----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

From: Hasan Rasyidi

CSIS, dan SERIKAT JESUIT 1/2

Assalamu 'alaikum wr wb.

Nampaknya golongan Katolik Jesuit berusaha mengulangi aksi
mereka seperti di tahun 1966 dulu. Ketika itu mereka dengan piawai
berhasil mengelabui mahasiswa Islam dan TNI AD untuk bersama-sama
menggulingkan Sukarno dan menggantinya dengan Suharto tanpa
Pemilu yang Jurdil dengan slogan "ORDE BARU."

Ternyata di belakang, golongan Katolik Jesuit Radikal ini bermain
mata dengan Suharto. Pemilu diundur hingga 5 tahun kemudian,
sementara tokoh Serikat Jesuit Pater Beek membina oknum munafik
yang mengaku Muslim, Ali Murtopo, untuk membentuk organisasi
think tank CSIS yang didominasi tokoh Katolik macam Soedradjat
Jiwandono, Sofyan Wanandi, Yusuf Wanandi, Harry Tjan Silalahi,
Pang Lay Kim, Cosmas Batubara.

Pada saat itu, tanpa diadu domba oleh Suharto, golongan Katolik
Jesuit Radikal ini dengan sukarela memojokkan ummat Islam. Trio
RMS (Radius Prawiro, Adrianus Mooy, dan JB Sumarlin) yang
menguasai posisi penting di bidang ekonomi mengucurkan sebagian
besar kredit ke kelompoknya sendiri. Akibatnya bisa lihat sendirikan,
80% dari porsi ekonomi dikuasai oleh golongan minoritas, sementara
ummat Islam yang merupakan 87% dari rakyat Indonesia cuma
kebagian 20%.

Mereka juga menindas ummat Islam. Saudari Muslimah kita dilarang
memakai jilbab, jika melanggar, langsung dikeluarkan dari sekolah.
Ketika terjadi hal ini, adakah golongan Kristen yang sekarang merasa
"diadu domba" itu membela ummat Islam dari perlakuan kejam Suharto?
Menurut saya penindasan itu bukan cuma dilakukan Suharto, tapi
dilakukan oleh Suharto DAN golongan Katolik Jesuit Radikal yang
karena pengaruh perang Salib bisa bertindak kejam seperti di Bosnia.

Kita juga bisa melihat mengapa ketika jenderal Katolik Leonardus
Benny Murdani berkuasa menjadi Pangab begitu banyak terjadi
pembantaian terhadap ribuan ummat Islam seperti di Tanjung Priok,
Lampung, dll. Mengapa pembantaian seperti di Tanjung Priok atau
Lampung tidak terjadi ketika Feisal Tanjung berkuasa jadi Pangab?

Hal ini menunjukkan bahwa golongan Katolik Jesuit Radikal
dengan berbagai organisasinya seperti ISJ yang dipimpin Romo
Sandyawan SJ, GSJ, ataupun CSIS itu sama jahatnya dengan Suharto.
Jadi baik Suharto dan kelompok Katolik Jesuit Radikal itu harus
diadili semuanya.

Sekarang kelompok Katolik Jesuit Radikal ini ingin mengulangi aksinya
untuk mengelabui ummat Islam. Kita bisa melihat sendiri bagaimana si
Kristen Pakpahan mengubah namanya menjadi rada Islami seperti
"MUKHTAR" Pakpahan dan mendirikan SBSI (yang kemudian diganti
dengan KOBAR) agar bisa menarik ummat Islam ke dalam gerakan
mereka.

Hal itu terpaksa mereka lakukan karena sebagai minoritas yang
berjumlah cuma 10%, sulit bagi mereka untuk menindas ummat Islam
yang jumlahnya lebih besar, yaitu 87%. Untuk itulah digunakan cara2 licik
untuk memperalat sebagian Muslim yang abangan dan sekuler, seperti
penggunaan simbol Islam seperti yang digunakan Mukhtar Pakpahan
yang sering mengenakan peci biar tampak seperti ustad, padahal dia
sempat melontarkan fitnah bahwa ES, AS dan ICMI adalah biang
perkosaan dan kerusuhan tanggal 13-14 Mei yang lalu.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 22 Dec 1998 jam 08:16:46 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke