---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- KOLOM Perwira Alengka. Seri II. Thursday the Fourteenth. 23 Juni 1998. Prolog : ( Perwira Alengka minta maaf atas kelemahan Perwira Alengka dalam menulis Fourteen di edisi yang pertama, serta banyak kesalahan spelling lainnya. Perwira Alengka bisa bicara beberapa bahasa, tetapi tidak untuk menulis. Habis---, semuanya dipelajari otodidak dan praktek langsung di lapangan. Semoga para nettes maklum adanya. Tulisan ini adalah untuk menjawab sekian banyak hujadan yang ditujukan pada TDA pasca kerusuhan 13 -14 May 1998. Jika ada film horor Friday The Thirdteenth---- maka untuk mengimbangi kengerian peristiwa 14 May itu Perwira Alengka memilih judul "May, Thursday the Fourteenth". Tulisan ini tidak bagus bagus amat---, sebab Perwira Alengka juga lagi belajar menulis saat itu dan sampai kini. Untuk mas Bambang Harymurti----, apakah Mas yang dari Tempo yaa ?). ****Mula mula kikuk juga saat membaca Reformasi Kultur Pandita. Namun lama lama---, bila itu memang gaya bicara---, bila itu simbol kebebasan---, bila itu cara beradab dalam dialog---, akhirnya kan terbiasa juga. Yang penting tujuannya untuk memperbaiki masa depan Alengka. Khusus untuk tragedi 14 Mei ( May---, Thursday the Fourteenth ), izinkanlah Perwira Alengka bicara dalam perspektif nya. Memang selama ini Alengka sudah terbiasa dengan kultur : " Bahwa sesuatu yang rekayasa, selalu diterima sebagai kejadian benaran " ( Pavlov ). Sehingga.... ketika tragedi benaran itu betul betul melanda, kita masih berpikir Pavlovians dan menganggap itu bagian dari rekayasa. Lalu kita semua kebablasan---, dan baru sadar ketika nasi telah menjadi bubur. ( Konklusi ini Perwira Alengka sederhanakan---, dengan sama sekali tidak menyederhanakan rasa simpati dan prihatin yang sedalam dalamnya atas semua kerugian, baik moril maupun material yang dialami oleh seluruh warga Alengka, khususnya etnis Han ). Dalam postingnya Pandita menulis : " Pihak keamanan tidak siap. Itu bukti kegagalan total-----, " Pandita benar. Dengan penuh kejujuran, kami katakan itu benar. Tragedi " May---, Thursday the Fourteenth" telah terjadi. Dan bila kita hanya melihat aspek " who in charge" dan "out put" tragedi tersebut, memang kelihatannya sepertinya pihak keamanan telah gagal. Tetapi bila dilihat dari sudut prakondisi---, proses matangnya situasi---, sampai kesulitan internal yang terjadi--, maka---, tanpa maksud membela diri sama sekali, khusus untuk tragedi " May---, Thursday the Fourteenth" ini , banyak hal yang harus dipertimbangkan. Tragedi ini berlangsung dengan back ground revolusi sosial, dimana pentas politik saat itu ( dan sampai kini ) penuh ranjau ranjau politik yang multidimensional dengan ratusan variant jebakannya. Pandita Gohkarna tahu itu. (Kita bahas dengan cantrik cantrik Pandita nanti ). Dalam kapasitas jabatannya, Mahapatih Wir terpaksa turut dalam permainan catur maut. Sementara kita tahu, beliou kan tidak master master amat. Variant pembukaannya saja sudah pembukaan "buah simalakama". Dimakan mati bapak.Tidak dimakan mati ibu. Dalam tekanan psikis, mengingat emosi massa sangat fragile saat itu, terutama setelah gugurnya empat pahlawan reformasi, membuat posisi TDA sangat sulit. Bila kaum penjarah di "babat", (pinjam istilah...) minimal menimbulkan ribuan korban lagi---, yang akan memperdalam kebencian dihati rakyat Alengka umumnya, kaum sekolahan, kaum pandita, dan paguyuban azazi insani khususnya. Tidak di "libas" ( pinjam lagi ) dianggap ragu, lemah, terutama oleh saudara kita Han, dan forum internasional yang berstandar ganda sesuai kepentingannya. Sehingga TDA, dalam menentukan tindakannya harus memikirkan faktor-faktor psikologi massa tersebut. Main frontal---, Tien An Men II akan terulang, dengan dampak Alengka akan didiskreditkan oleh dunia pewayangan sejagad. Tidak dibabat---, TDA akan dianggap gagal total. Jika TDA membabat---, pasti akan dimusuhi mayoritas---, dan bila tidak dibabat---, akan dibenci minoritas. Begitu juga untuk perlindungan . Bila pasukan TDA aktif melindungi rumah rumah dan toko toko warga Han, akan disalahkan dan dihujad sebagai anjing Peking. Jika tidak dilindungi ---, mereka akan dijarah dan dibakar massa. Dilematis. Sehingga dua hari pertama ( tanggal 13 dan 14 ) memang diakui sebagai hari euphoria gila gilaan. Dalam dua hari itu pula Perwira Alengka mempelajari psikologi masa yang bergerak unpredictable, dimana emphati rakyat berobah dari menit ke menit. Bila data suasana emosi ini diolah dan ditabulasi berdasarkan isi pemberitaan seluruh media massa di Alengka, ( berita media massa merupakan cerminan suara nurani masyarakat saat itu ), maka ritme emosi / psikologi massa tersebut akan terbaca jelas. ( Kronologis 2 hari tersebut tidak perlu diulang lagi ) Sekarang nasi sudah menjadi arang . Asset asset nasional sudah di bakar dan dijarah. Korban korban pelecehan sudah timbul. Dendam dendam lama sudah terbangkitkan kembali. Kini dendam dendam itu berkeliaran dimana mana. Ironi sekali, sementara dendam dendam lama belum benar benar terkuburkan, kita sudah mulai lagi dengan dendam baru. Karena itu, Perwira Alengka yang tidak pernah memiliki dendam lama, juga tidak ingin terlibat dendam baru. Untuk itulah dengan segala kenetralan , for the sake of this nation, for the sake of Alengka, izinkan Perwira Alengka menjelaskan faktor faktor yang menjadikan kami ragu. ( Ternyata dendam yang lebih parah kemudian terjadi di Ambon---!.) Ada beberapa faktor penekan yang kami rasakan dilapangan: * Pertama adalah situasi psikologis massa saat itu yang sangat apriori dengan tindakan kekerasan dari TDA. * Kedua adalah kerasnya tekanan paguyuban hak azazi insani di Alengka dan kemungkinan embargo ekonomi jagad raya, membuat kami harus berpikir ulang dalam melangkah. * Ketiga adalah, perintah "tembak ditempat" tidak populis di telinga warga Alengka. Perintah itu seperti stigma. Sementara tanpa itu kami dianggap tidak menakutkan. * Keempat, gugurnya empat pahlawan reformasi sangatmenyudutkan citra TDA, dan posisi rakyat pada dua hari terakhir tersebut bersebrangan dengan TDA. * Kelima, akumulasi ketidak adilan, salah prosedure, dan kasus kasus terkini, masih membebani nurani kami, dan tidak akan ditambah dengan beban baru lagi. (ternyata malah menimbulkan yang baru ). * Keenam, faktor internal TDA antara lain sarana angkutan, logistik, jumlah personil, perimbangan personil luar-dalam ibukota Alengka, tingkat kemacetan dan PROSES PENYATUAN VISI dalam menentukan bentuk tindakan yang akan diambil, semuanya membutuhkan waktu. Belum lagi situasi politik sedang hamil tua. Begitupun--, tanggal 13 sore operasi segera direncanakan. Tanggal 14 pasukan selesai di gelar. Namun masa sudah terlalu bringas, tanggal 15 baru bisa terkendali. Karena itu, bila TDA disalahkan, khususnya oleh Pandita dan warga Han, kami siap memikul bebannya. Apalagi pembakaran dan penjarahan memang sudah terjadi dimana mana. Asset asset nasional sudah hangus terbakar, dan rantai distribusi sudah terganggu. Apalagi sekarang, rakyat banyaklah yang menanggung semua akibatnya. ( ternyata kami kecolongan lagi di Ambon---, kepedihan yang luar biasa yang jauh melebihi segalanya ) Hanya.... semoga