----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Amsterdam, 3 Februari 1999.

Satu-satunya sikap yang tepat :
Sokong  perjungan rakyat Timor Timur untuk menentukan nasibnya sendiri!

Oleh: Ibrahim Isa
I. Seakan-akan belum cukup 'kejutan' yang dicetuskan dari Jakarta sejak
lengsernya Suharto, pada tanggal 29 Januari y.l. pemerintahan Haibibie,
melalui menlunya Ali Alatas, menyatakan bahwa Indonesia bersedia
"melepaskan" Timor Timur bila usul opsi Indonesia yaitu suatu status
otonomi yang luas di tolak oleh rakyat Timor Timur. Suatu 'kejutan lagi'.
Tidak dijelaskan dalam hal usul opsi Indonesia untuk suatu status otonomi
yang luas itu ditolak rakyat Timor Timur, prosedur dan cara apa yang
digunakan untuk mengambil kesimpulan bahwa usul Indonesia itu diterima atau
ditolak.  Apakah cara referendum atau cara menanyakan kepada DPRD Timor
Timur, ataukah dengan cara lain. Siapa yang dimaksud oleh pemerintah
Indonesia sebagai rakyat Timor Timur itu, apakah mereka itu  yang selama
ini melakukan perjuangan untuk kemerdekaan, khususnya yang di pedesaan,
hutan-hutan dan gunung-gunung, yang salah seorang pimpinan-nya  adalah
Xanana Gusmao, yang masih berstatus  "narapidana"? <Meskipun sudah
'diangkat' sedikit statusnya menjadi semacam 'tahanan rumah'?> Dan semua
itu kapan mau dilakukannya? Lalu, jika andaikata ditolak , maka pemerintah
Indonesia bersedia "melepaskan" Timor Timur menjadi suatu negeri yang
merdeka. Namun, hal ini akan diputuskan oleh MPR/DPR Indonesia hasil pemilu
Juni 1999 yad.

Sekilas pandangan  'kejutan' pemerintah Habibie itu seakan-akan  suatu
'solusi' yang wajar. Karena Indonesia telah secara salah
menginvasi/mengagresi, menduduki dan menganeksasi Timor Timur pada
tahun-tahun tujupuluhan. Politik agresi, okupasi dan aneksasi Indonesia
yang dilakukan dengan dalih atas 'undangan' rakyat Timor Timur dan atas
persetujuan rakyat Timor Timur tsb., kecuali dilawan dengan tegas,
konsekwen dan penuh pengorbanan, juga dikecam pedas oleh masyarakat
internasional yang menghormati hak-hak bangsa-bangsa untuk menentukan
nasibnya sendiri. Politik Indonesia itu bertentangan dengan salah satu azas
dari "Universal Declaration of Human Rights" dan sejumlah Konvensi PBB
mengenai hak-hak bangsa-bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri. Makanya
tindakan okupasi dan aneksasi Timor Timor oleh pemerintahan Orba dulu dan
pemerintahan Habibie sekarang ini tidak  pernah dibenarkan apalagi diakui
oleh PBB.
Sudahlah, jangan lagi menggunakan dalih bahwa aneksasi Timor Timur oleh
Indonesia itu adalah keinginan rakyat Timor Timur sendiri melalui suatu
referendum.  Atau. 'harus minta pendapat rakyat Indonesia terlebih dahulu
secara keseluruhan'. Dalih itu sudah lama terpatahkan dengan berlangsung
terusnya dan semakin gigihnya perlawanan rakyat Timor Timur, yang hingga
saat ini sudah berlangsung  24 tahun lamanya.  Dan janganlah pula
menggunakan dalih yang selalu digunakan oleh tentara pendudukan terhadap
perjuangan rakyat untuk kemerdekaan, yaitu alasan bahwa yang menentang
pendudukan ABRI itu adalah kaum "teroris". Bukankah kita masih ingat betul,
bahwa juga tentara pendudukan  Inggris dan Belanda atas Indonesia selama
perjuagan kemerdekan kita, telah memasang  topi "terorirs" atas
pejuang-pejuang kemerdekaan kita.
Janganlah kita mengambil sikap "tiba dimata dipicingkan dan sampai  diperut
dikempiskan". Hindarilah omelan dan gerutuan seperti yang dikeluarkan oleh
menlu Ali Alatas dan Jubir Kepresidenan Dewi Fortuna Anwar, yang secara
naif dan gregetan mengatakan bahwa masalah Timor Timur itu bagi Indonesia
merupakan "suatu investasi yang buruk"
Di sisi lainnya, sikap Indonesia terakhir ini, yang merupakan suatu sikap
orang yang 'ngambek', yaitu,  dengan angkuh menyatakan bahwa sikap
Indonesia harus dihadapi sebagai suatu usul yang "take itu or leave it",
patut dipertanyakan apakah  itu suatu sikap yang sungguh-sungguh hendak
mencari solusi atas masalah TimTim, apakah itu suatu sikap yang jujur ?
Sebab Ali Alatas mengatakan bahwa Timor Timur tidak boleh  menerima otonomi
yang luas jika itu digunakan  sebagai teransisi sebagai persiapan untuk
mencapai kemerdekaan.  Sikap seperti yang ditunjukkan oleh Menlu Ali Alatas
dan Jubir Kepresidenan Dewi Fortuna Anwar, membuat orang mengambil
kesimpulan satu-satunya, yaitu bahwa sikap pemerintah Habibie itu tidak
sungguh-sungguh dan tidak tulus. Jadi, itu berarti sikap Indonesia termasuk
katagori 'manuver' politik.  Ini bukan tidak mungkin. Bahkan bisa dikatakan
hal itu sangat  mungkin sekali. Baik kita analisis lebih lanjut.

II. Korban-korban yang jatuh difihak ABRI yang disebabkan oleh perlawanan
gerilya pejuang-pejuang kemerdekaan Timor Timur, tidaklah sedikit.
Kebetulan penulis belum lama mendengar sendiri ceritera  seorang yang
penulis kenal betul, yaitu seorang 'Ibu Jendral' yang puteranya sebagai
seorang letnan pasukan khusus, suatu ketika masih di bawah Jendral Prabowo
yang bertugas di TimTim. Sang Ibu Jendral itu mengisahkan bawah suatu saat,
ketika akan datang suatu utusan dari PBB dan sejumlah wartawan meninjau
asing ke Timor Timur, maka semua tanda dan batu nisan yang terdapat di atas
pekuburan prajurit-prajurit ABRI yang  tewas dalam pertempuran dengan kaum
gerilyawan Timor Timur, pada dicabuti. Ini dilakukan agar para peninjau
asing itu tidak punya kesan tantang korban-korban yang telah jatuh di
kalangan ABRI. Mengapa begitu? Karena Indonesia selalu menggembar-gemborkan
bahwa di Timor Timur sudah tidak ada masalah. "There is nothing wrong in
East Timor", begitu kata fihak penerangan Orba dulu. Sesudah apa yang
dikatakan 'intergrasi sukarela' dengan Indonesia, dikatakan pula bahwa
semua tenang dan stabil. Kalau tokh ada masalah gangguan  keamanan, maka
itu hanya ulahnya sementara sisa-sisa pasukan 'teroris' Fretilin yang
sesekali melakukan aksi terornya terhadap rakyat. Sang Ibu Jendral
bekali-kali mengutarakan kepada penulis : "Sudahlah, apa lagi sih gunanaya
Timor Timur dipertahankan terus? Sudah begitu banyak menghabiskan ongkos
dan jiwa. Apa hasilnya?" Ceritera dan keluhan sang Ibu Jendral yang lugu
ini , pas sekali mencerminkan suasana umum di kalangan ABRI dan keluarga
mereka, khususnya yang anggota keluarganya sendiri terpaksa harus
menanggung akibat dari politik pemerintah itu. Mereka sudah 'jemu' dan
malah 'jera' dengan 'petualangan' di Timor Timur".

Suatu perjuangan kemerdekaan rakyat , yang mengambil bentuk perang gerilya
tahan lama yang dipadukan dengan perjuangan politik di kota-kota di Timor
Timur dan sementara kota penting di Jawa, serta dikordinasikan pula dengan
perjuangan diplomatik di luar negeri khususnya di PBB, serta sokongan luar
terhadap perjuangan itu dari pelbagai fihak termasuk dari kekuatan
demokratis Indonesia sendiri, telah membawa perjuangan itu pada  suatu
tahap yang menentukan. Rakyat Timor Timur telah sampai pada ambang pintu
kemenangannya. Pemerintah Orde Barunya Suharto yang selama 23 tahun tidak
mampu menundukkan hasrat rakyat Timor Timur untuk kemrdekaan, telah
meninggalkan 'warisan' politik dan militer yang tidak menampakkan
tanda-tanda mencapai suatu solusi yang diinginkannya. Bagi  pemerintah
Haibibie yang menjadi 'akhli warisnya' masalahnya tetap 'setali tiga uang',
alias tidak melihat suatu solusi yang diinginkannya. Sedangkan sesudah
jatuhnya Suharto, situasi politik Indonesia yang sedang dilanda oleh
gelombang demi gelombang gerakan reformasi dan demokrasi, jauh berbeda
dengan sebelumnya. Kebebasan menyatakan pendapat, berapat, berorganisasi,
melakukan pawai dan berdemontrasi sudah direbut rakyat. Suasana dunia media
cetak dan elektronik juga lain sama sekali. Kebebasan pers di Indonesia
saat ini tidak pernah terjadi selama 32 tahun rezim Orba. Sokongan terbuka
terhadap perjuangan rakyat Timor Timur juga mewarnai arena politik
Indonesia.

Selain itu tekanan internasional dari hari ke sehari semakin keras yang
semakin mempersempit ruang gerak politik luar negeri Indonesia . Padahal
dewasa ini pemerintah Habibie sangat memerlukan 'kucuran' dolar dari luar.
Dicarilah jalan keluar yang 'unik' tapi 'licik'.

Berhadapan dengan pertama-tama perlawanan  dari rakyat Timor-Timur, desakan
dan tekanan dari rakyat Indonesia sendiri untuk menarik diri dari Timor
Timur, serta kejemuan dan kejeraan yang agak umum di kalangan keluarga ABRI
dan birokrasi khususnya kementerian luar negeri RI, betul-betul soal Timor
Timur ini bagaikan 'duri di mata' Indonesia, yang harus segera
disingkirkan. Tapi Habibie dan pimpinan ABRI tidak mau mengaku salah
apalagi mengaku kalah. Maka ditemukanlah suatu formule  yang oleh
orang-orang tua kita sering disebut suatu sikap yang  "pandai jatuh' .
Muncullah sikap "take it or leave it". Bila dicermati lebih lanjut sikap
Indonesia seperti memancing ikan, suatu ketika dilepas tali pengailnya,
pada tempo lain sedikit di tahan, dan kali lain lagi ditarik lagi. Untuk
melihat, sudah dapat untung yang diharapkan atau tidak.  Sikap Indonesia
itu juga merupakan suatu cara untuk 'lepas tangan', 'lari dari tanggung
jawab'. Bisa juga dikatakan bahwa pemerintah Habibie menawarkan 'suatu
paket' yang berisikan 'bom waktu'.

Dikatakan pemerintah Habibie meninggalkan "bom waktu", karena jauh-jauh
hari sebelumnya pemerintah dan ABRI telah mempersenjatai semacam 'milisia'
bersenjata yang akan bertindak kapan saja apabila diperintahkan oleh ABRI.
Berita-berita telah masuk belakangan ini yang mengungkap tentang teror yang
dilakukan oleh 'milisia' atas rakyat dan fihak-fihak yang pro-kemerdekaan.
'Bom waktu" lainnya ialah kekuatan politik yang dibina dan disokong oleh
Orba dulu dan pemerintah Habibie dewasa ini, berupa parpol, ormas dan
birokrsi serta kekuatan di kalangan masyrakat Timor Timur dan di kalangan
transmigran dari luar Timor Timur.  Mereka itu pada umumnya menghendaki
agar Timor Timur tetap bersama Indonesia. Mereka menyetujui yang dikatakan
"integrasi". Kemarin terbetik berita bahwa  sebuah delegasi yang terdiri
dari kurang lebih 100 orang, termasuk yang mantan  dan yang masih pejabat
setempat, dipimpin oleh gubernur Timor Timur dewasa ini, datang ke Jakarta
untuk menemui presiden Habibie. Mereka menuntut supaya Timor Timur tetap
berdiri sebagai satu propinsi dari Indonesia; mereka melihat bahwa nasib
Timor Timur adalah bersama Indonesia. Lebih dari itu,  mereka  menuntut
agar mereka dipersenjatai untuk menghadapi situasi yang sewaktu-waktu bisa
berubah.

Jika seorang agamawan yang terkemuka serta pejuang hak-hak azasi manusia
yang juga   pemenang Hadiah Nobel untuk Perdamaian, seperti Uskup Belo,
mengambil sikap yang tidak setuju dengan politik 'pandai jatuh' dari
pemerintah Habibie, maka seyogianya bisa dilihat  bahwa masalahnya tidak
begitu sederhana. Uskup Belo memilih suatu otonomi yang luas untuk Timor
Timur sebagai transisi menuju ke kemerdekaan Timor Timur. Tapi hal itu yang
justru oleh Ali Alatas dianggap tidak mungkin. Dalam bahasa populernya di
Jakarta , inilah yang dikatakan oleh Ali Alatas: "Kok enak aje, nyiapin
kemerdekaan atas ongkos gue". "Enggak bisa!"
Selain itu ada fihak yang mencanangkan akan timbulnya 'perang saudara' jika
Timor Timur 'dilepas' untuk merdeka sendiri. Xanana Gusmao membantah versi
ini sebagai usaha provokasi.

III.  Jadi jalan dan cara apakah yang sebaiknya  ditempuh? Apakah jalan itu
menuruti konsep pemerintah Habibie, yang 'take it or leave it', atau
mengambil jalan "Uskup Belo",  yang menerima otonomi luas sebagai transisi
menuju ke kemerdekaan, ataukah 'merdeka sekarang juga dan ABRI harus
menarik semua pasukannya, sambil melucuti senjata 'milisi' yang telah
dipersenjatainya, seperti yang dituntut oleh Xanana Gusmao dan Ramos Horta.
Dengan bertitik tolak pada dasar prinsip yang benar dan adil, yaitu prinsip
bahwa adalah hak setiap bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri, maka
jalan satu-satunya yang patut ditempuh ialah: dikembalikannya masalah nasib
rakyat Timor Timur di tangan rakyat Timor sendiri. Juga harus jelas, jika
bangsa kita hendak menarik garis pemisah yang tegas dengan politik represif
dan anti-demokratis dari rezim Orba Suharto dan hendak menempuh jalan
reformasi dan demokrasi, maka seyogianya setiap putra dan patriot
Indonesia,  setiap partai politik dan ormas, berlapang dada, selanjutnya
  mengambil  satu sikap yang jujur dan terus terang, bahwa apa yang
dilakukan oleh pemerintah Orba Suharto dulu, yaitu menginvasi, menduduki
dan kemudian mengintegrasikan Timor Timur ke dalam wilayah Republik
Indonesia  adalah suatu politik yang salah. Maka dalih hukum apapun tidak
bisa digunakan  untuk menolak kemerdekaan bagi rakyat Timor Timur.
Dalam merealisasi prinsip yang juga menjadi dasar dari PBB, yaitu prinsip
bahwa setiap bangsa berhak menentukan nasibnya  sendiri, maka PBB sebagai
suatu lembaga internasional punya 'credibility' dan sesungguhnya punya
kewajiban untuk mengambil langkah-langkah kongkrit ke arah ini. Dengan
sendirinya Portugal sebagai bekas penjajah lama dan Indonesia sebagai
penjajah baru, logis ambil bagian dalam menempuh jalan ini. ASEAN yang amat
sering menggembar-gemborkan bahwa setiap negeri punya hak penuh untuk
mengurus urusannya sendiri, seyogianya menyokong cara yang adil tsb diatas.
PBB, sebagai lembaga internasional dimana hampir semua negeri menjadi
anggotanya, sesungguhnya sudah lama ingin menempuh cara ini.

Di atas segala-galanya, sesuai  pengalaman banyak negeri, bahwa dalam
perjuangan dan usaha untuk mencapai kemerdekaan dari penindasan asing,
adalah mutlak perlu persatuan  seluas mungkin di kalangan rakyat sendiri,
seyogianya berbgai fihak dari rakyat Timor Timur, khususnya para pejuang
kemerdekaan nasiohal, para pejuang hak-hak azasi manusia untuk Timor Timur,
para tokoh agama dan masyarakat lainnya mengambil inisiatif untuk menyusun
kekuatan nasional seluas mungkin dan bersartu , suatu kekuatan yang
sedemikian rupa besarnya hingga mampu  menghadapi situasi baru. Yaitu
situasi di mana seluruh rakyat Timor Timur, mengambil hak menentukan nasib
bangsa dan rakyatnya di tangannya sendiri. Dengan demikian akan bisa
mengalahkan politik "devide and rule", yaitu  politik 'pecah belah, adu
domba  dan kuasai' dari fihak Indonesia atau dari jurusan manapun
datangnya.

Hanya ada satu politik yang tepat bagi  bangsa Indonesia,  dan semua parpol
dan organisasi massanya, yaitu menyokong rakyat Timor Timur yang sudah
begitu lama diperjuangkan dan sudah begitu banyak meminta korban, yaitu
untuk  menentukan nasibnya sendiri.
                                                               * * *

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Feb 1999 jam 10:50:55 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke