----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

PERKEMBANGAN CATUR YANG HARUS DIAWASI.

WATAK MALING COPET KECIL
Dalam sikap hidup bangsa kita sering ada watak yang aneh, yaitu
menyerobot pindah jalur mencuri target secara sluman-slumun, dan secure
posisi maling baru.  Lalu se-olah2 tidak terjadi apa2 berteriak2
indignant (=seperti tersinggung) sambil internally cengengesan puas diri
telah menang.  Di kemudian hari dia akan membanggakan  kehebatannya
menang tanpa banda / menang tanpa modal ini sebagai kelihaian.
Quirk (=sifat aneh) ini tentu saja bukan monopoli orang Indonesia.
Tetapi dengan menyebar diantara penguasa tanpa perlawanan (bahkan sering
kali benar2 dipuji sebagai  cerdas ) adalah sebuah patologi sosial
gawat.   Sifat ini juga luas pada golongan tradisional,  mungkin
merupakan kombinasi dari ketidak-percaya-dirian (low self esteem) dan
otoriti (kekuasaan) yang ketinggian pada saat belum matang.   Jelas ini
legacy dari kultur soe.

Hal ini terlihat sangat jelas pada kasus2 minggu ini, menkop sasono
dagang daging sapi, setelah gagal dagang sapi politik, dia coba2 cari
untung dari dagang daging sapi India yang penuh koreng tapi murah.  Main
serobot, lalu ngamuk setelah ketanggor, dan memakai any-old-thing
(sebarangan) alasan.   Nasionalisme, pembelaan rakyat kecil.  Untuk
urusan komisi kecil2an. Masalah sesungguhnya dari persapian ini
sebenarnya clear.  Impor daging dari negara yang tidak diakui sehat
harus melalui prosedur, jika tidak maka pengimpornya akan di downgrade.
Jadi kalau mau impor India ya penuhi standarnya.  India tidak bisa, lalu
maksa.  Ini aneh, karena daging sapi bukan komoditas utama, harusnya
tidak perlu seurgen ini, malah cukup dengan pengembangan dalam negeri.
Kecuali ada titipan lain, komisi, atau  pesan rakyat  pura2 perang jihat
palsu.   Seandainya tidak ketanggor , pastilah sasono cengengesan sama
kroni2nya memuji diri betapa hebatnya mencari peluang.  Sama waktu di
jaman minyak goreng dulu.  Sasono memang tipikal otak jowo ruwet, asal
bisa nyabet merasa lihai.

Lalu tim habibi-akbar, dengan PP5 menjadi PP12 nya.  Sekelebat ada
kesempatan nyolong waktu ngetik PP tentang PNS ini, samber langsung.
Untung  digropyok  PPP.  Ketanggor.  Cengengesan, untung cukup waras
untuk tidak ngotot kaya copet di angkot (habibi lagi kesambet angin
baik, lihat bawah).

Contoh di militer sungguh meluas, karena kombinasi para petinggi militer
pas persis seperti diatas, kekuasaan kegedean, mentalita kurang matang,
dan low self esteem karena gaji kekecilan.  Malah sering keterusan
sampai sudah jendral pun (dsini, sudah jendral itu identik dengan sudah
milyarder) masih punya mental maling ini (sebaliknya tentu saja tidak
semua orang abri, si Perwira itu tampaknya tidak).  Soal ratih, yang
dibela oleh Perwira secara sangat aneh (studi sosial ? koq canggih bener
alasan untuk urusan simpel begitu ? biarlah, disinformasi internal) sama
persis.  Masuk glanggang, colong mlayu.  Ketanggor.  Militer gak
cengengesan tetapi cenderung ngamuk.
Lalu aktifitas2 disinformasi soal kerusuhan, selalu nyelonong dengan
penjelasan2 sekenanya, dari fitnah (awalnya tahun lalu ; komunis,
radikal atau any-old-things).  Ketanggor.  Cep-klakep (diam saja) dan
dendam.  Konangan.  Fitnah2 mahasiswa yang lucu2.  Ketanggor. Muter
terus selama nunggu pemilu.  Ini semua blatant, jelas2 kere.  Pembelaan
soal2 blas begini tentu benar2 ngelu.

Terus saja demikian.  Juga ke tanri abeng soal swastanisasi.  Menkeu
soal rekapitalisasi, yang malah ditumpangi habibi soal lippo nyolong
start dengan PP4.  Ketanggor.  Semi2 blingsatan tuding kiri kanan.  The
list is endless.  MPR dulu juga soal cincin emas  soal dana jamsostek
(kuno yah ?).  Lalu si jagung ghaib soal BMW.  Ketanggor.  Ndablek.
Disini kelihatan perbedaan etnis, kalau jowo ketanggor pasti  merasa .
Gak enak, jadi cengengesan atau ngamuk, karena merasa kesentil.  Kalau
saudara2 kita yang lebih ndablek2, seperti jagung ghaib itu.  Blas nggak
merasa.  Mereka cuma mikir, lo cuman ngomong atawa bisa tangkep gue ?
Kalo cuman ngomong sih gak rugi di kita !!

Beda sama Sasono lagi, jowo siji iki kalo ketanggor selalu coba2 bela
diri.  Walau ngawur2an logikanya, muternya selalu saja soal rakyat kecil
dibelain, bahkan untuk urusan2 yang gak nyambung.  Tetapi  merasa .
Habibi kurang merasa.  Tetapi untungnya dia masih concern sama
penampilan.  Jadi usaha ati2.  Ini pasti hasil guna punya dewi anwar.

Jaman soeharto lain lagi.  Yang  menanggori  dibikin modar.  Dan kroni2
soeharto, termasuk dalam bisnis anak2nya wis blas pedhot urat-malu.
Tanggor gak tanggor asal hasil.  Lihat si latif-sostek dulu.  Tanggor
blingsat-lapor soe.  Beres.  Dan jutaan kasus kain.

Apa kesimpulan dari treatise pendek soal watak jelek ini ?

Orang Indonesia kebanyakan memang tidak bisa menahan diri secara
bertanggung jawab / dewasa.  Masih banyak juvenile actions, karena tidak
pernah di disiplin kan secara hukum dan moral.  Tindakan2 potong kompas
begini memang secara praktis jauh lebih menguntungkan.  Ngirit.  Modal
kecil hasil besar.  Jadi sejauh dapat dilakukan tanpa resiko ya jelas
lebih baik.

Yang kita perlukan adalah menaikkan resiko bagi pelaku tindakan2 semacam
ini.  Raise the ante.  Tindakan2 shortcut hanya dapat dibuat tidak
menguntungkan dengan dipasangi hukuman.  Bisa hukuman moral, hukuman
material atau hukuman lainnya.  Yang harus significant bagi penerimanya.

CARA MEMANDANG KESALAHAN
Para bankir saat ini, sudah nyolong begitu besar jaman dulu.  Pas
ditolong BLBI di colong juga.  Dan sekarang waktu itung2an kerugian,
diberi option untuk menyatakan bangkrut (dan tetap menyimpan hasil
colongan mereka, termasuk dari BLBI 98) atau menyuntik dana 20% dan 80%
nya pemerintah.
Jelas yang punya kaitan dengan habibi (Lippo misalnya) pilih yang
terakhir, masih bisa usaha.  Yang ndak nyambung ya milih minggat.
Jelas.  Hukumannya tidak significant.  Dihukum moral (dinyatakan disbar
dari posisi bankir, misalnya) juga tidak. Pilihan gampang buat
bankirnya.

Jaman ini adalah Era Blawur.  Semua pihak pemerintahan punya salah yang
terus diulang.  Dua pihak bermusuhan (seperti sasono dan ginanjar) bukan
berarti satu benar satu salah.  Tetapi dua2nya salah.  Ini yang harus
kita ingat terus, dalam polarisasi dua kutub, bisa salah satu benar satu
salah (secara intuitif begitu) tetapi juga sangat mungkin dua2nya salah
(dua2nya benar hampir tak mungkin).

Begitulah.  Dan semangat menggembor menggelegak.  Mengangkat diri
sendiri.  Terutama dalam organisasi2 yang militan / fanatik.  Militer
misalnya, dari tulisan Perwira terakhir.  Bagus juga mendengar suara
berbau nekad dari dalam abri ini, tetapi harus anda saring baik2,
termasuk si Perwira.  Banyak diantaranya adalah disinformation militer
yang membela  diri secara mati2an suatu posisi yang aneh.  Kenyataannya,
wiranto sekarang sedang kampanye besar2an dirinya sebagai pilar militer,
preliminari gambit hunsen.  Jadi pimpinan militer yang  ke-sipil2an  dan
baek.   Dengan core tetap militer yang seenaknya kepentingan sendiri
yang  ku-pikir2 telah ku-diskon sehingga harga harusnya sudah murah .
Ini bagaikan supermarket yang memutusi harga tidak boleh ditawar lagi
karena  harga2 telah kami sesuaikan dengan kemampuan kantong anda .
Menggelikan ?  Kita tentu pengin lihat, kalau harga memang murah.
Ternyata tidak, murahnya hanya karena telah didiskon dari harga awal
yang sangat ditinggikan (=harga soeharto). Si wiranto gembar-gembor, kok
gue ngga dibeli, dasar konsumen goblog.   Aneh khan ? Soal supermarket
ya bisa kita tinggal pergi saja, soal militer kita harus lebih arif,
mereka punya bedil.

Nasehat Pandtia kepada Perwira ini adalah, lepas dari kotak anda,
terbanglah keluar dari kotak militer.  Jadi militer hanya disiang hari
saja.  Hanya dengan demikian you akan lepas dari bias awal, dan satu
langkah kearah apa yang secara numistik disebut  terbang bagai malaikat,
kupu2 keluar dari kepompong .   Karena anda (dan juga bagi Proletar),
mempunyai dasar2 awal dari kemampuan ini.  Kalau penulisan milis ini ada
tujuan informasi militer, ya anda tak perlu membukanya di milis terbuka
ini.

Kembali ke masalah pokok. Ini bukan demokrasi.  Demokrasi adalah sama
seperti situasi banyak supermarket.  You tawarin, rakyat liat2 dan beli
yang disuka. Kipret yang kemahalan atau produksi busuk. Memang bahaya
kejeblos iklan atau bagi2 hadiah.  Itu perlunya konsumen dididik. Bukan
ditipu.

Habibi juga berpenyakit aneh ini awalnya, jaman dia ngegemborin
konstitusional itu, ditambah watak-sabrang-nya yang lucu (watak lucu ini
kontras pada baramuli. Baramuli .. ha..ha..), disebabkan mental dari
dulu tidak dianggap , sekarang overshoot.  Belakangan ini ada tanda2
cebol ini mendingan.  Rada insaf moga2, bahwa dia cuma si cebol.  Insaf
ini bisa dasar jadi baik, gambit gorbachev   pol baiknya gibi.

Tindakan2 gus Dur sangat baik, dan seperti yang Pandita tulis dulu, dia
adalah satu2nya manusia yang ber-kontribusi riil pada penggembosan
semangat membunuh yang sangat keras desember lalu.  Tetapi tindakan ini
ada ongkosnya juga, karena pada saat yang sama dia juga memberi
kredibilitas pada soeharto pada titik yang sangat krusial.  Soeharto
memang memberikan pelepasan tekanan, tetapi akibatnya kentut soeharto
jadi ngabar lagi.  Dalam soal untung rugi, mungkin soeharto malah lebih
untung dari gus Dur (ingat ini bukan zero-sum-game bagi mereka berdua,
keuntungan soe diambil dari kerugian rakyat, kita, dan gibi).
Karena dia sekarang dalam timing tepat untuk ofensif balik.  Khususnya
ofensif terbuka melalui partai2 politik kecil2.  Untuk ini teoritis
perlu ada penggembosan penghujatan.  Dan itulah persis yang dia peroleh
dari gus Dur, memilah soeharto dari soehartois, sehingga step berikut
bisa jalan.
Step ini sekaligus juga flanking-attack ke gibi (karena dia menolak,
kalau setuju, embrace-attack).  Gibi memilih menolak, maka dia kena jab
kombinasi kiri kanan, satunya lewat GPI.  GPI yang sembunyi di ketiak
gibi (ketiak orang cebol kan sempit !) kena tendangan-gejil.  Kembar
ganthet yang sudah muntub2 inipun sigar.  Efeknya jelek buat sasono yang
masih ngedhot (=minum susu botol) , reeling.  Buat gibi efeknya lain,
karena kena roffel munthang-manthing, memperkuat gambit gorbachev
katimbang nyong mental tanpa swara, tembak langsung ke buku sejarah,
biar mental asal beken (ini harus diakui Pandita terlalu sinis, gambit
gorbachev adalah sangat baik buat kita   ed).  Ini juga inline dengan
gerakan kemerdekaan timtim, penghapusan UU subversi dan semua yang
jeger2.  Counter-attack ke soe masih dipikir2, keliatannya sih tetep
daripada mlempem.  Ngeper dia !
Jadi baiknya habibi  ini bisa menguntungkan rakyat pula.  Ini malah yang
Pandita sangat harapkan, orang cebol kepepet jadi baik.

Efek ke abri yang special. Karena ini juga sejalan dengan motivasi abri
(khususnya wiranto) saat ini.
Grup ini pula yang paling untung, karena dia dapat plus tanpa bayar.
Abri yang untung ini cuma wiranto tok.  Abri-habibi (termasuk si bakin,
yang usul APRI itu) merugi.  Abri ijo apalagi.  Abri merah-putih (SBY)
naik dikit, masuk ketiak kangmas wiranto.  Ada sisi positif dari
gesernya abri-ijo, yaitu memungkinkannya profesionalisme beneran di ABRI
(-> jadi kapital semua kalau berhasil !).  Bagi2 rejeki dengan AL AU,
bukan kangkangan AD.  Dan segala angin surga.  Yang repotnya adalah
bakalan mentog di ketiak wiranto, yang punya agenda sendiri.  Semuanya
tergantung dia, si calon hunsen ini.  Terserah daripada bliou padahal
ada uwap dasamuka ngabar adalah not-a-very-bright outlook for abri.
Sampai kini sangat tidak benar kalau dikatakan abri sudah menjadi kearah
rakyat, yang jelas hanya wiranto mereposisi diri menjadi hunsen
Indonesia.   Hunsen jowo ini mungkin lebih baik dari aslinya, tetapi
core nya tetap, kubur kejahatan masa lau, ndagel lakon baru yang
sepenuhnya dikuasai direk atau indirek.  Ampuni polpot, eh soe.  Kekepi
terus.
Itu maunya, yang disebar internal sebagai informasi resmi, dan di rilis
oleh teman kita Perwira dalam kolom - Jurus Indah bagi wiranto - nya.
Adalah salah mengatakan Pandita anti Abri.  Tidar group ini sangat perlu
reposisi yang bener. Saat ini masih belum saatnya wedang-ronde, abri
masih bahaya.   Attitude hunsen ini otomatis berarti akan melindungi
gebrakan soeharto, yang berarti akan meng-cover kerusuhan2 seperti
sejauh ini.  Dilemma Khmer Merah ini tampak jelas dalam penanganan
kerusuhan, suatu dosa yang sangat keji ditangan para ksatria alengka
ini. Dan bukti nyata.

Soal kerusuhan, saat ini yang paling berkepentingan adalah habibi,
karena tidak ada keuntungan dari soeharto, dan bahkan dapat menggunakan
isu jahanam ini sebagai bargaining chip untuk perang dengan soe (selain
secara hukum jagung memble itu) asal bisa nangkep seekor aja raksesi
alengka.  Cilakanya ini akan dihambat oleh wiranto sendiri yang tidak
mau ngebongkar2 serius.  Gejil2an antar dua politisi pengecut ini pasti
rame, kaya dalang amatiran.  Sementara kita semua yang blas paling
cilaka dari kerusuhan, buntung berat, mengelus dada ngelu. Jelas masih
mendung.

Jago2 demokrasi kita, yang ber gombyok2 tanpa modal, tanpa kesatuan,
diobok oleh kaum pseudo Islam, selain oleh wiranto-habibi-soeharto. Kere
dana  Mingsih cilaka. Kita amati saja terus jurus2 maut para pendekar
Indonesia. Semakin mendekat ke pemilu pasti semakin seru.  Prognosis
masih cilaka.

PENUTUP
Bangkitnya kaum ex-soe adalah resiko yang sangat besar.  Mereka tidak
akan balik jadi alengkapura, tetapi cukup sruwung2 abri, partai2 kecil.
Jadi katalisator untuk koalisi2 belis, meracuni abri jadi
intel-srabutan.  Pasang conggok2 di pimpinan nasional.  Memungkinkan
tampilnya hunsen-like leaders. Dan mengobok perekonomian puter2
makelaran, mengakibatkan timbulnya dua penyakit makro ekonomi pol, yaitu
perkelitan dana besar2an dalam high-finance.  Dan pencurian massal
melalui inefisiensi ekonomi riil dibawah sasono politico itu.  Dua2nya
sekarang jalan,  seolah bermusuhan, padahal dua2nya bukan merupakan
konsep yang accountable.   Lalu mendesak conggok melawan gambit
gorbachev.

Jadi   bahaya laten soeharto  bukanlah bahaya langsung seperti yang
dibayangkan secara sederhana.  Dan bagi soe ini bukan main2, karena
masalah survival.  Ditengah papan catur yang masih semrawut ini, maka
suara2 lantang kebenaran sangat sulit diperoleh dan didengar.  Slebor2an
baik disengaja maupun kemakan disinformasi internal berseliweran.  Yang
jelas nafsu memenangkan satu kotak khusus, baik itu abri, Islam, atau
birokrat adalah sangat suspect, copet kecil main.   Kerusuhan still
looming, dan para pendukung kerusuhan masih berkeliaran bebas.  Para
samurai masih itung2 kalkulasi tetep nyamurai atawa dadi ronin.  Payah.

The game s afoot, Watson

Kumbokarno.  Sang Pandita. 5 Februari 1999

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 9 Feb 1999 jam 10:18:57 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke