---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- SOLID-NET Diterbitkan oleh SOLIDAMOR Jl. Parmuka Jaya Sari No. 9 Jakarta Pusat Telp. (021) 4226348 Faks (021) 4224079 E-mail: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] HABIBIE CUCI TANGAN SOAL TIMOR TIMUR Jakarta (Solid) Untuk ketiga kalinya Presiden Habibie melakukan manuver "cukup cantik" dalam masalah Timor Timur. Pertama penerus Soeharto itu menawarkan status khusus otonomi luas bagi Timor Timur, tak lama setelah dilantik Soeharto. Kemudian, gebrakan kedua Habibie adalah "pertunjukan sinetron" penarikan pasukan ABRI dari Timor Timur pertengahan tahun lalu. Kini, sidang kabinet yang dipimpinnya kemarin (27/1) memutuskan beberapa hal penting bagi masalah Timor Timur. Dengan penuh emosi Menlu Ali Alatas menjelaskan kepada para wartawan didampingi Menpen Yunus Yoesfiah - orang yang dituduh sebagai pembantai lima wartawan asing di Balibo tahun 1975 - lalu. "Kami menanggapi secara positif usulan Sekjen PBB agar Xanana Gusmao diberi tahanan rumah," demikian Ali Alatas yang selama ini menyebut Xanana sebagai seorang kriminal. Tetapi lanjut Alatas, tahanan rumah tidak dikenal dalam hukum Indonesia. Sebab itu kini sedang disiapkan rumah khusus yang nantinya adalah cabang dari LP yang kita kenal sekarang ini. Selain tentang Xanana sidang kabinet itu juga tetap mengusulkan otonomi luas sebagai solusi akhir tanpa embel-embel apa-apa. Dan yang ketiga, jika usulan otonomi diperluas tadi tetap ditentang rakyat Timor Timur, maka Pemerintah Indonesia "mengancam" akan meminta para wakil rakyat nanti (hasil pemilu) untuk mempertimbangkan kemungkinan melepaskan Timor Timur. Tak pelak berita yang disiarkan di beberapa TV itu membuat rakyat Timor Timur bergembira. Beberapa aktifis Timor Timur di Jakarta yang sempat dihubungi Solid menyatakan senang, meskipun tetap bertanya-tanya apa maksud sebenarnya Habibie tersebut. Dibanding pendahulunya Soeharto, dalam soal PR (humas) Habibie memang lebih jago. Habibielah orang pertama yang mengerti, bahwa ternyata tapol/napol itu merupakan semacam komoditi non-migas, sehingga bisa diperdagangkan atau ditukar dengan bantuan luar negeri. Untuk itulah ia membebaskan beberapa tapol/napol, tidak seluruhnya. Habibie juga yang pertama mengundang ratusan wartawan dalam dan luar negeri untuk meliput penarikan pasukan ABRI dari Timor Timur. Tentu saja setelah para wartawan itu pulang ke Jakarta, tentara-tentara itu datang kembali ke Timor Timur. Dengan usulan melepaskan Timtim lewat SU MPR nanti, membuktikan bahwa Habibie adalah presiden yang tak punya legitimasi di sati sisi, juga tak bertanggungjawab atau tak berani membuat keputusan bersejarah. Tetapi tetap saja mengulur-ulur waktu - bahkan "cuci tangan" seperti Soeharto, profesor politiknya. Menurut Lopes, aktifis asal Timor Timur yang tinggal di Jakarta, usulan atau ancaman Habibie tentang kemungkinan melepas Timtim lewat para wakil rakyat hasil pemilu mendatang, adalah Indonesiacentris. Cara pandang Indonesia ini jelas salah karena yang paling berhak menentukan nasib Timor Timur adalah rakyat Timor Timur. "Meskipun para wakil rakyat nanti dipilih secara demokratis, tetaplah tidak ada hak sama sekali menentukan nasib kami," tambah Lopes. sebab itu yang paling elegan harus dilakukan Indonesia adalah bersama PBB dan lembaga-lembaga internasional lainnya mempersiapkan refrendum yang adil dan demokratis, sesuai prinsip-prinsip hukum internasional. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 9 Feb 1999 jam 08:52:35 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
