---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- From: doni dono KETIKA SEORANG "ARIEF BUDIMAN" KEHILANGAN AKAL SEHAT Siapa yang tidak kenal dengan DR Arief Budiman. Ia adalah seorang pengamat politik yang selama ini paling konsisten dan paling radikal. Dia rela meninggalkan segala yang ia miliki seperti jabatannya di Universitas Satya Wacana dan ia rela pula meninggalkan tanah airnya , berimigrasi ke negeri kanguru, karena komitmennya terhadap perjuangan demokrasi di negeri ini. Tapi jagad memang aneh, disaat seluruh bangsa Indonesia berkonsentrasi bersiap menghadapi kelahiran jabang bayi "demokrasi" , seorang Arif Budiman tiba-tiba berkata lain. Dengan sangat satir, Arif berteriak tentang pentingnya negeri ini dipimpin oleh sekelompok orang , yang ia sebut sebagai triumfirat. Suatu sistim kepemimpinan yang lazim didapatkan pada negara-negara yang didominasi / dikuasai oleh sekelompok elit masyarakat dan junta militer. Triumfirat yang ditawarkan oleh Arif terdiri dari 3 orang yaitu, Megawati, Gus Dur dan Jendral Wiranto. Munculnya ketiga nama ini dari seorang demokrat sekaliber Arief Budiman memunculkan berbagai pertanyaan ; 1. Gus Dur ; Rasanya masih hangat diingatan kita, bagaimana komentar Arief terhadap tokoh ini. Ketika tokoh ini bertemu dengan Suharto beberapa wakru lalu. Saat itu Arief menuduhnya sebagai orang yang sedang terganggu ingatannya ( alias tidak waras ). Bagaimana dalam jangka waktu yang hanya satu bulan Arief menawarkan kepada kita Rakyat Indonesia , supaya menerima dia sebagai seorang pimpinan bangsa ( dalam bahasa Arief :" sebagai orang yang akan mampu membawa bangsa kita keluar dari krisis yang ada sekarang " ). 2. Megawati ; Seorang yang sampai saat ini belum menunjukkan prestasi apapun untuk bangsa ini. Tak pernah sekalipun Mega menyumbangkan darma baktinya dalam proses reformasi sekarang . Masih teringat diingatan kita semua, ketika Megawati menolak menerima para utusan mahasiswa sekaligus bergabung dengan para aktivis yang sedang menghadapi masalah serius di Semanggi (ketika terjadi tragedi Semanggi ). Megawati selama ini hanya mau mengurus kepentingan dirinya dan kelompoknya saja. Dalam bersikap, Mega juga antagonis terhadap para aktivis demokrasi yang lain, para purnawirawan militer yang seharusnya dimintai pertanggungjawaban atas kesalahan-kesalahan mereka di masa lalu , malah direkrut. Mantan presiden Suharto yang sedang dihujat dan dituntut untuk diadili malah dilindungi. Mega juga tidak segan-segan duduk berdampingan / jalan bergandengan dengan LB Murdani , pembantai ribuan rakyat Tanjung Priok. 3. Jendral Wiranto ; Di era reformasi sekarang ini memunculkan kembali sebuah kepemimpinan militer adalah set-back. Pada era demokrasi, kepemimpinan bangsa harus dipegang oleh sipil. Militer tidak mungkin mampu mengembangkan demokrasi. Mereka dididik sangat disiplin untuk berada dalam sistim yang hirarkis. Anak buah tidak mempunyai pilihan kecuali patuh kepada pemimpinnya. Sistim ini sangat berbeda dengan kepemimpinan yang demokratis. Tidak boleh dilupakan, Wiranto juga adalah seorang yang dibesarkan dan dididik oleh Suharto. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mengabdikan diri kepada Suharto. Apa yang diterima wiranto saat ini juga tidak bisa dilepaskan dari budi baik Suharto. Sampai saat ini Wiranto tidak berhasil menjalankan tugasnya. Ia tidak mampu memberi rasa aman kepada masyarakat. Mengurus soal keamanan saja dia tidak mampu. Adalah mustahil dia mampu menyelesaikan masalah yang lebih besar lagi. Masalah bangsa jauh lebih berat dan lebih kompleks dari hanya sekedar menjaga keamanan. Melihat berbagai penjelasan diatas , secara rasional adalah sangat tidak wajar ( tidak bisa dicerna akal sehat ), jika seorang Arif Budiman ( Seorang tokoh demokrasi ) mengeluarkan pendapat seperti itu. Tetapi karena kenyataannya Arief memang berpendapat seperti itu, terpaksa harus dicari sebab, mengapa Arif dapat berpendapat seperti itu. Beberapa alasan yang mungkin : 1. Saat ini Arif juga tertular penyakit " Sindrome Gus Dur ", sebuah penyakit yang menggerogoti akal sehat, yang membuat pengidapnya selalu ingin tampil dan bicara tanpa menghiraukan apakah yang dibicarakannya itu rasional atau tidak ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 5 Feb 1999 jam 03:51:28 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
