----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

From: Banteng Suropati

Pagelaran Timtim Mendekati Klimaks

Merdeka !!

Seolah muncul begitu saja, out of the blue, Menlu Ali Alatas,
melontarkan pernyataan mengenai Timtim yg menggegerkan.  Tanggal 27
Januari lalu Menlu Alatas tanpa diduga mengatakan bahwa pemerintah
Indonesia tidak akan keberatan untuk melepas Timtim, jika tawaran untuk
memberikan hak otonomi khusus akhirnya ditolak mentah-mentah oleh
masyarakat Timtim. Tak lupa Menlu Alatas juga menambahkan bahwa
keputusan untuk melepas Timtim itu akan diserahkan sepenuhnya pada MPR
hasil pemilu mendatang.

Kontan saja, pernyataan yg diartikan banyak orang sebagai pemberian
kemerdekaan pada wilayah Timtim itu membuat orang terperangah bahkan
setengah tidak percaya pada telinganya sendiri. Bagaimana mungkin
Indonesia yg selama lebih dari 23 tahun menancapkan kuku besi di bumi
loro sae mau begitu saja angkat kaki.

Tak kurang dari seorang Ramos Horta terpaksa buru-buru pasang kuda-kuda
untuk menjajagi "jurus baru" yg diperagakan Menlu Alatas tersebut.
Begitu pula Uskup Belo yg sudah kadung cocok dengan ide otonomi terpaksa
celingukan kiri kanan minta penjelasan, sementara para pendukung
kemerdekaan Timtim jejingkrakan tidak karuan disengat euphoria.

Tak pelak lagi, pagelaran Timtim yg panjang dan kolosal dengan begitu
banyak pemain, boleh dibilang memasuki babak baru yg mendekati klimaks
yg tak seorangpun tahu pasti bagaimana akhir ceritanya. Kita telah
melihat babak demi babak pagelaran ini yg tak jarang dipenuhi tetesan
darah.  Mulai dari babak penjajahan Portugal selama 400 tahun yg sudah
menelan ratusan ribu nyawa putera-putera terbaik di bumi loro sae. Bumi
loro sae  diinjak-injak dan dihisap tanpa ampun, sementara rakyat melata
tak bisa apa. Manakala di Portugal sana berganti rejim, Timtim tak lagi
menarik untuk terus dikungkungi. Bukan cuma tak ada untungnya lagi,
tetapi juga nampaknya tak sejalan dengan pola pikir rejim baru yg konon
lebih manusiawi. Dan Portugis pun angkat kaki tanpa permisi dan lebih
celaka lagi tanpa perduli.

Timtimpun memasuki babak baru yg penuh darah. Fretilin yg merupakan
gerombolan paling kuat, apalagi bermodal mesin-mesin perang yg ditinggal
Tropas Portugis,l mulai unjuk gigi dan menggilas koalisi UDT, Kota,
Apodeti dan Trabalista. Merasa kalah kuat,
koalisi itu, terutama Apodeti lantas minta bantuan ke tetangga,
Indonesia.

Indonesia yg sebelumnya digosok oleh Presiden Ford dan Menlu Kissinger
yg bicara soal perang dingin dan bahaya komunisme, tanpa pikir panjang
memukul habis kekuatan Fretilin hingga tinggal beberapa gelintir yg
melarikan diri masuk hutan. Dan Pagelaran Timtim pun masuk lagi ke babak
berikutnya. Sulit dipungkiri bahwa babak ini merupakan babak yg paling
dramatis, penuh dengan klimaks kecil silih berganti, penuh dengan darah
dan juga penuh dengan keserakahan dan kemunafikan.

Strategi represif yg diperagakan Indonesia di bawah Soeharto terbukti
tak pernah menyusutkan nyali para pendukung kemerdekaan Timtim, dan
dalam banyak hal justru memperkuat moral mereka, apalagi dukungan
internasional seolah tak habis-habisnya.

Sepakterjang Indonesia di Timtim hanya menghasilkan dagelan di luar
negeri, dimana para diplomat Indonesia tampil kedodoran dan nyaris
selalu menjadi "bulan-bulanan" di forum internasional. Tentu saja citra
Indonesia pun terpuruk ke titik nadir.

Saya teringat tulisan seorang rekan, Ben Perkasa Drajat di Kompas,
Agustus 1998 yg bilang bahwa rangkaian "kekalahan" diplomasi Indonesia
banyak disebabkan oleh hampir tidak adanya kemauan politik untuk
mengkondisikan atmosfir konstruktif di Timtim bagi suksesnya perjuangan
di medan diplomasi. Soeharto tidak pernah sedikitpun mentolerir ide-ide
yang dapat meningkatkan posisi tawar-menawar di meja perundingan.
Diplomasi Indonesia selalu dituntut untuk tampil berbobot tapi tak
pernah ditopang dengan dukungan politik yg kondusif. Akibatnya di era
informasi saat ini, para diplomat Indonesia selalu menjadi obyek
bulan-bulanan pihak lain karena argumen-argumen yg dikemukakan tidak
faktual. Indonesia memerlukan pergeseran pendekatan dari "politik
kekuatan" menjadi "legal-yuridis", sekaligus mengharamkan ungkapan "bagi
Indonesia masalah timtim sudah selesai" dan sebangsanya. Indonesia
juga harus "berani" keluar menjajakan solusi yg fair, adil dan dapat
diterima semua pihak.

Saya sulit sekali untuk tidak akur dengan pandangan Ben yg notabene
adalah warga Pejambon (Deplu), karena memang itu yg terjadi dan
ketajaman opini Ben yg sangat tepat ini justru membuatnya menjadi
"bulan-bulanan" para petinggi di Jakarta yg menilainya "mbalelo".

Kini, di Indonesia, angin perubahan telah bertiup kencang dan Menlu
Alatas sudah  menunjukkan jurus-jurus indah yg sebelumnya tak pernah
dikeluarkan. Dan ini menandainya dimulainya babak baru di pagelaran
timtim.

Tapi terus terang saya sulit mengerti kok ada yg menilai bahwa perubahan
sikap Indonesia ini tak lebih dari sekadar "politik mutung". Mungkin
saya masih terlalu bodoh untuk dapat mengerti jalan pikiran dari bung
H.S. Supangkat di New York yg bilang karena dihantam kiri kanan, maka
Indonesia "mutung" dan menyodorkan sinyalemen kemerdekaan Timtim.

Rasanya, harap saya dipukuli rame-rame kalau salah, pergeseran posisi
Indonesia itu jauh sekali dari cerminan "politik mutung" tetapi justru
menandakan bahwa Indonesia tak mau lagi urusan Timtim semakin
berlarut-larut tak karuan ujung-pangkalnya, melainkan harus segera
dituntaskan "once and for all". Dan Indonesia bukan semata-mata terpojok
oleh hantaman internasional sehingga harus lempar handuk ke atas ring,
melainkan lebih dikarenakan semakin beratnya beban krisis ekonomi yg
nyaris tak tertahankan lagi dan juga tentu saja dampak dari reformasi
serta "changing of the guard" di Jakarta.

Reuters mengutip ucapan seorang pejabat Indonesia bahwa untuk
mengongkosi Timtim, hanya 7% dari kocek Timtim sendiri, sementara
sisanya ditanggung Jakarta. Bisa dibayangkan betapa beratnya tanggungan
itu di tengah badai krismon yg belum terlihat tanda-tanda akan mereda.
Entah sengaja atau tidak, Dewi Fortuna Anwar pernah berujar bahwa Timtim
adalah "bad investment".  Tentu saja ungkapan ini menyakitkan bagi putra
loro sae atau simpatisan mereka, tetapi hal ini menandakan bahwa Timtim
yg dulu hanya dianggap sebagai "kerikil dalam sepatu" kini telah menjadi
"sebongkah karang" yg menghalangi jalan dalam menangani hal-hal lain yg
juga tak kalah pentingnya di benak para pengambil keputusan di Jakarta.

Kembali ke soal isu kemerdekaan Timtim, saya melihat bahwa isu itu dapat
menjadi "kartu trump" di meja perundingan tripartite di New York. Dengan
digelarnya "kartu kemerdekaan" itu diatas meja, jelas Portugal akan
sedikit "gerah" dan mati langkah, sementara Jamsheed Marker nampaknya
sudah sedikit "tergoda" dan di PBB pun sudah mulai terdengar kabar
tentang kemungkinan akan adanya "anggota baru".

Oleh sebab itu, ada baiknya kita tunggu dan lihat saja apa yg akan
terjadi dalam perundingan tripartite tingkat Menlu (RI-Portugal) dan
Sekjen PBB Kofi Annan di New York dalam waktu dekat ini. Pagelaran ini
akan semakin menarik dan semoga tak ada lagi darah yg harus menetes
membasahi bumi loro sae.

Merdeka !!

BANTENG SUROPATI
Karachi - Pakistan

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Feb 1999 jam 03:12:43 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke