----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Duduk di ruangan tamu rumah Sudwikatmono di Hillcrest
Street di Beverly Hills. Saya termangu dan takjub. Ah betapa
mewahnya itu dekorasi ruangan. Marble lantai yang mengkilat
itu pasti diimpor dari Itali. Grand Piano yang teronggok didekat
sofa raksasa betapa anggunnya.Lukisan didinding pasti karya
seni yang tidak ternilai .Pajangan porselen didekat tangga marmer
yang berkilatan itu pasti lebih mahal dari mobil Mitsubishi bekas
harta kebanggaan saya satu satunya..Saya memang takjub tapi terus
terang tidak tertarik untuk tinggal disini, ya di istana yang lebar dan
luas ini...

Sebuah istana bagi orang kecil macam saya terlalu mewah dan luas.
Terlalu banyak space dan nampak kosong melompong.Memang manusia
selalu memerlukan space untuk privacy. Menurut seorang psikolog
manusia butuh sekian kubik ruangan bagi dirinya sendiri agar tidak
mudah dilanda stress dan depressi.

Tapi sebuah Istana selalu kelebihan space. Terlalu banyak ruangan,
terlalu besar ,too grande.Sehingga selain membuat penghuninya
nampak kerdil, suasana dingin akan nampak dominan.itulah sebabnya
setiap kali saya berbicara dengan manusia lainnya dalam sebuah
ruangan yang besar, saya selalu merasa stress seolah semua dinding
dan langit langit ruangan mengintimidasi dengan kepongahan ukurannya.
Seolah saya ini cuma seekor semut yang tidak berarti. Dan itulah
sebabnya begitu mbak Tri, putri sudwikatmono itu muncul, saya merasa
dia nampak seolah olah bukan manusia. Dia lebih mirip dengan ratu
Vampire yang menguasai castle dingin penuh setan dan dedemit.

Begitu juga semua gedong capitol dan musium yang saya kunjungi
selama ini. Ruangannya memang indah, dekorasinya menawan.
Tapi jelas saya tidak pernah berselera untuk tinggal di sebuah kuil sebesar
ini. Saya tidak tertarik...Kebesaran bangunan akan mematikan keakraban
antara manusia. dan merenggangkan jarak diantara kita.

Sedang dalam apartemen saya yg kecil, saya selalu merasa besar.
Saya adalah central  dan selalu begitu nampak penting. Dalam ruangan
yang tidak luas, saya selalu duduk berdekatan dengan teman teman
yang saya undang makan malam. Bersandar dengan vicky didepan tv
menikmati kehangatan manusia.dan merayakan jarak yang tidak berjauhan
itu dengan leluasa.

Anda akan bilang saya cuma kopensasi bukan?silahkan..
Jelas saya tetap ingin menjadi orang kaya, jelas saya ingin sekaya
Sudwikatmono, tapi untuk memiliki sebuah istana..wah..ntar dulu.

Tahukah anda kenapa penghuni Istana selalu mempunyai skandal
disana sini?Tahukah anda sebuah rumah yang terlalu luas membuat
jarak diantara penghuninya semakin jauh?akibatnya Bapak dengan
anak kurang komunikasi?Istri dan Suami punya privacy sendiri sendiri?
Untuk memanggil anaknya yang berada dikamarnya atau dikolam renang
orang tua mesti memakai telepon?memanggil pembantu dengan intercom?

Inilah saya si anak kampung, walaupun sudah banyak melihat
Istana dari mansion di Beverly Hills sampai Biltmore tetap
berkiblat dengan rumah ukuran kecil. Mungkin karena saya
terlalu lama tinggal di Jalan Haji Jalil. Rumah tua yang pintunya
nampak rapuh, dapurnya kecil, memasak dengan kompor
minyak,mandinya menggayung dari bak.tapi jarak diantara
manusia tetap terpelihara. Tamu tamu yang masuk kita kenal
dan duduk bersama. Obrolan selalu hangat terasa. Tetangga
yang ribut disebelah sana juga masih dapat kita nikmati.
omelan diantara suara berisik bemo yang sedang melintas adalah
merupakan hiburan tersendiri.

Anda boleh ileran setiapkali melihat rumah besar di pondok
indah, tapi jika saya berduit, saya akan tinggal di Bintaro
atau Bogor saja. mencari rumah ukuran sedang berkamar
tiga. Jelas saya tidak butuh ruangan raksasa dan piano
raksasa. Satu satunya yang space luas yang saya ingini
adalah taman didepan dan belakang rumah.Diruangan terbuka
ini saya tidak pernah merasa ter intimidasi. Bersama anak
saya kelak, saya akan bermain bola, diantara istirahat saya
akan tunjukan padanya atap besar bernama langit. Lalu saya
bilang bahwa Jarak manusia dengan pencipta langit itu
adalah sedekat jarak antara saya dan dia ketika nonton
tv bersama, nonton bioskop bersama,makan gado gado
bersama,bergumul memperebutkan bola bersama.
Jangan biarkan jarak itu renggang lantaran  Istana
dan mega egomania...



Hasan Basri

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 7 Feb 1999 jam 12:42:45 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke