----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

From: Pendamba kemerdekaan

MEGAWATI COCOK SEBAGAI FIGUR PIMPINAN YANG AKAN DATANG

Saya menulis sebagai sebuah sanggahan terhadap pendapat-pendapat bahwa
Megawati dengan PDI Perjuangan-nya tidak memiliki visi. Bahwa Megawati
tidak cukup pandai untuk menjadi pemimpin negara Indonesia. Kalau kita
melihat sejarah, terlihat bahwa Megawati tidaklah sebodoh yang
diungkapkan oleh pihak-pihak yang merasa sok pintar. Megawati adalah
salah satu dari sedikit tokoh oposisi dalam jaman Orde Baru yang
berhasil lolos dari incaran Soeharto meskipun ia tetap konsisten dengan
pendiriannya. Ketidakberhasilan Soeharto menemukan lubang untuk
memenjarakan Megawati menunjukkan kelihaian Megawati dalam berpolitik.
Contoh lain kemampuan Megawati bepolitik adalah kemampuannya
memandirikan PDI Perjuangan dan membesarkannya dari partai gurem menjadi
partai besar yang ditakuti oleh Golkar pada jaman keemasan Soeharto. PDI
yang semula adalah partai yang selalu gontok-gontokan berubah menjadi
partai yang solid dibawah Megawati. Di sini terlihat kemampuan Megawati
mengakomodir berbagai perbedaan kepentingan anggota partai, suatu
kemampuan yang mutlak untuk jabatan seorang presiden dari suatu negara
yang memiliki berbagai suku, agama, ras dan golongan. Figur Megawati
bukanlah figur yang ekstrem yang hanya memenangkan kepentingan
golongannya dengan mengorbankan kepentingan nasional yang lebih besar.

Alasan kedua yang membuat saya mendukung Megawati dan PDI Perjuangannya
adalah konsistensi dalam perjuangan. Berapa orang dari tokoh-tokoh yang
mengaku reformis berani dan konsisten mempertahankan perbedaan
pendapatnya dengan Soeharto pada jaman kejayaannya ? Amin Rais pada saat
itu bermesraan dengan Habibie yang kaki tangan Soeharto di ICMI. Para
sempalan Golkar yang mendirikan berbagai parpol baru menyembah-nyembah
Soeharto dan mengamini semua korupsi yang dilakukan oleh keluarga
Cendana. Inikah orang-orang yang menamakan dirinya tokoh reformasi yang
merasa mampu memimpin Indonesia ? Ketulusan orang-orang yang tiba-tiba
menjadi reformis perlu diragukan. Mungkin saja teriakan reformasi keluar
dari mulut mereka karena mereka berpikir inilah satu-satunya jalan untuk
selamat dari perubahan jaman yang terjadi di Indonesia.

Banyak orang yang berteriak reformasi sebenarnya tidak lebih dari
tikus-tikus baru yang kembali akan menjadi koruptor-koruptor di
Indonesia. Ketulusan dan kejujuran mereka perlu diragukan karena mereka
ikut menikmati kekorupan rejim Soeharto, tetapi ketika Soeharto jatuh
mereka menghujat Soeharto dan berpura-pura anti korupsi. PDI Perjuangan
paling tidak telah membuktikan dirinya tidak terbeli oleh kuatnya dollar
yang mengalir dari yayasan-yayasan Soeharto. Orang-orang yang terbeli
telah berada di kubu Soerjadi dan tidak akan dapat kembali ke PDI
Perjuangan. Kita bisa bayangkan bagaimana godaan yang diterima oleh
Laksamana Soekardi, Kwik Kian Gie, Alex Litay, dkk untuk membelot dari
Megawati. Tetapi mereka tetap konsisten membela kebenaran meskipun
mendapat ancaman maupun iming-iming materi yang tidak sedikit.

Terakhir, pengkritik PDI Perjuangan menyatakan bahwa PDI Perjuangan
tidak memiliki visi dalam memimpin Indonesia. Yang ingin saya tanyakan
visi apakah yang diinginkan oleh orang-orang ini ? Problem utama
Indonesia bukanlah kesulitan mendapatkan orang-orang yang pintar, tetapi
mendapatkan orang-orang yang memiliki integritas yang tinggi. Inilah
yang paling penting untuk Indonesia. Saya hanya melihat dua tokoh yang
memiliki konsistensi integritas yang tinggi, yaitu Megawati dan Gus Dur.
Mungkin kalau ada tokoh ketiga, Sri Sultan.

Problem ekonomi Indonesia tidak akan pernah selesai selama pemerintah
kita masih korup. Bagaimana Thailand dan Korea yang memiliki
pemerintahan bersih dapat keluar dari krisis lebih cepat dari Indonesia.
Bagaimana juga Singapura yang memiliki pemerintahan bersih tidak
tertimpa krisis ekonomi. Karena pemerintahan yang bersih akan
menyebabkan penyelesaian masalah ekonomi lebih bersih dari konflik
kepentingan. Ini yang sampai sekarang belum ada di Indonesia. Konsep
ekonomi pasar yang diterapkan oleh Soeharto tidaklah salah, yang salah
adalah implementasi pada skala mikro yang menyebabkan distorsi pasar.
Ini disebabkan Soeharto hanya ingin memenangkan kroni-nya dalam
berbisnis. Sekarang sudah terlihat terbentuknya kroni-kroni baru yang
terdiri dari orang-orang yang dekat dengan Habibie. Sistem ekonomi
kroni-lah yang membangkrutkan Indonesia. Ekonomi Indonesia harus
berdasarkan persaingan di pasar. Yang paling efisien yang menang, karena
hanya dengan cara ini pengusaha Indonesia dapat survive dan memenangkan
pertarungan di tingkat dunia.

Pendamba Kemerdekaan

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 9 Feb 1999 jam 08:50:47 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke