---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Assalamu 'alaikum wr wb. CSIS dan SERIKAT JESUIT 2/2 SUARA MINOR KAUM MINORITAS Sejumlah majalah terbitan golongan Nasrani tampil semakin "galak." Kutipan sikap mereka di majalah Hidup (majalah Nasrani) menyiratkan perlawanan terhadap pemerintahan Habibie sekaligus ummat Islam. Kelompok Katolik Jesuit Radikal ternyata terbukti sangat aktif dalam melakukan "counter" melawan pemerintahan Habibie yang dianggap terlalu berpihak kepada Islam, atau "berbau Islam." Cara-cara yang mereka lakukan untuk menumbangkan pemerintahan Habibie juga sangat cerdik kalau tidak dapat dikatakan licik. Semua lini dan area dimasuki. Di jajaran pemerintahan ada tokoh Katolik Frans Seda yang menjadi penasehat ekonomi Habibie dan dengan leluasa menemui Habibie. Frans Seda inilah yang setelah bertemu dengan Habibie- membuat pernyataan bahwa Habibie mengutuk pembakaran gereja dalam tragedi Ketapang. Padahal sebenarnya dalam kasus ini ummat Islam yang diteror dan diprovokasi (oleh preman PP dari Ambon dan Batak yang beragama Kristen-W). Siapa yang membakari gereja dan sekolah Katolik juga tidak jelas. Di "Barisan Islam," mereka menempatkan sejumlah tokohnya untuk membuat statemen "jangan memanfaatkan agama untuk kepentingan politik." Itulah pernyataan yang dihasilkan dalam pertemuan di rumah Abdurrahman Wahid pada tanggal 20 November 1998. Orang-orang Katolik di sini seringkali membuat pernyataan yang "simpatik" terhadap Islam. Yang aktif dalam "Barisan Islam" ini adalah Frans Magnis Suseno, Mudji Sutrisno, Kardinal Julius Darmaatmadja (Ketua Konferensi Waligereja Indonesia / KWI). Di Barisan Pers, Kompas menjadi ujung tombak andalan. Ditambah lagi infiltrasi yang dilakukan terhadap berbagai media elektronik, terutama Indosiar (yang redaksi pemberitaannya ditangani Kompas), RCTI yang pemberitaannya dikomandani oleh tokoh-tokoh Nasrani seperti Chris Kelana, Adolf Posumah, Zsa Zsa Yusharyahya, SCTV (melalui tokohnya Don Bosco Selamun). Di berbagai media massa lainnya, bertebaran para kader-kader wartawan Katolik yang secara berkala mengadakan pertemuan dengan KWI. Dengan jaringan media massa yang begitu kuat, maka mereka secara leluasa membentuk opini masyarakat. Media massa inilah yang menampilkan tokoh-tokoh Katolik sebagai "hero" dan menempatkan tokoh-tokoh Islam sebagai "pecundang" dan "musuh masyarakat." Sikap resmi gereja Katolik diwakili oleh Konferensi Wali-gereja Indonesia (KWI). Majalah Katolik "HIDUP" edisi 29 November 1998 hal 18, sebuah tulisan berjudul "KWI DUKUNG PERJUANGAN MAHASISWA." Dalam poin ke enam pernyataan yang ditandatangani oleh Mgr. Josef Suwatan MSc, KWI menyatakan: "Para mahasiswa, sebagai pengemban cita-cita moral bangsa, kami katakan: Teruskan perjuangan demi cita-cita kejujuran dan keadilan. Kami mengucapkan belasungkawa atas kematian sahabat-sahabat Anda. Gugurnya sahabat-sahabat Anda yang membuat kita semua bersedih, semoga menjadi kekuatan untuk memperjuangkan cita-cita mereka tanpa pamrih, tanpa kekerasan, tanpa balas dendam, demi tanah air kita tercinta." Dalam poin ke delapan, KWI menyatakan: "Kematian mereka tidaklah percuma." Majalah yang dipimpin oleh redaktur senior Kompas, Raymond Toruan, ini juga memuat berbagai tulisan yang menggunakan dalil-dalil agama Katolik untuk perjuangan politik kelompok ini. Misalnya, ungkapan Horace (65-8SM) yang mengatakan: "Adalah manis dan terhormat untuk mati demi tanah airinya" (Dulce et dexorum est pro patria mori). Pengorbanan Anda takkan sia-sia." Keterlibatan aktif kelompok Katolik diungkap secara panjang lebar oleh Majalah HIDUP. Universitas Katolik Atma Jaya dijadikan sebagai Posko terdepan dalam perlawanan mahasiswa dalam menggulingkan pemerintah dengan isu penggagalan dan penolakan hasil-hasil Sidang Istimewa dan pembentukan Presidium/Komite Rakyat). Di Universitas inilah segala macam logistik dipasok dan rencana aksi mahasiswa dirancang. Dalam berbagai aksi, tampak dos-dos berisi makanan dan minuman yang ditempeli GAMBAR SALIB. Jadi terlihat dengan gamblang, bahwa bagi kelompok Katolik Jesuit Radikal, melawan dan menjatuhkan Habibie adalah semacam "Perang Suci" bagi mereka. Hal itu dapat dilihat, misalnya dalam pernyataan Pengurus Pusat Perhimpunan Katolik Republik Indonesia (PMKRI) yang ditandatangani oleh Ketua Presidium Ignatius Kikin T Tarigan S. dan Sekjennya Sebastianus Salang. Dalam poin ketiga dan keempat, PMKRI menyerukan: "ABRI harus bersikap netral dan melindungi aksi demonstrasi damai yang dilakukan oleh para mahasiswa dan eksponen reformis lainnya untuk menolak Sidang Istimewa MPR 1998 demi cita-cita Reformasi Total yang sejati." "Seluruh lapisan rakyat Indonesia agar mendukung penuh aksi demonstrasi damai yang dimotori mahasiswa." Jadi PMKRI meminta ABRI bersikap : 1. NETRAL 2. MELIDUNGI AKSI MAHASISWA UNTUK MENOLAK SI MPR Apa artinya? Berarti orang-orang Katolik hendak mengadu domba antara ABRI dengan pemerintah Habibie. Atau mereka memiliki rencana yang jelas, agar ABRI tidak mendukung Habibie. Mereka ingin MENGADU-DOMBA WIRANTO-HABIBIE-FEISAL TANDJUNG. Di majalah HIDUP itu (hal. 10) juga ada tulisan tokoh Katolik dari CSIS Dr. Soedjati Djiwandono yang berjudul "Epilog Sidang Istimewa MPR." Dalam tulisannya itu Soedjati memompa semangat mahasiswa agar tidak berhenti melakukan "perang," meskipun sudah kalah dalam beberapa "pertempuran." "MEREKA BARU KALAH DALAM BEBERAPA 'PERTEMPURAN.' TETAPI BELUM. DAN SAYA YAKIN TIDAK AKAN 'KALAH PERANG.' KITA BERJUANG UNTUK MEMENANGKAN PEPERANGAN, BUKAN SEKEDAR PERTEMPURAN! DAN UNTUK MEMENANGKAN PEPERANGAN, KITA TIDAK HARUS MEMENANGKAN SEMUA PERTEMPURAN." Jadi sebenarnya keterlibatan aktif kelompok Katolik Jesuit Radikal dalam usaha menggulingkan pemerintah sudah sangat jelas. Sayangnya, mereka begitu pintar memanipulasi opini, dengan cara melibatkan mahasiswa Islam, termasuk MAHASISWI BERJILBAB, yang masih bingung dalam menemukan identitas, dalam aksi-aksi mereka. Simbol-simbol Islam seperti acara tahlilan dilakukan di Universitas Katolik Atmajaya. Di tengah demonstrasi, beberapa kelompok mahasiswa juga melakukan Shalat dan melantunkan Shalawat Badar di tengah aksi demo. Ini sebenarnya cara-cara pengelabuan yang sangat mencolok mata. Tetapi sayangnya tidak banyak yang memahaminya. Bahkan ada juga sebagian orang Islam yang mau mendukung aksi mereka. Dukungan penuh marinir pada mahasiswa seharusnya juga dipertanyakan. Ingat, Ali Sadikin, nasionalis sekuler itu adalah marinir. Apakah ada hubungannya antara jenderal pengagum Sukarno dengan dekatnya hubungan marinir dengan mahasiswa? Ummat Islam termasuk mahasiswa Muslim seharusnya kritis. Tidak mudah termakan strategi kelompok Katolik Jesuit Radikal. Jangan kita mau dijadikan kuda tunggangan mereka untuk menghadapi ummat Islam sendiri. Mereka selalu membuat kesan seolah-olah mereka melakukan aksi damai. Padahal mereka jelas bersikap kasar, memaksakan kehendak, memukuli menteri, menduduki Kejagung, melempari tentara dengan bom molotov, batu dan kotoran, merusak fasilitas umum, membajak bus, memeriksa orang-orang naik pesawat, menduduki bandara udara, memacetkan jalan. Semua ini adalah cara-cara komunis yang di berbagai belahan dunia (seperti di Amerika Latin), gerakan komunis selalu dekat dengan gerakan politik Gereja Katolik dengan Ideologi "Teologi Pembebasan." Wassalamu 'alaikum wr wb wisemanharun ----------------------- Fools seldom differ . ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 22 Dec 1998 jam 08:16:24 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
