---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- From: Mujahidin Muda Menebak Manuver Gus Dur Beberapa orang menyebut Gus Dur sebagai politikus paling brilian setelah Soekarno dan Soeharto. Banyak pakar politik yang juga tidak merasa yakin ketika harus membaca manuver Gus Dur. Arbi Sanit misalnya, menyebut Gus Dur ibarat seorang jawara dalam politik. Hentakan, tarik mundur, dan sepak terjang dengan segala jurusnya agar dibaca dengan kekuatan hati nurani dan ketulusan jiwa, bukan dengan kekuatan otak dan rasio belaka. Di Balipost 21 Desember, Rahmat Witoelar menganalisis, kehadiran Gus Dur ke Cendana merupakan puncak kemarahannya kepada Soeharto. Selama ini, sepanjang pengamatan Gus Dur, Soeharto masih bermain-main dengan kekuatan yang dia miliki*) Pada awal-awalnya, kata Rahmat, Gus Dur mencoba sabar. Namun perkembangan selanjutnya, tindakan Soeharto makin menjadi-jadi. Hal tersebut pada hari-hari terakhir membuat Gus Dur kehilangan kesabaran. Tragedi berdarah melonjak frekuensinya mendekati saat Suharto dipanggil ke Kejagung. Dikhawatirkan, tragedi berdarah bisa terus berlangsung sampai pemilu, padahal pemilu masih lama. Ini harus dihentikan, harus ada kompromi dg Suharto. Tampaknya pemberian grasi adalah bentuk kompromi tsb. "Anda diampuni, tapi jangan nakal ya. Masuk pesantren dan bantu2 di sana." *) Termasuk dalam demo mahasiswa. Tidakkah Anda merasa aneh, sesaat setelah tragedi Semanggi, Suharto melalui Probo, malah mendukung aksi mahasiswa dan mengkritik pemerintah yg tak peduli pada aspirasi mereka. Orang ber-tanya2, Cendana-kah yg dituju Gus Dur dalam wawancara di Radio Belanda? Betulkah Cendana punya saham di Unilever? Tentang Suharto, Amien Rais bersikap sama dengan Wiranto. Yakni, memberi grasi pada mantan diktator tsb. Menurut Amien Rais, jika Soeharto sudah dihukum, maka PAN akan menjadi yang pertama mengajukan permohonan kepada Presiden Habibie agar memberikan grasi kepada Soeharto (Surabaya Post 17 Desember 1998) Arbi Sanit menilai, manuver yang dilakukan Gus Dur, adalah gaya tokoh agama yang lebih mementingkan silaturahmi dalam menyelesaikan konflik dan memperjuangkan kepentingannya. "Bila golongan politik profesional, rasional, lebih memilih politik adu kepentingan. Sedang para ulama dan tokoh agama, lebih dengan politik silaturahmi, meskipun pada akhirnya akan sukar membacanya," ujar Arbi Sanit kepada Surabaya Post (16/12) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 22 Dec 1998 jam 08:09:28 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
