----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Rabu, 3 Februari 1999
                                                      PROMOSI DI SINI
       Kartu Habibie Menuju Nobel?
       Oleh Rohman Budiyanto*

       SIKAP Presiden B.J. Habibie yang rela melepas Timor Timur
       (Timtim), mungkinkah bisa menghasilkan Nobel?
       Bagaimanapun, opsi itu memang luar biasa. Sebab, RI 'rela'
       melangkah mundur drastis dua langkah dari posisinya, yakni
       dari kemungkinan pemberian otonomi luas dan pilihan
       referendum.

       Kerelaan melepas Timtim itu tidak kalah spektakuler dengan
       kesediaan P.M. Afrika Selatan (waktu itu) Fredrik Willem de
       Klerk untuk duduk semeja dengan Nelson Mandela demi
       meretas rantai apartheid. De Klerk pun rela mengorbankan
       dominasi kulit putih di lapangan politik, lalu membangun
       kesederajatan politik kulit hitam-kulit putih. Memang, de
       Klerk, yang putih, turun dari pemerintahan, lalu Mandela,
       yang hitam, naik ke tampuk kekuasaan, setelah menjadi
       'satria kinunjara' selama 28 tahun, termasuk di Pulau
       Robben. De Klerk dan Mandela meraih Nobel Perdamaian
       pada 1993 karenanya.

       Tawaran Habibie itu juga tidak kalah berani dengan
       kesediaan P.M. Yitzhak Rabin dan Yasser Arafat untuk
       berunding di kebekuan hawa kota Oslo, untuk
       menghangatkan proses perdamaian di Palestina. Setelah
       perundingan yang sulit, Kesepakatan Oslo untuk perdamaian
       di tanah yang bergolak sejak 1948 itu pun diteken. Rabin dan
       Arafat pun kemudian dihadiahi Nobel Perdamaian 1994
       (ditambah bonus Nobel juga kepada Shimon Peres, Menlu
       Israel).

       Bumi Timtim sendiri sudah menghasilkan dua Nobel yang
       sangat memukul pemerintah Soeharto. Seperti diketahui,
       Nobel Perdamaian yang diberikan kepada Uskup Mgr Dom
       Carlos Filipe Ximenes Belo dan Dr Jose-Ramos Horta, itu
       dipandang sangat tidak simpatik oleh Indonesia (kecuali
       Pangdam IX/Udayana waktu itu, Mayjen TNI A. Rivai, yang
       memberi ucapan selamat berupa iklan di koran).

       Memang tiada perdamaian yang buruk, tiada peperangan
       yang baik. Semoga inilah yang mengilhami Habibie, ketika
       --kata Akbar Tandjung-- mencoret-coret sendiri konsep
       kebijakan untuk Timtim yang menghasilkan opsi terobosan
       tak terduga itu. Sekalipun, tawaran Habibie itu
       memungkinkan Timtim kembali ke 'titik nol', perang saudara
       1975 (salah satu alasan kenapa Indonesia masuk ke Timtim),
       namun setidaknya kesediaan mundur dari Timtim ini
       merupakan konsesi mutlak (kita tidak dapat apa-apa, kecuali
       perdamaian).

       Seperti diketahui, sejak keluarnya TAP MPR 1978 yang
       menetapkan integrasi Timtim sebagai bagian dari Negara
       Kesatuan Republik Indonesia, dalam negosiasi diplomasi
       internasional soal Timtim tidak pernah beranjak dari 'status
       final'. Negosiasi paling akhir di PBB menjelang opsi
       pelepasan, berupa tawaran 'status otonomi luas' pun sebagai
       terjemahan status final di TAP MPR itu. Referendum, seperti
       yang ditawarkan Partai Amanat Nasional (PAN) pun tak
       ditanggapi. Maka, bukankah luar biasa ketika Habibie justru
       dengan lincah melompat ke langkah merelakan Timtim lepas
       dari RI?



       KRITIKAN

       Salah satu benang merah dari pelbagai kritikan yang muncul
       atas sikap Habibie itu adalah pertanyaan mengapa Habibie
       menawarkannya saat ini. Padahal, Habibie pasti tahu,
       pemerintahannya tidak mantap betul dari faktor legitimasi.
       Mustinya, dia sadar tidak mempunyai kewenangan
       mengeluarkan tawaran politik yang sifatnya mendasar.
       Melepaskan sepotong wilayah RI punya sifat yang sangat
       mendasar dalam kebijakan pemerintah.

       Habibie bukannya tidak tahu itu. Tetapi, dia bisa
       mendapatkan banyak keuntungan politis dengan
       menawarkan pelepasan Timtim itu sekarang. Yang paling
       kentara tentu perhatian politik di tanah air bisa disebar ke
       banyak isu. Tidak hanya menyorot pekerjaan Habibie yang
       memang berat, karena orang sekarang mudah sekali
       mengecam presiden yang memerintah di masa amat sulit ini.
       Untuk tujuan menyebar fokus isu, Habibie sudah
       mendapatkannya sekarang ini.

       Selain itu, Habibie mengemukakan tawarannya soal Timtim
       ini sekarang juga untuk mendapatkan momentum politik
       dalam penyelesaian masalah Timtim. Masa
       kepemimpinannya yang transisional, hanya setahun
       setengah, jelas tidak banyak waktu baginya untuk merebut
       momentum sejarah peyelesaian Timtim.



       MENODONG MPR

       Bukankah Habibie dalam tawarannya tetap menyerahkan
       keputusan soal penyerahan Timtim kepada MPR baru? Itu
       benar. Tetapi, ini yang penting, dengan tawaran pelepasan itu
       jelas, dalam konstelasi politik di Timtim, terjadi
       pergeseran-pergeseran besar. Kalau asumsi bahwa yang
       prokemerdekaan di Timtim merupakan arus utama, maka
       bisa dipastikan akan muncul persiapan-persiapan
       kemerdekaan oleh organisasi-organisasi politik Timtim.
       Apalagi organisasi-organisasi itu bisa tampil dengan
       bebasnya, tak lagi harus klandestein.

       Pergeseran-pergeseran politik ini sudah sangat kentara di
       Timtim. Indikasinya, sebagai misal, para pendatang mulai
       kemas-kemas untuk pindah, munculnya demonstrasi
       prokemerdekaan yang akan segera jadi massal, terdesaknya
       kelompok pro-Indonesia karena gelombang kemunculan
       kelompok prokemerdekaan ini. Bahkan, secara resmi, Dirjen
       Dikdasmen sudah mengirimkan edaran kepada para PNS
       dan guru di Depdikbud Timtim agar memilih tetap tinggal atau
       pindah dari Timtim. Yang terpenting, Xanana Gusmao
       'dilepas' dari L.P. Cipinang untuk memberi jalan pelepasan
       Timtim, serta pintu diplomatik RI di Portugal sudah dibuka.

       Tak lama lagi, kemunculan kelompok-kelompok motor
       kemerdekaan ini bisa diperkirakan akan membesar. Yang
       agak ironis adalah anak-anak muda aktivis prokemerdekaan
       itu banyak yang lulus sekolah tinggi di Jawa. Sejarah
       berulang, ketika Bung Karno dan Bung Hatta yang menjadi
       pelopor kemerdekaan adalah lulusan Belanda, sebagai buah
       politik etis kolonial.

       Gampang diperkirakan, isu kemerdekaan ini akan merebut
       hati kebanyakan orang Timtim. Sebab, kemerdekaan itu
       seakan mempunyai daya tarik 'spiritual'. Kita sebagai warga
       negara yang relatif 'tidak merdeka' selama Orde Baru, bisa
       merasakan betapa besarnya daya magis kemerdekaan dan
       kebebasan itu. Apalagi rakyat Timtim tidak merasa berutang
       budi, sekalipun kita gelontor uang dengan jumlah yang
       sangat memanjakan sejak 1976.

       * Rohman Budiyanto, wartawan Jawa Pos

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Feb 1999 jam 03:45:32 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke