----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

From: Justy Siwabessy

>From: Dicky Watimena

Apakah betul anda Dicky Watimena?  I doubt it.

>Lebih logis, jika disebut dalang kasus Ambon adalah orang Ambon Kristen
>termasuk dengan idenya untuk menghidupkan kembali RMS (Republik Maluku
>Sarani bukan Republik Maluku Selatan, karena Maluku Selatan sendiri
>sebenarnya tidak ada). Jelas orang Sarani/Kristen akan menyangkal keras,
bak
>maling yang tertangkap basahpun akan mungkir.  Orang Ambon Kristen secara
>alami minimal simpatisan RMS.  Ide separatisme tumbuh subur dan didorong

Siapa yang mengatakan bahwa RMS itu identik dengan Kristen.  Untuk ketahuan
saudara banyak juga orang Islam Maluku (baca: Maluku Selatan) yang menjadi
pejabat pada saat RMS sebut saja Bpk. Ohorela (Raja Tulehu pada saat itu)
dan Bpk. Soulisa (salah satu mentri RMS).  Disamping itu, banyak simpatisan
RMS saat itu yang meberikan nama-nama anaknya dengan initial R. M. S. sebut
saja seperti Ridwan M. S. Latuconsina.  Yang tersebut terkahir ini tidak
terlibat RMS hanya saja bahwa dia adalah salah satu anak yang diberi nama
oleh orang tuanya dengan initial RMS.  RMS diidentikan dengan Kristen
adalah suatu produk politik ORBA untuk mengeyampingkan tokoh-tokoh Kristen
Maluku. Salah satu contoh yang sangat nyata adalah  sbb.  Rektor Unpatti
sebelumnya pernah tersandung untuk periode keduanya lantaran isu yang salah
satunya menyatakan bahwa dia RMS.  Padahal sangat tidak mungkin dia RMS
karena dia sendiri berasal dari Maluku Utara.  Maksud saya disini adalah
bahwa hanya karena dia Kristen maka dicari-carilah alasan untuk
mendiskreditkan yang bersangkutan.  Unfortunately, alasan mereka ketahuan
belangnya karena beliau adalah orang Maluku Utara yang notabene tidak
termasuk dalam RMS yang dideklarasikan oleh Dr. Sumokil.

Saya sendiri bukan simpatisan RMS dan tidak pernah akan mengakuinya.
Karena itu mengidentikan RMS dan Kristen Maluku terlebih lagi
menghubungkannya dengan peristiwa Idul Fitri Berdarah di Ambon adalah
sangat sangat sangat keliru.  Pernyataan bahwa RMS terlibat kerusuhan di
Ambon adalah merupakan kebiasaan mencari kambing hitam.  You know what, di
negera maju pemimpin akan mengundurkan diri bila terjadi kesalahan yang
dilakukan dia atau malahan bawahannya sebagai ungkapan tanggung jawab,
sedangkan kalo kita bukannya mundur malah ke pasar.  Apa yang dilakukannya
di pasar?  BELI KAMBING HITAM.

>molotov yang jelas perlu waktu. Jelas-jelas menurut Gus Dur, kasus Ambon
>disebabkan oleh preman-preman yang pulang ke-Ambon (Milton dkk) marah
>mendapati beberapa perubahan seperti makin banyaknya jabatan di-Pemda
>diduduki oleh orang Islam.  Orang Ambon Kristen khususnya sangat marah
>mendapati kenyataan bahwa Ketua BAPEDA Maluku diduduki oleh orang Buton,
>padahal orang Buton di-Ambon telah distreotypekan sebagai orang rendahan,
>seperti tukang becak dan buruh kasar.  Orang Ambon Kristen yang sangat

Pergantian pejabat PEMDA dengan orang luar sudah berlangsung saat Gubernur
sebelumnya dan terjadi jauh-jauh hari sebelum Indonesia terpuruk.
Pertanyaannya kenapa tidak terjadi kerusuhan saat itu padahal banyak orang
yang sangat tidak suka dengan Gubernur tersebut.  Sebaliknya terhadap
Gubernur sekarang simpati terhadap beliau sangat banyak dan tinggi sekali.
Hal lain yang sangat naif adalah bagaimana mungkin preman seperti Milton
yang cemburu untuk hal ini sementara pejabat di daerah tidak.

>seperti terlihat pada Japie Sainima, sedangkan salah satu dalang lokalnya
>adalah mantan walikota, Kolonel (Purn) Dicky Watimena yang diduga masih
>memiliki senjata api dan menggunakan untuk menembak orang Islam.  Selama

Disinilah baru ketahuan belang anda.  Anda bukan Dicky Watimena.  Kalaupun
anda Dicky Watimena yang lain, andapun tidak mungkin salah dalam menyebut
nama marga Sainima (seharusnya Saimima).  Andapun perlu berhati-hati karena
yang namanya marga Saimima itu ada juga yang Islam.  Sedangkan mengenai
mantan walikota tersebut, andapun kelihatanya membuat cerita.  Untuk
ketahuan anda, beliau bersama-sama dengan Kapolesk Nusanive menenangkan
masa dari desa Amahusu, Eri, Latuhalat, Airlow dan Seri (desa tempat beliau
tinggal) yang hendak menyerang daerah Pohon Mangga (atau juga disebut
Belakang Pengadilan Tinggi) karena memblokir satu-satunya jalan ke kota
dari arah desa-desa tersebut diatas.  Mereka dari daerah Pohon Mangga ini
malahan membuat onar dengan melempari dan membakar dua rumah penduduk di
daerah tetangga Taman Makamur.  Orang tua saya tinggal di Taman Makmur.
Sayapun sebelumnya tinggal di Taman Makmur.

>kerusuhan orang Kristen menunjukkan kebencian yang amat mendalam terhadap
>orang Islam, seperti membunuh dengan membelah dada, merobek perut wanita
>hamil dan mencabik-cabik calon bayi serta membunuh satu keluarga perantau
>dari Minang (6 orang termasuk anak-anak)yang konon masih keluarga dengan
pak
>Darsjah/Dirjen Anggaran.

Saya kira hal sebaliknyalah yang terjadi.  Berikut adalah salah satu
contohnya yang dialami oleh dua ponakan saya sendiri yakni Meryl (kelas 2
SMP) dan Immanuel (kelas 5 SD).

Retreat dilaksanakan di Fishery Station Fakultas Perikanan Universitas
Pattimura, di daerah Hila, di luar kota Ambon. Karena daerah itu cukup
terpencil, sehingga mereka tidak mengetahui bahwa pada hari Selasa,
tanggal 19 Januari telah pecah kerusuhan di Ambon.

Pada tanggal 20 Januari, retreat berakhir. Sementara para peserta
bersiap-siap untuk pulang, Ir. Meiky Sainyakit, gembala jemaat GKPB
"Rumah Doa"  bersama seorang pengemudi meninggalkan tempat dengan mobil
untuk mencari kendaraan (truk) guna mengangkut peserta pulang. Dalam
perjalanan mobil yang ia kendarai dicegat oleh masa, bersama dengan
pengemudi Ir. Meiky diseret turun dari mobil, kedua tangan Ir. Meiky
dipotong, kemudian yang bersangkutan disiram dengan bensin dan dibakar.

Pada saat yang sama ratusan masa bersenjata golok panjang menyerbu
tempat retreat. Mereka mencari laki-laki dewasa. Beberapa orang sempat
menyelamatkan diri dengan melarikan diri ke dalam hutan.

Setiap orang ditanya apakah ia beragama Kristen atau bukan. Karena
semua orang bersikukuh berkata bahwa mereka adalah orang Kristen,
penyerbu menarik keluar seorang remaja, Roy Pontoh, siswa SMP kelas 3,
keluar dari rombongan.

Mereka bertanya kepada Roy: "Siapa kamu?". Roy tanpa takut menjawab:
"Beta (saya) adalah laskar Kristus".  Para penyerbu ini bertanya dua
kali lagi, dan tetap menjawab: "Saya adalah prajurit Kristus." Dengan
marah pemimpin para penyerbu ini membelah perut Roy dan mengeluarkan
isinya di depan semua yang berkumpul, baik anak-anak maupun para wanita
yang ada.

Dan karena jemaat tetap tidak bersedia menyangkali bahwa mereka adalah
orang Kristen, beberapa pria dewasa tangan dan kakinya di potong dan
akhirnya lehernya dipenggal. Para wanita dan anak-anak yang dipukuli,
ditendang dan belasan dari mereka dilukai dengan senjata tajam.

Saksi mata yang saya hubungi, seorang dosen di Unpatti (Universitas
Pattimura), suaminya juga seorang doktor di Unpatti, lehernya ditebas
dengan parang. Lehernya terluka menganga dan berdarah. Saat sekarang
luka itu sudah menutup, walaupun apabila lehernya digerakkan darah
masih merembes keluar.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 3 Feb 1999 jam 09:13:59 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke