----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 04/II/4-10 Februari 99
------------------------------

DEWI FORTUNA, DI BALIK HEBOH TIMTIM

(PERISTIWA): Tiada yang mengira Pemerintah akan melepaskan Timor Timur
(Timtim). Manuver Klik Habibie? Dan mengapa ABRI tunduk?

Letnan Jendral (Purn) Sholichin GP berang. Di sebuah seminar ia marah-marah
terhadap keputusan Pemerintah Habibie yang mengumumkan akan melepaskan
Timtim menjadi negara merdeka. "Berapa ribu tentara kita mati di sana?" ujar
mantan Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan itu dengan geram.

Sholichin ingat betul betapa ia amat sedih menyaksikan perwira-perwira muda,
mantan taruna-tarunanya ketika ia menjadi Gubernur Akabri Darat, menemui
ajal di bekas koloni Portugis itu. Di kalangan para veteran Perang Timtim,
keputusan Habibie memang ditanggapi dengan reaksi yang penuh kemarahan.
Seorang pensiunan kolonel marinir yang pernah terlibat dalam operasi
penyerbuan Timtim juga merasa geram. Seorang pensiunan tentara yang terlibat
lima kali Operasi Seroja, salah satu nama sandi operasi penyerbuan Timtim,
juga tak kalah geramnya. Nama mantan tentara itu bernama Alex, kini pejabat
pemerintah di Dili. Ia menelpon acara wawancara yang menampilkan Penasehat
Khusus Presiden, Dewi Fortuna Anwar dan Mario Carrascalao di RCTI. Nadanya
marah dan mengutuk keputusan itu.

Reaksi di tubuh ABRI, nampaknya amat berbeda dengan reaksi pucuk
pimpinannya. Panglima ABRI, Jendral Wiranto setuju dengan keputusan Habibie
itu dan, katanya, ABRI siap melaksanakan tugas pelepasan itu. Mengapa
Wiranto mau menerima keputusan itu? Di kalangan para perwira ABRI, Timtim
adalah semacam wilayah suci, daerah taklukan yang tak boleh dilepaskan
karena direbut dengan air mata dan darah. Limabelas ribu anggota ABRI
terbunuh dalam sepuluh tahun pertama pendudukan wilayah itu. Karenanya,
bagaimana mungkin, Wiranto, tanpa perlawanan apapun, mendukung keputusan
Habibie? Ini yang aneh. Boleh jadi, Wiranto akan menjadi jendral yang tak
populer di kalangan perwiranya sendiri.

Apa sih yang mendorong keputusan Habibie itu dan siapa orang di balik
keputusan yang mengagetkan itu? "Itu yang tak kami mengerti. Mungkin ini
manuver, mungkin Habibie punya target tertentu. Apapun, semua ini manuver
yang berbahaya," ujar seorang pejabat Departemen Luar Negeri (Deplu) kepada
Xpos.

Kalangan pejabat Deplu sendiri, kata pejabat itu, sebenarnya kaget ketika
diberitahu Bina Graha bahwa pemerintah punya kebijakan baru soal Timtim.
"Kami kecewa dengan keputusan itu jika memang kebijakan itu bukan gertak
sambal," ujarnya. Para pejabat Deplu, kata pejabat tadi, termasuk Menteri
Luar Negeri Ali Alatas, dengan terpaksa menjalankan tugas itu. Alatas
sendiri memang pantas kecewa. Perjuangan diplomatiknya selama hampir lima
belas tahun, mengupayakan Timor Timur menjadi propinsi ke-27, harus berakhir
seperti sekarang ini. Kendati begitu, di New York, pekan lalu, dalam
perundingan segitiga Portugal-PBB-Indonesia, Nugroho Wisnumurti, Duta Besar
RI untuk PBB, diperintahkan untuk tetap berada pada posisi sebelumnya, bahwa
Timtim adalah bagian dari Indonesia.

Deplu sendiri, kata pejabat tadi tak pernah diajak bicara soal ini. "Tapi
kami tahu, perancang manuver ini adalah Dewi Fortuna Anwar. Tahu apa sih dia
tentang Timtim?" tambahnya. Nah, rupanya, kekecewaan itu tak hanya menjalar
di kalangan para pensiunan jendral dan para perwira aktif di tubuh ABRI. Dan
benar. Dewi, mantan peneliti LIPI itu, orang kepercayaan Habibie itu
nampaknya memang memiliki peran besar membuat heboh ini. Keterlibatan Dewi
menyusun strategi itu, tercermin dalam wawancara di stasiun televisi milik
Bambang Triatmodjo, RCTI, Senin, 1 Februari 1999. Dewi, dengan tangkas dan
lancar menjelaskan sikap baru pemerintah itu. Tak hanya sumber di Deplu itu
saja yang menunjuk Dewi sebagai penggagasnya, kalangan lain juga merasa,
klik Habibie yang merancang strategi yang entah apa tujuannya.