sifat kesatria kami ini tidak diterjemahkan sebagai sifat lemah. Apalagi tuduhan terlambat itukan belum tentu benar. Belum pernah diteliti secara ilmiah. Jika mau main kata kata, bisa saja para Patih akan balik tanya, Apa betul tuduhan itu. Apa sudah diteliti. Apa judul penelitiannya. Bagaimana kerangka konsepnya.Jika "keterlambatan" dijadikan variabel terikat, faktor faktor apa yang akan dijadikan variabel bebasnya. Bagaimana metodologi penelitiannya. Kualitatif atau kuantitatif. Berapa besar sampel yang dibutuhkan. Bagaimana tehnik hitung sampelnya. Apa tools yang digunakan. Jika menggunakan questioner, apakah sudah diuji reliabilitasnya.dll dll dll, yang hanya semangkin memperpanjang polemik yang tanpa akhir. Namun begitupun, siapa tahu ada yang tertarik untuk melakukan penelitian ini. Siapa tahu dia bisa menemukan faktor faktor yang paling berpengaruh terhadap keterlambatan itu. Atau mungkin saja dia bisa menemukan "fakta baru" yang justru lebih besar lagi perannya dalam membuka keseluruhan tabir misteri akhir akhir ini---, Who knows---?. Namun---, menurut Perwira Alengka, dari pada berpolemik---- sebaiknya kita lupakanlah semua ini. Kita mulai untuk mengais puing puing. Kita bangun kultur baru kita. Kita bangun lagi Neo Alengka ini!. Kami tahu kepedihan korban. Kami bisa merasakan itu. Bila warga Han sudah merasakan bagaimana pedihnya digeneralisata secara umum---, dimana karena konglomerat nila setitik, rusak Han se Alengka. Begitu jugalah kami--- TDA. Semoga TDA tidak digeneralisasi. Jangan gara gara duga menduga satu orang, seluruh citra TDA dan nama satuan di bawa bawa. Kita orang beragama----!. Bila memukul orang hidup tidak berani, memukul orang matipun berbahaya loooo---. Banyak hantunya. ( Tetapi Pandita kita memang berani. Orang hidup maupun orang mati----, dihajar sama rata ) Sebetulnya... bila Perwira Alengka tidak mau pusing, bisa saja ndablek, tutup mata tutup telinga, apa yang terjadi terjadilah. Emangnya gua pikirin. Bertahan dengan paradigma lama sajakan ta napa napa. Perlu apa sampai susah susah amat jongkok di sini---!. Emangnya gua dibayarin. Belum lagi hati dag dig dug, di ciduk kagak. Nah inilah kesalahan paradigma lama. Paradigma baru tidak begitu. Paradigma baru adalah aktif bermain dalam dinamika. Jika mampu---- survive. Jika tidak----- bubar. Bila tetap bermain dengan stabilitas----, apalagi dengan cara represif---, sudah kuno. Stabilitas akan tercipta sendiri setelah semuanya menemukan titik equilibriumnya sesuai meritocracy. ( tetapi bukan diterjemahkan sebagai back to barrack ) Karena itulah, walau tanpa cantrik cantrik ( gak diciduk saja sudah syukur, apalagi rame rame pakai cantrik ) Perwira Alengka tetap akan menulis dan terus menulis. Dua hari dapet satu yaah syukur-----!. Biasa pegang bedil---, terjun----, nyelam---, survival---, mau ikutan nulis---- opo mane rek. Yaah harus belajar lagi. Namun---, Pandita Gohkarna benar. Ada kepuasan batin tersendiri di dalamnya. Perwira Alengka di Neo Alengka. Tambahan 1 February 1999 : *****Sesungguhnyalah kita semua yang menulis di milis ini--- yang selalu mempertentangkan issue Islam - Kristen atau Kristen - Islam, atau pri dan non pri---, secara tidak disadari adalah provokator provokator yang paling buas. Kita kobarkan api dendam itu--- tanpa pernah berpikir--- mampukah kita memadamkannya. Ask our selves---, read what we,ve written---, masih beranikah kita menyebut diri kita sebagai reformist---? Ah---, entahlah. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 3 Feb 1999 jam 09:13:16 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
