----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 04/II/4-10 Februari 99
------------------------------

KASUS BANYUWANGI SIRNA

(POLITIK): Kasus pembantaian di Banyuwangi tak kunjung selesai. Sejumlah
fakta menguap. Sengaja menutup keterlibatan aparat pemerintah dan ABRI?

Sejak Soeharto melepaskan jabatan karena desakan reformasi, sejumlah
peristiwa kerusuhan muncul dimana-mana. Termasuk kasus munculnya pembunuhan
kyai di Banyuwangi dengan kedok dukun santet oleh para "ninja" sejak bulan
Juli 1998. Dan puncak keganasannya terjadi pada bulan September 1998. Dalam
bulan itu, korban yang jatuh mencapai 96 orang. Dan total korban dalam
pembantaian sejak Juli hingga Oktober 1998 berjumlah 147 orang. Itu hanya di
Banyuwangi, belum lagi yang terjadi di daerah sekitarnya dengan memakai isu
yang sama. Jember menjadi urutan kedua dengan jumlah korban 59 orang tewas.
Lagi-lagi, kebanyakan korban adalah kyai setempat.

Di saat dimana-mana bergelimpangan jasad para kyai yang terbunuh, para
pejabat di Jawa Timur  maupun Banyuwangi tidak secara cepat tanggap dan
mencari pelaku. Mereka justru sibuk bersilang pendapat tentang ada tidaknya
ninja. Tak ada penyelidikan, tak ada penjelasan tentang kebenaran. Para
pejabat militer maupun sipil justru mencoba mengaburkan masalah. Mereka
mengatakan bahwa ninja si pembantai itu tidak ada. Adapun menurut mereka,
pembantaian itu sendiri berlatarkan dendam lama. Mereka menunjuk bekas atau
keluarga PKI lah para pembunuh itu dengandasar balas dendam atas pembantaian
tahun 1965.

Di kalangan masyarakat, terutama kalangan NU meyakini bahwa ninja itu ada
dan menjadi salah satu pelaku pembantaian, selain adanya keterlibatan aparat
militer dan sipil dalam peristiwa tersebut.

"Kalau sampean nggak percaya datang saja ke kecamatan Glagah, tanya
sembarang penduduk, siapa yang sering berkeliling mengajak penduduk desa
membantai korban-korban itu. Ya.. aparat desa. Terus tanya pada penduduk di
Jajag, bagaimana tindakan polisi ketika dilapori adanya pembunuhan di
rumahnya. Nggak ada. Datang saja nggak. Sampai sekarang," kata seorang
anggota Tim Pencari Fakta NU Banyuwangi.

Memang, pada awal-awal terjadinya pembantaian, Pangdam V/Brawijaya, Mayjen
TNI Joko Subroto mengatakan ada 7 ninja yang berhasil ditangkap. Kapolda
Jawa Timur, Mayjen (Pol) Drs. M. Dayat, SH pun juga menyatakan ada 7 anggota
militer yang terlibat dalam pembantaian ini. Tetapi pernyataan ini semakin
lama semakin surut dan hilang begitu saja setelah  Mayjen Joko Subroto
menyatakan tidak ada satupun anggota ABRI yang terlibat. Dan mereka kembali
menunjuk pelaku pembantaian ini adalah keluarga PKI yang terbantai tahun 1965.

Joko atau pejabat pemerintah yang lain bisa menunjuk. Tapi faktanya, setelah
polisi melakukan penangkapan terhadap para tertuduh pembantaian, ternyata
sebagian besar terdakwa tidak memiliki latar belakang keluarga PKI. Ini
semakin meyakinkan pendapat para masyarakat dan tokoh NU itu.  Apalagi dalam
proses persidangan yang tengah berjalan saat ini tidak mengungkap siapa
perencana dan aktor intelektualnya.

Masyarakat harus mengubur dalam-dalam harapan akan terungkapnya dalang
maupun keterlibatan sejumlah aparat sipil maupun militer dalam kasus
pembantaian sejumlah kyai dan tokoh masyarakat tersebut. Persidangan
terhadap tersangka kasus itu di PN setempat yang diharapkan banyak untuk
bisa membantu mengungkap kasus, ternyata tidak terjadi.

Lihat saja misalnya, persidangan Misari dkk. Para terdakwa sebenarnya telah
mengaku melakukan percobaan pembunuhan terhadap Mateha (80), warga
Banjarsari, Glagah Banyuwangi, karena disuruh masyarakat. Bahkan diberi
uang. "Saya diberi Rp.100.000 untuk membunuh Mateha," kata Misari. Namun
pengakuan tersebut lewat begitu saja. Hakim, jaksa maupun pembela tidak
mengorek lebih jauh mengenai siapa yang dimaksud dengan masyarakat. Termasuk
pembuktian lebih lanut atas pengakuan Misari bahwa ada keterlibatan anak
Mateha sendiri yang memberi 120 ribu untuk biaya membunuh ayahnya.

Sedang Kacong, terdakwa lain dalam kasus yang sama mengaku, setelah mereka
gagal membunuh Mateha tangal 28 September 1998, pagi harinya dia dipanggil
oleh Kepala Desa Banjarsari, Ir. Achdiyat. Dengan dibonceng Mislani, seorang
perangkat desa, Kacong memenuhi panggilan itu. Di sana telah menunggu Ir.
Achdiyat, seorang Babinsa Koramil Glagah dan beberapa perangkat desa lain.
Waktu itu Achdiyat langsung memarahi Kacong karena dianggap nggak becus
melakukan tugas. "Membunuh orang tua saja nggak becus," kata Kacong
menirukan ucapan kepala desanya.

Setelah itu Kacong disuruh 'membereskan' pekerjaan yang belum selesai dengan
arahan dari kepala desa. "Setelah kamu beresi, masukkan karung kasih batu
lalu lempar ke sungai," kata Achdiyat yang ditirukan oleh Kacong. Tetapi
Kacong tidak menuruti perintah itu, dia menyerahkan diri. Sedang Achdiyat
masih bebas dan hanya menjadi saksi di pengadilan ini. Padahal, pada awal
penahanan Misari dan kawan-kawan, Achdiyat sempat menjadi tersangka.

Lain lagi dengan cerita Heru dan kawan-kawan, warga Jajangsurat Kec.
Rogojampi Banyuwangi. Mereka dituduh melakukan pembunuhan Asy'ari,
tetangganya. Dan ini diakui oleh Heru. Tetapi, "Heru membunuh Asy'ari karena
disuruh Bu Bidan Hanifah. Heru dkk diberi uang. Tidak hanya mereka, banyak
warga lain yang diberi uang oleh Hanifah dengan syarat ikut membunuh
Asy'ari," kata salah seorang keluarga Heru.

Tetapi informasi ini tidak ada dalam BAP terdakwa Heru dkk. Mengapa? Menurut
salah seorang anak Heru, mereka disuruh pembelanya agar tidak usah menggigit
orang lain. Cukup yang sudah ditangkap oleh polisi saja. Aneh sekali. Tetapi
menjadi tidak aneh kalau informasi ini diteruskan dengan fakta bahwa Hanifah
itu tidak lain dari isteri Ketua IPKB, Syarifudin Taher, SH. "Saya nggak
tahu," bantah Hanifah.

Menguapnya informasi penting yang sebenarnya bisa mengungkap kasus
pembunuhan berkedok dukun santet ini tidak hanya terjadi dalam proses
penyidikan maupun persidangan di pengadilan. Dalam proses pengungkapan
pelaku pembunuhannya pun telah terjadi distorsi fakta. Misalnya saja
pengungkapan kasus pembunuhan keluarga Hadi, warga Jajag Kab. Banyuwangi.
Hadi sendiri merupakan saksi pembantaian bapaknya pada 15 September 1998.
Namun, sampai sekarang Hadi tidak pernah dipanggil polisi untuk dimintai
keterangan!

Menurut penuturannya kepada Xpos, saat itu, keluarga Hadi tengah menonton
TV,  sekitar pukul 21.40 WIB. Tiga buah mobil jenis station wagon berhenti
di depan rumah. Tak lama kemudian, tiba-tiba listrik padam dan masuklah 3
orang berbadan tegap membentak mencari ayah Hadi. Tanpa kesulitan mereka
menemukan ayah Hadiyang sedang nonton TV. Tanpa banyak komentar mereka
langsung mengeluarkan pisau dan pedangnya. "Cras...crasss" Ayah Hadi
langsung bersimbah darah dan meninggal.

Sebelum pergi, tiga orang tersebut mengancam agar Hadi nggah usah lapor
polisi. Tetapi Hadi nekad, dia lari menuju pos polisi terdekat. Sampai di
rumah Hadi mendengar beberapa tetangganya juga bernasib sama seperti
kelaurganya. " Ada 6 rumah yang didatangi, tapi hanya 2 orang yang terbunuh,
4 lainnya berhasil melarikan diri " katanya.

Siapa pelakunya? Hadi sendiri tidak bisa menyebut secara pasti, yang jelas
mereka sangat profesional sekali. Setelah turun dari mobil, ada sekitar
30-an orang yang menyebar mendatangi para tetangga Hadi dan mematikan
listrik sambil mengancam tuan rumah untuk tidak keluar. Tiga orang lainnya
bertindak sebagi eksekutor yang mendatangi 6 rumah. Mereka cepat sekali,"
kenang Hadi. Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa polisi tidak mendatangi
TKP untuk mengecek kebenaran laporan Hadi setelah mendapat laporan?. Bahkan
sampai saat ini kasus pembantaian yang menimpa keluarga Hadi dan lima
tetangganya tidak diproses oleh kepolisian. Sehingga muncul keraguan di
masyarakat, jangan-jangan jumlah korban yang sebenarnya jauh lebih banyak
yang dilaporkan polisi.

Dan yang lebih mencurigakan lagi, kenapa tiba-tiba ada rencana pencopotan 3
Kapolsek di Banyuwangi tanpa diadili. Jangan-jangan ada upaya untuk
menggelapkan fakta. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 3 Feb 1999 jam 23:52:51 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke