---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- GUS DUR DAN LANGKAH-LANGKAHNYA oleh P. Siswantoro Dikabarkan Gus Dur menemui mantan Presiden Soeharto untuk kesekian kalinya di Cendana, dan untuk kesekian kalinya tokoh kita ini membingungkan masyarakat. Tetapi dalam kebingungan itu banyak pengamat mencoba memberikan analisis intelektual, yang mencoba "memahami" Gus Dur, mencoba menjelaskan "rational" dari langkah-langkah itu. Hampir tidak ada yang mengecamnya, apalagi mengecamnya secara terbuka. Mengapa hal itu sedemikian, baiklah kita telusuri sebab-sebabnya. Kira-kira ada lima: (1) Orang punya anggapan dasar bahwa Gus Dur tidak pernah salah. Ada suatu sifat yang "infallibilis" dalam segala kata dan keputusannya: selalu benar, selalu jujur, selalu punya alasan suci. (2) Orang punya anggapan bahwa Gus Dur tidak pernah berbohong, baik untuk menyelamatkan diri atau memojokkan orang lain. (3) Ada anggapan bahwa Gus Dur amat pandai dan cendekia, pintar mengambil langkah yang sangat canggih, demikian canggihnya sehingga tidak dapat dipahami dengan akal biasa. (4) Orang gentar untuk mengecam Gus Dur, karena ia pemimpin NU, yang dikatakan beranggotakan 30 juta manusia. (5) Orang, khususnya kalangan minoritas, kalangan Kristen dan Katolik, cemas kalau Gus Dur jatuh, maka Indonesia akan kehilangan satu-satunya pelindung mereka di kalangan Islam. Dengan sebab-sebab di atas, kita "memahami" terus menerus Gus Dur, meskipun kita sekarang melihat perubahan sikap Gus Dur 180 derajat terhadap Soeharto. Dan ini bukan yang pertama kalinya. Marilah kita ingat, bahwa tiga tahun sebelum Kejatuhan, Gus Dur pernah menjadi musuh Soeharto, setelah kata-katanya yang mengecam Soeharto dikutip oleh Adam Schwarz dalam bukunya "A Nation in Waiting". Ia sebelumnya juga menjadi orang nomor satu dalam "Forum Demokrasi", yang merupakan salah satu pelopor suara anti-Soeharto setelah "Petisi 50". Kemudian Gus Dur tiba-tiba berbalik. Gus Dur bukan saja bersalaman dengan Soeharto, tetapi juga mendampingi Tutut berkampanye, dan menyatakan dalam statemen terbuka, bahwa "Mbak Tutut adalah calon pemimpin masa datang". Kita bingung, tetapi kita semua mengangguk-angguk, kagum, dengan mulut ternganga, dan mencoba mencari-cari alasan yang "maton", dan meskipun tidak ketemu, kita tetap berkesimpulan: "Wah, ini tentu langkah Gus Dur yang cantik, yang sebegitu rupa halusnya sehingga kita tidak paham". Sekarang, setelah Soeharto jatuh, terpuruk dan terisolir, dan dituduh menjadi dalang segala macam keonaran di Indonesia, Gus Dur tiba-tiba melakukan dua hal. Pertama, menyebar-luaskan teori bahwa Soeharto itu masih kuat dan masih banyak pengikut. Disadari atau tidak, pandangan ini menaikkan "kurs politik" Soeharto, sehingga masyarakat akan memaklumi, jika sampai sekarang Habibie dan Wiranto tidak berani mengusut harta Soeharto, apalagi menahannya untuk dibawa ke pengadilan. Kedua, mendatangi Soeharto di Cendana. Aneh sekali, bahwa sang pemimpin NU (katanya dengan 30 juta pengikut!) sampai merendah datang ke tempat tinggal Soeharto, notabene orang yang dinyatakan sebagai dalang dari keonaran. Padahal biasanya orang lainlah -- termasuk tokoh seperti Megawati dan Kardinal -- yang datang ke tempat Gus Dur di Ciganjur. Datangnya Gus Dur ke Cendana telah mengakhiri posisi Soeharto yang ter-isolir. Soeharto kembali menjadi tokoh yang kuat dan terhormat. Langkah menerobos isolasi ini perlahan-lahan sudah dimulai Soeharto sendiri dalam acara Hari Raya Idul Fitri di Istana Kalitan, Sala. Menarik untuk mengikuti laporan pendek Majalah "Gatra" yang wartawannya hadir di Kalitan hari itu. Menurut "Gatra", Soeharto menjelaskan mengapa ia mundur. Ia mengakui ia gagal menyelesaikan krisis ekonomi, tetapi ia menyebut adanya kekuatan asing yang mendorong kejatuhannya. Dulu kekuatan itu mendukungnya karena ia anti-komunis. Kini kekuatan itu tidak mendukungnya karena ia dekat dengan Islam. Dalam acara itu, hadir Mbah Lim, ulama (NU) yang dulu dekat dengan Prabowo, mengatakan bahwa "Pak Harto itu pemimpin Islam". Kembali di sini kita lihat Soeharto memainkan "kartu Islam" dan "kartu anti-asing", untuk mengawali proses penerobosan isolasi ini. Meskipun Gus Dur tidak pernah memakai dua kartu itu, Gus Dur ikut aktif dalam membantu Soeharto; ia meletakkan Soeharto pada jalur di mana ia dapat membentangkan jaringannnya. Paling sedikit, jaringan itu berguna untuk melindunginya dari pengusutan dan penangkapan atas diri dan keluarganya. Sekarang perlindungan ini hanya memakai kekuatan militer, Wiranto. Masih diperlukan sayap lain, yaitu dukungan sosial-politik. Gus Dur menyediakan diri untuk ikut dalam membentuk sayap pelindung sosial-politik itu. Entah apa yang diperolehnya dari "service" itu. Belum diketahui apakah ada "deal" antara dia dan Soeharto menjelang pemilu nanti, ketika partai-partai harus mengerahkan segala kekuatan dana dan tenaga ("funds and forces")-nya. Di pihaknya Soeharto tidak akan ragu untuk mengadakan "deal". Logis jika Soeharto melihat ke masa depan, ke masa setelah pemerintahan baru terbentuk. Ia tentu harus mengotak-atik agar kelak yang akan lahir adalah sebuah perimbangan kekuatan politik yang tidak akan bisa mendesakkan keluarga Cendana dan dirinya untuk dijatuhi hukuman. Gus Dur bisamenolongnya. Akhirul kalam, sudah saatnya kita mengemukakan kritik terbuka kepada Gus Dur. Tidak ada manusia yang "infallibilis" tak pernah salah. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 9 Feb 1999 jam 09:50:05 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
