondang Hollywood terlibat sebagai pengisi suara dalam The Prince of Egypt. Antara lain, Sandra Bullock, Michelle Pfeiffer, Val Kilmer, dan Jeff Goldblum. Suara Nabi Musa diisi oleh Val Kilmer yang pernah membintangi film Batman. Sementara Michelle Pfeiffer yang pernah sukses dalam The Fabulous Baker Boys mengisi suara Tzipporah, kekasih Musa. Tak dijelaskan siapa pengisi suara Tuhan. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 2 Feb 1999 jam 09:34:54 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
