----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

SIARAN PERS SOLIDAMOR tentang PERTEMUAN GUSMAO-GUSDUR
027/SLD/I/99

Kepada Yth,
Rekan-rekan Media Massa
Di Jakarta

Dengan hormat,
Seperti yang telah direncanakan pada hari ini, Selasa 2 Pebruari 1999 di LP
Cipinang Jakarta, bertemu dua Gus, yaitu Xanana Gusmao Presiden CNRT
(Conselho Nacional da Resistensia Timorese/Dewan Nasional Perlawanan Bangsa
Timor) dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Ketua PB Nahdlatul Ulama. Pertemuan
yang difasilitasi Solidamor itu dimulai jam 09.00 WIB dengan photo bersama
kedua tokoh tersebut dan tukar menukar cinderamata. Gusdur membawa oleh-oleh
berupa baju batik motif prada lengan panjang biru nomor 16,5 yang sempat
dicoba dan ternyata pas ukurannya untuk Xanana serta sebuah kartu ucapan
pesan perdamaian. Sementara itu Gusmao juga memberikan oleh-oleh berupa;
tais (selendang khas Timor bertuliskan Falintil), vas bunga, Le Zaival
(miniatur rumah adat Timor),  sekilo kopi (Cafi de Solidariedade ba
Solidamor) dan mamafatin  kotak anyaman yang biasa dipakai untuk sirih dan
pinang yang dikhususkan buat Ibu Sinta Nuriyah   istri Gus Dur; serta sebuah
buku berjudul FUNU: Perjuangan Timor Lorosae Belum selesai, karya Jose Ramos
Horta terbitan Solidamor.
Para wartawan diberi kesempatan mengambil gambar, kemudian  Dua Gus  itu
masuk ruang khusus bersama aktivis Solidamor Bonar Tigor Naipospos, Maria
Pakpahan, Helmy Fauzy dan Tri Agus S. Siswowihardjo, serta Kalapas Cipinang
Sobari. Selain itu rombongan Gusdur antara lain Aristides Katoppo, Rozi
Munir dan Sastro.
. Dalam pertemuan yang sangat santai itu   bahkan saling tukar-menukar
joke/cerita lucu -  kedua tokoh Indonesia dan Timor Timur itu membicarakan
situasi terakhir Timor Timur menyusul kebijakan pemerintah akan melepas
Timor Timur dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), jika tawaran
otonomi diperluas ditolak rakyat Timor Timur.
Kepada Gus Dur, Xanana  mengkhawatirkan terjadinya kekerasan terutama akibat
milisi sipil yang dipersenjatai oleh ABRI. Kamra atau Ratih ini jumlahnya
diperkirakan 20.000 orang. Merekalah yang membuat rakyat tercekam dalam
ketakutan dan menyebabkan pengungsian.  Kamra di Timor Timur harus
dihapuskan, karena keberadaannya justru membuat rakyat tidak aman.  Ujar
Xanana. Tidak akan terjadi perang saudara di Timor Timur, kalau tak ada
senjata di sana, jelas Xanana. Menyangkut mengenai status tentang
kepindahannya dari LP Cipinang, bagi Xanana ditempatkan di manapun tak
masalah, sejauh dapat bermanfaat bagi penyelesaian damai masalah Timor
Timur.

Sementara itu Gus Dur kepada Xanana menyampaikan bahwa sebagai orang
Indonesia dirinya lebih senang jika Timor Timur tetap dalam NKRI, tetapi
bagaimana pun yang paling penting adalah pendapat rakyat Timor Timur sendiri
dan mereka yang berhak. Gus Dur juga menyarankan diadakannya rekonsiliasi di
antara orang-orang Timur Timur, pesan ini juga berlaku untuk semua kalangan
dan bukan hanya untuk Timur Timur semata. Selain itu Gus Dur juga menghimbau
kepada rakyat Timor Timur untuk menciptakan ketenangan di antara kelompok
baik yang pro referendum maupun pro integrasi.  Ini adalah kunjungan saya
yang pertama, dan bukan yang terakhir. Saya juga akan bersurat-suratan
dengan dia,  ujar Gus Dur.
 Di tengah pertemuan, Xanana yang penulis puisi itu mendapat kartu dari Gus
Dur yang kemudian dibacanya. Kartu ini memuat  karya Konakovic Mesad (9
tahun) seorang bocah dari Bosnia Herzegovina. Inilah puisi yang dibaca
Xanana :

If I could I would stop the War

If I could I would stop the War
Disappear from my town,
>From my country and from the whole world.

I would like to be
someone very important and big,
So I could send all these weapons
To the skies, into the sea and under ground.
I would make a rose, a rainbow and a pigeon instead.
The rose I would give to my teacher
The rainbow should be in rememberance of mother.
To the pigeon I would give a letter
for all my dear ones,
telling them that the war is over
and that I love them very much

Jakarta, 2 Pebruari 1999
SOLIDAMOR

Tri Agus S. Siswowihardjo
Media Relation

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 9 Feb 1999 jam 08:54:00 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke