----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Rekomendasi Hasil Kongres Mahasiswa Dan Pemuda Aceh Serantau

Suatu realitas historis yang tidak dapat diragukan lagi eksistensinya, bahwa
baik secara de facto maupun dejure, Aceh bukanlah bahagian dari negara
kesatuan Repiblik Indonesia. Tetapi  pemerintah kolonial Belanda telah
menyerahkan  negara Aceh pada pihak lain kepada Indonesia secara ilegal dan
dikarenakan persepsi agama, kejuangan dan tujuan yang sama  rakyat Aceh
dengan
penuh loyalitas menominasi perjuangan dan pemerdekaan Indonesia yang
kemudian
lahir pada tahun1945.

Namun kenyataan historis lainnya paska integrasi ilegal tersebut, Republik
Indonesia menunjukkan kontradiksi dan a historis yang dashyat dalam
memperlakukan Aceh sebagai apa yang didengungkan telah menjadi anak
negerinya,
dengan meleburkan Aceh kedalam propinsi Sumatera sehingga menimbulkan
perlawanan rakyat (DI/TII) terhadap pemerintah pusatdibawah pimpinan orde
lama
Sukarno dantelah menggugurkan ribuan rakyat Aceh ditangan TNI serta merusak
tatanan sosiokultural Aceh dengan amat tidak manusiawi.

Adapun pengkhianatan lanjutan diorganisir oleh rezi orde baru Soeharto
dengan
mengabaikan keadilan terhadap rakyat Acehsetelah mengeksploitasi hasil bumi
secara besar-besaran dan tanpa perimbangan yang adil dan objektif antara
pusat
dan daerah. Sementara status Aceh sebagai daerah istimewa hanya dijadikan
strategi pemerintah pusat untuk meredam kehendak rakyat, maka perlawanan
baru
" Aceh Merdeka" kembali memperingatkan perilaku perilaku dan tradisi
pemerintah pusat. Tetapi Soeharto dengan strategi militernya melibas
kelompok
pejuang tersebut. Bahkan tidak cukup dengan kekejaman itu, rezim orde baru
kembali menggunakan kekuatan militernya untuk membantai etnis Aceh secara
sistematis dengan suatu alasan yang diorientasikan pada adanya pemberontakan
baru yang disebut dengan  GPK. Dari sini jelas ribuan etnis Aceh dibantai
dengan cara-cara primitif dan tanpa prosedur hukum yang jelas yaitu via
pemberlakuan "Daerah Operasi Militer" (DOM) pada tahun 1989 sampai 1998
sehingga telah menghasilkan kuburan-kuburan massal, sebagai bukti
pelanggaran
HAM secara besar-besaran.

Bahkan ironisnya pada era reformasi ini dan psaca pencabutan status DOM pada
tanggal 7-8-1989 yang lalu, keadilan  di Aceh tetap menjadi impian belaka,
malah operasi militer dalam wajah baru dengan sandi "Operasi Wibawa `99"
kembali digelar di Aceh awal Januari yang lalu sebagai konsekuensi dari
anggapan adanya gerakan Aceh Merdeka, operasi Wibawa inipun memakan banyak
korban rakyat sipil, termasuk wanita dan anak-anak seperti dalam operasi
militer sebelumnya serta operasi militer yang represif berjalan sampai saat
ini. Dan yang sangat memilukan hati adalah pembantaian para tawanan di
gedung
KNPI TK II Aceh Utara.

Lintas historis yang sangat tragis tersebut kiranya menjadi pelajaran dan
pengenyam pengalaman historis seluruh rakyat Aceh untuk mengambil sikap
final
dalam kontek berintegrasi kembali kepangkuan RI yang tetap mempuyai tradisi
klasik dalam pelanggaran HAM dan perilaku ketidakadilan.
Sementara itu disisilain kondisi realitas objektif yang sedang berkembang
selama ini mengindikasikan suatu kejenuhan hebat yang lahir dari
ketidakpercayaan rakyat Aceh terhadap pemerintah pusat untuk melanjutkan
integrasi ilegal dengan negara kesatuan yang bernama Republik Indonesia.
Kehendak rakyat Aceh tersebut tentunya sangat realistis  karena ditempa oleh
pengalaman dan sejarah yang  suram. Pelanggaran HAM yang brutal dan
ketidakadilan yang  terus menerus  baik  secara ekonomis maupun yuridis dan
bahkan telah mengalami trauma phisikologis yang mencekam dan menyiksa
hak-hak
kemerdekaan manusia universal yang demokratis dan damai.

Bertitiktolak dari realitas historis dan kondisi realitas objektif yang ada
itu maka dapat itu maka dapat dipastikan bahwa telah terjadi Neokolonialisme
yang  diorganisir oleh pemerintah Indonesia dalam masa orde lama, orde baru
dan orde reformasi ini. Karenanya jelas pula bahwa solusi otonomi luas,
negara
federasi dan pembentukan kembali Kodam Iskandar Muda tidak akan mampu lagi
mempresentasikan dan menginterprestasikan keinginan universal rakyat Aceh
dalam bingkai negara kesatuan  Republik Indonesia. Bahwa pelaksanaan
otonomi,
negara federasi dan pengembalian Kodam Iskandar Muda hanya akan menjadi
strategi baru negara RI untuk menjerat rakyat  Aceh  dalam ketidakpastian.
Maka dengan misi, visi dan opsi Kongres Mahasiwa Dan Pemuda Aceh Serantau
menyatakan bahwa untuk penetuan nasib sendiri berdasarkan kemerdekaan,
kebebasan dan keadilan bagi semua rakyat Aceh secara damai dan demokratis ,
REFERENDUM merupakan jalan terbaik untuk menuju negara Aceh yang merdeka dan
berdaulat. Sedangkan pelaksanaan Referendum tersebut harus diawasi oleh PBB
atau lembaga Internasional yang ditunjuk dan dilegitimasi oleh PBB.

Banda Aceh, 4 Februari 1999

Prisidium Sidang Kongres Mahasiswa Dan Pemuda Aceh Serantau

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 9 Feb 1999 jam 09:56:50 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke