---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- SERUAN A.M. HANAFI: KEPADA SEMUA KAWAN SEPERJUANGAN KAUM MARHAENIS PENGIKUT SETIA CITA-CITA BUNG KARNO BAPAK NASION Assalamualaikum W.W. Dengan amat prihatin dari tempat-exil yang jauh dari Tanah Air (di Paris), saya selalu mengikuti perkembangan Situasi dan Keadaan yang terjadi di Indonesia. Mengapa? Sebab semua soal dan hal-ihwal, dari soal Politik, sampai ke soal Ekonomi dan soal Sosial, telah terjadi kekacauan dan kacau-balau, simpang-siur, disengaja atau tidak, disedari atau pun tidak. Ngalor-ngidul, simpang-siur, disengaja atau tidak, disedari atau pun tidak. Ngalor-ngidul dan rujak-sentul! Tolak-ukur Terapi Politik yang normal tidak dipakai lagi apalagi dihargai, dikesampingkan atau ditendang oleh interes-pribadi atau interes golongan di balik kata-kata STRATEGI dan TAKTIK tanpa prinsip. Kalau Strategi dan Taktik tanpa Prinsip, jebulnya "debat kampung" atau "debat kusir", alhasilnya cuma baunya kentutkuda. Maafkan saya! Sebab kesel. Oleh karena yang kita hadapi di depan mata kita sekarang, ialah Soal Negara dan Bangsa, soal Republik Indonesia (Republik Proklamasi 17 Agustus 1945) yang Dasar dan Tujuannya PANCASILA dengan UUD-45. Bukanlah soal kampungan atau Kampung dengan Rukun Tetangganya itu! 200 JUTA manusia Rakyat Indonesia yang kita pertaruhkan, kita banting ke atas meja perjuangan nasional yang kita bersama hadapi bersama sekarang ini. Soal itulah yang membuat saya amat prihatin, dalam berada di tempat pembuangan yang jauh dari tanah airku tercinta. - DUS, bukanlah hanya nasib atau kepentingan sesuatu golongan atau partai saja, tapi juga itu Rakyat on the street yang tak kebagian kesempatan bisa punya partai, akibat politik mengambang di zaman Orba-Diktatorial yang lampau. Baru saja sebulan sesudah mentalnya-kepinggir Presiden Suharto akibat Demo Pemuda/Mahasiswa 21 Mei 1998, yaitu Juni, saya sudah bilang via Internet, bahwa GERAKAN REFORMASI sudah kepleset. Sebab sudah menonjol-nonjol gejala balapan rebutan mau jadi Presiden dari sementara Tokoh-Tokoh atau yang di Tokohkan oleh arus Gerakan reformasi itu. Nah, dari sini mulainya sudah salah, bertolak dari KETOKOHAN seseorang individu, maka logis sajalah aksi sedemikian membangkitkan reaksi terhadap Tokoh-Tokoh golongan lainnya yang juga punya pride atas ketokohannya dan golongannya: ya golongan nasional, ya golongan agama, ya golongan sosialis dll. Padahal, kalau mau mawas diri, atau dengan rendah hati ber-introspeksi, semuanya Tokoh Nasional yang ada sekarang ini qua kwalita KETOKOHANNYA tidak ada separohnya jika dibandingkan dengan Ketokohan BUNG KARNO atau dengan Ketokohannya SUHARTO. - Tentu saja dari segi segala aspek positif dan negatifnya! - Saya peringatkan: Jangan bertolak dari Ketokohan seseorang Individu, tapi mulailah dengan pengertian PRINSIP BERORGANISASI. Kwalita Ketokohan seseorang individu secara implisit atau explisit akan kentara nanti dari Kwalita Organisasi itu sendiri: langsung atau tidak langsung, direct atau indirect bagi kepentingan golongannya sendiri ataukah demi kepentingan Nasion seutuhnya. - Saya langsung menyangkutkan baris-baris ini kepada masalah Nasion, Negara R.I., masalah yang acuut kita hadapi sekarang ini, bukan pada soal Organisasi/Kepartaian atau Golongan! - Di samping itu, ingatlah bahwa seseorang Tokoh, seseorang individu bisa musnah kapan saja atau kembali ke pangkuan bunda bumi, asal debu kembali ke debu, organisasi/kepartaian bisa berganti corak berganti rupa atau hilang sama sekali, tetapi Organisasi Bangsa yang bernama NEGARA R.I. yang berkat Takdir Tuhan diciptakannya melalui pilihanNYA 'ANGKATAN 45', tak nanti boleh musnah kalau tidak bersama dengan kemusnahannya Bangsa Indonesia itu sendiri. La ila ha illahuwal hayyul Qayuum ... Sebagai seorang Nasionalis-Marhaenis yang sadar ingin tetap dan konsekwen menjunjung cita-cita BUNG KARNO, Bapak Nasion, Bangsa Indonesia, yaitu PANCASILA yang bersinar cemerlang laksana Intan yang dapat digalinya dari bumi-sejarah-perjuangan bangsanya sendiri: Bangsa Indonesia maka tidaklah bisa saya memalingkan mataku dari puncak Amanat yang pernah diucapkannya di saat-saat ketika berada di pinggir jurang perpecahan bangsa di tahun 1955: "SEMUA ANGGOTA KELUARGA MARI KE MEJA-KERJA DAN KE MEJA-MAKAN BERSAMA-SAMA" - Bhs. Belanda: "Alle leden van de familie aan de eettafel en aan de werktafel tegelijk!!!" Di dalam kita bersama menghadapi problim bangsa yang multicomplex seperti keadaan kita sekarang ini, saya pun tidak bisa lupa akan agungnya jiwa persatuan BUNG KARNO tersebut. Di bulan Juni 1998, sesudah saya mendapat firasat (presentiment) bahwa gerakan Reformasi akan kepleset ke medan-pacuan Kepresidenan, saya telah mulai menyerukan "Sebaiknya adakan, dirikan: PRESIDIUM KOALISI NASIONAL". Sebagai himpunan/penampung kepentingan ambisi/kepentingan semua Tokoh dengan Golongannya masing-masing. Sebagai ancer-ancer saya menganjurkan Tokoh-Tokoh yang berwibawa mengambil inisiatif pegang peranan mendirikan PKN tersebut. Bahkan saya memberanikan diri menyebut mereka pada namanya, seperti:MEGAWATI, GUS DUR, AMIEN RAIS, HAMENGKUBUWONO KE X, EMIL SALIM, AGUM GUMELAR, ALI SADIKIN, WAKIL PEMERINTAH "TRANSISI" PRESIDEN HABIBIE dan lainnya. Pada hakekatnya, akan begitu penting adanya PRESIDIUM KOALISI NASIONAL itu bukan saja hanya sebagai Penghimpun/Penampung dan menyalurkan Kepentingan Tokoh dengan Golongannya masing-0masing saja, tetapi lebih jauh lagi harus bisa merupakan atau dijadikan sebagai Badan atau Lembaga yang mendapat status Hukum untuk Mendukung dan Memayungi Presiden dan Pemerintahnya yang akan menggantikan Pemerintahan Transisi Presiden Habibie sekarang ini. Oleh karena itulah semua golongan besar dan demokratis yang Sah dan berHak hidup di masyarakat berHak dan harus mempunyai Tokoh yang mewakilinya di dalam Badan PRESIDIUM KOALISI NASIONAL tersebut. Dengan Badan PKN ini kita berusaha menjelmakan Amanat BUNG KARNO menjadi satu kenyataan "ALLE LEDEN VAN DE FAMILIE AAN DE EETTAFEL EN AAN DE WERKTAFEL TEGELIJK. Dan ber-praktek!. Dan Berjuang!. Gotong-Royong! RAMBATE RATA, HAYYO - RAMBATE RATA HAYYOO. PANCASILA! OLEH KITA SEMUA UNTUK KITA BERSAMA, HAYO RAMBATE RATA ... HO LOPIS KUNTUL BARIS ... MARI KE PRESIDIUM KOALISI NASIONAL! Setiap warga Negara yang mempunyai cukup syarat-syaratnya untuk dicalonkan menjadi PRESIDEN dapat diajukan ke PKN di mana dimusyawarahkan untuk diusulkan supaya dipilih dan diputuskan oleh SIDANG UMUM MPR (Lembaga Negara Tertinggi) yang Anggota-Anggotanya ke luar dari hasil PEMILIHAN UMUM yang Jujur dan Adil (JURDIL), dan di mana perlu dibantu oleh PBB (UNO). Berapa jumlah calon Presiden yang akan diusulkan oleh PKN ke SU-MPR, bisa 4 atau 5 ataupun 7 Calon bukan masalah, sebab kelak toh hanya Seorang Calon Presiden yang akan diputuskan oleh MPR; dan Calon-Calon yang tidak terpilih, kembali duduk ke Pangkalannya di Presidium Koalisi Nasional - dari mana mereka akan bisa turut bertanggung jawab sebagainya tugas-nasionalnya yang Mulia, yaitu bersama dengan presiden menyusun anggota-anggota Kabinet yang dibutuhkan sesuai dengan Program Kabinet pada tahapnya sendiri-sendiri. - Periode jabatan PRESIDEN selama 5 tahun dan dapat dipilih kembali, paling banyak dua kali. Soal ini mengancik kepada pentingnya ada perobahan-perbaikan pada UUD 45, untuk mencegah terjadinya kembali problim seperti di zaman SUKARNO dan di zaman ORBA Presiden SUHARTO. Oleh karena itu Prinsip DEMOKRASI PANCASILA (dalam arti Demokrasi yang benar-benar berdasarkan Pancasila, bukannya Demokrasi Pancasila ala ORBA yang memutarbalikkan dan menginjak-injak Pancasilanya sendiri) dan Pemilihan Umum yang JURDIL harus kita pelihara dan sayangi seperti hati dan mata kita sendiri. Di dalam keadaan terpaksa, di mana arus Gerakan Reformasi bergejolak tinggi membanting ke setiap pantainya hati-manusia yang bergemuruh akan tuntutan turunnya REFORMASI ke bumi PERSADA, tetapi kini masih terhalang oleh hambatan adanya Pemerintahan Presiden Habibie sebagai Pemerinthan Transisi yang sampai sekarang ini belum ada kepastian batas akhirnya "kesementaraan" itu, kecuali tergantung kepada hasil Pemilihan Umum yang akan dilaksanakan tanggal 7 Juni 1999 yang akan datang. Ini bakal menjadi peristiwa Historis yang amat penting sekali, yang dengan tegas dan berani harus kita sambut sebagai hasil perjuangan yang kongkrit semua rakyat dan semua golongan; walaupun dengan prihatin dalam hati, sebab keadaan tidak sederap dengan langkah keinginan kita semua sejak bermula. Namun sudah boleh dikategorikan Positif, ditinjau dari proses perjuangan Demokratik yang akan maju berkembang. Itu Pasti seperti Matahari di hari esok! Maka saya pikir tidak ada jeleknya kita hormat angkat topi kepada Presiden HABIBIE dan Pemerintahnya, yang telah menyetujui berlangsungnya Pemilihan Umum pada tanggal 7 JUNI tersebut. Ini pertanda langkah positif ke arah cita-cita Gerakan Reformasi. Tetapi di samping itu hendaknya secara Positif pula di-antisipasi segala kemungkinan provokasi dan penteroran yang biadab seperti telah terjadi di Aceh, Ketapang dan lain-lain dan yang terakhir di Ambon yang bisa menyulut api-perang saudara dan perang-agama. Oleh karena itu kita harus bersikap saling membutuhkan .. Kekurangan dan kekeliruan ada pada, dipunyai oleh ;masing-masing pihak, tapi harus ada kejujuran dan kemauan memperbaikinya bersama-sama. Sebab selama 32 tahun di bawah regim otoriter dan milirairistis dari ORBA, semua orang dibikin bisu dan tuli, kecuali pejabat-pejabat dan Penguasa Regim yang berebutan US-Dollar dari credit luar negeri hasil penggadaian tanh-air pusaka dan bangsa. Ini bukan dosanya SUHARTO sendiri. Diapun kemudian terbelenggu oleh Sistim dan siasat politiknya sendiri dan selanjutnya dijadikan objek manipulasi para pejabat dan sahabat Kroni-nya sendiri yang berpura-pura setia dan cinta kepadanya tapi sebenarnya di balik semua itu hanya interes untuk mengeruk US-Dollar jadi kaya sendiri. Sebut saja satu nama, semuanya sama the same. Paling-paling beda dengan anak-anaknya, yang tidak bisa jadi genuine-Kapitalis seperti CONG. LIM SIOE LIONG dll. Syukurlah pada Tuhan saya tidak belepotan harta karun ORBA seperti mereka itu, malah yang kupunya rumah-keluarga dan tanah-pekarangan di "konfiskasi tanpa kompensasi" sementara saya terbuang di luar negeri. Tidak ada satu pun Diktator yang pintar dan waras otaknya. - Oleh karena itu saya serukan "sebaiknya PAK HARTO bertobat betul-betul kepada Bangsanya di depan Makamnya BUNG KARNO dan di Makamnya Pahlawan-Pahlawan Jenderal A.YANI dan lainnya serta berjanji mau mempelopori para bekas pejabatnya dan Kroninya mengembalikan Harta Karun itu kepada Rakyat dan Negara R.I. Jikalau sudah bertobat betul-betul ikhlas dan sukarela karena kesedaran akan Nur Ilahi bisa kembali bersinar ke dalam hatinya, hendaknyalah kita semua sudi menerima PAK HARTO serta keluarga dengan tangan terbuka kembali ke dalam pergaulan Masyarakat Bangsa Indonesia, dengan pengertian kita semua kepadanya, sebagai Excuse kepada mereka dimulai dari Jenderal SUHARTO sampai kepada para bekas Pejabat-pejabatnya dan para kerabatnya di masa Regim ORBA, bahwa sebenarnya mereka itu jadi KEBLINGER adalah karena masuk perangkap provokasi siasat manipulasi Kaum NEKOLIM yang paroolnya terkenal DEVIDE ET IMPERA. Saya kira inilah cara SOLUTION yang terbaik, yang unik, mungkin cara SPESIFIK INDONESIA, kalau bisa diterima oleh semua pihak. Saya usulkan Tanpa Pamrih. Tanpa reko-reko! Jika tidak, tunggu saja, wajarlah kalau massa rakyat akan menuntut terus-menerus dan tangan Pengadilan yang Kuasa akan gerayangan terus, sampai menemukan harta karun ORBA yang disembunyikan itu; dan sementara itu situasi akan kacau terus, emosi dan sentimen Pro dan Kontra SUHARTO akan bergolak terus. - Barangkali saya akan dikatakan naieve dengan idee saya tsb. di atas. Tetapi memang sudah saya katakan dalam Buku: A.M.HANAFI MENGGUGAT KUDETA LETJEN SUHARTO ......... Saya tidak punya rasa dendam kepada siapa pun juga. Namun SUHARTO harus diturunkan dari kerosi Kediktatorannya! Pada akhirnya SERUAN tertulis ini, ada sebuah lagi yang ingin saya ingatkan, langsung kutujukan kepada Kaum Marhaenis Pengikut Setia Cita-cita BUNG KARNO, menyangkut PANJI-PANJI PERJUANGAN "KEPALA BANTENG DALAM SEGI TIGA". ANDAIKATA, kalau saya berada di Tanah Air, apalagi dalam situasi menghadapi Pemilihan Umum 7 JUNI 1999 yad. Yang bersejarah itu, saya justru tidak akan merobah Lambang atau Panji-Panji Perjuangan Kaum Marhaenis: "Kepala Banteng dalam Segi-Tiga" seperti Aslinya sejak diberdirikannya PNI oleh BUNG KARNO tahun 1927. Maka saya akan berusaha bertahan sekuat jiwa dan kemampuan fisik saya mempertahankan dan membela mati-matian Lambang atau Panji-Panji Perjuangan Kaum Marhaenis itu, sejak dari Sabang sampai ke Merauke, sejak dari Flores ke Bengkulu dan Bukittinggi, akan ku gelarkan/hidangkan KHOTBAH di halaman Penjara SUKAMISKIN bersejarah itu, Pleidooi BUNG KARNO di depan Landraad Bandung: INDONESIA MENGGUGAT. Akan kupasang dalam bentuk TABLOID gambar/foto bersejarah BUNG KARNO dengan kawan-kawan perjuangan bersama GATOT MANGKUPRADJA, MASKUN, SUPRIYADINATA, Mr.SASTROMULYONO, Mr. SARTONO dan lain-lainnya. Dan akan kupasang Panji-Panji KEPALA BANTENG DALAM SEGI TIGA, sehaibat-haibatnya di halaman GEDUNG PANCASILA di Pejambon yang bersejarah, menjelang MELEDAKNYA Pemilihan Umum yang bersejarah tanggal 7 JUNI 1999. ARTINYA Lambang/Panji-Panji itu: Banteng adalah simbolnya NASIONALISME INDONESIA. Mungkin BUNG KARNO kena sinar inspirasi pelukis RADEN SALEH yang linuhung, yang dalam lukisannya menciptakan perjuangan mati-matian seekor BANTENG melawan SINGA. Dan kami melihatnya sang Singa itu sebagai Singanya Kerajaan Belanda yang menjajah Tanah Air kita Indonesia. - Penampang SEGI TIGA itu adalah Simboliknya TRILOGI MARHAENISME, yaitu: KETUHANAN, SOSIO NASIONALISME dan SOSIO DEMOKRASI, yang adalah juga menjadi cita-citanya MARHAENISME. Kemudian di dalam kawah perjuangan nasional lebur menyatu ke dalam PANCASILA yang digali oleh BUNG KARNO sendiri dengan Kasihnya Tuhan, dari dalam Bumi-perjuangan Bangsa Indonesia. Dan oleh karena ini pula jadi jelas kenapa Nasionalisme Indonesia ANTI KOLONIAL dan Anti Penjajahan dari Bangsa sendiri. Itu adalah PRINSIP yang tak boleh ditawar-tawar. Itu telah tertampung dan sesuai dengan jiwanya MUKADDIMAH UUD 45. Oleh karena itu saya tidak mengerti, saya heran, kenapa PDI PERJUANGAN yang dipimpin oleh MEGAWATI tidak menyetujui DIKEMBALIKANNYA Kemerdekaan TIMOR De LESTE yang dirampas oleh LETJEN SUHARTO, Presiden ORBA. Istilah yang tepat bukanlah "diberikan Kemerdekaan kepada Timor DELESTE" tapi "dikembalikan Kemerdekaan Timor DELESTE kepada Rakyatnya". Kalau kita sendiri Bangsa Indonesia tidak mau Kemerdekaan kita dirampas oleh orang lain jangan pula kita merampas negeri orang lain! Besar atau kecil sesuatu tanah-air orang lain itu, itu RELATIF! - Dikembalikannya Kemerdekaannya TIMOR DELESTE kepada Rakyatnya sendiri, adalah pula tuntutan Point ke-5 dari Buku A.M.HANAFI "MENGGUGAT!". Saya bisa turut menyetujui siapa saja yang akan dipilih menjadi PRESIDEN dengan harapan Melalui Pencalonan PRESIDIUM KOALISI NASIONAL. Saya mengharapkan KESATUAN (UNION) EMPAT TOKOH "CIGANJUR" dengan KEMUFAKATAN "PRESIDIUM KOALISI NASIONAL" akan terpilih oleh MPR menjadi PRESIDEN R.I. Tapi sekali lagi, PRESIDIUM KOALISI NASIONAL itu sebaiknya didirikan segera, bahkan MUTLAK adanya. Saya khawatir, tanpa PKN itu siapalah yang akan dapat membentengi/memayungi Kesatuan dan Persatuan Bangsa dengan Presidennya itu di dalam gelombang ERA GLOBALISASI ini. Sedikitnya mudah-mudahan tidak akan mengalami nasib seperti YUGOSLAVIA setelah ditinggalkan oleh TITO. Sekian. WASSALAM. Paris, 07 Februari 1999 A.M. HANAFI Exponent Angkatan 45 EX. KETUA PARTINDO EX. DUBES R.I. UNTUK KUBA- HAVANA ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 9 Feb 1999 jam 10:19:45 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
