---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 04/II/4-10 Februari 99 ------------------------------ KOTA SETELAH AMBON (POLITIK): Belum selesai pergolakan di Ambon, rombongan provokator sudah menuju Medan dan Cianjur. Tommy jadi dalangnya, Soeharto tak tahu? Ambon yang luluh-lantak masih berasap. Situasi yang mereda sejenak, tiba-tiba kembali meledak rusuh, Selasa 2 Februari 1999. Picu berawal dari perkelahian dua pemuda di Pasar Mardika jam 11.15 WIT, hanya dua jam sebelum enam menteri yang diutus Habibie tiba di ibukota propinsi Maluku itu. Kerusuhan susulan itu seolah mengejek pamor Habibie sebagai kepala pemerintahan. Dengan kata lain, ada kekuasaan lebih besar yang bisa mengendalikan situasi yang tidak terjangkau Habibie. Indikasi adanya provokator yang terorganisasi semakin kuat dengan modus operandi memanfaatkan beberapa preman berdarah Ambon. Sebab musabab perkelahian sendiri tidak jelas, bahkan preman yang berkelahi sekarang justru bebas. Situasi memanas lantaran perkelahian diselesaikan dengan tembakan ke udara yang justru membuat panik masyarakat. Mereka berlarian mencari tempat perlindungan. Setelah itu, perusuh pun beraksi mengganggu masyarakat dengan memerikasa KTP-KTP. Pegawai Depkes Usman Maraupey ditikam di perempatan jalan dan pegawai Depsos Marjani Wally dibabat parang di kantornya. Modus operandi atau model operasi para provokator itu sebetulnya hanya mengulang-ulang cara-cara sebelumnya. Dan masyarakat yang memang menderita kesenjangan dan kecemburuan sosial terhadap SARA yang lain pun mudah dipicu kemarahannya hingga keru suhan meluas. Ketika gedung-gedung sudah menjadi puing dan korban tewas sudah berjatuhan, pihak-pihak yang terlibat konflik pun menyesali satu sama lain. Toh nasi sudah jadi bubur, hanya para provokator yang terbahak-bahak menikmati hasilnya. Telusur punya telusur, ada indikasi hubungan antara kerusuhan yang terjadi di Ambon ini dengan kerusuhan Ketapang dan Kupang. Dari sumber beberapa preman, terungkap seorang jagoan bernama Milton yang kebetulan berdarah Ambon, ditugasi untuk memprovokasi kerusuhan. 'Kariernya' diawali dari Ketapang dan kemudian berlanjut ke Kupang, lalu Ambon di mana dia berasal. Di Ketapang, Milton dan kawan-kawan yang dipimpinnya berhasil meletupkan kemarahan warga setempat dengan isu SARA hingga kemudian terpancing membakar gereja-gereja. Di Kupang pun, anak buahnya berhasil membuat marah arak-arakan yang berduka cita atas kerusuhan Ketapang. Milton dan geng-nya ternyata tidak bertindak sendiri-sendiri. Ia punya hubungan khusus dengan Yorrys Raweyai. Tokoh yang disiratkan oleh Gus Dur, dengan menyebut orangnya brewok dan tinggal di Ciganjur ini sebetulnya hanyalah operator yang mengatur dana untuk operasi Milton dkk. Berapa jumlah dana untuk operasi ini, tidak ada sumber yang bisa memastikan. Dari investigasi terhadap kegiatan Yorrys, ketahuan bahwa ia berulangkali menyambangi anak-anak Soeharto, khususnya Tommy. Belum dapat dibuktikan apakah sesungguhnya Soeharto tahu akan sepak terjang anak-anaknya ini. Tommy sendiri memang berkepentingan untuk membuat keru-suhan di mana-mana. Motivasinya, dia ingin mengalihkan fokus perhatian masyarakat dan aparat dari pengadilan yang sekarang merundungnya karena kasus tukar guling GORO dengan Bulog. Kerusuhan-kerusuhan yang didalangi anak-anak Cendana ini bisa jadi akan terus berlanjut hingga menjelang Pemilu. Bila pemilu kacau maka ada peluang bagi militer yang dipimpin jendral-jendral Soehartois untuk mengambil alih kendali situasi. Atau minimal bila pemilu hingga Sidang Umum MPR masih bisa berlangsung, para anggota parlemen bisa diarahkan untuk menunjuk presiden dari orang kuat yang bisa 'mengamankan situasi'. Wiranto jadi punya peluang kuat menduduki kursi kepresidenan bila skenario ini berhasil. Setelah 'Operasi Ambon' berhasil, kota-kota lain diperkirakan bakal menyusul, antara lain Medan dan Cianjur. Rencananya, picu akan disulut dari Pematang Siantar dan selanjutnya merambat ke Medan. Beberapa preman Medan kini semakin meningkatkan tekanannya terhadap toko-toko milik Cina. Akibatnya, kini toko-toko di seputar Lapangan Merdeka dan Sambu banyak yang tutup lebih awal. Tiket-tiket pesawat dengan waktu berangkat yang belum ditentukan pun sudah ramai dipesan. Isu kerusuhan pun tak pelak beredar kencang di Medan. Pengurus Senat Mahasiswa dari Forum Kajian dan Aksi Reformasi Mahasiswa (Forkarma) mulai mengantisipasi provokasi-provokasi yang muncul. Kepada pers, juru bicara Forkama, Maulana M menyerukan agar mahasiswa tidak mudah terpancing dan bahu-membahu meredam rencana provokator tersebut. Selain di Medan, para provokator pun sudah bergerak di Cianjur. Ratusan massa tiga desa di kecamatan Cibeber, Cianjur, berhasil dibuat marah hingga membakar rumah seorang penduduk bernama Paida, lelaki 50 tahun. Sesudah membakar rumah Paida, para provokator hampir saja berhasil mengarahkan penduduk yang marah untuk membakar Kantor Polsek Cibeber yang ditunjuk sebagai tempat persembunyian Paida. Tapi massa berhasil dikendalikan. Sementara di Kecamatan Pagelarah, 120 kilo dari Cianjur, seorang Babinsa Campaka memprovokasi tukang ojek yang adu mulut dengan pengusaha angkutan. Bila ditilik memang model latihan para provokator ini sama saja di berbagai tempat. Jadi ada baiknya masyarakat tenang-tenang saja, daripada ribut mengumbar kemarahan hingga menimbulkan asap kota, lebih baik menyalurkan energi untuk kerja keras agar asap dapur tetap terjaga. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 3 Feb 1999 jam 23:04:27 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
