----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

From: Mujahidin Muda
Keluhuran Politik Amien Rais dan Gus Dur

Disingkat dari tulisan Keluhuran Politik
Oleh : Er-Rizal, Sekretaris Lembaga Studi Pengkajian & Etika Kebangsaan
(LSPEK), Depok, MI, Jumat, 18 Desember 1998
http://www.mediaindo.co.id/publik/1998/12/18/OP02.html

Kita kerap disuguhkan diskrepansi pemikiran antara Gus Dur dan Amien
Rais. Sebenarnya, persoalan beda pendapat Amien ini tentu bukan
'ungkapan utuh' terhadap 'aksi' Gus Dur. Secara prinsip saya melihat
tidak ada diskrepansi antara Amien dan Gus Dur. Jika pun ada ini
hanyalah metodologi 'permainan' akibat jarangnya kedua tokoh ini
bertemu.

Apa yang dilakukan Gus Dur merupakan refleksi ukhuwah atau fondasi ke
arah humanistik, Greg Barton (1996). Pemikiran-pemikiran humanistik
teologis inilah yang dipotensikan dan dikembangkan ke arah tegaknya
prinsip-prinsip penghargaan harkat dan martabat manusia (demokrasi).
Humanistik-teologis yang dikembangkan melalui metode ukhuwah demikian
akan mengarahkan individu kepada sifat lebih menjunjung tinggi nilai
keadilan, keharmonisan, dan keluhuran.

Tingginya kedudukan manusia dalam kehidupan semesta---bahkan malaikat
pun menghormatinya (Al Baqarah 34)---maka manusia sebagai individu harus
memperoleh perlakuan yang seimbang dengan kedudukannya (Abdurrahman,
Muslim di Tengah Pergumulan).

Dengan konseptualitas humanistik-teologis demikian Gus Dur melihat
setiap individu memiliki hak-hak dasar yang tidak dapat dilanggar.
Hak-hak tersebut mencakup perlindungan hukum, keadilan atas perlakuan,
kebebasan menyampaikan pendapat dan lain-lain.

Sebenarnya, apa yang menjadi idealitas pemikiran Gus Dur memiliki "titik
temu" dalam pemikiran Amien Rais. Jika dalam beberapa hal mereka
memiliki kecenderungan berbeda dalam hal lain ada kesamaan yang dapat
dipotensikan sebagai tenaga perubahan yang dahsyat demi tegaknya
peradaban demokrasi di Tanah Air.

Sebut saja dalam memandang kasus Soeharto, kedua tokoh ini
memiliki--dengan tidak bermulukria-- keluhuran politik yang luar biasa.
Walaupun Amien mengklaim sebagai motor 'pelibas' KKN-Soeharto (melalui
konsepsinya, amar ma'ruf nahi mungkar) tapi ia memiliki keluhuran dalam
menyikapi persoalan lawan politiknya. Bahkan dalam logika yang cukup
ekstrem Amien merespeksi kasus Soeharto ini (Amanah 10/12). Dia
mengatakan bahwa proses peradilan Soeharto akan sangat panjang. Karena
itu ia menganjurkan dua alternatif. Pertama, kalaupun Pak Harto diadili
ia hendaknya dilakukan proses yang cepat. Pak Harto diadili, diberi
hukuman yang wajar dengan tambahan tututan agar sebagian besar hartanya
dikembalikan kepada negara dan rakyat. "Setelah itu, hukuman berapa pun
yang dijatuhkan tidak usah dijalaninya di penjara, tetapi siapa pun yang
menjadi presiden perlu memberi grasi/amnesti". Demikian sikap Amien,
walaupun sikap ini agak rancu yang menunjukkan Amien bukan ahli hukum.

Alternatif kedua, atau ia tidak diadili melainkan Pak Harto cukup
menyampaikan permintaan maaf secara tulus, disampaikan di televisi dan
diulang-ulang, sedang semua kekayaannya seperti uang, tanah diserahkan
kepada negara. Pak Harto sendiri tentu diberi sejumlah kekayaan yang
berdasar kewajaran dan keadilan.

Sikap Amien ini merefleksikan "keluhuran" politik yang dianjurkan dalam
Islam kepada setiap manusia (Al-Rahman 7-9). Dalam keadaan "kuat" Islam
menganjurkan untuk mengayomi yang lemah dan sebaliknya jika ia lemah
(minoritas) ia selalu aktual dan menghormati perbedaan.

Dari konsep demikian (baik Gus Dur maupun Amien) beranjak pada sebuah
ruh yang dibangun dari akar teologis yang sama. Kedua-duanya membangun
basis pemikiran demokrasi berangkat dari "keluhuran" politik yang
mendalam.

Sebagai pemimpin umat, baik Amien Rais maupun Gus Dur diharapkan dapat
berdiri di atas semua golongan. Sikap kedua tokoh ini yang belakangan
terlihat aneh, mungkin tidak harus dilihat sebagai upaya sistematis
'pementahan' cita-cita reformasi. Prinsip Amien dengan "tauhid
sosial"-nya maupun Gus Dur melalui "humanisme-teologis"-nya akan dapat
dikembangkan kepada sebuah praktek politik yang luhur (keluhuran
politik) sebagaimana cita-cita tegaknya demokrasi dalam tradisi Islam.
Wallahu 'alam.

Hak cipta ) 1997-1998 Media Indonesia

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 22 Dec 1998 jam 08:09:33 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke