---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Seorang Margono memang tidak pernah menyumbangkan apa apa buat bangsa dan negara.Jangankan pendidikan tinggi, untuk berbahasa Indonesia secara baik saja dia tidak mampu.Setiap kali dia berbicara, bunyi bunyian yang keluar dari mulutnya adalah vocab medok jawa pesisir. Tapi Margono bukan berada di Cilacap, dia tinggal di Los Angeles sekarang ini.Kami mengenalnya dari teman ke teman. Pertama kali melihat Margono tidak mengimpresikan banyak hal menarik. tampangnya seperti petani bawang, omongannya membosankan, Setiap kali dia mencoba membuat joke, kami akan saling memandang satu sama lain karena tidak mengerti, dan walaupun akhirnya tertawa ,yang kami tertawai bukanlah joke nya, tapi Margononya. Ya manusia satu ini memang nampak begitu terbelakang. Begitu ketinggalannya dia sampai peradaban negara maju seperti Amerika ini gagal untuk merubah selera dia berpakaian,selera musik, bahan bacaan dan cara bicara. Pakaian Margono tetap saja kotak kotak, musik masih koes plus dan Jaipongan.Majalahnya adalah Anita Cemerlang kiriman dari tanah air.Dan style bicaranya persis anak gunung yang baru turun kota. Tidak heran, ketika Margono bercerita tentang betapa sok nya orang Jakarta waktu dia pulang dulu, " Penjaga butek ( maksudnya butik ) di Ratu Plaza sok banget,waktu aku muasuk liat liat jham tangan, eh mereka chuek chuek ajah,nggah tau dia kalo guah dari Amerika?" Ingin benar kami meralat pemikiran Margono bahwa para penjaga toko itu sebenarnya tidak melihat seorang Amerika yang masuk datang ke toko,tapi seorang dusun yang berlagak kaya dan nekad melihat lihat jam dan perhiasan mahal ,sebuah hobby eksklusif orang kota besar.Ya penampilan Margono mesti dipermak habis habisan bila ingin mengikuti kultur modern manusia metropolis. Saking marahnya Margono di toko itu, dia melampiaskan dendam karena merasa terhina dengan membeli sebuah arloji mahal. " . Aku bilang sama mereka, aku mau beli jham ini.mereka kaget seperti tidhak percayah,dikiranya aku muiskin banghet kali yah?Aku keluarken ajah American Expressku,hahaha" Margono tergelak penuh kemenangan mentertawai para penjaga toko, dan kami jelas ikut tertawa, ya mentertawai dia lagi.. ( Margono lupa bahwa dengan membeli Jam, yang menang sebenarnya justru para salesman penjaga toko yg bakalan dapat komisi, sedang dia sendiri sebenarnya kalah karena harus bayar hutang AMEX bulan depan ) Betapa senangnya Margono melihat kami tertawa bersamanya. Untuk mengucapkan rasa senangnya, Margono menyuruh Istrinya yang sibuk di dapur agar menyiapkan dinner sedikit lebih cepat. Ya Margono tidak begitu penting bagi kami, yang kami tuju sebenarnya adalah makanan gratis buatan Istrinya. Ikan pindang , tempe goreng dan sayur asem buatan mereka alangkah lezatnya.Itu yang penting.. Margono bukan orang yang berduit. Seperti kebanyakan dari keluarga imigran disini, hidupnya pas pasan. Apartemen tempat dia tinggal kelihatan kumel. Margono menghidupi istri dan 2 anak dari bekerja di pabrik perakitan komputer punya seorang pengusaha Indonesia dengan gaji sedikit diatas standar minimum. Bahasa Inggrisnya belepotan, begitu juga bahasa Indonesianya. Dan seperti tradisi yang dijalani ditanah air, kami yang merasa lebih intelek ,lebih berduit dan nampak lebih berkelas, selalu menganggap Margono berada di strata kasta kelas bawah. Seperti layaknya orang yg berkasta tinggi dan agung, kami tentu selalu berusaha untuk kelihatan ramah didepan Margono dan orang orang sekelasnya.Walaupun selama ini dibelakang Margono, kami selalu menjadikan dia objek ejekan yang terbaik pembuat suasana segar diantara kalangan "intelektual " Itu baru kami, manusia yang sedikit lebih berduit dari Margono, Kami sudah tahu bagaimana memperalat orang bawah,menipu dan mencari keuntungan dari mereka. Itu baru kami, yang di Jakartapun sebenarnya masih tinggal di gang becek, sehingga kami jelas masuk golongan kasta rendah juga,yang sering diperalat dan dihina pula oleh para new priyayi dan birokrat. Bagaimana dengan para elit intelektual dan para bangsawan bergelar yang tinggal di awan awan sana terhadap kelas Margono? Ya, jangan salahkan kami, adat istiadat ,kultur timur itulah yang sebenarnya yang sedang kami jalani.Ya jangan hujat kami ketika kami tertawa mendengar pertanyaan Margono pada penceramah Ahmad Padang seorang bekas diplomat di Konsulat tempo hari dipengajian bulanan " Menggosok gigi itu membatalkan puasa tidak?" Karena kami adalah produk pendidikan dalam negeri, karena kami selama ini diajari untuk membeda bedakan antara manusia kampung dan kota, antara cendikiawan dan orang biasa, antara yang berduit dan yang tidak berharta, Antara yang berkopiah beragama dan yang tidak mengucaapkan asalamualaikum bersekuler calon penghuni neraka. Margono yang kami temui itu Margono 3 tahun yang lalu. Manusia yang selalu jadi bahan olokan dan standar membedakan antara orang kota dan kampungan ini sekarang sudah berubah . Bukan, bukan perubahan culture dan model pakaian yang terjadi pada Margono,omongan dia tetap saja medok bagai orang pinggiran. Bacaan dia tetap majalah yang sama.Selera musik juga begitu. Yang berubah dari Margono adalah sekarang dia bekerja di XEROX. Walaupun jabatannya tidak tinggi, dengan gaji 14 dollar perjam dan sejumlah over time ditambah bonus dan benefit asuransi yang bagus, sebenarnya Margono meninggali jauh rata rata income imigran dari Indonesia disini, termasuk kami.... Seperti hidup dimanapun, setiap kali melihat orang yang ber income lumayan kami lalu menaruh respek.. Tiba tiba saja Margono jadi nampak intelek... Hasan Basri ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 5 Feb 1999 jam 20:06:36 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
