----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

From: Nelson Correia

PST News : Jakarta 10/12/98, Pada peringatan hari HAM kali ini di Jakarta
memang agak sedikit unik dari peringatan tahun-tahun sebelum. Aksi yang
digelar bersama di depan Bundaran Hotel Indonesia, yang kemudian
dilanjutkan dengan long murch menuju Tugu Proklamator, memang banyak
mendapat perhatian dari khalayak umum di lokasi itu, juga sempat memacetkan
lalu-lintas disekitar wilayah yang dilewati massa aksi, yang membludak
setelah kedatangan rombongan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi
Jakarta dan Bandung.

Dalam prosesi aksi, disela-sela itu diisi dengan acara mimbar bebas oleh
semua partisipan aksi, juga diisi massa PST (Partai Sosialis Timor) - oleh
Pimpinan Canal (Aksi Nasional), Flarinando Coimbra dan pembagian statement
politik dan pamflet bagi pembebasan Sekjen PST, yang hingga kini masih
mendekam di Kedubes Austria, semenjak peristiwa Demak meletus, setahun yang
lalu. Dalam orasi itu Coimbra sempat mendapat aplus panjang dari para massa
aksi yang hampir mencapai 2.000-an orang dengan gugatan utama bagi praktek
kekerasan, intimidasi, pemerkosaan HAM dan Demokrasi baik di Indonesia
maupun di Timor Leste.

Karena mengingat isi dan pemaparan statement politik PST harus diketahui
oleh khalayak umum, maka pada kesempatan ini kami mencoba menurunkannya
secara lengkap sesuai dengan salinan aslinya. (J)
-----------------------------------------------------------------

SEKRETARIADO PERMANENTE DO COMITE CENTRAL
PARTIDO SOCIALISTA DE TIMOR

PERNYATAAN POLITIK PST
DISAMPAIKAN PADA KESEMPATAN AKSI 10 DESEMBER 1998

"Hak Asasi Manusia tak akan berarti bilamana Self-determination
terinjak-injak oleh kita semua."

Para Pejuang Hak Asasi Manusia,
Para Pejuang Reformasi,
Seluruh Rakyat Indonesia yang kami cintai.

Perkenankanlah kami pada kesempatan yang sungguh berbahagia ini, untuk
mengungkapkan  dengan penuh hati yang bergelora, semangat persaudaran yang
hangat dan yang paling mendalam kepada seluruh Rakyat Indonesia, kepada
para pejuang Hak Asasi Manusia, kepada seluruh komponen pro-reformasi dan
demokrasi !

Kawan dan saudara-saudara senasib dan sependeritaan,
Rakyat tertindas di seluruh Bumi Persada ini.

Hari ini adalah suatu hari yang  amat istimewa bagi kita dan bagi seluruh
dunia. Istimewa karena, di mana saja dan di seluruh dunia, dari kota ke
desa, dari penjara ke alam bebas, seluruh umat manusia, hari ini, merayakan
Hari Deklarasi Hak Asasi Manusia ! Hari ini, kami katakan "Hari Istimewa"
karena berkat pengorbanan dan perjuangan para mahasiswa Indonesia, para
semua pejuang demokrasi,  kita telah menguburkan sejarah masa lalu yang
penuh teror, kebusukan, kemunafikan dan secara bebas tanpa dibayang-bayangi
para Intel, kita semua merayakan fenomena bersejarah ini.

Oleh karena itu, marilah kita merunduk dan mengheningkan cipta demi
menghormati para putra-putri terbaik yang telah mendahului kita  pada
perjuangan mulia ini !

Kawan-kawan dan saudara-saudara senasib dan seperjuangan,
Penyambung lidah kaum tertindas,

Hari ini, kita semua, muda-mudi, tua-muda, laki-perempuan, kaya-miskin,
berpendidikan atau tidak, disatukan dalam semangat persaudaraan, karena
alasan yang sama, karena menentang setiap bentuk pelanggaran HAM, berkumpul
dan berjalan bersama merayakan dan memperjuangkan kembali HAM sebagai nilai
tertinggi   dalam sejarah abab ini !

Mengingat pentingnya HAM dalam lalulintas pergaulan umat manusia, maka,
perkenankanlah kami untuk menjelaskan sejelas-jelasnya keberadaan dan
posisi kami pada hari ini dalam semangat yang bergelora akan dahaga
demokrasi dan keadilan yang memenuhi dan mendorong hasrat kita semua  tanpa
diskriminasi apapun untuk berkumpul bersama-sama pada hari yang sangat
istimewa ini !

Kawan-kawan dan saudara-saudara,

Hari ini, kita berkumpul karena semangat yang sama, namun kawan-kawan
datang sebagai bagian dari suatu masyarakat dan bangsa yang bebas   merdeka
yang kini sedang memperjuangkan kebebasan akan hak berserikat, kebebasan
beragama, kesempatan untuk memperbaiki status sosial-ekonomi, dalam arti
kata, perbaikan sistem politik ketata-negaraan, sementara itu, kami hadir
disini sebagai bagian atau duta dari suatu Masyarakat dan Bangsa yang
kemerdekaannya telah dirampas dan kebebasannya telah disunat oleh suatu
rezim diktaktor yang kini menjadi musuh bersama kita.

Kawan-kawan dan saudara-saudara seperjuangan,

Rezim lama telah runtuh ! Rezim reformasi sedang nampak di ufuk mata hati
kita yang sedang berjuang. kita yang sangat berdahaga dan mendambakan
perdamaian dan persaudaraan. Berpijak pada semangat yang bergelora akan
persaudaraan serta dalam memandang sinar surya fenomena HAM masa kini dan
di masa-masa mendatang, maka ijinkanlah kami, demi nama persaudaraan antar
Bangsa, berkedudukan pada posisi yang pantas dan sesuai dengan  apa yang
telah terjadi dan kini sedang berputar di Bumi Rakyat Murba yang dinamai
MAU-BERE, untuk memaparkan akibat yang diciptakan oleh karena nafsu
Imperealisme termodern, memusnahkan Negara Baru yang diproklamirkan oleh
Rakyat MAU-BERE dengan sebutan RDTL pada tanggal 28 Nopember 1975.

Marilah kita camkan secara seksama kebenaran yang tersembunyi dan
termanipulasi di tengah kedua bangsa, yakni, Bangsa Mau-Bere dan Bangsa
Indonesia ! Kebenaran itu adalah bahwa :

1. Timor Leste bukanlah bagian dari Indonesia Merdeka, karena sejarah
Kolonialisme yang berbeda dan terinspirasi pula oleh orientasi pergerakan
kemerdekaan  Soekarno - Hatta yang tidak mencantumkan atau memasukan
Nasib-Penderitaan-Aspirasi Rakyat Timor Timur yang dijajah oleh
Kolonialisme Portugis sebagai bagian dari suatu Indonesia hari ini !
2. Kita adalah dua Bangsa yang sama-sama pernah dijajah oleh dua
Kolonialisme, yakni, Belanda dan Portugis, akan tetapi memiliki Sejarah
pergerakan Kemerdekaan yang sungguh berbeda. Rakyat Indonesia menghancurkan
Kolonialisme Belanda dan memperoleh suatu Kemerdekaan yang menjadikannya
sebagai suatu negara berdaulat. Sementara itu, kami, pada Revolusi 1975,
telah berhasil mengusir Kolonialisme Portugis dan setelah mencapai klimaks
pergerakan kami yang ditandai dengan Proklamasi tanggal, 28 November 1975
yang menamai Timor Leste sebagai suatu Negara Republik Demokratik (RDTL).
Namun, setelah Proklamasi tersebut, kami harus kembali berperang melawan
Imperialisme modern yang  mengatasnamakan  Bangsa Indonesia sebagai kaki
tangannya! Dengan penyerbuan yang dilakukan oleh Imperialisme modern
tersebut, serta pengabungan Timor Leste ke dalam wilayah RI, Indonesia
telah merebut Kemerdekaan kami yang telah kami peroleh dengan berbagai
penderitaan atas Penjajahan Kolonialisme. Dalam arti bahwa Indonesia telah
melecehkan semangat dan kalimat Pembukaan UUD 1945 dan telah menjadi Budak
Imperialisme yang disebut oleh Bung Karno "Imperialisme Bangsa Sendiri !"
3. Timor Leste, dalam Sejarah Kontemporer, adalah sebuah kasus penyerbuan
dan Agresi (occupation) yang dilakukan oleh Rejim Orde Baru atas perintah
Jenderal Soeharto bersama skenatornya Jenderal Benny Moerdani !

Penyerbuan dan Agresi tidak berakhir begitu saja! Namun, karena adanya
perlawanan                         Rakyat kami, telah melahirkan
konsekuensi-konsekuensi sebagaimana berikut :

a. Pelanggaran norma-norma pergaulan Internasional,  yang mana secara de
facto sangat mempengaruhi serta merusak citra Bangsa Indonesia di berbagai
forum Internasional;
b. Pelanggaran  secara flagrant atas Pembukaan UUD' 45, Pancasila serta
Dasa Sila Bandung;
c. Sebagai konsekuensi berkepanjangan dari perbuatan penyerbuan dan
perlawanan Rakyat kami tercatat :
Kurang lebih 250.000 jiwa Rakyat kami telah dibantai oleh ABRI;
Kurang lebih 50.000 Prajurit putra terbaik Rakyat Indonesia gugur pada
suatu peperangan yang tidak ada nilai kebenaran terhadap apa yang
diperjuangkan atau dibela mereka. Selain dari pada kepentingan Soeharto,
Moerdani dan para Jenderal-Jenderal lainnya, Mereka gugur meninggalkan
Ayah, Ibu, Istri Anak serta Sanak saudara yang selayaknya membutuhkan kasih
sayang dari seorang Ayah atau Anak, guna melangsungkan serta mempertahankan
hidup suatu keluarga dan pertumbuhan Moral serta mental Anak-Anak.
Ratusan Jutaan Dollar yang seharusnya dipergunakan untuk membangun dan
meningkatkan taraf hidup sosial ekonomi jutaan Rakyat miskin, telah
dihambur-hamburkan untuk membiayai suatu Perang Biadab yang hanya merusak
nilai-nilai kemanusiaan dan persaudaraan antar Bangsa.

Hal-hal seperti diatas adalah suatu realitas obyektif yang amat berlawanan
                                dengan jiwa dan semangat HAM yang kini kita
rayakan.

4. Timor Leste adalah suatu teritori dengan Budaya tersendiri ! Karena
semangat Revolusi, pergerakan Kemerdekaan kami yang salah satu asasnya
adalah anti- Kolonialisme, anti-Impesiolisme, telah menyebabkan Bangsa kami
diserbu, dianeksasi oleh Rejim Orde Baru yang tidak lain tidak bukan
adalah merupsksn kaki-tangan Kapitalisme dan Imperialisme yang menghisap,
lewat konsorsium-konsorsium dagang dan Multi Nasional dan menciptakan
kemiskinan jutaan Rakyat Indonesia !
5. Bangsa kami telah dinodai dan diserbu lewat laut, darat, dan udara pada
tanggal 7 Desember 1975 oleh Tentara Republik Indonesia, atas perintah
Jenderal Soeharto !

Bangsa Indonesia setelah Proklamasi 17 Agustus 1945 berulang kali
dirongrong         kembali oleh kekuasaan Belanda yang kembali mau berkuasa
di Bumi Persada. Pada tanggal 19 Desember 1949 Yogyakarta diserbu !
Soekarno   Hatta ditangkap oleh Belanda, yang menganggap dirinya sangat
berhak atas Indonesia, dan tidak mau mengakui Proklamasi Republik
Indonesia. Tetapi karena adanya dedikasi dan tekad bulat dari para Pejuang
Revolusi Indonesia yang tetap mempertahankan Hak akan Kemerdekaannya, maka
akhirnya Belanda pun terpaksa menerima kenyataan yang ada !
Dalam Sejarah kami, praktek Kolonialisme-Imperealisme terungkap kembali !
  Namun, sangat Ironis karena dilakukan oleh suatu Negara yang dalam
semangat Pembukaan Undang-Undang  Dasarnya sangat keras mengutuk dan
menolak segala bentuk Penjajahan yang katanya tidak sesuai dengan " ...
Perikemanusiaan dan Perikeadilan ! "

6. Kasus Timor Timur pada saat ini bukanlah suatu kasus Perang saudara !
Perang saudara  itu sendiri sengaja diciptakan oleh kaum Penjajah
Kolonialis-Imperealis dengan Politiknya " Devide et Impera ", yang kemudian
dipetik dan dipraktekan lagi oleh Rejim Soeharto, yang hingga kini
diteruskan oleh Habibie untuk membenarkan Agresi Militer Indonesia di Timor
Leste, serta melakukan kecurangan-kecurangan yang dapat mempengaruhi, dan
meyakinkan  Rakyat Indonesia akan kependudukan Militernya di Timor Leste,
serta seluruh Umat Manusia yang berhati Nurani !

Kawan-kawan dan Saudara-saudara senasib dan seperjuangan,

Apakah Logis, seperti yang sering kali kita dengar bahwa masih adanya
Perang saudara di Timor Timur, dimana yang berkuasa adalah Militer
Indonesia, dan Orang Timor Timur dilatih serta dipersenjatai oleh ABRI ?
Ataukah Saudara-Saudara telah lupa akan Politik "adu domba" Belanda ? Kami
berharap, dengan semangat perjuangan HAM, kita semua, tanpa kecual,i masih
memiliki Hati Nurani Kemanusiaan, serta Mata Hati yang jernih untuk
memahami realitas ini !

a. Teori Perang Saudara yang dipopulerkan oleh Rejim Soeharto dan Habibie
mencerminkan upaya para Kolonialis dan Imperialis untuk membungkus rapi
praktek-praktek kebiadaban mereka dan menonjolkan "hidung yang manis" yang
seolah-olah mau menggambarkan bahwa Rejim Orde Baru dan Orde Reformasi
adalah penjaga kedamaian, menjadi penengah persilisihan, guna menghilangkan
Ambisi Ekspansionisme dan nafsu menguasai kekuasaan alam bangsa lain !
Lebih Ironis lagi, ketika Saudara Ali Alatas mengatakan: "Indonesia datang
ke Timor Timur untuk membebaskan dan membangun Rakyat Timor Timur". Atas
pernyataan Ali Alatas yang penuh dengan pembiusan Politik, penuh penipuan,
yang sekedar untuk menjernihkan persoalan, maka timbul pertanyaan yang
ingin kami tanyakan : " Mengapa pada saat sebelum kami merebut kekuasaan
Politik dari tangan Kolonialisme Portugis, Saudara Alatas tidak datang ke
Timor Timur untuk membebaskan Rakyat kami dari kekejaman Kolonialisme
Portugis ? "
b. Lebih Ironis lagi, ketika pada Tahun 1993, dan beberapa Bulan yang lalu,
Soeharto dan Alatas mengatakan bahwa secara Ekonomis, Rakyat Timor Timur
tidak siap untuk Merdeka, karena tidak memiliki sumber daya Manusia dan
Ekonomi ! Filsafat Imperealisme dan Kolonialisme pada abad lalu dimainkan
kembali. Dalam pernyataan ini, jelas-jelas membuktikan bahwa betapa
bodohnya Alatas dan juga Soeharto dan betapa busuknya Hati Nurani Mereka
yang telah dikuasai oleh mentalitas dan logika penindas... dan ... penindas
!

Pada masa Rejim Orde Baru dan Orde Reformasi, mereka tetap mempertahankan
logika mereka, bahwa Timor Timur masih miskin secara Ekonomis. Tapi, apa
yang mengilitik serta mendorong mereka memonopoli segala rempah-rempah
Timor Leste, antara lain; Kopra, Kopi, Kayu Cendana yang diolah oleh PT.
Denok HI, serta Jutaan ton Marmer yang digali oleh Perusahaan Rukmana di
Wilayah Ilmanu dan Subco (kabupaten Manatuto), disimpan atau diperdagangkan
dimana ? Berapa pula keuntungan yang diambil dari tenaga kerja yang dibayar
secara tidak sesuai dengan cara dan hasil kerja dari Rakyatmu sendiri ?
Untuk apa ada perjanjian Tmor Gap ? Apakah itu semua bukanlah kekayaan ?
Ataukah kekayaan semacam ini hanya boleh dinikmati oleh Bung Moerdani dan
keluarga Cendana ?

Kawan   Kawan Senasib dan Seperjuangan

Timor Timur, kemarin dan kini, bukan saja merupakan suatu Wilayah Perang
Politik dan Militer, melainkan telah menjadi ladang pembantaian serta
ladang percobaan Kapitalisme dan Imperialisme. Kapitalisme, karena praktek
Ekonomi dan ketata-negaraan yang dilakukan oleh Rejim Orde Baru dan Orde
Reformasi telah menciptakan suatu sistem pergaulan yang timbul dari cara
produksi yang memisahkan kaum Buruh, Kaum Tani dan alat-alat produksi !
Sementara keadaan ini berjalan, segelintir Orang Timor Timur yang Pro
Integrasi juga memetik hasil-hasil praktek perekonomian yang diterapkan di
Timor Timur, dengan memperkaya diri Mereka sendir. Di satu sisi, secara
sengaja, telah menciptakan kemiskinan, teror, intimidasi, Penangkapan,
serta pembunuhan  terhadap rakyat kami, dan di sisi lain, praktek ini telah
menjadi suatu alat yang paling efektif, untuk mempermudah penguasaan alam
serta alat-alat produksi yang telah menyebabkan ribuan Rakyat kami mencari
jalan dengan memilih keluar dari Timor Leste ke Luar Negeri, antara lain
Negeri Portugal dan Australia. Dan Segelintir atau sejumlah pemuda Timor
Timur digunakan serta dimanfaatkan pula oleh Yayasan Tiara Rukmana sebagai
komoditi Politik untuk menunjang logika berpikir akan Integrasi dan
dipindahkan ke Jawa sebagai tenaga kerja murahan, yang kini hidupnya
terlunta-lunta di daerah-daerah "hitam", seperti Tanah Abang, Tanjung
Priok, Cijantung, Cibinong dan sebagian dari mereka kini menjadi buruh
dengan jutaan buruh Indonesia lainnya, yang kian hari kian diperas dan
diperbudak harkat dan martabat mereka.

Hal-hal seperti tersebut diatas merupakan salah satu sisi dari kehidupan
nyata yang kita rasakan bersama, kita jalani bersama, dan kita derita
bersama !  Sementara nilai-nilai HAM dikomodisikan oleh Negara-Negara luar,
demi saling merayu guna melestarikan supremasi Politik dan Ekonomi ! Kita
akan melihat, apa yang akan terjadi, dan bagaimana pula HAM akan terjamin,
bila suatu kelak, yang tidak begitu jauh lagi, pasar bebas dilaksanakan !?
Bagaimana seorang buruh yang tak memiliki "skill" yang tak menguasai
alat-alat produksi, mampu  bersaing dan mempertahankan hidup (yang adalah
satu sisi dari HAM) dalam gemuruhnya Kapitalisme dan Imperealisme yang
mendarat serta yang membasahi pesisir dan jantung Bumi persada melaui
Monster pasar bebas ?

7. Pergerakan Kemerdekaan kami bukanlah bertujuan membela, menolak atau
melawan suatu agama, ras, etnis atau suku. Pergerakan kami, bukanlah untuk
melawan Rakyat Indonesia, melawan suatu golongan, atau pun memusuhi setiap
orang ... tidak ...! Pergerakan kami, adalah demi Kemerdekaan, demi
Kebebasan, demi menuntut Hak Kemerdekaan kami, dan demi suatu kehidupan
yang lebih baik. Oleh karena itu tatanan   susunan serta sistem pergaulan
hidup yang lama harus dirombak, demi menyusun yang baru, yang adil dan
sentosa ! Dengan sistem pergaulan lama, setiap Bangsa dapat makmur, tetapi
tidak akan mencapai keadilan dan aman sentosa. Dan bencana Sosial serta
Revolusi Sosial akan kembali menjalar dimana-mana.
8. Dalam konteks memperjuangkan suatu tatanan atau susunan pergaulan hidup
yang adil dan aman sentosa, maka, pergerakan kami serta pergerakan Rakyat
Indonesia yang ditindas, kini dan esok adalah kakak beradik yang dilahirkan
oleh keadaan exploitasi, serta perbudakan yang secara tidak langsung
diciptakan oleh Rejim Orde Baru !
9. Nasib yang sama serta riwayat sejarah yang sama pula dalam Orde Baru,
maka, telah tiba saatnya untuk kita mengakhiri perang yang tidak
menguntungkan kita semua.

Kami berharap pergerakan Politik Indonesia demi Reformasi Total, demi
Demokrasi, demi HAM dan demi Keadilan dapat MENGOREKSI segala bentuk
kesalahan Orde Baru dan menemukan kebenaran yang telah menjadi Jati Diri
Bangsa Pejuang, Bangsa yang Luhur sebagaimana dicita-citakan oleh
pejuang-pejuang bangsa ini, seperti Soekarno, Bung Hatta, Sharir, dan Tan
Malaka.

Kawan   kawan senasib dan seperjuangan,

Mengingat semua peristiwa Sejarah Masa lalu, dan demi persaudaraan yang
tulus, demi mencapai tata   susunan pergaulan Masyarakat yang adil dan aman
sentosa, maka nilai-nilai HAM yang kita peroleh dan kita rayakan harus
menjadi suatu kenyataan   realitas  dalam dunia kita hari ini dan  hari
esok. Kami meminta dan menghimbau kepada kawan-kawan sekalian, untuk
membantu mendesak Orde Reformasi, guna menghentikan perang di Timor Timur,
Irian Jaya, Aceh dan menghentikan penggunaan segala bentuk perang
konvensional, serta perang tertutup yang dapat membahayakan Rakyat di Timor
Timur dan di seluruh Indonesia.

Akhir kata, Terima kasih atas segala bantuan dan partisipasi perjuangan
kawan-kawan yang mau dan telah memperjuangkan Hak Kemerdekaan yang
sesungguhnya bagi Rakyat Indonesia, pada umumnya dan Rakyat Timor Timur,
pada khususnya.

Indonesia, 10 Desember 1998

Salam  Kami,
Patria Ou Morte !!

Flarinando Coimbra
Coordinator CANAL

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 22 Dec 1998 jam 08:10:37 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke