---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Yth. Perwira Alengka, Jika mau jujur, bukan cuma Anda yang akan bicara seperti itu, bahwa Anda punya kepribadian ganda, bahkan tiga kepribadian. Semua orang punya kecenderungan itu. Di negeri ini orang sudah sedemikian pintarnya menyensor diri sendiri mulai dari otak. Tak perlu tunggu disensorkan orang lain atau bahkan pemerintah. Hegemoni negara, terutama aparat keamanannya sudah sedemikian mengakar. Yang tersisa cuma dendam kesumat! Tidak usahlah memuruk-murukkan diri seperti itu. Toh, Anda sebagai perwira bagian dari komunitas tentara memang kenyataannya sudah terpuruk sejak dulu, tanpa perlu me-refer ke insiden Trisakti, kerusuhan pertengahan Mei, atau petaka Semanggi. Sangat tidak adil jika Anda meminta pengertian para netters tentang situasi-situasi yang menyebabkan Anda mengambil keputusan yang berbeda drastis, jika Anda justru menyorong-nyorongkan contoh mereka-mereka yang juga melakukan hal sama. Para politikus, baik yang saat ini berada di sentral kekuasaan maupun yang marjinal, toh akan menunjukkan kepribadian multi. Beberapa politikus yang jika di koran bicara begini, tetapi saat bicara pribadi dari hati ke hati, berbeda lagi bicaranya. Tak usah jauh-jauh. Prajurit-prajurit muda yang diperintahkan pasang badan di Taman Suropati, saat saya ajak ngobrol sambil minum es doger, juga menunjukkan hal sama. Mereka pahami dan mendukung secara pribadi apa yang diteriakkan mahasiswa. Tetapi mereka berada di situasi harus loyal dan taat perintah. Yang menarik dicermati saat ini bukan citra tentara. Tapi arogansinya sebagai warga kelas satu itu lho yang bikin muak. Itu akibatnya jika bahasa dan idiom-idiom militer yang kaku dan by order dibawa ke kehidupan sipil. Sejak dulu (terutama selama Orde Baru berkuasa) tentara adalah masyarakat lapis istimewa. Meski mereka yang berada di lapis barak, pada lapis yang proporsional dengan masyarakat sekitar toh mereka menuntut perlakuan yang diterima para atasannya. Naik bis gratis, makan di warung tegal gratis, dll.. Meski tidak bisa digeneralisir, tetapi ... sudahlah, itu bukan rahasia lagi! Di lapis-lapis atas, permainannya tentu meningkat skalanya, proporsional dengan lapis masyarakat sipil. Dalam tulisan-tulisan Anda pun terlihat arogansi yang luar biasa, meski semaksimal mungkin diusahakan diredam atau diperhalus sehalus-halusnya. Rasa-rasanya, bukan salah atau dosa Anda. Toh, Anda sudah berusaha keras. Tentu ada yang salah. Entah di sistem pendidikannya, atau di sistem rekrutmen, pola indoktrinasi (baik yang formal maupun yang non-formal), dsb.. Yang paling pahit kan keraguan terhadap potensi sipil jika menyangkut soal disiplin. Memangya disiplin cuma ada satu model, yakni model militer begitu? Apa memang bisa dijamin bahwa para anggota tentara memang disiplin by heart, dan bukan by order? Ah, nanti dulu-lah.... Sebenarnya Anda tak perlu meminta maaf, atau menunjukkan penyesalan mendalam atas terjadinya beberapa insiden kekerasan dan kebiadaban oleh militer. Cukup jawab saja beberapa pertanyaan di bawah ini, (1) Mengapa terjadi pemerkosaan perempuan-perempuan di Aceh, Timtim, Irian (dan mungkin di daerah-daerah lain tetapi kasus-kasusnya tidak terpublikasi)? (2) Mengapa ada perintah tembak pada kasus-kasus penanganan unjuk rasa (bukan cuma Trisakti atau Semanggi -- lihat kasus Salemba berdarah balik ke tahun 1979 dulu, dsb..)? (3) Mengapa bisa terjadi kasus Marsinah yang mati saat diinterogasi oleh tentara? (4) Mengapa terjadi penjagalan membabi buta ke rakyat sipil, dengan alasan dicurigai anggota GPK di Aceh, Timtim dan Irja? Sebagai rakyat sipil biasa, tolonglah kami diberi gambaran kenapa itu bisa terjadi. Meski penjelasan yang bernada defensif pun kami akan coba terima. Yang penting, beri jawaban yang rasional-lah.... Sehingga Anda tak perlu merasa sudah melakukan harakiri... Toh yang Anda lakukan para posting sebelumnya sama sekali bukan harakiri. Siapa jamin ada yang membaca posting Anda? Siapa yang jamin ada yang punya waktu untuk menelusuri siapakah Anda? Cuma kamilah kawan diskusi Anda... Kami pun cuma segelintir orang bagian dari masyarakat yang punya akses ke internet. Meski sebagian kami punya akses untuk menyebarluaskan isu-isu yang ada, tetapi apalah artinya kami.... Saya mungkin tidak terlalu pusing dengan peta politik kontemporer Indonesia, karena saya melihatnya sebagai growing pain negeri ini. Tak ada satu orang pun di muka bumi Indonesia dan di negeri lain yang bisa menjamin, bagaimana masa depan Indonesia dalam beberapa bulan mendatang.... Semua berlangsung secara organik. Jika ada sumbatan di sini, maka di bagian lain akan meletus pada momentum yang tepat. Jika ada tekanan di satu sisi, maka bagian lainnya akan memberikan resultante dengan gaya yang sama sebagai perlawanannya. Mau cari sinergi? Forget it! Justru yang dibutuhkan oleh banyak pihak mungkin analisis Anda tentang skenario perubahan bagi tentara. Imagined a millitary force.... Tentunya yang menurut Anda profesional, baik dan pantas. Imagined a civil society sudah terus menerus digaungkan oleh banyak pihak, baik dari kalangan politikus marjinal, politkus di pusat kekusaan, para cendekiawan (baik yang beneran maupun yang pesohor), aktivis LSM, aktivis mahasiswa, dsb.. Bahkan tentara kerap campur tangan pada dialog-dialog tentang imagined a civil society... Salam, ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 22 Dec 1998 jam 08:03:29 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
