---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- MONSTER KEJAM BERNAMA SARA Kebenaran Dunia kanak-kanak penuh dengan fantasi.Dongeng zaman dulu lebih banyak diwarnai oleh karya-karya seperdi Cinderella,Snow White,Pinocchio dan sejenisnya.Dalam dongeng demikian,biasanya ada cerita tentang seorang tokoh yang mengalami penderitaan dulu,dinista,dibuang,dicemoohkan,namun selalu diakhiri dengan kebahagiaan.Kalimat penutupnya dalam bahasa Inggris biasanya "They lived happily ever after" - mereka hidup bahagia seterusnya.Diberikan harapan bagi orang yang ulet dan berjalan diatas rel kebenaran dan kasih bahwa kebahagiaan pasti akan datang.Kelaliman,kebencian dan ketamakan harus dilawan.Nilai luhur sangat ditonjolkan. Saking seringnya pola cerita demikian dipakai,sehingga sampai sekarangpun saya masih bisa ingat kalimat penutup diatas.Mungkin juga dulu menjadi trend bagi pengarang dongeng untuk menutup dengan kalimat atau pola demikian.Cara yang mirip dapat kita temukan dalam musik klasik. Sebagai pencinta musik klasik,saya dapat menebak dan merasakan kapan sebuah simfoni atau concerto sudah akan berakhir. Ada suatu yang positif yang dapat kita tarik sebagai pelajaran dari cerita demikian.Bahwa hidup ini penuh perjuangan;kesusahan dan penistaan yang menimpa harus dihadapi dengan ketabahan dan ketulusan.Kalau tekun dan terus mau membela kebenaran,akhirnya yang BAIK dan BENAR pasti akan menang.Segi yang tidak kalah penting adalah bahwasanya apa yang dimasukkan kedalam otak seorang anak secara mengesankan sewaktu kecil(input) akan menentukan pandangan seseorang dimasa depan. Input menentukan output,kira-kira bahasa zaman computer. Dalam dongeng abad modern,sebenarnya pesan yang ingin disampaikan masih mirip juga,meskipun dengan cara yang agak lain:pelakunya sudah menunjukkan kekuatan untuk menundukkan yang jahat.Ada Batman,Spiderman dan yang paling berhasil (berkat Hollywood) adalah Superman.Dongeng paling akhir yang membuat anak-anak seperti kecanduan adalah Godzila.Bagi saya yang belum pernah membaca jalan ceritanya,Godzila adalah King Kong akhir abad ke 20.Maaf kalau keliru membandingkannya.Namun yang ingin saya tonjolkan dari Godzila adalah aspek MONSTER yang tercipta.Ciptaan manusia kalau sudah menjadi monster besar sering menjadi out of control.Inilah yang telah terjadi dengan sebuah monster besar ciptaan Orde Baru bernama SARA ! TUJUAN MENCIPTA ISTILAH Kalau kita cermati,SARA yang adalah singkatan dari Suku,Agama,Ras dan Antar Golongan semula diciptakan mungkin dengan tujuan baik (sekali lagi:mungkin),yaitu mengingatkan rakyat bahwa ada segi-segi dalam kehidupan bermasyarakat kita yang sensitif dan dapat menimbulkan pertentangan dan perpecahan.Saya sendiri tidak mengetahui siapa sebenarnya pencipta istilah ini.Kedengarannya sih keren.Ditambah N sudah menjadi SARAN,ditambah A lagi malah menjadi SARANA.Kedua-duanya positif:memberi saran untuk membangun sarana yang bagus ! Saya akan berterima kasih kepada netter yang bisa membeberkan lebih jauh tentang riwayat pemakaian istilah SARA:siapa penciptanya,kapan,dalam kesempatan apa dan apa tujuannya semula. PENGOTAKAN RAKYAT Pemerintah Orde Baru dibawah Suharto telah memakai SARA dengan sangat mahir.Dan terlalu sering,sehingga lama kelamaan menjadi momok yang menakutkan.Selalu diingatkan bahwa kita menghadapi bahaya pertentangan akibat SARA.Anak-anak sejak kecil terus mendengar kata SARA dan kemudian menyaksikan sendiri praktek-praktek tidak terpuji yang diprakarsai oleh pemerintah dengan dalih demi persatuan dan kesatuan.Pemerintah terus mendengungkan adanya masalah SARA.Mengapa kita harus heran jika dalam masa tiga dekade telah tercipta sebuah monster yang demikian besar ? Rakyat dikondisikan sedemikian rupa sehingga selalu merasa dihantui oleh sebuah monster yang mengerikan.Hantu ini tidak pernah diusir atau dihilangkan karena memang dipelihara untuk menakuti rakyat. Suku Demi kesatuan dan persatuan bangsa,katanya Sukuisme harus dikikis habis,kita harus menjadi orang Indonesia.Kecuali,tentu saja dalam hidup selalu ada kekecualian (kata yang empunya kuasa),istilah-istilah boleh diambil dari bahasa suku tertentu seperti :tut wuri handayani,tepok seliro,lengser keprabon dan entah berapa lagi. Sesungguhnya kita perlu bertanya kembali: apakah benar bahwa sukuisme itu perlu dihilangkan !? Apakah kesadaran akan suku itu suatu yang jelek ? Pernahkah terpikir bahwa kalau suatu hari sudah hilang rasa kesukuan itu apakah masih ada kesenian daerah yang menarik ? Apakah kita bukan sekadar ingin mencontoh suatu negara lain tanpa mempertimbangkan keunikan bangsa kita sendiri ? Agama Kebebasan beragama dijamin oleh Undang-Undang Dasar.Sila pertama dalam Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa diakui dengan tegas.Bagus.Berdasarkan itu semua,setiap warga negara mempunyai kebebasan untuk memilih agamanya sesuai dengan keyakinan masing-masing.Tanpa paksaan,karena pada dasarnya suatu keyakinan tidak mungkin dipaksakan,harus keluar dari hati masing-masing.Keyakinan yang dipaksakan tidak mungkin menjadi keyakinan yang benar.Puluhan tahun Indonesia membanggakan diri sebagai negara yang patut menjadi contoh dalam segi kerukunan hidup beragama.Sedikitnya dari luar kelihatannya ini cukup berhasil. Mengapa negara harus mencampuri terlalu jauh bagaimana rakyat sebaiknya beragama. Ras Pemerintah Orde Baru selalu sangat tegas mengutuk segala bentuk diskriminasi rasial dinegara lain seperti Afrika Selatan,Australia dan Amerika Serikat.Kita mempunyai Pancasila yang jelas tidak menyetujui praktek yang tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Lagi-lagi suatu sikap yang perlu mendapat pujian,laudate ! Antar golongan: Untuk menghindarkan pertikaian antar golongan,Orba mencipta sebuah organisasi bernama Golongan Karya.Semua golongan didalam masyarakat diharapkan bisa terwakili dalam wadah ini.Apakah benar ? Ini contoh pertama kebhinekaan yang dilanggar.Dalam perkembangannya,semua golongan yang katanya terwakili justru merasa dipaksa menerima suatu kebersamaan yang secara alamiah sebenarnya tidak ada.Mengapa kelompok guru,umpamanya,harus mempunyai pandangan yang sama dengan nelayan,buruh,pedagang,dan sebagainya ? BHINEKA TUNGGAL IKA Indonesia menjadi menarik dimata dunia karena kebhinekaan dalam segi bahasa,adat,suku,warna kulit,corak muka,agama,dsb.Para pahlawan dan founding fathers dari republik ini pasti sudah sadar penuh akan kenyataan ini.Bukan tanpa alasan jika semboyan Bhineka Tunggal Ika dicantumkan dengan sangat jelas di lambang Garuda Pancasila.Dengan demikian diharapkan agar banyaknya suku,agama,ras dan golongan tetap dapat berkembang dengan baik sehingga mencerminkan sebuah untaian manik yang indah,mungkin lebih tepat digambarkan sebagai bagian yang membentuk sebuah mozaik nan menakjubkan.Mosaik Indonesia.Suku-suku,agama-agama,ras-ras dan golongan-golongan:itu semua bagian yang membuat mozaik Indonesia kelihatan indah.Masing-masing diberi hak untuk berkembang sehingga dapat memberi sumbangsih bagi terbentuknya mozaik yang indah itu.KERAGAMAN ADALAH SALAH SATU KODRAT ALAM YANG TIDAK DAPAT DIPUNGKIRI.Lihatlah berapa banyak jenis burung,ikan dan manusia di bumi ciptaan Tuhan ini. Saya tidak bisa membayangkan betapa membosankan kalau ikan dilaut cuma terdiri dari bawal saja,burung diudara cuma rajawali saja dan manusia yang mendiami bumi semua seperti orang Eskimo.Diantara orang putih saja sudah sangat berlainan sifat dan muka mereka.Seorang Italia jelas berbeda dari seorang Finland,sama bedanya antara seorang Batak dengan Ambon. Yang pasti dalam hidup ini adalah perubahan dan keanekaragaman dalam segala segi.Siapa yang coba menghapuskan kebinekaan ini sesungguhnya melawan kodrat alam. ORBA MELAWAN KODRAT ALAM Dengan menciptakan istilah SARA,sesungguhnya Orde Baru melakukan dua kesalahan besar. Pertama:terang-terangan melanggar falsafah negara yang mengakui adanya KEBHINEKAAN. Kedua :memaksakan manusia untuk menghilangkan identitasnya dan masuk dalam suatu kesatuan yang sesungguhnya sangat semu. Mengapa Orba melakukan semua itu ? Kemungkinan bisa bermacam-macam pula.Anggaplah tujuannya baik,yaitu agar terbentuk Indonesia yang satu dan tidak terpecah-pecah oleh perbedaan suku,agama,ras dan golongan.Bagus ! Cuma caranya mencapai tujuan ini yang sama sekali tidak pernah jelas.Saya teringat akan masa kecil di daerah saya lahir dan bersekolah.Dimalam hari katanya tidak boleh menggunting kuku karena kuatir diganggu roh halus.Setelah dewasa saya sadar bahwa tujuan melarang orang menggunting kuku itu sebenarnya baik.Maklumlah didaerah,penerangan lampu sangat tidak memadai untuk melihat dengan jelas sehingga bisa terluka kalau menggunting kuku.Kebenaran dibelakang larangan itu saya temukan sendiri setelah dewasa. Sekarang kembali ke masalah SARA ciptaan Orba.Monster ini sangat menakutkan,dan karena itu harus dikurung dan diikat dengan rantai yang kuat.Mengapa kita tidak biarkan monster ini lapar dan akhirnya mati ? Mengapa justru sebaliknya yang telah terjadi,yaitu terus diberi makanan yang sangat bergizi dan banyak sehingga makin lama makin besar ? Atas dasar observasi ini,saya lebih cenderung untuk mengatakan bahwa SARA telah diciptakan oleh Orba untuk tujuan politis.Tiap ada usaha melawan atau malah cuma berbeda pendapat dengan penguasa,masalah SARA lalu dijadikan "tukang pukul" untuk membungkamkan kritik.Apalagi ditambah dengan meriam bernama DEMOKRASI PANCASILA yang sampai hari ini pun tidak ada orang yang bisa mendefinisikannya.Anehnya diterima begitu saja seperti istilah SARA.Pendeknya yang datang dari ES (Eyang Suharto)sifatnya absolut,disetarakan dengan wahyu. Sementara itu pengotakan masyarakat terus berlangsung,perbedaan pandangan atau persepsi dalam salah satu kelompok itu tidak diselesaikan secara transparan dan dalam jiwa saling menghormati dan mengakui perbedaan yang ada.Akibatnya manusia dalam tiap kelompok itu terpaksa harus mengikuti atau mengambil sikap munafik.Oh,semua baik-baik,semua rukun-rukun saja.Ini slogan klise yang sudah terlalu sering kita dengar.Sementara itu kedongkolan,ketidakpuasan,kekecewaan atas perlakuan yang diterima oleh tiap kelompok terus menumpuk bagaikan tong sampah. Sebenarnya perkembangan yang tidak sehat ini telah diberitahukan kepada ES.Namun sayang,dia tetap menganut prinsip tidak bisa berbuat salah.Justru orang yang mempunyai keberanian menyampaikan fakta kurang menggembirakan ini yang akhirnya disingkirkan.Lubang kehancuran sudah dia gali sendiri. MAKAN KORBAN Sebagai monster yang sekarang sudah boleh dikatakan lepas tak terkendali,SARA menjadi senjata ampuh untuk menyelesaikan perbedaan pendapat,perseteruan lama,dendam dan kebencian.Pencipta monster ini malah yang dengan mahir terus memanfaatkannya. Pertikaian SUKU dengan korban jiwa bisa kita lihat di Kalimantan Barat antara Madura dengan Dayak dan terakhir Madura dengan Melayu.Di Sulawesi Selatan antara penduduk setempat dan yang disebut pendatang dari suku lain.Di Lampung belakangan ini sudah mulai timbul sikap anti Jawa dikalangan penduduk.Contoh lain masih ada. Berhasilkah 32 tahun kekuasaan Suharto menghilangkan kesukuan ? Menurut saya justru bertambah tajam perbedaan kesukuan yang ada.Perhatikan ucapan dan segala pernyataan yang dikeluarkan Ketua DPA Baramuli belakangan ini ! Fakta telah berbicara bahwa sukuisme bukannya berkurang,malah bertambah.Sayangnya yang menonjol adalah muka buruk dari sukuisme. AGAMA menjadi senjata yang sangat ampuh untuk membakar emosi rakyat.Dimanapun didunia,masalah agama adalah masalah yang sangat pribadi,tidak bisa didebatkan atau dipaksakan.For believers,no explanation is necessary,for non believers,no explanation is possible.Bagi yang percaya,tidak diperlukan keterangan atau uraian;sedangkan bagi yang tidak percaya,tidak ada keterangan yang mungkin diterima.Dari antara 4 unsur dalam SARA,unsur agama adalah yang paling sensitif.Memakai unsur agama untuk politik praktis,menurut saya,adalah kekejaman yang luar biasa.Tiap pemeluk agama apapun cenderung untuk menganggap agamanya yang paling benar.Kalau agamanya diserang,maka serangan itu sering akan diterima secara sangat pribadi dan emosional.Lagi-lagi masalah kepercayaan tidak bisa diperdebatkan.Segera setelah matematika dan fisika modern dapat membuktikan eksistensi Tuhan dengan rumus dan kalkulasi yang dimiliki kedua bidang ilmu pengetahuan ini,saat itu pula Tuhan sudah kehilangan kebesaranNya.Keagungan Tuhan tidak mungkin diukur dengan segala standar yang dikuasai manusia. Dari Aceh sampai Irian sudah banyak contoh yang dapat kita lihat selama bertahun-tahun,apalagi sejak jatuhnya rejim Suharto.Dikatakan bahwa kita mempunyai toleransi agama dan menghargai agama lain.Apakah membakar rumah ibadah agama lain itu termasuk toleransi ? Berapa ratus gereja,kelenteng,dan belakangan juga mesjid yang telah dibakar atau dirusak.Yang ditanamkan oleh Orba dengan bantuan pemuka agama masing-masing sesungguhnya adalah toleransi yang munafik.Saya boleh melakukan ini terhadap orang lain,tetapi sebaliknya pihak lain tidak boleh melakukan yang sama terhadap saya. Sudah bukan rahasia lagi dimana-mana bahwa untuk mendirikan gereja dan kelenteng sukar sekali memperoleh izin.Dimanakah letak keadilannya ? Apakah masih ada yang tertinggal dari toleransi agama yang digembar-gemborkan selama puluhan tahun ? Sekarang mengenai RAS.Sudah jelas bahwa suku-suku di Indonesia bukan hanya terdiri dari mereka yang termasuk ras Mongoloid (istilah ini sesungguhnya kurang tepat karena dipakai juga untuk orang yang karena ada gangguan kromosom,mukanya menunjukkan ciri yang khas,mereka disebut mongoloid).Orang Maluku dan Irian tidak termasuk ras Mongoloid.Saudara-saudara dari etnis Tionghoa sesungguhnya satu ras dengan Melayu.Apakah karena itu orang Ambon dan Irian harus dimusuhi karena dianggap "lain" ? Rupanya untuk menutupi kemungkinan interpretasi demikian,diciptalah istilah PRI dan NONPRI.Yang disebut pri yang mana dan yang nonpri yang mana ? Berdasarkan asal usul nenek moyangnya selama 5 abad terakhir ? Kalau ini yang dipakai,jelas bahwa Arab,Tionghoa,India,Persia dan Eropah semua adalah non pri.Mengapa banyak Sultan adalah keturuanan Arab atau Persia ? Cobalah pergi ke Ternate dan Tidore.Peninggalan kedua Sultan masih bisa jelas dilihat dan menunjukkan bahwa mereka adalah keturunan Persia.Sultan Pontianak dan Sambas (hubungan keluarga dengan Sultan Bolkiah dari Brunei),Sultan Siak.Keturunan etnis apakah mereka ? Sedangkan kalau kita mengambil waktu yang lebih jauh lagi kebelakang:hampir semua suku adalah non pri karena mereka pindah dari daerah Cina Selatan.Yang Dayak,Kubu,Batak,Toraja termasuk lebih pri karena datang lebih dulu. Kalau kriteria penentuan pri dan nonpri berdasarkan tempat atau daerah kelompok tertentu bermukim(Batak di Sumatra Utara,Toraja di Sulawesi Selatan,Bali di Pulau Bali,dsb),maka orang Jawa dan Bugis yang banyak tersebar diseantero Nusantara ini adalah nonpri diluar Pulau Jawa atau Sulawesi Selatan.Dan yang paling mencengangkan adalah Jakarta:yang pri hanyalah orang Betawi ! Dalam kenyataan,istilah pri dan nonpri praktis dipakai untuk membedakan warga yang etnis Tionghoa dari yang lain.Sudah ada yang tinggal sejak beberapa ratus tahun disini masih dianggap nonpri.Lihatlah di Kalimantan Barat.Mereka sudah membaur dengan penduduk pedalaman dengan kawin campur dan hidup sesuai dengan tradisi orang Dayak.Apakah mereka ini masih disebut nonpri ? Terlalu banyak contoh dari ketidakadilan yang bisa dimajukan disini.Disatu pihak mereka dituntut untuk setia kepada bangsa dan negara,dilain pihak mereka dikucilkan dalam kehidupan bangsa.Boleh memilih tapi tidak boleh dipilih.Betapa naive dan munafiknya kita. Rumah,toko dan harta mereka yang selalu menjadi korban kerusuhan.Ketika wanita mereka diperkosa,pejabat berusaha menutupi fakta ini sampai tekanan internasional sudah demikian besar sehingga akhirnya mengakui juga.Satu Eddy Tansil yang melarikan uang negara,tujuh turunan disalahkan.Yang kena getahnya terang etnis Tionghoa.Giliran Suharto dan keluarganya menghabiskan uang negara jauh lebih banyak,sepertinya tidak terjadi apa-apa.Dengan memakai standar yang diterapkan terhadap Eddy Tansil dan etnisnya,mestinya Suharto dan keluarganya sudah masuk LP Cipinang dan orang Jawa juga dikutuk dan dicemoohkan habis-habisan.Tidak ada pretensi saya membela Eddy Tansil karena dia memang termasuk prototip yang merusak susu sebelanga. Kepentingan GOLONGAN sudah sangat mengakar.Lihat saja perdebatan mengenai UU Politik di DPR.ABRI mau terus bertahan dalam DPR/MPR dalam jumlah perwakilan yang jauh melebihi prinsip keadilan perwakilan jumlah rakyat yang diwakili.Sesungguhnya kalau mengambil patokan 400 000,maka paling banyak ABRI "berhak" mempunyai 2 wakil.Ini bukti nyata bahwa perwakilan golongan yang dciptakan Orba sama sekali tidak demokratis dan hanya mementingkan golongan sendiri. HARUS DIAKHIRI Monster ciptaan rejim sudah terlalu banyak mengambil korban.Korban ketidakadilan dan pelanggaran terhadap hak asasi manusia.Kalau benar diketahui ada masalah SARA dikalangan rakyat: * Mengapa politik yang dijalankan selama ini justru kebanyakan adalah untuk mempertajam perbedaan yang ada ? * Mengapa tidak ada usaha yang terarah untuk mengurangi masalah secara serius ? Kalau kita mau jujur,kondisi sekarang malah lebih buruk dibandingkan dulu.Kebencian ras,agama dan golongan sudah sangat besar. * Mengapa kesenjangan terus diperlebar dengan pernyataan-pernyataan yang menyudutkan kelompok yang minoritas ? Pengotakan rakyat berdasarkan SARA harus segera diakhiri.Selama 32 tahun Orba memakai monster ini untuk menekan rakyat.Rejim Habibie hanya meneruskan warisan yang diterimanya dari Suharto.Hasilnya:kebersamaan yang seharusnya bisa tercipta dalam suatu kondisi yang adil bagi semua rakyat semakin tidak kelihatan.Rakyat saling mencurigai.Manusia dikondisikan mengelompok atau mengotak.Mereka yang tidak masuk golongan atau kelompoknya dianggap musuh.Siapa yang bukan teman adalah musuh.Alangkah kejam dan bodoh.Dimanakah didunia bisa ditemukan suatu kelompok manusia yang semuanya baik atau semuanya jahat ? Dalam percakapan dengan seorang teman baru-baru ini,ada ucapannya yang menunjukkan kebingungan dan ketidakberdayaan besar yaitu bahwa sekarang ini kita sukar sekali mengetahui mana kawan mana lawan.Orang Indonesia yang selalu membanggakan dirinya sebagai manusia ramah dan penuh sopan santun malah sekarang membunuh,tawuran,memfitnah,menjarah,memperkosa,menculik,membakar,merusak harta orang lain. Saya kurang sependapat dengan dia bahwa ini tanpa sebab.Dendam kesumat yang dicontohkan oleh rejim Orba sekarang makan korban rakyat.SARA telah memetik hasil yang ditanam oleh Orba.Lihatlah bagaimana keluarga orang yang dituduh terlibat PKI atau organisasinya sampai anak cucunya dipersulit dalam hidup mereka.Apakah ini bukan contoh pembalasan yang penuh kebencian ? Tiada maaf bagimu ! Kenapa sekarang Suharto dan keluarganya yang telah menyengsarakan rakyat ratusan juta akibat keserakahan mereka selama puluhan tahun malah dimaafkan begitu saja tanpa proses hukum ? Dimanakah Dewa Keadilan sedang tidur ? Dimanakah nyali bangsa ini untuk menegakkan kebenaran dan keadilan ? Dalam sejarah dunia sudah sering kita melihat taktik demikian.Rakyat ditakuti dan dibakar semangatnya untuk melawan sesuatu yang abstrak dengan slogan muluk-muluk seperti:revolusi belum selesai,imperialisme Barat sedang mau menaklukkan kita.Ini mengingatkan kita pada praktek-praktek negara-negara dibawah pengaruh Uni Sovyet dulu.Selalu memakai nama rakyat.Nama negara saja banyak Republik Demokrasi "XY" atau Republik Rakyat "YX".Padahal dilain pihak diakui sebagai diktator proletar,rakyat tidak bersuara dengan benar,cuma sekelompok manusia yang takluk pada penguasa yang bisa menikmati kekuasaan dan fasilitas negara. Diperlukan keberanian untuk mengadakan perubahan.Pemerintah Habibie terlalu lemah untuk itu.Selama 8 bulan pemerintahannya sudah puluhan rumah ibadah yang dirusak atau dibakar.Beberapa menteri dalam kabinetnya mengeluarkan pernyataan yang nyata-nyata melecehkan agama dan ras,tetapi tetap ditolerir dan masih terus berlangsung.Dia tidak mengambil tindakan yang menuju penyelesaian.Pertengkaran berkedok suku,agama,ras dan golongan makin meluas. SUPANGKAT (New York) beberapa waktu yang lalu mengusulkan lewat forum ini agar kita hilangkan pemakaian istilah SARA.Saya setuju sekali.Malah lebih jauh dari itu,pemakaian istilah pri dan non pri harus hilang juga bersamaan.Dan secara konsekuen.Bagaimana kita bisa mengundang orang untuk hidup dalam suatu keluarga besar kalau pintu ditutup terus ! Sebenarnya,kalau kita mau menuntut pertanggungjawaban Suharto dan rejimnya atas segala kemelut dan kehancuran yang dialami bangsa ini,maka yang paling berat kesalahannya adalah telah memecahbelah rakyat kedalam kelompok-kelompok.Korupsi finansil yang telah dilakukannya memang besar,tetapi itu cuma salah satu aspek.Janganlah kita terpaku dengan menuntut dia (dan keluarganya) dari segi korupsi keuangan saja.Kita harus berani menuntutnya dalam segi korupsi kekuasaan.Dengan kekuasaannya dia telah memperkaya diri dan konconya.Dengan kekuasaannya dia telah mematikan peran rakyat dalam mengatur negara (Lembaga legislatif dan yudikatif ditidurkan dengan sangat nyenyak.Sekarangpun baru melek sedikit,belum bangun). Dengan kekuasaannya Orba dibawah Suharto telah menghancurkan satu generasi bangsa ! Dalam lagu Indonesia Raya ada kalimat ......BANGUNLAH JIWANYA,BANGUNLAH BADANNYA UNTUK INDONESIA RAYA.Dari kalimat ini sesungguhnya kita harus sadar bahwa amanat yang diberikan kepada pemerintah adalah membangun JIWA dan badan.Suharto telah membangun BADAN dan mengabaikan pembangunan JIWA.Hasilnya sedang kita saksikan sekarang.Dimanakah sambungannya ke Kemanusiaan Yang Beradab ? Lihatlah dan dengarlah bagaimana beberapa propinsi sudah ingin menentukan nasib sendiri.Bahaya disintegrasi adalah nyata dan bukan khayalan atau kekuatiran yang tak berdasar.Kalau suatu hari terjadi disintegrasi bangsa,Suharto akan dikenang sebagai Bapak Pemecah Bangsa.Saat saya menulis ini,pemerintah mengumumkan niat memberi kemerdekaan kepada Timor Timur.Tidak akan saya bahas disini. INDONESIA TANPA PERTENTANGAN SARA Kalau Bhineka Tunggal Ika ingin kita wujudkan (dan bukan sekadar semboyan saja) tidak ada jalan lain bagi bangsa ini untuk secara konsekuen menolak dan menhancurkan monster kejam bernama SARA yang selama ini telah mendatangkan demikian banyak kenistaan dan kesengsaraan bagi rakyat. Langkah pertama adalah menghilangkan pemakaian istilah SARA.Pemerintah agar mengumumkan penghapusan istilah ini sehingga tidak memasyarakat lagi.Media massa dapat memberi sumbangsih besar dengan membuat pernyataan untuk segera tidak memakai istilah itu lagi dalam penerbitannya. Langkah kedua:semua peraturan yang bersifat pemojokan dan diskriminatif terhadap sekelompok warga masyarakat dihapuskan.Sebaliknya pemerintah menciptakan kondisi yang mendorong saling pengertian dan saling menghargai perbedaan yang ada didalam masyarakat.Orba telah berbuat kesalahan besar dengan menekan perbedaan dan menciptakan kondisi dimana seolah-olah tidak ada perbedaan dalam masyarakat.Masyarakat yang homogen dan tanpa perbedaan adalah utopi.Sekali lagi saya ingatkan bahwa keindahan dan keunikan Indonesia terletak pada kebhinekaannya. Langkah ketiga:mereka yang sudah terkotak kedalam kelompok harus disadarkan bahwa orang yang bukan teman tidak perlu dijadikan musuh.Kita harus membangun bangsa dengan saling menghormati kebersamaan maupun perbedaan.Menghargai dan memuji saudara,teman atau anggota kelompok sendiri adalah suatu yang baik.Namun,keberanian untuk mengakui dan memuji kelebihan orang lain (apalagi musuh)hanya bisa dilakukan oleh orang yang BERJIWA BESAR. Langkah keempat:masyarakat beramai-ramai menentang siapapun yang memakai perbedaan agama,suku,ras dan golongan untuk mencapai tujuan politik. Seperti telah saya tegaskan pada permulaan tulisan ini,keindahan dan keunikan Indonesia justru terletak dalam kebhinekaannya.Apakah kita bisa bayangkan turis akan ke Bali kalau bukan karena keindahan dan keunikan budaya Hindu Bali yang berkembang disitu ! Apa jadinya dengan budaya Sunda tanpa angklung,jaipongan,lalap dan peyem ? Memperhatikan dan membandingkan kedua suku bangsa ini saja sudah demikian menarik.Apalagi kalau orang membandingkan semua suku bangsa dari Aceh sampai ke Irian.Jangan pernah lagi kita mencoba memaksakan suatu keseragaman yang melawan kodrat alam. Saya tetap percaya bahwa pada dasarnya rakyat Indonesia adalah rakyat yang penuh toleransi dan dapat hidup berdampingan secara damai dengan kelompok manusia lain. Mungkin ada yang menganggap saya bermimpi.Mungkin saja.Namun,ada ungkapan yang berbunyi: all great achievements started with a dream ! Dreams come true if you have the courage to chase them !Semua karya besar dimulai dengan sebuah impian ! Impian menjadi kenyataan kalau kita mempunyai keberanian untuk mengejarnya ! Saya bermimpi akan Indonesia Raya yang sungguh-sungguh Bhineka Tunggal Ika dimana kehidupan rakyat diatur berdasarkan peri kemanusiaan yang beradab dan selalu saling menghargai,menghormati dan membantu dalam menegakkan kebenaran dan keadilan ! SUARA NURANI ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 3 Feb 1999 jam 09:27:37 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