Dari segi taktik, cara ini sebenarnya merupakan hal yang wajar. Indonesia
akan melepas Timtim, jika otonomi luas sebagai solusi akhir ditolak kalangan
antiintegrasi. Jadi, kebijakan ini memang masih berspekulasi. Namun, karena
bolanya berada di tangan Indonesia, permainan ini sepenuhnya berada di pihak
Indonesia. Ancaman yang dilancarkan Indonesia tak main-main. Tolaklah
otonomi, kami akan pergi. "Dan perang saudara akan pecah," ujar Alatas.
Untuk menguatkan ancamannya, kelompok-kelompok pro-integrasi di Timor Timur
memang telah dipersenjatai ABRI, kendati Wiranto membantahnya.

Kelompok-kelompok para militer yang dipersenjatai itu adalah: pasukan Alfa
di Lospalos, Makikit di Viqueque, Saka di Baucau, Mahidi di Ainaro,
Halilintar di Bononaro dan Gadapaksi di Dili. Di Ainaro pasukan Mahidi telah
beraksi, mereka menembaki para pemuda pro-kemerdekaan. Sejumlah orang tewas.
Begitu juga di Suai, ibukota Kabupaten Covalima, pasukan Halilintar yang
dipersenjatai senapan jenis karaben dan AK-47 mengejar para pemuda
pro-kemerdekaan, sejumlah pemuda tewas diterjang peluru dan ribuan orang
mengungsi ke Gereja, Suai. para pemimpin prokemerdekaan, seperti para
pimpinan CNRT di DIli kini harus bersembunyi karena dikejar-kejar
satuan-satuan sipil bersenjata yang mendukung inteegrasi. Perang saudara,
seolah-olah memang sudah di ambang pintu. Siap meledak setiap saat. Alatas
boleh tersenyum dan Dewi bisa berhaha-hehe. "Mau apa sekarang, bola sudah
kami mainkan," begitu mungkin kata-kata yang muncul di benak Dewi dan Alatas.

Tekanan psikologis lainnya, juga dilancarkan Pemerintah Indonesia. Menteri
Kesehatan Farid A. Moeloek, datang ke DIli menjanjikan kepada para dokter
dan paramedis di Timor Timur yang merasa terteror akan ditarik ke luar
Timtim. Saat Menkes datang di Dili, dokter dan paramedis Rumah Sakit Umum
Dili tengah melancarkan mogok. Mereka mengaku terus-menerus diteror para
pemuda pro-kemerdekaan.

Akan halnya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, juga melakukan manuver
lain. Departemen itu mengedarkan formulir kepada para guru dan pegawai
negeri di lingkungannya untuk menjajaki siapa saja yang ingin segera
dipindahkan dari wilayah itu.

Tindakan-tindakan sepihak ini membuat masyarakat Timtim panik dan tertekan.
Bayangkan jika dokter dan paramedis tak ada di DIli. Bayangkan pula jika
sekolah-sekolah tutup karena sebagian besar guru berasal dari Indonesia.

Namun, di balik semua ini ada kabar lain. Sumber-sumber Xpos menuturkan,
Habibie tengah menukar isu Timtim dengan bisnis yang terkait dengan
keluarganya. Lho? Begini, seorang anggota Kongres Amerika sebelum ini
terus-menerus menelpon Habibie agar Indonesia mengambil sikap yang jelas
soal Timtim. Anggota Kongres ini kebetulan pengusaha yang akan menanamkan
modalnya di Sumatra. Kebetulan juga anggota Kongres ini pro-kemerdekaan Timtim.

Di AS kini memang timbul kesadaran bahwa Timor Timur sebaiknya dimerdekakan
dari Indonesia. Sikap Habibie yang hendak melepas Timtim ini nampaknya
berkait dengan sejumlah pemodal AS yang akan menanamkan modalnya di
Indonesia. Nah, dengan melepas Timtim yang secara finansial merugikan
Indonesia, akan memperoleh balasan dengan masuknya investor AS, tentu amat
menggembirakan di tengah seretnya investasi asing saat ini. Kabarnya,
investasi AS ini terkait dengan proyek eksplorasi gas alam di Natuna Timur
oleh Exxon, perusahaan penambangan minyak dan gas raksasa dari AS.

Natuna Timur diperkirakan memiliki cadangan gas sekitar 50 triliun kaki
kubik atau setara dengan 8 hingga 9 miliar barel minyak mentah. Cadangan gas
ini termasuk besar karena Malaysia saja hanya memiliki cadangan minyak
sebesar 3,5 miliar barel dan Exxon hanya memiliki 13 miliar barel di seluruh
dunia. Untuk mengeksplorasi gas itu kabarnya dibutuhkan dana sebesar US$45
miliar atau hampir setara dengan bantuan IMF untuk Indonesia untuk mengatasi
krisis. Nah, mana mampu pemerintah memperoleh dana sebesar itu? Exxon, yang
juga sudah membor gas di Natuna Barat, mampu menyediakan duit sebesar itu.
Harap diingat, Timsco, konglomerasi milik Timmy Habibie, adik kandung BJ
Habibie, sejak lama terlibat dalam bisnis gas di Natuna. Kalau Exxon
mengeksplorasi gas di ladang subur gas Natuna Timur, masak Timsco tak
diajak. Spekulasi ini nampaknya sulit dipercaya, namun siapa tahu ini fakta
sebenarnya. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 4 Feb 1999 jam 01:33:29 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke